
lain hal nya dengan daffa yang mengatakan keberadaan farah dengan santai, justru kevin nampak terkejut
"kok dia ga ngabarin gue sih?" tanya kevin
^^^"kenapa harus?" ucap daffa^^^
^^^daffa sengaja memancing kevin agar kevin terpancing dan akhir nya menyusul farah ke jerman^^^
kevin tak bisa menjawab pertanyaan daffa karena memang ia tak tahu apa yang harus ia jawab
"emm.." kevin tidak bisa melanjut kan kata kata nya
"yaudah bro thanks ya" ucap kevin lalu mematikan sambungan telpon nya
setelah mengetahui keberadaan farah, kini kevin tengah di landa kebingungan akan apa yang akan ia lakukan selanjut nya, apakah ia akan menuruti permintaan kedua orang tua nya untuk pulang ke surabaya, atau kah menyusul farah ke jerman.
menyusul ke jerman? oh sungguh aneh, kenapa harus menyusul farah? toh juga tidak ada guna nya fikir kevin. tapi lagi lagi hati nya berkata lain, ia harus menyusul farah, harus!
__ADS_1
setelah kevin memutus kan panggilan telpon nya, daffa meletak kan kembali hp nya di atas meja, ia kembali berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk di depan nya karena kini sekretaris kepercayaan nya yaitu farah, tengah berada di jerman.
saat jari nya asik menari di atas keyboard komputer nya, tiba tiba ia teringat sesuatu, tia
entah mengapa nama tia seakan membuat nya gila, ia benar benar tidak bisa jauh dari tia bahkan untuk sesaat saja, jika saja ia dan tia sudah menikah maka bukan perkara susah untuk selalu berada di dekat tia. namun lain hal dengan sekarang, jangan kan menikah, bahkan hubungan serius saja belum terjalin
aku harus segera menghalal kan nya batin kevin tersenyum
sedangkan
tia saat ini berada di rumah sakit, seperti biasa apalagi pekerjaan seorang dokter jika bukan mengurus pasien nya
"alhamdulillah dok, saya sudah merasa lebih baik" jawab pasien
"alhamdulillah" balas tia
saat sedang menanyakan keadaan pasien nya tiba tiba hp tia berdering, ia segera merogoh kantong jas nya dan melihat id penelpon, dan ternyata itu adalah daffa
__ADS_1
"mm semoga lekas sembuh ya buk, ini resep obat yang harus ibu tebus, kalo gitu saya permisi" ucap tia lalu segera keluar dari ruang pasien tersebut
saat sudah berada di luar ruang pasien tia berniat mengangkat telpon dari daffa namun ternyata sudah di matikan, tia segera menghubungi daffa karena ia takut ada sesuatu yang penting, tak menunggu lama akhir nya panggilan nya pun di angkat
"hallo assalamu'alaikum kak" salam tia
^^^"wa'alaikum salam" jawab daffa^^^
"kenapa kak? maaf tadi tia lagi ada pasien, jadi ga bisa ngangkat telpon" ucap tia tak enak hati
^^^"iya gak papa kok kakak ngerti, mm gini tia, farah kan hari ini ke jerman karena ada urusan kantor disana jadi kakak ga ada teman" ^^^
ucap daffa menjeda kata kata nya karena ingin tahu reaksi tia. tia hanya diam mendengar dengan seksama karena mungkin saja ada kaitan nya dengan cerita tersebut fikir tia
^^^..."jadi, kakak bisa minta tolong buat nemenin kakak makan siang nggak hari ini?" tanya daffa...^^^
tia nampak menimbang akan keputusan nya, apakah ia menerima ajakan daffa atau tidak
__ADS_1
"boleh kok kak, lagipula tia juga ga ada urusan lain juga" ucap tia
mendengar itu, daffa tersenyum dengan sangat lebar ia benar benar bahagia karena tia menerima ajakan nya untuk makan siang, setelah menelpon tia, daffa segera memberes kan semua berkas yang harus di tangani nya, ia menjadi semangat 45 karena ia akan makan siang bersama tia