Menemukan Cinta Sejati

Menemukan Cinta Sejati
Episode 9:


__ADS_3

"Huh" Suara membuang nafas, "sudah dua hari ini kenapa Cerin belum masuk sekolah ya? Padahal sudah akan ujian kelulusan. Pergi tanpa kabar dari pesta kemarin. Apa jangan-jangan pak tua itu mengusirnya?"


(Mengingat kembali perkataan ayahnya Stefan saat berada di pesta ulang tahunnya kemarin)


"Apa apaan ini? Kenapa kamu mengumumkan bahwa aktris murahan itu adalah calon tunanganmu?!" ucap ayahnya dengan marah.


"Memangnya apa hubungannya dengan kamu?!" ucap Stefan kasar.


"Dasar anak durhaka! Sudah bertahun-tahun kau selalu berkata tidak sopan kepada ayahmu!" ucap ayahnya yang semakin marah.


"Heh.., ayah saya sudah meninggal waktu saya masih kecil. Itu semua karena keegoisannya membuat ibu saya meninggal!" sindir Stefan.


"Kau...!!" Menahan amarahnya. "Ya sudahlah, aku tidak akan memedulikanmu sopan samaku atau tidak. Yang penting kamu jangan pernah berhubungan dengan wanita itu!" ucapnya melarang.


"Apa sebabnya kau melarang saya?! Saya memiliki hak atas semua itu!" ucap Stefan dengan suara sedikit lebih menekan.


"Apa kau tahu latar belakang wanita itu?Apakah dia memiliki latar belakang yang baik? Dia hanya seorang anak yang mendapatkan beasiswa. Dia menjadi seorang aktris belum tentu karena bakatnya. Jangan-jangan dia melakukan sesuatu di belakangnya!" ucap ayahnya memfitnah Cerin.


"Cukup! Jangan berbicara lagi. Kau hanya seorang pak tua yang hanya mau mendengar perkataan istri penggoda!" ucap Stefan menyindir ayahnya.


"Phak!" suara tamparan, " jaga mulutmu! Biar begitu dia ibumu yang menjaga kamu dari kecil! Kau harus banyak belajar dari adikmu Leo!


"Huh! Ternyata memang benar kau lebih peduli dengan istri muda dan anak tirimu itu!" ucap Stefan sambil memegang pipinya yang terkena tamparan tersebut.


"Kau...!" Berhenti bicara karena jantungnya merasa sakit.


Kembali dari ingatannya...


"Huh, pasti ini benar-benar pak tua itu yang melakukannya!"


*


"Hallo Lidia, kenapa dari semalam tidak mengangkat telepon saya. Cerin juga. Dia ada di mana? Sekarang sudah hari ketiga dia tidak masuk sekolah." Stefan menelepon Lidia.


"Hmm maaf Stefan beberapa hari ini Cerin sibuk dengan jadwal nyanyinya ditambah lagi dia masih ada film yang belum di selesaikan," jelas Lidia.


"Oh begitu. Tapi kenapa dia tidak memberi tahukan kepada saya?" tanya Stefan masih menunggu jawaban yang pasti.


"Oh soal ini dia sendiri yang bilang tidak akan menerima telepon dari siapa saja selama dia bekerja."


"Eh, ini kan saya pacarnya. Kalau begitu di mana dia sekarang, saya mau bicara dengannya!" ucap Stefan.


"Errr... oh ya saya lupa tadi Cerin menyuruh saya mengambilkan jus, saya sangat pelupa. Ya sudah lain kali lagi ya bicaranya. Maaf Stefan!" Mematikan teleponnya.

__ADS_1


"Eh ini sangat aneh!" kata Stefan.


*


" Oh jadi begitu ceritanya?" tanya Cerin.


" Huh , untung saja aku punya akal. Eh, ngomong ngomong kenapa kamu menghindar darinya. Padahalkan kamu bisa terima teleponnya saat lagi break?" tanya Lidia sedikit kepo.


"Oh tidak apa-apa kok. Cuma lagi gak mood saja. Jadi malas bicara sama siapa-siapa saja," jelas Cerin meyakinkan Lidia.


"Hmmm begitukah?"


"Hmm, iya."


*


"He Pak Tua, apa yang kau katakan dengan Cerin?" tanya Stefan kepada ayahnya.


"Hah? Apa yang kamu katakan? Bukan karena aku tidak menyukai wanita itu, jadi kamu pikir ada yang saya lakukan kapada dia!" jawab ayahnya membela diri.


"Benar anakku, ayahmu dari semalam hanya ke kantor. Dan habis kerjanya selesai ayahmu langsung pulang ke rumah kok."


"Apa saya memberimu hak untuk memanggil saya anak?" ucap Stefan kasar.


"Huh, dasar, Pak Tua!" kata Stefan lalu pergi naik ke atas yaitu ke kamarnya.


"Kau...!"


"Sudahlah suamiku. Pasti dia hanya merasa capek saja jadi begitu. Aku yakin suatu saat dia akan berubah dan memanggilku dengan sebutan ibu." Pura-pura baik agar dapat perhatian.


"Hmm baiklah."


*


" Apa benar bukan pak tua itu yang mengatakan sesuatu kepada Cerin. Kalau bukan pak tua itu jadi siapa? Mana mungkin Cerin jadi aneh saat ini!" Dalam pikiran Stefan masih merasa bingung.


*


"Hahahaha aku yakin pasti hubungan Stefan dan Cerin sudah ada masalah. Padahal cuma saya bilang begitu. Hmm gak sia-sia aku mendatangi si wanita ****** itu ke toilet!"


"Hmm iya benar anakku. Kau harus cepat ambil perhatian dari semua orang yang ada di dalam keluarga Willson. Dan cepat kau dapatkan Stefan itu!"


"Iya, ibu tenang saja. Itu sangat mudah bagiku."

__ADS_1


"Itu sungguh bagus anakku!"


"Hahaha!" Ketawa mereka berdua seperti kuntilanak.


Besoknya Di Sekolah:


"Hmm, apakah Cerin tidak masuk sekolah lagi ya? Apa dia masih marah. Padahal dia anak yang pintar, jika dia kebanyakan tidak sekolah nanti nilainya dikurangi guru."


"Apa itu benar dia marah denganmu?" tanya Shehan sahabat dekat Stefan dari kecil itu.


"Eh , kau?...... Hmm iya , dia sudah empat hari ini tidak datang sekolah," jawab Stefan.


"Eh.... sejak kapan Stefan kita jadi bucin


begini ya? Memangnya kenapa dia bisa marah dengan pria setampan kamu ini?" ucap Shehan menggoda temannya tersebut.


"Bucin... apaan itu? Aku juga gak tau dia sedang marah atau tidak."


"Bucin itu artinya orang yang lagi di ambang-ambang C I N T A dan juga bisa singkatan dari budak cinta. Masa kamu gak tau sih. Makanya jadi laki-laki itu gak boleh kaku. Jangan urusi suatu pekerjaan yang bukan dikerjai anak muda seperti kita ini," jelas Shehan.


"Aduh bawel bangat sih kamu ya! Daripada kamu kaya cewe tukang ceramah," sindir Stefan.


"Kamu ya dikasih tahu keras kepala bangat. Ya sudah aku kasih tahu kamu deh. Kalau kamu terus begini gak ada hasil. Kamu harus bertindak sebagai laki-laki yang tangguh. Aku tahu kok kalian gak direstui keluarga kamu, jadi walaupun mereka menentang kalian, kamu harus berusaha agar mereka merestui. Tapi kalau kamu benar-benar cinta dengan dia. Aku yakin kamu dan dia pasti berhasil. Kejarlah dia selagi ada waktu. Soalnya saya dengar, banyak orang yang mengejar Cerin, jangan sampai direbut. Ya sudah telepon saya jika ingin bantuan dari aku. Bye aku mau ke kantin dulu," kata Shehan berkata panjang lebar.


"Eh? Dari mana dia belajar seperti itu. Setahu aku dia itu cuma playboy, rupanya dia juga punya rasa serius juga ya. Eh kok jadi mikiri ini?" kata Stefan dalam hatinya.


Hai teman-teman pembaca Mangatoon dan Noveltoon.


Apa kabarnya?


Episode kali ini bersambung dulu ya teman teman...


Jangan lupa selalu dukung AUTHORnya ya..


Karena dukungan dari kalian semua adalah motivasi buat sang Author...


Salam manis dari author..


Tunggu episode berikut nya ya...


Byeeee..


Muacchhh....

__ADS_1


__ADS_2