
Sepanjang perjalanan Rafkha tidak bisa membendung air matanya. Pria itu merasakan sesuatu yang sangat sesak menusuk jantungnya.
Rafkha baru saja mendapatkan arti cinta sesungguhnya. Bagaimana cara dia menatap, bagaimana cara dia memandang. Dan semuanya hancur karena sebuah kenyataan bahwa Lea sudah menikah.
"Kenapa saya bisa mencintai seseorang dengan cara yang haram apalagi orang itu adalah istri dari Gus hamba ya Allah," adu Rafkha dengan raut sangat sedih.
Pria itu menarik napas panjang dan kemudian berjalan dengan pelan. Rasa sakit yang sangat menggebu tidak bisa pulih hanya dengan beberapa hari.
Mungkin dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk melupakan Lea.
"Kenapa hamba bisa jatuh cinta dengan Lea?" Itulah yang terus ditanyakan Rafkha ketika dia sedang termenung.
Dia mencari hal istimewa dari Lea, tidak ada. Hasilnya nihil, Lea jauh dari kriterianya. Jika dikatakan cantik, masih banyak cewek cantik di luar sana plus juga cantik akhlaknya.
"Mungkin karena sifat mu itu aku menyukai kamu," ucap Rafkha sambil menghirup udara dengan banyak.
Rafkha menatap ke arah asrama santriwati. Dan matanya tidak sengaja melihat Lea yang sedang berjalan dan asik bersama teman-temannya.
Perasaan sedih itupun timbul lagi di hati Rafkha.
"Wanita seperti itu sayang sekali sudah menikah," ujar Rafkha dengan pandangan sedih.
Pria itu menarik napas panjang lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Rasa sakit dibawa di dadanya, lagian juga dia yang sudah terlalu berharap.
"Kamu tidak salah, sayalah yang salah," ucap Rafkha sambil menarik napas panjang. "Saya sudah terlalu berharap dengan lawan jenis sampai saya melupakan agama saya."
Rafkha menundukkan kepala dan menatap ke depan. Dia sudah sampai di depan asramanya.
Rafkha pun masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat ada teman-temannya tengah berkumpul di dalam kamar.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, habis dari mana Rafkha?" tanya Doni.
"Dari tempat Gus."
"Membahas tentang MTQ lagi?'
Rafkha diam dan tidak bisa menjawab. Ia menatap mata teman-temannya dengan perasaan sedih.
"Tidak."
"Jadi membahas apa?"
"Ada problem dan privasi," ujar Zheaan sambil tersenyum ke arah teman-temannya.
"Jadi kita tidak boleh tahu?"
"Ya seperti itu mungkin."
Rafkha pun meninggalkan teman-temannya ke dalam kamar mandi. Dia sedang tidak mood untuk melakukan pembicaraan dengan teman-temannya.
"Kau tahu ada apa dengan Rafkha?"
"Mungkin ada masalah dengan Gus."
"Mungkin saja, tapi masalah apa?" tanya Doni heran.
"Sudahlah biarkan itu menjadi urusan Rafkha dan gus Zheaan," ucap Dani dan memakan gorengan yang tersaji.
"Itu punya aku woy."
"Kamu sih telat makannya ya aku makan duluan," ucap Dani dan melahap habis pempek.
"Rakus banget. Tadi kau juga kan yang habiskan tahu isinya? Subhanallah, beliau ini kocak gaming," ucap Joji sambil menggelengkan kepala.
"Ingat orang rakus itu gak baik dan haram, makanya mari kita jauhi," ucap Adhan santai.
"Gila kalian!!" ucap Dani sambil menatap teman-temannya.
"Sudah-sudah, dan kamu Dani jangan rakus gitu lagi."
"Ye intropeksi diri dong," ucap Mereka bersamaan.
"Dih kaya kalian benar aja," balas Dani dan masih mencomot makanan yang masih tertinggal satu.
"Ntar badan mu lebar baru tau."
__ADS_1
"Kagaklah, badan aku baik-baik aja. Liat nih ideal dan atletis gini, gimana mau lebar," sombong Dani.
"Serah kamu Dani. Ingat roda itu berputar gak netap, siapa taukan suatu hari nanti."
"Jangan nakut-nakutin lah."
____________
Seperti biasanya Lea selalu suka berjalan sendirian dan tidak ikut dengan rombongan Nia dan Dora.
Lea beralasan bahwasanya dia ingin menyendiri dan meminta mereka lebih dulu pergi.
Tidak ada yang aneh dengan perjalanan tersebut. Lea dengan riang melangkah dan penuh semangat.
"Assalamualaikum Teh."
"Wa'alaikumussalam."
"Mau ke mana Teh?" tanya salah satu santriwati yang berpapasan dengan Lea.
Lea memandang dengan senyuman adek kelasnya tersebut.
"Ini mau pulang ke asrama."
"Ceria banget teteh Lea."
"Tentu seorang Azalea harus tetap tersenyum setiap hari," ucap Lea dan menyengir menampakan semua deretan giginya.
"MasyaAllah, sehat selalu teh Lea."
"Makasih ya."
"Sama-sama Teh Lea," ujar adek kelasnya itu. "Assalamualaikum Teh, saya duluan"
"Monggo," ucap Lea dan kemudian. Berjalan lamban di belakang adek kelasnya itu. "Senang banget dah gue hari ini."
Lea berjalan dan menatap ke depan. Senyum di wajahnya luntur melihat segerombolan wanita yang tengah menghadangnya.
"Mau apa kalian? Minggir," pinta Lea dan meminta orang-orang tersebut menyingkir.
"Kalian budek apa gimana sih? Atau gak punya telinga, hah?" kesal Lea yang meminta mereka dari tadi agar menyingkir malah kaya batu tidak bergerak-gerak. "Sumpah kalian tuh kayaknya minta dikorek telinganya sama ustadzah," ucap Lea geram.
"Hoi!!"
"Ngomong juga kan lo. Gue kira semuanya bisu. Ngerti dengan bahasa manusia gak? Kata gue mundur bukannya netap di situ woy."
"Siapa yang mau memberikan lo jalan?" tanya seseorang yang berjalan ke arahnya.
Lea melotot melihat wanita itu. Ia sangat mengenali siapa sosok tersebut. Dia adalah temannya waktu di Jakarta dulu.
Memang tidak dekat dan sempat ada problem tapi tetap saja Lea sangat terkejut mengetahui jika dia ada di pesantren.
"Emak lu setres kan sama lu makanya masukkan sini," sindir Lea pada orang tersebut.
"Ibu lo juga."
"Iya sih. Tapi lo kan lebih parah dari gue. Ternyata lo udah Nemu geng baru. Bagus deh," ucap Lea sambil menatap dengan menyeringai.
"Lo ingat kan gue tau rahasia lo!"
"Maksud lo?"
Nindy tersenyum miring. Dia menatap ke semua santriwati yang ada di sana.
"PERHATIAN SEMUANYA, TOLONG KE SINI SAYA KAN MEMBERIKAN SEBUAH INFORMASI PENTING!!" Nindy menatap Lea penuh dengan seringaian licik.
"Apa-apaan maksud lo?" tanya Lea tidak mengerti.
"Apalagi jika bukan untuk mengatakan kepada semua orang bahwa wanita yang terkenal di pesantren ini pernah dinodai."
"NINDY!!" geram Lea dan mengepalkan tangannya. Dia menatap ke arah para santriwati yang sudah terkumpul banyak.
"Kalian bubar tidak ada berita!" teriak Lea dengan gugup. "Jangan dengarkan Nindy dia bohong."
"Lah gimana sih," sahut dari salah satu santri putri tersebut.
"Plis jangan dengerin," mohon Lea dengan perasaan penuh harap.
__ADS_1
Nindy tersenyum lebar. Senyum penuh kemenangan.
"Kalian tidak lihat wajahnya ketakutan gitu, pasti ada sesuatu yang ingin saya sampaikan tetapi dia ketakutan."
"Licik lo," ucap Lea tidak habis pikir.
Air matanya menggenang. Berkedip sedikit saja maka air mata itu akan jatuh.
"Baru tau lo. Apa yang lo lakuin ke gue malah tidak ada apa-apanya. Mikir Lea, lo rebut pacar gue."
"Woy, gue gak pernah rebut pacar lo dulu. Dia yang mau sama gue, dan gue juga tidak meladeni dia."
"Tapi gue tetap sakit hati." Lea menarik napas pasrah.
Apa yang bisa dilakukannya lagi? Menangis, itulah yang tengah dilakukan Lea. Menerimanya segala hal yang membuatnya merasakan sakit yang sangat dalam.
Nindy menarik tangan Lea kasar dan merendahkan Lea dengan sangat hina.
"Kalian tau wanita ini? Azalea, kalian tau apa yang sudah terjadi dengan dia?"
"Apaan Nindy?" tanya salah satu dari orang yang berkumpul.
"Kalian tau wanita ini pernah dilecehkan dan dinodai, jadi dia sudah tidak suci lagi hahhaha!"
"Astaghfirullah, kamu tidak boleh asal fitnah," ucap seseorang yang tidak terima dengan perlakuan Nindy yang semena-mena.
"Hah? Fitnah? Kenyataan kok."
"Lagian kalau nyata juga kamu gak boleh sebarkan aib orang!"
Nindy meras kesal karena tidak ada satupun yang mendukung tindakannya. Hati Lea senang namun ia juga sedih karena dia tahu ada beberapa yang memandang Lea dengan tatapan yang sangat beda.
"Kalian semua tidak asik!"
"Di pesantren ini bukan untuk orang yang benar tapi untuk orang yang ingin belajar menjadi orang yang benar. Jika Lea dulu memiliki masa lalu kelam, mungkin dia sudah bertaubat dan menjadi lebih suci dari kamu!"
"Hah suci?" Nindy menatap Lea, "wanita kaya gini suci? Wanita yang sudah disentuh?"
Lea menitikkan air mata. Ia menggenggam tangannya melihat tatapan orang-orang yang ingin menelannya hidup-hidup.
"Kenapa dunia ini sangat kejam," bisik Lea sambil menahan sesak di dada.
"Gue pengen pulang."
Lea menjauh dari tempat itu dan berlari meninggalkan rombongan Nindy.
Lea berlari ke tempat yang biasa dia datangi. Cewek itu berteriak senyaring-nyaringnya meluapkan perasaan hatinya.
"AAAAAAA!"
Lea menarik napas lalu tertawa sedih. Wanita itu menelan ludah kasar dan menatap ke depan dengan tangan terkepal.
"Gue pengen pulang. Di sini tidak enak, hiks Bunda, kenapa Bunda tega kirim Lea ke tempat ini. Bunda gak mikirin bagaimana perasaan Lea berada di sini, Lea capek, Lea pengen pulang," lirih Lea sambil menatap ke depan.
Air matanya jatuh satu persatu. Lea merasakan tungkainya lemas. Ia pun jatuh dan terduduk.
"Gue benci dengan diri gue. Kenapa gue tidak suci lagi? Apa ada orang yang mau sama gue. Bang.sad!! Kenapa lo lecehin gua dulu!! Hiks, gara-gara lo gue dihujat sama teman-teman gue. Tolong balikin diri gue," ucap Lea sambil menangis. "Hiks, dunia kejam. Kalian tidak memikirkan bagaimana nasib gue yang tidak tahan berada di penjara suci ini. Gue pengen pulang dan main hp." Lea memukul tanah. Meski berujung tangannya yang sakit tetapi Lea tidak peduli demi mendapatkan kepuasan hatinya.
Lea menarik ingusnya. Mata Lea benar-benar bengkak. Ia mencengkram dadanya yang teramat sakit.
Ia bersandar di batang pohon dan memejamkan mata.
"Gue gak suci." Itu terus yang digumamkan Lea sambil sesekali dia tertawa dan menangis bersamaan.
Lea merasa diri ini sungguh menyedihkan. "Gue jelek banget pasti kalau lagi nangis gini."
Lea mengeluarkan kaca dari saku bajunya. Biasalah Lea, lagi nangis pun dia sempat-sempatnya memikirkan penampilan.
"Tuh kan mata gue bengkak banget. Hiks, tapi ini semua gara-gara cowok itu. Andai gue ketemu dia, mungkin dia sudah gue jadikan sate Madura."
Lea menarik napas dan memasukkan kembali kaca tersebut ke dalam saku bajunya.
___________
Tbc
Jangan lupa like dan komen setelah membaca
__ADS_1