
Zheaan tidak bisa melupakan momen kebersamannya dengan Lea tadi siang. Itu benar-benar fenomena yang sangat mengguncang dada Zheaan.
Pria itu tidak henti tersenyum sepanjang hari. Bahkan sampai membuat bingung para santri dan keluarganya.
Umi Sarni yang sudah mengetahui kenapa Zheaan bersikap demikian hanya menatap anaknya dengan haru. Jasa Umi Sarni juga besar mendekatkan Zheaan kepada Lea.
Bayangkan setelah hampir setahun lebih baru kali ini dia sholat mengimami istrinya. Hal kecil itu saja mampu membuat hati Zheaan berdetak.
"Kenapa Gus? Dari tadi Abi liat kamu senyum terus." Saat ini anggota keluarga Kyai tengah beristirahat di ruang tengah sambil menonton berita di TV.
"Emm?" Zheaan terkejut dan menatap abi nya dengan cengiran. "Abi, Gus tidak apa-apa."
"Kamu lagi senang, tapi tidak ingin memberitahu Abi."
Umi Sarni menarik senyum dan mengusap tangan suaminya. Ia mengode Akhyar agar tidak bertanya lagi. Anak muda sudah biasa jika sedang tersenyum, itu artinya dia sedang jatuh cinta.
Melihat lirikan istrinya kyai Akhyar pun mengerti. Dia ikut tersenyum dan berharap hubungan Zheaan dan Lea lebih membaik.
"Sabar ya sayang. Kamu harus bisa menjalani ini, hanya untuk sesaat. Cepat atau lambat kamu harus memberitahukan Lea dengan perlahan."
Zheaan mengangkat wajahnya. Pipinya memerah karena menahan rasa malu.
"Iya Abi."
"Gus, teteh Lea cantik banget yah," decak ning Salsa membayangkan wajah Lea yang sangat cantik.
Mungkin Salsa perkirakan Lea adalah penghuni santriwati tercantik. Meski banyak keturunan Arab dan berhidung mancung, tapi tetap Lea pemenangnya, wajahnya sangat unik antara Badas dan Aesthetic, dan lebih menjorok ke wajah orang Rusia.
"Ning Salsa harus tetap bersyukur."
"Iya Abi. Tapi, Gus emang cocok dengan teh Lea."
"Bagaimana Gus? Menyesal apa tidak menikahi wanita seperti Lea? Hayo!!" Kansa menggoda Zheaan yang sudah merah padam menahan malu.
Telinganya ikut memerah, dan melihat orangtunya juga ikut tertawa menambah merah wajah Zheaan.
"Gus tidak akan pernah menyesal. Apa yang sudah Gus lakukan, berarti itulah takdir Allah yang diberikan pada Gus. Meski dia berbeda dan tidak pernah masuk dalam tipe Gus dulu, tapi ketika Gus sudah menikahi dia, dialah kriteria Gus," ucap Zheaan mantap pada keluarganya.
"MasyaAllah, anak bujang umi. Udah kasep pinter lagi." Umi Sarni mengecup pipi Zheaan.
"Abi bangga pada mu Gus."
"Gus gak ada niatan ngajakin Teh Lea tinggal di sini?"
"Biarkan dia di sana merasakan bagaimana mandiri. Lea sudah dimanjakan seumur hidupnya," ucap Zheaan.
__ADS_1
Meskipun sangat ingin bersama Lea, tapi Zheaan tidak mau egois. Ia harus mementingkan pendidikan Lea.
Zheaan menarik napas tatkala memutar kembali ingatan pada saat ia mengajari Lea mengaji. Kedekatan itu membuat Zheaan tidak tahan harus memendam perasaan cukup lama.
Ia ingin terang-terangan. Tetapi Lea, apakah mencintai dirinya? Itu yang masih ditakutkan Zheaan.
Bagaimana jika ada hati lain di hati Lea?
Tapi Zheaan tidak melarang. Ia akan mengurus itu nanti. Urusan hati tidak bisa dipaksakan.
"Abi, Umi, Ning, Gus mau keluar sebentar, ada urusan."
"Urusan apa? Buru-buru sekali Gus?" tanya Umi Sarni khawatir.
"Tadi ada perkelahian di tempat santriwan."
"Ya Allah Gus buruan tenangin."
"Iya Umi."
Usai berpamitan dengan perasaan khawatir, Zheaan pun berjalan terburu-buru menuju ke tempat santri putra.
_________
Setitik air mata jatuh dari netra indah miliknya. Cewek itu sedang teringat dengan rasa traumanya.
Entah kenapa Lea tiba-tiba memikirkan itu. Cewek itu pun memutuskan untuk menyendiri. Setiap kali mengingat hal tersebut Lea tidak bisa menyembunyikan perasaan sedih dan takutnya.
Ia merasa hina dan tidak pantas untuk dimiliki karena sudah tidak sesuci dulu lagi.
Memang tidak sampai ke tahap pemerkosaan, tapi dilecehkan dengan demikian membuat Lea tak mampu menahan rasa sakit di hatinya.
"Ya Allah Lea takut."
Zheaan yang kebetulan lewat di sana setelah pulang dari tempat santriwan panik melihat Lea sedang menyendiri dan melamun ditambah wanita itu juga menangis.
"Lea kamu tidak apa-apa?"
Lea mengangkat kepalanya dan dirinya menangis deras melihat wajah Zheaan.
"Gus kenapa ada di sini?" tanya Lea dengan terisak. Menatap wajah Zheaan apalagi saat ia mengkhawatirkan Lea, Lea tahu betapa hinanya ia.
Zheaan menarik napas dan duduk di samping Lea. Ia menaruh kepala Lea di dadanya.
"Ceritakan ke saya kenapa kamu di sini sendirian? Kamu tidak tahu menyendiri di sini tidak baik karena setan bisa mengambil alih tubuh mu."
__ADS_1
"Lea tau Gus," ucap Lea sambil menatap gusnya itu dengan berkaca-kaca.
Lea memandang wajah Zheaan. Jarak wajah mereka sangat dekat dan Lea tidak bisa menahan perasaannya yang menggebu.
"Gus, kenapa semua orang suka sama Gus?"
"Tidak juga saya rasa."
"Gus, apakah Gus bakal terima jika suatu hari nanti istri Gus tidak sealim dan sesuci ustadzah, dan Ning? Bagaimana jika ada seorang wanita yang sudah pernah disentuh oleh pria lain tapi dia menginginkan Gus?"
Zheaan tersentak. Zheaan sangat peka dan ia mudah menyimpulkan sesuatu. Pria itu menatap Lea di sampingnya.
Rasa bersalah Zheaan pun muncul. Ia menenangkan Lea dan mengecup puncak kepala cewek tersebut dengan hikmat.
"Kenapa tidak? Jika memang dia jodoh saya, saya bakal terima apapun kondisinya selama dia tidak bertentangan dengan Allah, sudah bertaubat dan menyayangi keluarga saya."
Lea menatap Zheaan dengan penuh harap.
"Hiks, saya mau punya suami seperti Gus. Yang bisa menerima apa adanya dan bagaimanapun keadaan saya dulu. Hiks, andai saya bisa mendapatkan orang seperti Gus. Tapi mana ada orang yang mau sama saya Gus."
"ADA LEA, ADA! ITU SAYA!" Ingin sekali Zheaan berteriak.
"Sudah jangan menangis. Kamu tidak bisa membaca hati seseorang dan begitu juga saya. Jadi kamu tidak tau mungkin ada saja orang di sekitar kamu yang sedang mencintai kamu."
Lea terdiam. Ia memang sedikit rada lemot. Wanita itu menarik napas dalam dan menatap ke depan dengan perasaan hampa.
"Lea lelah Gus di pesantren. Lea mau pulang."
"Hsyut jangan begitu, kamu tidak tahu, pasti di luar sana bunda kamu tidak bisa menjagamu dan akan lebih parah lagi dari pada di pesantren. Kalau kamu di sini masih ada saya yang bakal jaga kamu."
"Kenapa Gus baik sama Lea? Gus Lea bingung bukannya kita bukan mahram?" Zheaan tidak bisa berkata-kata.
"Lea, kita ini mahram karena kamu adalah keluarga saya dan saya adalah keluarga kamu."
"Kita masih keluarga Gus?"
"Ya jika ada yang bertanya bilang seperti itu."
"Jelas saya keluarga kamu Lea, saya adalah suami kamu, kepala keluarga kamu, dan calon ayah dari anak-anak mu." Zheaan tersenyum sambil menatap wajah Lea yang sudah mulai kembali ceria.
__________
Tbc
Jangan lupa Like dan komen setelah membaca
__ADS_1