
Lea memapah Zheaan masuk ke Ndalem. Umi Sarni yang membuka pintu terkejut melihat putranya kembali dalam keadaan lemah.
"Astaghfirullah, apa yang sedang terjadi?" kaget umi Sarni sambil membantu Lea membawa Zheaan ke kamarnya.
"Umi, tadi Gus Zheaan sama Lea ajakin naik wahana kincir angin, tapi pas turun Lea bingung kenapa Gus malah muntah," cerita Lea mengingat kembali kejadian itu.
Umi Sarni melirik Zheaan. Ia menghembuskan napas lelah.
"Gak papa Umi," ucap Zheaan saat dilirik uminya.
Zheaan direbahkan di atas kasur. Kebetulan saat pergi Zheaan sudah melaksanakan sholat Isya.
"Umi, biar Lea saja yang urus," ujar Lea saat melihat umi Sarni hendak mengurusi putranya.
Dengan wajah bingung Umi Sarni melirik Lea lalu bergantian dengan Zheaan yang berekspresi sama.
"Tidak apa-apa jika Umi tidak membantu?"
"Tidak apa-apa Umi. Lea bisa ngurus semuanya," yakin Lea.
Umi Sarni mengangguk dan keluar dari kamar Zheaan dengan ragu. Saat baru melangkahkan kaki keluar dan baru saja menutup pintu ia menatap seluruh anggota keluarganya berkumpul di depan pintu kamar Zheaan.
"Kenapa kalian berdiri di sini? Di dalam tidak ada hajatan," canda umi Sarni membuat anaknya mendesah.
"Umi ada apa dengan Gus dan Lea, Umi?" tanya ning Salsa penasaran.
Begitupula dengan Kansa serta kyai Akhyar yang ikut berada di sana. Mereka seakan tengah menunggu jawaban dari sang istri.
"Gus Zheaan sakit gara-gara naik kincir angin."
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un," ucap mereka serempak.
"Sudah-sudah. Kita kembali ke kamar saja, Gus ingin Lea yang merawatnya. Sudah larut mending kalian tidur saja."
Umi Sarni melirik Kyai. "Abi! Abi kenapa keluar? Bukannya Abi masih harus berbaring. Nanti penyakit Abi kambuh lagi," khawatir umi Sarni dan memboyong Kyai Akhyar ke kamar.
Kembali pada Lea yang sibuk mengurus Zheaan.
Ia menarik selimut sebatas dada Zheaan dan meminta pria itu memejamkan mata. Sebenarnya Zheaan tidak benar-benar memejamkan mata.
Ia diam-diam melirik wajah sibuk istrinya. Itu cukup membuat Zheaan bahagia.
"Gue harus ngapain kalau orang sakit?" Lea melirik Zheaan dengan detail, "Gus tidak tidur, 'kan?"
Zheaan membuka matanya pelan.
"Saya belum tidur."
"Lah kok belum tidur Gus?"
"Saya tidak bisa tidur," jawabnya singkat dan kemudian Lea terdiam.
"Saat kita mengurus orang sakit kita harus ngapain?" tanya Lea dengan wajah bengong.
Zheaan tak menyangka dengan sifat istrinya yang memang berbeda dengan wanita kebanyakan. Lea memiliki khas dirinya sendiri.
"Biasanya kalau saya mengurus Abi atau Umi sakit, saya membuatkannya teh anget atau air anget."
Lea langsung menjentikkan tangannya. Ia baru teringat jika harus membuatkan Zheaan minuman.
"Nah eta!!"
Lea dengan wajah sumringah langsung keluar dari kamar dengan terburu-buru dan membanting pintu.
Brakk
"Astaghfirullah," refleks Zheaan sambil menarik napas panjang.
Maklum, namanya saja Azalea Nazira Al-Basyir. Sifatnya tidak bisa dirubah sudah permanen bar-bar dari kecil. Jadi jangan heran lagi.
Waktu Lea kecil tidak ada apa-apanya dengan sifat nakalnya sekarang.
Ceklek
Pintu kembali dibuka. Orang yang sama pada saat keluar tadi masuk. Di tangannya sudah terdapat teh anget. Lea berjanji ia sudah membuatnya dengan benar dan tidak menambah campuran yang bisa membuat seseorang muntah.
"Gus tenang saja gak ada racun." Zheaan tidak mengkhawatirkan rasa tehnya, hanya ia melamun karena tidak percaya itu adalah buatan Lea.
"Saya tau." Zheaan dengan berani menegaknya hingga bersisa setengah.
Lea membulatkan mata sambil meringis.
"Gus, pelan-pelan. Airnya anget, nanti Gus kenapa-kenapa." Perhatian kecil dari Lea menjadi hal yang berharga untuk Zheaan.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa."
"Bagaimana Gus? Rasanya gak asin, 'kan?"
Gus Zheaan tersenyum jahil. Ia melirik gelas teh di tangannya.
"Coba saja sendiri."
Lea tanpa banyak kata langsung merebut gelas itu dan meminumnya di dekat bekas bibir Zheaan. Cewek itu belum sepenuhnya sadar.
"Eh manis Gus."
Gus Zheaan yang lumayan sedikit pucat itu tersenyum lebar. Banyak orang mengatakan jika minum di gelas yang sama maka mereka sama dengan sedang berciuman.
Itu hanya teori sesat tak bertuan. Tapi Zheaan bahagia jika itu istrinya.
"Namanya juga teh, pasti manis Lea."
"Tapi Lea takut kalau Lea buatnya asin, soalnya Lea sering ragu antara garam halus dengan gula."
Lea meletakkan gelas di atas nakas.
"Apa pun buatan kamu saya tidak akan menyesalinya. Dan saya akan menyukainya."
Lea tersenyum senang. Ia pun tiba-tiba terbengong lagi saat melihat wajah Zheaan yang benar-benar pucat.
Kekhawatiran Lea tidak terbendung. Dia menyentuh kening Zheaan dan merasakan suhu yang sangat panas.
Wajah Lea berubah panik.
"Gus, tubuh gus Zheaan panas banget," ucap Lea khawatir.
"Saya tidak apa-apa."
"Gus, Lea benar-benar minta maaf. Kalau tau Gus bakal sakit Lea tidak akan ngajakin Gus naik kincir angin," sesal Lea.
"Hem."
"Gus tunggu sebentar."
Lea keluar dari kamar dan menyiapkan air hangat serta kain kecil untuk mengkompres kening Zheaan bertujuan menurunkan suhu badan.
Tak lama ia pun kembali dan menyelupkan kain kecil tersebut ke air hangat lalu meremasnya dan kemudian menaruhnya di kening Zheaan.
"Gus tidur lagi sudah malam dan semoga besok udah sembuh."
"Bisa kamu temani saya di sini?"
Lea mengangguk dan membereskan mangkuk berisi air hangat tersebut. Kemudian ia berbaring di samping Zheaan.
Zheaan tidak bisa tidur dan malah Lea yang lebih dulu tertidur. Pria itu menarik napas dalam melihat ini kali pertamanya memperhatikan istrinya dengan sangat lama saat tertidur.
"Andai kamu tau Lea saya sangat mencintai kamu." Zheaan mengecup puncak kepala Lea cukup lama, "ya Allah, ampunilah dosa Azalea istri hamba baik yang telah lalu maupun yang akan datang, baik yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan."
______________
Lea membuka mata dan mendapati dirinya sedang berada di suatu ruangan yang cukup familiar.
Ia mengucek matanya dan menatap ke samping. Lea sangat terkejut melihat Zheaan ada di sisinya.
Cewek itu melotot lalu langsung duduk dan turun dari ranjang. Ia menyentuh wajahnya dan menggeleng cepat.
"Gue pasti salah lihat sumpah. Masa iya gue tidur sama gus Zheaan, ngadi-ngadi banget, khayalan gue terlalu tinggi."
Tapi Lea berusaha mengingat segala yang telah ia lalui bersama Zheaan semalam. Lea pun sadar jika dirinya sudah tertidur di kamar Zheaan saat usai merawat pria itu.
"Ya Allah, mimpi ape gue bisa sampe tidur sama gus Zheaan," ucap Lea sambil memperhatikan wajah Zheaan. "Hamba sangat tidak pantas."
Lea tidak curiga dengan apa pun yang dilakukan Zheaan untuknya. Ia menganggap itu adalah hal wajar.
"Gimana reaksi Dinda dan Yessa tau gue tidur sama gus Zheaan," ucap Lea membayangkan sendiri reaksi heboh teman-temannya.
"Gus Zheaan ganteng tapi lebih gantengan Winwin," ucap Lea dan tertawa sendiri.
Lea mengercutkan bibirnya dan menyentuh kening Zheaan yang panasnya lumayan turun.
Zheaan membuka matanya dan menyentuh tangan Lea. Ia tersenyum lebar melihat istrinya tengah memperhatikannya.
"Gus udah bangun?"
"Menurut kamu?"
"Sudah Gus."
__ADS_1
"Ya."
Lea bengong bak orang bodoh. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut dan berusaha tersenyum walau canggung.
"Eumm... Gus, Lea mau pulang ke asrama."
Mata Zheaan membuka lebar. Pria itu pun berusaha mencari cara agar bisa menahan Lea tetap di sini.
"Lea saya masih kurang nyaman, apakah kamu bisa mengantarkan saya ke tempat wudhu. Kamu sholat di sini sama saya lagi tidak apa-apa?"
Lea berpikir.
"Baik Gus."
Lea membantu Zheaan bangun dari kasurnya. Ia kemudian membawa Zheaan ke tempat wudhu.
"Gus hati-hati."
"Tidak apa-apa."
Zheaan mulai mengambil wudhu. Saat kembali ke tempat ruangan sholat ia tidak dibantu Lea dan Lea juga sudah mengambil wudhu di samping Zheaan tadi.
Bagi Lea menyentuh berbeda gender itu bisa membatalkan wudhu. Jadi ia memperhatikan Zheaan dari jarak yang berbeda.
Kemudian ia diberikan oleh Zheaan mukena dan sajadah. Lea menghamparkan sajadah di atas lantai dan mengenakan mukenanya. Ia berdiri di belakang Zheaan sebagai makmum.
"Gus Zheaan masih bisa sholat berdiri?" tanya Lea khawatir.
"Tidak apa-apa. Saya masih bisa."
Lea mengangguk dan mulai melaksanakan sholat saat Zheaan mengangkat takbir.
"Allahuakbar."
Sholat berlangsung dengan tenang.
"Assalamualaikum warahmatullah," ucap Zheaan dan menoleh ke kiri.
Lea mengikuti dan ia menatap mata Zheaan yang menoleh padanya. Lea mengernyitkan kening melihat Zheaan menyorongkan tangan.
"Buat apa Gus?"
"Buat salam."
"Kok begitu Gus?"
"Kenapa?"
"Eh..." Lea segera mengambil tangan Zheaan dan menciumnya.
Saat Lea menaruh tangan Zheaan di dahinya. Zheaan meletakkan telapak tangannya di kepala Lea.
"Allaahumma innaa nas-aluka salaamatan fid diini wa ‘aafiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wa barokatan fir rizqi wa taubatan qoblal mauti wa rohmatan ‘indal mauti wa maghfirotan ba’dal mauti. (Ya Allah kami memohon kepada-Mu keselamatan dalam agama, dan kesejahteraan/kesegaran pada tubuh dan penambahan ilmu, dan keberkahan rezeki, serta taubat sebelum mati dan rahmat di waktu mati, dan keampunan sesudah mati.)"
Lea menatap bingung Zheaan.
"Itu tadi doa apa Gus?"
"Doa untuk kamu."
Wajah Lea memerah seperti mawar merah.
Ia membuang mukanya dan cepat membuka mukenanya. Wanita itu tak mengenakan hijab membuat Zheaan terdiam melihat keindahan rambut Lea yang tergerai dan diterpa angin.
Ia meneguk ludahnya kasar dan jakunnya naik turun.
"Ya ampun gus Zheaan, pucat banget." Lea menyentuh permukaan wajah Zheaan. "Gus, wajahnya juga panas."
Zheaan menarik napas.
"Lea, sudah sering saya katakan, saya tidak apa-apa."
"Gak papa bagaimana Gus? Gus istirahat dulu, hari ini gak usah masuk dulu."
"Nanti kalau kamu buat masalah lagi siapa yang hukum?"
"Ishhh Gus. Makanya hukumnya yang ringan."
"Nanti kalau kamu ada masalah, saya hukum kamu, buat hapalin surat Al-kahfi, nanti saya ajari kamu."
"INGAT KALAU LEA BUAT SALAH."
________
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa untuk like dan komen setelah membaca.