Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 9


__ADS_3

"Apaan sih Gus tarik-tarik tangan saya. Merah nih tangan saya," kesal Lea. Cewek itu menarik tangannya kasar dari genggaman Zheaan. Ia berdecak dan menatap ruangan Zheaan yang sangat besar serta tertata rapi.


Ada rak buku besar dan semuanya terisi penuh oleh buku-buku. Lea tertawa kecil dan menghampiri rak buku tersebut.


Ia ingin mencari novel. Biasalah anak zaman sekarang kan mabok novel on-line, dan berhubung Lea tidak memiliki ponsel siapa tau ia akan menemukan novel yang menarik di sini.


"Kok gak ada novelnya yah Gus. Kuno banget, gak asik. Semuanya tentang agama, gak mabok apa bacanya," keluh Lea dengan cemberut.


Zheaan tertawa dalam hati. Istrinya ini sangat menggemaskan, benar-benar menarik.


"Tidak ada Lea. Saya tidak suka membaca novel. Jika kamu menginginkan salah satu dari buku saya, kamu bebas mengambilnya."


"Dih makasih, sorry gak hobi baca begituan. Saya mah bacanya yang novel-novel romantis gitu."


Zheaan teringat bahwa tujuannya membawa Lea kemari. Seketika emosi dan cemburu yang sempat menjadi satu kembali kambuh.


"Lea." Suara Zheaan sangat dingin dan menusuk ulu hati Lea.


Lea menatap Zheaan sambil mengerutkan kening. Ada apa gerangan tiba-tiba sikap Zheaan dengan mudahnya berubah seperti bunglon.


"Kenapa kamu bisa sama Aldi? Dan apa yang sudah kalian lakukan?"


"Saya tidak ngapa-ngapain Gus. Cuman liat TikTok. Ngeliat orang joget-joget gitu. Nih saya contohkan."


Mata Zheaan membola. Ia menelan ludahnya tatkala Lea benar-benar membuktikan ucapannya.


Cepat Zheaan mengucap puluhan kali lalu membuang wajahnya yang memerah, padahal istri sendiri. Zheaan takut tidak kuat iman.


"Astaghfirullah, kamu tau sedang apa di depan Gus mu?"


Lea sadar. Dan ia kaget sambil menutup mulut. Terdiam di tempat.


"Astaghfirullah, maaf Gus. Kebiasaan."


"Jangan ulangi kebiasaan buruk mu. Hanya suami mu yang berhak melihatnya, bagaimana jika ada yang melihat kamu seperti ini? Jogetan kamu itu termasuk aurat, hanya boleh dilihat oleh suami mu. Dan jika orang lain yang melihatnya timbul syahwat bagaimana? Maka dari itu haram berjoget seperti itu di depan pria. Satu lagi, tidak boleh berduaan yang bukan mahram. Karena itu bisa menimbulkan zina, Zina tidak hanya berhubungan suami istri saja, tetapi ada zina mata, zina lisan, zina tangan, zina qalbi. Ngerti kamu?" marah Zheaan menatap wanita kecil yang tampak patuh mendengarkan.


"Katanya kalau berduaan itu gak boleh. Terus kita kan sedang berdua Gus?" Lea menyengir sambil menggaruk tengkuknya.


"Kalau sama saya boleh. Kalau sama Aldi dan yang lainnya selain ayah atau Abang kamu gak boleh."


"Kok gitu Gus?"


"Kenapa?"


"Kalau begitu Aldi dihukum dong Gus?"


"Iya," singkat Zheaan sambil tersenyum tipis. Ia cemburu istrinya memikirkan pria lain.


"Kenapa? Kan yang salah Lea yang ngehampirin Aldi."


"Karena nakal kaya kamu," ucap Zheaan sambil tangan kanannya mengusap lembut kepala Lea.


Lea terpaku merasakan ada getaran di hatinya saat Zheaan mengusap kepalanya. Bila dikatakan jantungnya tidak aman, memang benar tidak aman.


"Gus, mau hukum saya?"


"Ya."


"Hukumannya apa?"


Zheaan tersenyum dan menatap intens mata Lea. Dalam situasi saling bertatapan sungguh membuat Lea benar-benar demam Zheaan.

__ADS_1


"Saya ingin kamu masakin sesuatu untuk saya. Sore nanti diantar."


"Cuman itu?"


"Iya Habibati."


"Apa artinya?" penasaran Lea menatap serius Zheaan.


"Sudahlah. Kamu belum makan, 'bukan?" tanya Zheaan dan diangguki Lea.


Bagaimana Lea sempat makan, ia saja belum pulang ke asramanya malah diboyong ke ruangan Zheaan.


"Eh Gus kita mau kemana?"


"Ikuti saja saya."


Zheaan membawa Lea ke Ndalem. Ia tak ingin istri kecilnya jatuh sakit karena belum makan.


Lea sungkan menatap anggota keluarga kyai Akhyar yang berkumpul di meja makan.


"Assalamualaikum Umi, Abi, Ning."


"Wa'alaikumussalam," balas anggota keluarga Akhyar kompak.


Mereka cukup terkejut melihat kedatangan Zheaan bersama Lea.


"Ya Allah. Ada Lea yah. Sayang sini duduk samping umi."


"Eh Umi." Lea merasa canggung menyapa umi Sarni yang memakai cadar.


Ini benar-benar hal yang belum pernah dirasakan Lea, makan bersama dengan orang-orang alim. Jadi begini rasanya, benar-benar merasa tidak nyaman bagaikan dia adalah iblis di tengah orang alim.


Lea menatap Zheaan meminta jawaban. Zheaan hanya mengangguk sambil tersenyum. Lea baru menyadari jika senyum Zheaan benar-benar racun. Hampir saja ia berteriak melihat betapa manisnya senyum itu.


"I-iya Umi."


Lea duduk di samping umi Sarni dan berhadapan langsung dengan Gus Zheaan. Lea mengangkat kepalanya dan jantungnya berdetak sangat cepat melihat Zheaan yang ternyata tengah memperhatikannya.


"Makan yang banyak nak Lea, jangan sungkan. Anggap saja keluarga sendiri."


"Iya pak Kyai."


"Plisss bawa gue kabur sekarang."


______________


"Eh lo tadi dihukum apaan sama gus Zheaan? Ponpes heboh tau gara-gara gus Zheaan tarik tangan lo tadi. Gue kira kemarin cerita lo bohong, ternyata benar."


Lea memutar bola matanya. Bisa-bisanya ucapannya diragukan, kapan ia bohong coba? Sering kali sih Lea berbohong terutama pada orangtunya.


"Gue dihukum sama gus Zheaan suruh masakin makanan buat dia. Kesel banget, 'kan? Sumpah tuh cowok bener-bener nyebelin. Kalau bukan anak kyai udah gue maki habis-habisan," kesal Lea.


"Astaghfirullah Lea. Kamu gak boleh ngomong kayak gitu, bagaimana jika ada yang mendengar?" khawatir Nia sambil melirik sana sini memastikan situasi.


"Apaan sih yang perlu dikhawatirkan? Bagus lagi jika ada yang denger."


Nia menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya. Harus sabar, kata Allah orang yang sabar akan mudah disayang Allah.


"Lea. Terserah kamu." Nia tersenyum maklum menahan segala kekesalannya.


"Nia lo udah darah tinggi ya?" tanya Dora memancing emosi Nia.

__ADS_1


"Ya. Sama seperti ngeliat muka kamu, rasanya aku pengen marah tiap hari."


Lea menatap kasian Nia. Melihat wajah kesal Nia yang pergi meninggalkan mereka berdua membuat Lea tidak tega.


"Kasian banget temen lo.".


"Temen lo juga sekarang."


Mereka pun lama teridam di ruangan itu tanpa pembicaraan sama sekali. Hingga tiba-tiba Nia masuk ke dalam kamar kembali sambil berteriak heboh.


"Nia jangan lari-lari ngapa!!" peringat Dora sambil berdecak.


"Eh ada kabar."


"Ciehh udah mulai bisa gibah," sindir Lea sambil terbatuk-batuk yang dibuat-buat.


"Ishh.. ngeselin deh. Ini penting banget sumpah."


"Sepenting apaan?"


"Ini tentang Gus Zheaan."


"Wah kenapa tuh gus Zheaan?" gercap Lea dan bersedia mendengarkan cerita Nia.


"Kalian tau, akibat dari rumor itu, katanya gus Zheaan rela tangannya dipukul pakai rotan gara-gara gandeng kamu. Kasian banget, 'kan?"


"HAH?!!" kaget Lea. Kenapa bisa? Bukannya kata gus Zheaan tidak apa-apa?


"Lea, kamu harus hati-hati. Di pesantren itu tingkat pembullyan juga tinggi. Pasti banyak yang para senior maupun junior yang bakal ngincer kamu."


"Dih, emang gue takut? Gak ye." Lea beranjak, "udahlah. Gue mau keluar cari angin dulu."


"LEA HIJABNYA BENERIN DULU!! KALAU KETAHUAN USTADZAH ALMA, KAMU BAKAL DIHUKUM!!!"


"I' DON'T CARE, U KNOW?!!"


Lea berjalan melenggang dan tersenyum-senyum bagaikan orang yang baru saja jatuh cinta.


Ia tidak sadar dengan jalan disusurinya hingga menabrak seseorang.


"Eh gus Zheaan."


"Assalamualaikum."


"Eh, Wa'alaikumussalam," jawab Lea cengar-cengir. "Kenapa Gus? Eh iya Gus, apa benar tangan Gus dipukul pake rotan?" Lea melirik punggung tangan Zheaan yang merah.


"Iya. Ini demi kamu, saya rela dipukul seperti ini, agar tidak ada yang tahu identitas kamu, dan kamu tidak tahu saya. Setidaknya untuk sementara karena saya juga tidak bisa lama seperti ini. Saya sungguh mencintai kamu."


"Tidak apa-apa. Saya ke sini mau nerima hukuman yang saya buat untuk kamu."


"Tapi Gus, saya harus masak di mana?"


"Kamu bisa masak di Ndalem." Zheaan menarik tangan Lea dan mereka melewati jalan sepi, "ikuti saya." Zheaan tersenyum lebar.


"Ya Allah sungguh MasyaAllah jodoh orang. Gus Zheaan terlalu sempurna untuk saya yang Astaghfirullah."


___________


Tbc


Jangan lupa like dan komen setelah membaca

__ADS_1


__ADS_2