
setelah beres bertugas, tia segera menuju tempat dimana yang sudah di tentukan daffa.
yaitu di sebuah kafe
saat tiba di depan kafe tia segera menghubungi nomor yang tadi di gunakan daffa untuk menghubungi nya
"kakak dimana? tia udah samai di kafe" pesan tia
^^^"saya sudah di dalam, meja nomor 20" balas daffa^^^
setelah mendapat balasan dari daffa, tia segera keluar dari mobil nya dan masuk kedalam kafe.
saat di dalam ia mencari meja nomor 20 seperti yang di katakan daffa, disana ia melihat daffa yang membelakangi nya
"assalamu'alaikum kak" salam tia, ia lupa kalau tadi sempat berasumsi bahwa daffa adalah non muslim
daffa melihat tia datang, lalu ia tersenyum
"wa'alaikum salam, silah kan duduk" ucap daffa
tia duduk di kursi nya lalu menatap daffa sejenak dan langsung mengalih kan pandangan nya kembali
daffa menyadari akan kelakuan tia tersebut,
"ada apa? ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya daffa
tia tergagap
__ADS_1
"ngg.. nggak kok kak, penampilan kakak nggak papa" ucap tia.
"lalu? kenaa kamu melihat saya seperti itu?" tanya daffa
"mm maaf ya kak, mungkin ini sedikit menyangkut privasy, kalau misal nya kakak mau jawab silah kan tapi kalo nggak juga ga papa" ucap tia ragu
daffa nampak mengangguk sebagai jawaban
"Is your brother a Muslim? (apakah kakak seorang muslim?)" tanya tia dengan bahasa inggris karena ia sedikit canggung membicara kan nya
daffa sedikit kaget dengan pertanyaan tia
"kenapa?" tanya daffa
"oh nggak kak, bukan apa apa. saya cuma sedikit penasaran aja sih soal nya tadi waktu kakak chat saya, kakak nggak salam dulu. tapi barusan kakak menjawab salam saya. saaya cuma sedikit penasaran aja, nggak di jawab juga nggak papa saya ngerti kok" ucap tia
"oh maaf, tadi saya lupa buat beri salam terlebih dahulu. saya muallaf" ucap daffa
"yaa mungkin baru 2 tahun belakangan ini, sejak saya menetap di indonesia" sambung nya
"oh, maaf ya kak" ucap tia
daffa tersenyum
"oh iya, kamu pesen dulu aja" ucap daffa
tia langsung memesan minuman yang akan menemani nya selama berbincang dengan daffa
__ADS_1
"tapi kamu lucu juga ya, aku fikir kalo orang yang udah hijrah itu bakal kalem, dan nggak kepo" ucap daffa kepada tia
tia nampak tersipu, memang tia sudah berhijrah tapi bukan berarti sifat kepo nya sudah hilang,
"mm seharus nya sih gitu kak, tapiii nggak tahu kenapa kepo nya nempel banget kayak perangko" ucap tia terkekeh
"tapi saya senang dengan kamu yang apa adanya kayak gini" ucap daffa
tia tersenyum, lalu ia ingat tujuan nya datang kemari untuk menemui daffa, akhir nya ia memberanikan diri untuk bertanya
"kak, tadi kakak bilang mau membicarakan sesuatu?" tanya tia
"oh iya saya sampai lupa"
"mm tia, gimana ngomong nya ya" ucap daffa menggaruk tengkuk nya
tia nampak menunggu apa yang akn di ucap kan daffa
"ngomong aja kak, nggak papa. selama tia bisa jawab tia pasti bakal jawab kok" ucap tia
"ia kakak mau nanya, tapi kalo misal kan tia nggak mau jawab, nggak usah di jawab. jangan merasa nggak enak sama kakak" ucap daffa
dan di jawab anggukan oleh tia
pelayan datang mengantar kan makanan untuk tia, setelah pelayan pergi, daffa melanjut kan ucapan nya kembali
"apa tia dulu pernah magang di rumah sakit xx? " tanya daffa, tia nampak mengangguk
__ADS_1
"apa dulu tia pernah nolong seseorang di rumah sakit itu dengan mendonor kan darah tia?" tanya daffa