
Happy reading guys. Stay for reading in my novel with me yeah guys.
Episode sebelumnya ....
Akibat dari ucapan Stefan tersebut membuat keheningan di dalam mobil tersebut. Di sepanjang jalan hanya ada suara kendaraan yang sedang melaju. Sampai akhirnya sampai di depan halaman apartemen.
Cerin segera turun dari dalam mobil. Tampak wajahnya masih merah merona seperti tomat yang sudah tua. Setelah keluar ia langsung berlari ke dalam apartemennya dengan tergesa-gesa. Meninggalkan Stefan yang baru saja turun dari dalam mobil.
Stefan tersenyum melihat tingkah laku Cerin tersebut. 'Dasar Cerin kesayangan 'ku. Aku benar-benar sangat mencintai 'mu. Semoga saja hubungan kita akan bertahan sampai selamanya.'
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Si Kambing Hitam:
Seperti hari biasanya. Cerin dan Stefan pergi ke kampus bersama-sama dan tak lupa juga Uyun ikut serta bersama mereka. Seperti diketahui, Uyun adalah pagar antara Cerin dan Stefan.
Mobil Stefan melaju dengan kecepatan rata-rata. Ada sekitar 30 menit mereka berada di perjalanan. Hingga akhirnya mereka sampai di kampus.
Lagi-lagi semua mata tertuju ke arah mereka yang baru saja turun dari mobil. Terutama mereka memperhatikan tingkah laku Cerin. Tetap saja ada pandangan tak suka kepada Cerin.
Tetapi Cerin tidak menghiraukan pandangan mereka terhadapnya. Ia tetap santai dan bersama-sama berjalan menuju ke dalam kelas.
Tak lama kemudian tibalah Cecil yang baru juga sampai ke kampus. Seperti biasanya dia memakai style baju yang bermerk bangsawan. Ya, harganya pasti sangat mahal. Dengan pakaian yang dikenakan Cecil, membuat semua pandangan terpukau terhadapnya.
"Wow ratu kampus kita yang cantik telah tiba ni!" ucap salah seorang pria.
"Cantiknya kamu Cecil!" Sambung yang lain.
"Seharusnya kamulah ratu kampus sebenarnya Cecil!" teriak seseorang yang terkagum-kagum terhadap Cecil.
"Ah tidak teman-teman. Cerin yang pantas menjadi ratu kampus," ucap Cecil yang berucap manis.
"Tidak perlu merendahkan diri Cecil. Kamu memang pantas menjadi ratu kampus yang sebenarnya."
"Iya bener itu! Daripada si Cerin yang gak tahu malu itu!" sindir salah seorang cewe.
"Ya ampun. Jangan bagitu dong. Begitu-begitu Cerin adalah temanku sekarang."
"Kamu itu terlalu rendah hati ya, Cecil. Kamu mau bangat berteman sama wanita begituan. Kalau aku sih oga!"
Mereka semua yang berada di luar halaman memuji Cecil dan memperburuk Cerin. Tetapi ada seorang pria yang memperhatikan mereka yang memperburuk Cerin dari sudut halaman kampus tersebut. Pria itu tersenyum aneh lalu meninggalkan tempat tersebut.
Sedangkan Cecil yang masih berada di halaman kampus tersebut segera berjalan masuk ke kelasnya. 'Hahaha! Gak sia-sia aku menuruti ucapan ibu. Ternyata berpura-pura buat menyudutkan Cerin itu sangat menyenangkan! Hahaha! Rasakan Cerin! Sekarang aku yang dipuji. Beraninya kamu melawanku! Itulah akibat dari merebut Stefan milikku!'
__ADS_1
*
Pelajaran kampus telah selesai. Cerin hendak keluar dari dalam kelas tetapi malah dijegat oleh Cecil. "Cerin, tunggu sebentar!"
Di situ Stefan masih berada di kantor dosen mereka. Maklumlah, 'kan Stefan adalah ketua kelas.
Cerin yang dijegat oleh Cecil merasa bingung. "Ada apa, Cecil?"
"Aku ingin mengajakmu makan siang di kafe."
"Tapi ... aku masih menunggu Stefan," jawab Cerin.
"Hmm, sekali-kali jangan lengket sama kak Stefan aja dong. Lebih baik ayo pergi bareng aku siang ini!" ajak Cecil.
"Tapi ...." Cerin merasa bingung mau bilang apa.
Segera Cecil menggenggam tangan Cerin dan langsung menariknya. "Ayo kita pergi! Tinggalkan aja kak Stefan. Aku 'kan teman kamu juga. Jadi boleh dong aku ajak kamu pergi."
Akhirnya Cerin menuruti permintaan Cecil. Mereka berjalan menyusuri halaman kampus tersebut. Banyak mata yang memandang merasa bingung dan penasaran. Kenapa tidak? Cerin dan Cecil berjalan sambil bergandengan tangan.
"Aneh benar tu Cecil," ucap salah seorang.
"Benar! Mengapa dia mau berteman dengan wanita yang sudah merebut miliknya sendiri?" Sambung yang lain.
"Biasalah! Cecil itu orangnya baik. Sedangkan Cerin itu pemungut yang tak tahu malu!" ucap yang lain dengan ketus.
*
Mulainya Permasalahan:
Sekarang Cerin dan Cecil telah sampai di depan sebuah kafe. Segera mereka turun dari dalam mobil yang dikendari oleh Cecil. Mereka berjalan masuk menuju kafe itu.
Sesampainya di dalam kafe, segera mereka memilih tempat yang kosong untuk mereka tempati. Lalu duduklah mereka di pojok kafe tersebut. Seorang pelayan wanita kafe tersebut dengan segera mendatangi mereka yang baru saja duduk.
"Permisi, Nona. Apa yang ingin kalian pesan?" tanya si pelayan.
"Saya mau pesan; coffee mocca satu cangkir dan satu hamburger," ucap Cecil.
Tampak si pelayan sedang mencatat permintaan si Cecil. "Kalau, Nona yang satunya mau pesan apa?"
"Hmm, saya pesan; jus mangga satu dan juga kue brownis. Tapi tolong kuenya jangan terlalu manis," ucap Cerin.
'Eleh! Makan kue aja sok gak suka yang manis-manis. Palingan di rumah dimakani makanan yang manis. Dasar sok jadi orang yang suka jaga kesehatan!'
__ADS_1
"Baiklah, Nona-nona. Silakan tunggu pesanannya. Kami akan segera menyajikan secepat mungkin." Si pelayan langsung pergi setelah memberi hormat kepada mereka.
Tak berapa lama kemudian, makanan yang mereka pesan telah tiba. Seorang pelayan mengantarkan dan menyajikan pesanan mereka di atas meja yang berada di depan mereka.
"Silakan menikmati sajian yang telah kami buat, Nona-nona!" Pelayan itu langsung segera pergi meninggalakan mereka.
Segera mereka menyantap makanan tersebut. Saat mereka menikmati makanan tersebut, Stefan menelepon Cerin.
Drrrtttt ....
Segera Cerin mengambil handphonenya dari dalam tas miliknya. Ia lihat siapa yang meneleponnya. Dan ternyata itu adalah Stefan kekasihnya. Dengan cepat ia menggeser tombol hijau ke atas yang berarti menerima panggilan telepon.
'Halo, Stef?'
Cecil yang mendengar ucapan Cerin yang mengangkat telephone tersebut merasa mulai kesal. 'Stefan lagi, Stefan lagi! Ya elah. Semakin ingin cepat aku membuatmu menderita Cerin!'
'Cerin! Kamu ada di mana?'
'Aku berada di kafe.'
'Kenapa kamu pergi meninggalakan 'ku? Dengan siapa kau pergi?'
'Hmm, itu ... aku pergi dengan Cecil.'
'Apa? Dengan Cecil? Apa kau diganggu olehnya lagi?'
'Tenang saja, Stef. Aku gak apa-apa kok. Buktinya aku lagi makan bareng dia.'
'Hm, oke kalau gak apa-apa. Tapi aku akan tetap ke sana menjemputmu. Di kafe mana kamu berada?'
'*Hmm, apakah semenakutkan begitu, jika aku tak ada di sampingmu?'
'Sudahlah, Sayang. Aku hanya khawatir kepadamu. Jadi jawab kamu ada di kafe mana*?'
Cerin yang mendengar ucapan Stefan dari dalam telephone merasa terharu.
'*Aku dan Cecil berada di kafe xxxx di jalan xxxx.'
'Baiklah, aku akan segera sampai di sana*.'
Stefan mematikan telephonenya dan segera bergegas pergi menuju mobilnya yang terparkir di halaman kampus tersebut.
Bersambung dulu ya teman-teman.
__ADS_1
Jangan lupa selalu dukung AUTHORnya.
Jangan lupa tunggu episode selanjutnya ya!