
Happy reading guys. Stay for reading in my novel with me yeah guys.
Episode sebelumnya....
"Bersentuhan apanya maksud kamu?" goda Stefan terhadap Cerin. Sebenarnya ia sudah tahu maksudnya Cerin tersebut.
"Ayolah Stef jangan bercanda dong. Aku lagi serius ni." kata Cerin mulai merasa kesal kepada Stefan.
"Aku dua rius tahu." kata Stefan sambil menunjukkan kedua jarinya yaitu jari telunjuk dan tengah. Kedua tangannya membentuk seperti itu.
"Ihhh!" teriak Cerin kesal.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Itu suka hati kamu saja." kata Stefan menakut nakuti Cerin.
Cerin yang sudah merasa sekarang sudah mulai malam. Terpaksa ia menyetujuinya. Ia memakai pakaian Stefan dan juga pakaian dalamnya. Sebenarnya ini sangat memalukan baginya.
••••••••••••
Sekarang Cerin telah selesai mengganti pakaian. Tadinya ia niat mandi disitu. Tetapi karena ingat hari sudah mulai gelap, ia hanya mengganti pakaian saja.
Cerin yang telah mengenakan pakaian Stefan sangatlah lucu. Stefan yang melihat itu sampai terkekeh-kekehnya.
"Puff..." tawa Stefan pelan.
"Ada apa kamu tertawa? Aneh ya?" tanya Cerin yang merasa tak senang. Wajahnya yang cantik kini telah memakai pakaian Stefan sungguhlah imut. Dan lagi saat Cerin terlihat seperti orang kebingungan, membuat Stefan tak dapat menahan tawanya itu lagi.
__ADS_1
"Hahaha.., kamu imut banget sih sayang. Ih pipi chuby. Hahaha, lucu deh!" kata Stefan yang mencubit pipi tembemnya itu.
"Kamu ini apaan sih? Aku aneh ya? Apa aku kelihatan jelek memakai pakaian mu?" tanya Cerin semakin bingung dan gak senang melihat kekasihnya itu menertawakannya.
"Gak apa apa kok. Siapa bilang kamu jelek. Kamu cantik kok. Hanya saja.., hahaha!" kata Stefan yang tak melanjutkan perkataannya tersebut karena ia tak tahan lagi menahan tawanya.
"Kamu ini senang bangat ya ngetawai aku. Mau aku kasih ketek? Hah! Dari tadi bikin aku kesal." kata Cerin yang sedikit kesal melihat Stefan yang menertawakannya.
"Eh, aku mau saja tu kamu kasih ketek. Ketek kamukan gak bau. Aku jilat juga gak apa-apa. Hahaha!" kata Stefan yang menggoda Cerin.
"Dasar mesum! Gak tahu malu kamu ya!" Cerin marah dan mencubit pinggang Stefan.
"Aw.. aw.. aw..., sakit... Ampun Bu Boss." kata Stefan memelas kasihan. Sebenarnya dia masih menggoda Cerin dengan perkataan 'Bu Boss'.
"Rasakan itu. Makanya jangan cari gara-gara dengan aku. Huh! Menyebalkan!" kata Cerin langsung mengambil barang-barangnya. Setelah itu ia berjalan ke arah pintu keluar apartemen tersebut.
"Apaan sih kamu? Aku mau pulang tahu. Ini sudah malam. Nanti Uyun khawatir kalau aku gak pulang-pulang." kata Cerin menepis tangan Stefan.
Stefan kembali menangkap tangan Cerin. Kali ini dia menyudutkannya ke tembok. Dan menguncinya dengan tangan dan kakinya tersebut. Membuat Cerin sedikit gugup.
"K..kamu apaan sih. Tolong minggir! Aku mau pulang. Kasihan Uyun sendirian di apartemen." alasannya Cerin agar dapat pulang.
"Kalau aku gak mau gimana? Uyun biarkan saja disana. Toh dia bukan anak kecil lagi." kata Stefan membuat Cerin mencari alasan lain untuk bisa kabur dari apartemen Stefan tersebut.
"N.. nanti kalau aku gak keluar-keluar dari sini apa kata orang yang melihatnya. Apalagi aku memakai pakaianmu. Aku gak mau mereka salah paham terhadap kita." kata Cerin gugup menjelaskan alasannya.
__ADS_1
"Biarkan saja. Lagiankan kamu memang calon tunangan ku." kata Stefan membuat jantung Cerin berdetak dengan cepat.
"Dug.. dug.. dug..." detak jantung Cerin yang berdetak dengan cepat, serasa ingin copot.
"S... siapa calon tunanganmu? Aku tidak mau jadi tunanganmu! Aku mau pulang!"kata Cerin merasa malu. Kini wajahnya merah merona sepeti tomat yang sudah tua.
Kini tampak jelas wajah licik Stefan membuat Cerin semakin takut dengan Stefan. Dia takut Stefan akan melakukan sesuatu kepadanya. Senyum nakalnya mulai melebar di wajahnya tersebut. Menatap Cerin terus-menerus dengan senyuman nakalnya. Cerin yang melihatnya, semakin cepat jantungnya berdetak "Dug.. dug.. dug..!"
"A... apa yang kamu mau?" kata Cerin merasa takut.
"Cium aku." kata Stefan singkat.
"Gak. Aku gak mau cium kamu!" kata Cerin menolak. Wajahnya semakin merah merona.
"Kalau begitu kamu gak boleh pulang sampai kamu mencium aku." ancam Stefan yang membuat jantung Cerin semakin berdetak kuat dan cepat.
Eitss bersambung dulu ya teman teman...
Jangan lupa selalu dukung AUTHORnya...
Karena dukunganmu itulah yang memotivasi sang author...
Trima kasih juga yang sudah membaca dan sabar menunggu up dari author ya...
Penasarankan dengan cerita selanjutnya?
__ADS_1
Jadi jangan lupa memfavoritkan novel ini. Agar kamu tidak ketinggalan...
Tunggu episode selanjutnya ya...