
Zheaan dan Lea dibawa ke tempat sidang oleh ustadzah Alma dan ustadz Sholeh. Sepanjang jalan orang berkumpul menyaksikan sambil mencemooh.
Mereka lebih menatap sinis Lea ketimbang gus Zheaan karena mereka berpikir bahwa Lea lah yang menggoda Zheaan.
Tidak mungkin seorang Gus yang mereka banggakan berbuat keji semacam itu. Memang menilai seseorang dari luar tanpa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya adalah kesalahan besar.
Lea didekap oleh Zheaan untuk melindungi wanita itu. Ia tak ingin Lea bersedih hati karena mendengar cemoohan mereka yang tidak berdasar itu.
Jika ada yang harus disalahkan maka salahkan Zheaan.
"Gus Lea takut," lirih Lea sambil menangis di dalam pelukan Zheaan.
"Sayang, jangan takut. Ada saya di sini. Abi dan Umi akan memberikan penjelasan kepada mereka. Kamu tenang saja."
Zheaan mengecup puncak kepala Lea.
"Apa yang dikatakan Gus itu benar?"
"Tentu saja. Mana mungkin saya berbohong," ucap Zheaan meyakinkan Lea.
"Jadi Lea tidak perlu takut ya Gus?"
"Benar Azalea sayang. Mungkin sudah saatnya Allah menyuruh kita mengatakan yang sebenarnya dan kita bisa bermesraan berdua di depan umum tanpa ketakutan lagi."
Lea memandang wajah Zheaan. Ia merasa damai melihat pria itu. Lea sudah menganggap Zheaan adalah pahlawannya.
"Udah sampai. Tenang saja. Abi dan Umi serta ustadzah yang lain juga dipanggil ke sana."
Lea mengangguk. Wanita itu memberanikan diri menatap ke arah sekitar. Diantara banyak kerumunan Lea melihat Dora dan Nia yang menatapnya dengan pandangan kecewa.
Lea melempar senyum kepada mereka dan sama sekali tidak dibalas. Lea merasakan seperti sesuatu yang menusuk hatinya. Sangat sakit diperlakukan demikian.
Baru kali ini Lea melihat kedua sahabatnya itu mendiamkan dirinya. Lea menghirup udara dengan perasaan hampa antara ingin marah dan menangis.
"Ternyata Nia dan Dora benci sama saya Gus. Mereka suka sama Gus otomatis mereka juga akan marah ke Lea."
"Kalau mereka marah jauhi saja. Tidak baik berteman dengan orang demikian yang sama sekali tidak mengerti perasaan temannya. Kamu tinggal di tempat saya."
__ADS_1
Lea mengangkat kepalanya dan terharu dengan Zheaan.
"Terima Gus."
"Sama-sama."
Zheaan menatap ke depan dan memandang Rafkha yang ternyata ada di sana. Cowok itu tersenyum seolah meyakinkan Zheaan.
Senyumnya adalah sebuah kesedihan yang sangat mendalam. Mengikhlaskan seseorang yang telah dicintai olehnya benar-benar sangat menyesakkan di dada.
"Semoga kamu bahagia Lea. Saya yakin Gus adalah orang yang baik dan akan membuat kamu bahagia dan menjadi lebih baik. Dan saya juga akan lebih dekat dengan Allah dan meminta ampun atas perasaan saya ini," ucap Rafkha di dalam hati.
Pria itu menahan air matanya yang hendak keluar. Namun usahanya itu sama sekali tidak memberikan hasil. Rafkha harus tegar. Dia keluar dari kerumunan itu sambil tersenyum pahit.
"Maafkan saya telah pernah mencintai kamu Lea. Saya harap kamu tidak membenci saya karena telah pernah menaruh hati lebih kepada kamu. Dan maafkan saya Gus telah lancang mencintai Ning."
Zheaan menatap ke depan dan tersenyum melihat tempat sidang. Dia dan Lea masuk ke dalam dan duduk di kursi bagian terdakwa.
Lea dengan tangan gemetar melihat orang-orang yang akan mengintrogasi dirinya. Di sana ada beberapa anggota pesantren yang memiliki pangkat sangat tinggi.
Zheaan tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Dia melirik Lea yang duduk tak jauh dari sampingnya.
Pria itu mengambil tangan Lea yang terasa sangat dingin lalu menggenggamnya.
"Jangan gugup. Aku akan menjelaskan semuanya pada mereka. Kamu tenang saja. Dan tetap tersenyum. Aku gak mau kamu murung gitu."
Lea menghela napas dan mengangguk.
"Iya Gus."
"Baiklah saya akan menjawab pertanyaan itu." Zheaan menatap saudarinya dan juga keuda orangtunya. "Tidak perlu saya menjelaskan panjang lebar. Saya rasa dengan kalimat ini akan membuat kalian mengerti. Saya dan Azalea sudah menikah dua tahun yang lalu. Lantas hal apa yang melarang seorang suami istri saling bertemu?"
___________
Dora dan Nia memandangnya dengan penuh introgasi. Sedangkan Lea menatap mereka dengan pandangan kebingungan.
"Kenapa kalian terus natap gue kaya gitu?" heran Lea dan tersenyum tak nyaman.
__ADS_1
Tidak ada sama sekali yang mau menjawab pertanyaan Lea. Lea terus mendapat tatapan datar dari kedua sahabatnya tersebut.
"Kalian marah sama gue. Oh gak papa kalau misalnya kalian marah. Jujur gue aja baru tau kalau gue udah nikah. Dan ternyata sama Gus lagi. Maafin gue. Kalua bukan karena gue istrinya gua juga gak akan bilang suka sama Gus."
Lea menarik napas panjang dan tersenyum tabah. Mungkin sudah saatnya ia dibenci oleh teman-temannya.
"Gak papa. Palingan aku gak punya temen lagi."
"Terserah lo. Tapi kita kecewa sama lo."
Lea memandang Dora tidak suka. Kenapa seakan-akan dirinya yang salah.
"Kok lu kaya gitu ya? Kaya gak senang sama gue. Gue gak tau apa-apa dan juga baru tau. Jadi kenapa kalian marah sama gue. Kata mereka rahasiakan ya gue rahasiakan lah. Kenapa lo malah marahnya gue."
Lea mengigit bibir menahan tangisnya.
"Mau nangis? Kita gak peduli Azalea. Apa pun penjelasan lo kita gak akan dengerin. Lo sendiri tau kalau misalnya kami sangat mencintai Gus. Cinta kamu bukan sembarang cinta. Kami sayang banget sama Zheaan. Tapi mendengar ternyata elo yang dapatin. Sakit banget."
"Udah Dora. Mungkin sudah takdirnya. Kita bisa menerima apa adanya. Ada Allah yang udah mengatur takdir," sahut Nia.
Lea tertawa kecil. "Oke kalau kalian marah sama gue. Gue bakal pergi dari asrama ini dan gak akan nemuin kalian."
"Lea, bukan itu yang kami mau. Plis jangan kaya gitu," tahan Nia.
"Gue tau lo marah banget sama gue Nia. Jadi jangan sok munafik bilang aja yang sebenarnya Nia. Gak usah tahan gue. Gue gak mau orang cuman baik di depan gue, sedangkan gak ada gue marah banget dan membenci gue."
Nia menundukkan kepala. "Maafkan aku. Tapi jujur aku sangat kecewa. Aku mengira orang yang akan menjadi istri Gus adalah orang yang sangat sempurna dan karena itu juga aku berusaha untuk memperbaiki diriku. Siapa tahu akan melihat aku. Tapi ternyata.... Ya sudahlah, aku juga harus lebih semangat lagi dan percaya bahwa takdir Tuhan memang tidak terduga."
"Makasih udah mengeluarkan apa yang kamu rasakan Nia. Tapi maafkan banget, aku juga punya hati. Dari dulu aku menahan perasaan sakit ini. Aku mungkin nggak akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Aku akan tinggal di Ndalem untuk menenangkan diriku. Sebelum aku pergi aku minta maaf banget pada kalian berdua. Maaf Dora dan Nia."
Lea keluar dari asrama sambil membawa barang-barangnya. Orang-orang semua menatap ke arahnya. Berita tentang Gus begitu cepat menyebar dan membuat para santriwati patah hati.
___________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMAKASIH.
__ADS_1