
Happy reading guys. Stay for reading in my novel with me yeah guys.
Episode sebelumnya ....
"Huh dasar! Pasti sedang membayangkan sesuatu yang tidak baik ni. Makanya kamu tak mendengarkan ucapanku," marah Cerin.
"Bukan. Bukan itu yang sedang aku pikirkan, Sayang. Eh ngomong-ngomong kamu cemburu ya kalau aku sedang memikirkan sesuatu yang aneh? Apalagi aku sedang memikirkan seseorang wanita loh. Hehehehe!" goda Stefan yang membuat Cerin kesal.
"Kau! Siapa wanita itu? Apakah kamu berniat menggantikan 'ku?" Cerin mencubit pinggang Stefan.
"Aduh, aduh, duh! Ampun, Ratu! Aku gak mikiri wanita lain kok. Aku sedang memikirkan 'mu." Stefan mengelus-elus pinggangnya yang habis di cubit oleh Cerin.
Cerin yang mendengar ucapan Stefan tersebut merasa malu dan wajahnya mulai merah merona seperti tomat yang sudah tua.
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Pelajaran:
Waktu belajar 'pun telah tiba. Semua orang masuk ke dalam kelas. Begitupula dengan Cerin dan Stefan. Mereka berjalan bersama-sama sambil bergandengan tangan. Semua mata tertuju kepada mereka berdua.
Ada sebagian orang menunjukan pandangan sinis terhadap Cerin. Sebagian pula tidak memperdulikan mereka berdua.
"Eh lihat! Masih berani banget tuh cewe! Uda merebut pacar orang. Eh, masih berani bermesraan di depan orang banyak!" sindir seorang wanita dengan nada berbisik kepada temannya.
"Benar! Dia tidak tahu malu!" jawab temannya.
Stefan yang mendengar gosipan para gadis tersebut merasa jengkel. Seketika ia memandang ke arah para wanita tersebut dengan pandangan dingin yang penuh aura mematikan.
Seketika para wanita tersebut terdiam dan menelan ludah karena merasa takut melihat Stefan yang hanya memandang mereka.
Sedangkan Cerin tidak menghiraukan mereka. Cerin menarik tangan Stefan berjalan lebih cepat menuju kelas.
Sesampainya di kelas, lagi-lagi banyak mata yang memandang Cerin dengan pandangan yang menyeramkan. Pandangan yang penuh arti. Pandangan marah, jijik, kesal, sinis, dan masih banyak lagi.
Cerin berusaha tidak menghiraukan nya. Ia menarik nafas pelan. Lalu mulai duduk di bangku miliknya. 'Sabar, Cerin. Ini hanya cobaan yang dikasih Tuhan buat kamu. Aku yakin pasti masalah ini akan segera kelar.'
Pelajaran hari ini telah selesai. Semua siswa-siswi berbondong-bondong keluar dari kampus. Cerin dan Stefan juga ikut keluar.
__ADS_1
Lagi enak-enaknya mereka sedang berjalan, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil Cerin dari belakang mereka. "Cerin, tunggu aku!"
Dengan cepat mereka berbalik badan dan melihat ke arah suara yang memanggil Cerin. Dan ternyata, lagi-lagi itu adalah Cecil. Tampak di wajah Cerin sedikit mengkerut di keningnya. Begitupula dengan Stefan. Lagi-lagi Stefan ingin meluapkan kemarahannya terhadap Cecil. Tetapi sayangnya, Cerin menahan Stefan dengan menarik tangannya.
"Stefan, jangan hiraukan Cecil. Biarkan ia bertindak sesukanya," ucap Cerin berbisik.
"Tapi ... dia itu memang harus diberikan pelajaran! Aku gak mau kamu terus disakiti olehnya!" ucap Stefan membalas.
Cerin menghirup dan membuang nafasnya secara kasar. "Stef? Kamu mau aku sedih lagi? Apa kamu gak ingat? Kalau itu cara Cecil buat aku disudutkan beberapa orang di kampus ini."
Stefan yang mendengar ucapan Cerin 'pun tersadar. Ia 'pun mengurungi keinginannya yang ingin memarahi Cecil.
Mereka 'pun mulai melanjutkan jalannya. Tapi lagi-lagi Cecil memanggil sambil berlari ke arah mereka. "Cerin. Kamu kok malah jalan terus? Aku panggil-panggil kamu tapi gak kamu jawab. Apa di matamu aku sejahat itukah?"
"Oh tidak kok Cecil. Aku gak berpendapatan seperti itu terhadapmu."
'Eh, sejak kapan Cerin menjadi seperti ini? Huh! Stefan juga gak ada reaksi sama sekali. Ahh sial! Kan niatku ingin memancing masalah terhadap hubungan mereka berdua. Kalau begini, bagaimana bisa aku cepat-cepat menjatuhkan Cerin! Oke, sabar dulu Cecil. Ratu tercantik pasti bisa sabar hahahaha!'
"Wah makasih ya, Cerin! Aku sangat senang kalau kamu tidak berpendapatan buruk terhadapku. Oh ya, boleh gak aku jadi teman kamu?"
"Hehehe, makasih banyak ya, Cerin!" Senyum Cecil, "kalau begitu, aku boleh dong pulang bareng kalian. Kebetulan sekali mobil aku lagi diservis. Kamu maukan?"
Cerin menatap Stefan, begitupula Stefan yang menatap ke arah Cerin. Sepertinya mereka berdua sedang berpikir.
Stefan duluan mengambil suara, "Baiklah. Kalau kamu gak ada tumpangan, aku bisa panggil supirku untuk menjemputmu dan mengantarkan kamu pulang."
Cerin yang mendengar ucapan Stefan sedikit tertawa kecil, "Ck,ck."
Sedangkan Cecil benar-benar merasa kalah telak dibuat mereka berdua. 'Sialan! Lagi-lagi aku selalu yang sial! Kenapa gak kamu aja sih Cerin!'
"Baiklah, Kak Stef! Aku akan menuruti perkataanmu!" ucap Cecil yang sambil tersenyum. Sebenarnya senyum itu hanyalah senyum palsu yang dia buat-buat.
Di Dalam Mobil Milik Stefan:
"Hahahaha! Kamu hebat juga nahan emosi, Stef! Apalagi kamu ikut-ikutan membuat Cecil merasa kalah di depan banyak orang," ucap Cerin yang dicampur dengan tawa ria.
"Iya dong. Siapa dulu kalau bukan Stefan suaminya Cerin," ucap Stefan sambil menggoda Cerin.
__ADS_1
"Idih! Siapa istri kamu?" tanya Cerin sewot.
"Ya, kamu dong sayang. Siapa lagi?" ucap Stefan sambil tersenyum.
Wajah Cerin mulai merah merona mendengar ucapan Stefan. "Sejak kapan aku jadi istrimu? Aku saja belum nikah sama sekali denganmu!"
"Hahaha! Bentar lagi kita akan menikah," ucap Stefan yang kali ini benar-benar membuat Cerin menjadi salah tingkah.
"Ihhh! Aku masih mau sekolah! Mau kerja! Siapa yang mau nikah secepat itu! Huh!" sebal Cerin dengan sedikit manja.
"Kalau gitu aku akan menunggumu, sampai kamu bersedia menikah denganku, Sayang!" ucap Stefan yang kali ini bukan hanya menggoda tapi memang benar-benar tulus dari dalam hatinya.
Cerin terkesimak mendengar ucapan Stefan tersebut. Hatinya tersentuh dengan ucapannya. Wajahnya mulai merah merona seperti tomat yang sudah karena merasa malu.
*
Akibat dari ucapan Stefan tersebut membuat keheningan di dalam mobil tersebut. Di sepanjang jalan hanya ada suara kendaraan yang sedang melaju. Sampai akhirnya sampai di depan halaman apartemen.
Cerin segera turun dari dalam mobil. Tampak wajahnya masih merah merona seperti tomat yang sudah tua. Setelah keluar ia langsung berlari ke dalam apartemennya dengan tergesa-gesa. Meninggalkan Stefan yang baru saja turun dari dalam mobil.
Stefan tersenyum melihat tingkah laku Cerin tersebut. 'Dasar Cerin kesayangan 'ku. Aku benar-benar sangat mencintai 'mu. Semoga saja hubungan kita akan bertahan sampai selamanya.'
*
Eits bersambung dulu ya teman-teman.
Gimana? Seru gak episode kali ini?
Semoga bisa menghibur kalian semua ya!
Jangan lupa selalu dukung AUTHORnya!
Karena dukungan dari kalian semua adalah motivasi buat sang Author!
Buat kalian yang belum klik tombol favorit, yuk segera diklik! Supaya kalian tahu kalau novel Menemukan Cinta Sejati sudah up!
Tunggu episode selanjutnya ya!
__ADS_1