Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 24


__ADS_3

Rafkha kembali ke asrama sambil tersenyum-senyum. Pria itu bahkan tidak sadar bahwa dirinya menjadi pusat perhatian teman-temannya.


"Si Rafkha kenapa?"


"Tidak tahu. Mungkin lagi senang," jawab Doni tidak mau ambil tahu. Sebenarnya dia mengetahui dengan jelas apa penyebabnya hanya saja Doni tidak ingin membeberkan aib Rafkha.


"Kira-kira apa yang bisa buat Rafkha sampai senang begitu," ucap teman Doni.


"Mana aku tahu. Kamu tanya saja Rafkha."


"Aishh Doni kenapa dengan mu?"


"Tidak ada yang perlu ditanyakan aku baik-baik saja."


Doni melirik sekilas temannya tersebut lalu menghampiri Rafkha yang tengah termenung sendirian di sebuah kursi usang.


Doni menepuk pundak Rafkha membuat pria itu tersentak dan melirik Doni.


"Ada apa?"


"Temen-temen pada liatin kamu."


Rafkha menatap sekitar. Ia tersenyum sambil meringis karena ucapan Doni memang benar.


"Kenapa mereka liatin aku begitu?"


"Kamu tidak sadar Rafkha?" Rafkha menggeleng polos. "Itu karena kamu terus tersenyum-senyum tidak jelas membuat mereka bingung. Aku tahu kamu sedang mikirin Lea yang santriwati baru itu, 'kan?" tanya Doni sambil melirik sinis.


Rafkha menundukkan kepala. Tapi ada anggukan lemah yang membuat Doni harus menghela napas sebanyak mungkin.


Ternyata godaan setan memang kuat, sekelas Rafkha saja bisa terpengaruhi. Apalagi sekelas dirinya yang bahkan tidak ada apa-apanya.


"Lalu perihal apalagi buat kamu sampai sesenang ini? Pasti ada sesuatu, 'kan?" selidik Doni mencari celah kebohongan Rafkha.


Rafkha terkejut dia segera membawa Doni ke tempat sepi dan mengatakan sesuatu sambil berbisik.


"Aku tadi menemui Lea."


Plak


"Kamu bodoh Rafkha? Siapa yang mengajari kamu seperti ini? Bagaimana jika sampai ketahuan oleh keluarga kyai? Kamu mau dihukum seperti kemarin?"


"Tidak apa-apa jika bersama Lea."


"Kamu benar-benar gila Rafkha. Kamu tidak seperti Rafkha yang aku kenal. Sangat sopan dan bahkan melakukan hal itu tidak berani." Doni menatap seluruh perawakan Rafkha, "Rafkha, apa yang telah membuat kamu seperti ini? Kamu sudah dipengaruhi setan!!"


Rafkha menundukkan kepala mendapatkan seputar ceramah singkat di siang hari. Padahal biasanya Doni lah yang kerap diceramahi oleh Rafkha.


"Maafkan aku. Aku juga tidak bisa mengontrol perasaan ku. Aku tadi hanya ingin melihat dia dari dekat ingin memastikan keadaan doa baik-baik saja," ucap Rafkha lemah.


"Bukannya sudah dengar kan kalau Lea baik-baik saja. Bukannya sudah dikatakan oleh ustadzah dan ustadz, 'kan? Kenapa malah bertanya lagi?"

__ADS_1


"Kamu tidak merasakan apa yang sedang saya rasakan," ucap Rafkha sambil melirik sahabatnya itu dengan wajah lemah.


"Aku tidak paham dengan jalan pikiran mu. Entah itu salah Lea yang sudah mempengaruhi kamu atau ini karena diri kamu sendiri. Tapi mending kamu jauhi Lea, dia membawa pengaruh buruk buat kamu."


Rafkha tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Doni. Dia hanya menyukai Lea itu saja. Tidak ada yang berlebihan dan Rafkha juga ingin memastikan keadaan Lea secara langsung.


Rafkha tersenyum masam dan meninggalkan Doni di tempat. Ia mendongak menahan air mata.


"Aku hanya ingin menikmati masa remaja ku. Merasakan jatuh cinta memang sudah hal yang umum, tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan perasaan ku. Aku memang sudah dikuasi setan," ucap Rafkha merasa sedih kepada diri sendiri.


Salahkah dirinya ingin merasakan sedikit saja dunia remaja yang sesungguhnya.


__________


Lea tersenyum lebar melihat teman-temannya yang sedang berkumpul di dalam kamar dan membahas suatu topik yang tidak dimengerti Lea.


"Assalamualaikum temen-temen."


"Tumben lu pake salam."


"Wa'alaikumussalam."


"Nah cuman Nia yang Islam si Dora mah kafir gak jawab salam," ucap Lea dan melirik Dora sebentar.


"Mulut lo woy!!"


"Astaghfirullah Lea. Tidak boleh mengatai orang Islam dengan sebutan kafir. Allah melarang keras, kita tidak tahu bagaimana dia di saat orang tidak ada. Mungkin saja dia sering melakukan ibadah."


"Menang lo!"


"Wlee!!" ucap Dora dan memanas-manasi Lea. "Bagaimana dengan hari ini Buk? Apakah cukup untuk diberikan tausiahnya? Dan apakah perlu orang seperti Anda ini diberikan sebuah ruqyah? Boleh juga nih open jasa Ruqyah Azalea."


"Apaan sih lo gak jelas!" ucap Lea dan menghela napas panjang.


Wanita itu keluar dari asrama saking kesalnya. Dora dan Nia mendadak menjadi diam dan saling pandang.


"Dan kamu Dora tidak ada bedanya dengan Lea."


"Lo sih yang ceramahin dia."


"Setiap manusia itu wajib saling mengingatkan. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya dan kamu juga aku ingatkan tidak boleh kaya gitu lagi."


"Iya gue yang salah."


"Salah keduanya," sahut Nia dan menggelengkan kepala.


Kembali lagi bersama Lea. Lea berjalan tanpa tujuan sambil menendang daun kering yang jatuh di tanah.


Maklum orang gabut. Kelakuannya ada-ada saja. Jadi jangan heran lagi dengan spesies makhluk hidup sejenis Azalea ini.


"Dibilang enak di ponpes ini enggak juga, dibilang gak enak gak juga. Emang hidup gue yang terlalu hambar." Lea mendongakkan kepala dan matanya membulat refleks mundur. "Gus Zheaan ngagetin aja."

__ADS_1


Ternyata Zheaan tengah menjulang tinggi di depan dirinya dan menatapnya dengan tajam. Kenapa Zheaan ada di mana-mana udah kaya malaikat Raqib Atid ngikutin mulu.


"Mau kemana?"


"Gak tau mau ke mana. Saya lagi capek."


"Hapalan lagi? Sama saya mau?"


"GAK MAU!!" Cepat Lea menyanggah.


Zheaan mengerutkan keningnya dan tak lama ia tersenyum lebar. Sungguh mood seorang Zheaan mudah berubah-ubah seperti bunglon.


"Kenapa? Kok kaya takut gitu? Tenang dia gak akan gigit kamu kok."


"Gus, heheh emang gak gigit. Tapi pikirin saya yang tekanan batin ketika ngehapal," ucap Lea penuh dengan penghayatan. Ia menyentuh dadanya dan berakting seolah-olah menjadi orang yang paling tersakiti di dunia. Masalah para pembaca menurut Lea tidak ada apa-apanya dengan masalah yang dilaluinya.


Zheaan gemas dengan tingkah Lea. Ia mengusap kepala Lea yang ditutupi hijab.


"Sekarang Lea makin cantik sering pake hijab. Saya suka liatnya."


"Liat orangnya suka juga gak?"


"Banget."


Lea tertawa gelak lalu menatap Zheaan serius. "Gus kenapa sering bilang kayak gitu seolah-olah Gus suka sama dengan Lea?"


"Kalau saya bilang beneran suka dengan Lea bagaimana. Bukannya saya juga sudah sering bilang suka kamu."


"Gus serius?" tanya Lea tidak percaya.


"Mungkin saja."


Lea diam. Ternyata selama ini ia memiliki perasaan yang sama dengan Zheaan. Entah itu hanya bercanda atau bagaimana, tetap saja Lea merasa tidak pantas dicintai. Apalagi teman-temannya juga sama terobsesi dengan Zheaan.


"Gus. Orang-orang pada suka dengan Gus. Mereka lebih agamis dan cantik dari saya. Kenapa Gus sukanya Lea?"


Zheaan menghela napas dan berani menatap wajah Lea dengan tajam.


"Saya tidak peduli. Saya hanya peduli kamu Lea. Dan Ning Salsa pernah bilang kalau Lea adalah wanita paling cantik di pondok pesantren ini dan wanita paling unik di sini."


Mata Lea berkaca-kaca tanpa disadarinya. Wanita itu sangat terharu dan merasakan sakit sendiri.


"Tapi Lea tidak suka Gus." Sengaja dia berkata seperti itu agar menghilangkan perasaan Zheaan dan Zheaan sadar bahwa dirinya tidak pantas untuk Zheaan. "Mending Gus sama Nia aja, dia cantik, baik, dan agamis, dia sering ceramahin Lea. Dia juga suka sama Gus. Baik banget kan Gus?"


Zheaan tersenyum masam.


"Dia tidak sebaik itu karena telah mencintai suami orang."


___________


tbc

__ADS_1


jangan lupa like dan komen setelah membaca


__ADS_2