
Seminggu kemudian Cerin masuk ke sekolahnya. Lagi-lagi Cerin terlambat bangun padahal hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah. Setelah itu ia ceroboh, jalan terburu-buru dan menabrak seseorang.
"Aduh! Sakit sekali!" seru Cerin karena terjatuh akibat menabrak seseorang.
"Eh? Kamu?!" ucapan Cerin bersamaan dengan Stefan.
"Eh, ternyata kamu mengikuti aku ya sampai ke sekolahku! Dan lagi-lagi menabrakku tanpa minta maaf! Aku tahu kau itu suka sama ketampananku, oleh karena itu kamu mencoba mendekati aku!" kata Stefan yang terlalu narsis.
"Idihhhh, ngapai pula gue ikuti kamu sampai ke sini. Dan yang kemarin kamu yang menabrak aku, dan hari ini baru aku yang menabrakmu. Kemarin kamu tidak minta maaf samaku, ya sekarang sudah impas aku gak akan pernah meminta maaf kepada kamu! Lagi pula kamu terlalu narsis, aku gak suka sama kamu! Hmm!" seruh Cerin membalikkan badan lalu meninggalkan tempat Stefan berada.
Cerin tidak sadar dan tidak tahu bahwa dari tadi banyak orang yang melihat perdebatan mereka berdua. Orang-orang yang melihat terkejut dan terheran-heran karena selain Cerin tidak ada yang berani melawan Stefan. Bahkan sahabat masa kecil Stefan. Ditambah lagi karena sikap Stefan yang dingin.
"Siapa wanita itu ya? Berani banget melawan tuan Stefan kita yang tampan itu!" kata seseorang yang sedang berkumpul saling bertanya-tanya.
"Ia siapa dia? Apa mungkin dia tunangan tuan Stefan? Ditambah lagi gayanya seperti selebriti," kata seseorang yang lain.
"Ah , tunangannya? Ya kalau begitu aku gak bisa deh punya kesempatan untuk jadi pacar tuan Stefan!" kata seseorang yang terlalu percaya diri.
"Bukan kamu saja, yang lain juga! Ya sudah ayo kita pergi ke kelas, sebentar lagi kelas akan dimulai," kata seseorang.
(Catatan: Semenjak Cerin menjadi aktris dia sudah banyak berubah total. Dimulai dari kebiasaannya dan juga wajahnya yang berubah jauh menjadi lebih cantik sekali. Oleh karena itu Cerin dikatakan sebagai tunangan Stefan karena gayanya dan pesonanya seperti selebriti yang cantik)
Lain di situ Cerin masuk ke kelas 10A di mana di situ ada Stefan juga.
"Anak-anak hari ini kalian masuk ke kelas baru kalian yaitu kelas 10A! Dan Ibu guru ingin kalian satu persatu memperkenalkan diri," kata wali kelas 10A, "tapi sebelum itu ibu akan mengatur tempat duduk kalian masing-masing!"
Setelah mengatur tempat duduk beberapa saat.....
Setelah wali kelas mengatur tempat duduk. Eh Cerin dan Stefan berada di tempat yang berdekatan yaitu samping-sampingan.
"Eh? Kenapa harus kamu yang ada di sampingku! Ahh menyebalkan, jumpa orang yang terlalu narsis, hissss!" kata Cerin mengejek Stefan.
"Oh, aku juga gak suka lihat cewek bawel seperti kamu!" jawab Stefan membuat Cerin geram.
"Eh... eh.. eh..eh, sudah jangan ribut ribut , terima saja yang sudah ibu atur!" kata wali kelas menyelesaikan perdebatan mereka.
Hari pertama Cerin masuk sekolah ia merasa kesal karena berjumpa pria yang sangat narsis sekali di setiap saat.
__ADS_1
Setelah saat pulang sekolah Cerin mengajak Lidia keluar apartemen untuk makan siang.
"Hallo Lidia, kamu gak perlu mesan makanan. Aku mau kamu ikut aku makan di luar. Sekarang juga kamu siap-siap dan langsung pergi ke restoran yang berada dekat kantor keluarga Wilson!" ucap Cerin seperti bos.
(Netizen:" Ei? bukannya Cerin memang bosnya Lidia?"
Author:" Hohoho itu memang benar!")
"Oh Ok, sangat berterima kasih, aku suka makan di luar, aku mau buat kamu bangkrut!" kata Lidia semangat sambil bercanda.
"Ya sudah aku langsung kesana aku tunggu kamu ya, bye." Mematikan teleponnya.
Lain dari situ Stefan yang pulang dari sekolah juga mengajak Molan ke restoran yang sama dengan Cerin. Molan juga memberi sebuah file tentang Cerin yang diminta Stefan kepada Molan pada hari itu.
"Bagaimana apakah kau sudah punya file yang aku minta?" tanya Stefan kepada Molan.
"Hmmm ya, apakah kau menyukainya?" tanya Molan sengaja menggoda Stefan.
"Heh, siapa suka dia? Aku itu cuma penasaran saja, dia berbeda dengan wanita yang lain. Dia berani melawanku. Lagi pula dia wanita yang pemarah bawel lagi!" jelas Stefan.
"Ahahah itu mungkin karena kau suka dengannya. Oleh karena itu kamu merasa dia berbeda bukan?" kata Molan.
"Ah itu tidak mungkin. Jangan bercanda Molan!" kata Stefan merasa malu dan sedikit marah, "ah ya sudah mana filenya aku mau lihat."
Stefan sudah melihat file yang berisi tentang keterangan Cerin. Bahkan ia tampak sedikit tersenyum saat membaca isi file yang diberi Molan.
Lain dari situ Lidia yang ditunggu oleh Cerin telah tiba. Mereka berbincang dan bercerita tentang kejadian yang menyebalkan di kelasnya.
"Uh Lidia kau tahu? Aku sangat kesal kenapa saat hari pertama aku masuk sekolah aku malah berjumpa dengan pria yang sangat narsis dan lagi menyebalkan," ucap Cerin sebal.
"Terus?" ucap Lidia singkat.
"Bahkan dia dan aku mejanya bersamping-sampingan di dalam kelas!" kesal Cerin.
"Oh apakah kau tahu siapakah dia? Kenapa kau terlalu berlebihan dengannya karena dia terlalu narsis? Biasanya orang yang narsis itu orang yang tampan tahu. Apakah dia tampan?" kata Lidia.
"Hmm ya dia tampan, tapi aku gak suka sama sifatnya huh!" ucap Cerin kesal.
"Siapa dia? Kalau dia tampan itu suatu keberuntungan tahu. Jika aku jadi kamu , aku akan mengejarnya bukan marah, karena dia tampan!" kata Lidia yang sambil menghayalkan dirinya.
"Dia itu tadi..." Mengingat kembali saat di kelas. "Hmm ya namanya Stefan Sam. Eh kau tak usah berkhayal, dia tidak akan menyukaimu karena banyak wanita yang suka dengannya!" jelas Cerin
"Haa tunggu kau bilang apa?" tanya Lidia.
"Kau jangan berkhayal...." Perkataan yang terputus karena Lidia berbicara.
__ADS_1
"Bukan, bukan itu maksudku. Kau bilang siapa namanya?" tanya Lidia.
"Stefan Sam, kenapa kau kenal nama itu?" tanya Cerin.
"Ya itu nama anak orang kaya itu. Yang sangat tampan , aku dengar-dengar kabar dari kota ini bahwa dia punya tunangan cantik yang sama-sama dengannya masuk ke sekolah hari ini dan berdebat dengannya pada pagi hari ini," jelas Lidia.
"Apa maksudmu? Kalau begitu sifatnya berbeda dengan seorang anak orang kaya terhormat yang lain. Dia itu terlalu narsis. Dan kamu bilang dia punya tunangan cantik baru datang hari ini ke sekolah?" tanya Cerin bingung.
"Ah apakah kau cemburu? Tenang saja tidak ada yang lebih cantik dari kamu. Aku yakin itu dan dia pasti akan suka denganmu nanti!" kata Lidia.
"Ah untuk apa aku cemburu. Aku hanya merasa aneh, soalnya dia cuma berdebat denganku tadi pagi tidak ada lagi orang lain," kata Cerin merasa aneh.
"Ah apa jangan-jangan mereka pikir kamu tunangannya. Karenakan kau itu cerewet kalau sudah berdebat hehe," kata Lidia. "dan cuma kamu yang berani berdebat dengan nya. Jadi pikir mereka kau adalah tunangannya."
"Eh aku tidak terima dibilang tunangannya huh awas saja Stefan, ini semua gara-gara kamu!" kesel Cerin.
Di saat itu juga Stefan ternyata mengetahui keberadaan mereka dan mendengar perkataan mereka berdua. Dan ia mendatangi meja mereka berdua.
"Eh ternyata ada yang menceritakan aku di belakang aku ya?" tanya Stefan sengaja membuat usil.
"Eh.., kamu?" kata Cerin dan Lidia bersamaan.
"Ya aku Stefan Sam Willson, kalian mengenal akukan? Apa lagi kau gadis pemarah!" ucap Stefan usil.
"Wah Tuan Stefan, apa kau adalah seorang malaikat untukku!" kata Lidia yang sedang senang dan terkagum-kagum karena melihat ketampanan Stefan.
"Huh Lidia kau sudah ditipu dengan ketampanannya. Jangan mendekatinya!" ucap Cerin kesal.
"Oh ada yang cemburu ya?" tanya Stefan usil.
"Ma..., mana mungkin aku cemburu!" kata Cerin dengan wajah yang merah merona.
"Oh benarkah? Oh ya nona Lidia aku memang seorang malaikat tapi bukan untukmu. Tapi bukan karena aku berkata begitu jadi buat kamu tersinggung, kamu nona yang cantik dan pintar jadi harus mendapatkan seorang pria yang lebih pintar dariku," kata Stefan membuat Cerin merasa kesal dan marah.
"Sudahlah, Lidia ayo kita pulang aku muak karena ada dia di sini, huh menyebalkan!" kata Cerin sambil mengoceh.
"Ok. Gak apa-apa kalian pergi tapi jangan lupa besok kau akan berjumpa denganku di sekolah!" kata Stefan.
"Tuan Stefan apa kau sedang sakit?" tanya Molan merasa heran karena melihat Stefan yang bersifat dingin jadi orang yang usil terhadap seorang wanita yang baru dikenalnya.
"Siapa yang sakit?!" tanya Stefan kembali menjadi sikap yang dingin.
"Eh? Tidak ada , bagaimana kalau kita pulang saja?" kata Molan mengalihkan pembicaraan.
Hi guys jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Selalu dukung AUTHORnya...
Karena itu adalah sebuah motivasi untuk author agar tetap semangat.
__ADS_1
Tunggu episode selanjutnya ya...