
Kemesraan Zheaan dan Lea semakin hari semakin bertambah. Terkadang keduanya sampai lupa bahwa status mereka masih dijauhkan dari publik.
Untungnya masih ada keluarga kyai Akhyar yang mengingatkan dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu.
Alasan tidak memberitahukan kepada publik secepatnya karena memang belum ada waktu yang tepat untuk memberitahukannya.
Belum lagi latar belakang mereka menikah karena hal apa. Takutnya malah memberikan dampak yang buruk untuk pesantren dan juga kedua pasangan tersebut.
Makanya pemberitahuan ke publik masih dalam tahap dipikir-pikir dulu dan belum memiliki keputusan yang matang.
"Gus, Lea cemburu ngeliat orang-orang selalu muji Gus."
"Semua orang juga berhak dipuji dan memuji Lea," ujar Zheaan gemas sembari mencubit pipi tembam milik Lea.
"Iya Gus. Lea tau, tau banget malahan. Cuman Lea juga punya hati, gak selamanya Lea bisa tahan ngedenger mereka muji-muji Gus mana pake sayang-sayangan lagi. Istri mana yang gak kepanasan coba."
"Kamu gak perlu khawatir Azalea. Mereka hanya bisa memuji saya tetapi tidak bisa mendapatkan hati saya. Jadi kamu jangan takut." Zheaan meraih kepala Lea dan meletakkan di dadanya.
Pria itu dengan penuh kelembutan mengusap kepala Lea dan mengecupnya beberapakali membuat Lea merasa nyaman dan sangat dicintai.
"Mantan-mantan Lea bahkan gak ada yang kaya Gus."
Seketika wajah Zheaan berubah muram saat Lea membahas mantannya di masa lalu. Cowok itu tersenyum tipis menanggapi Lea.
Lea menutup mulutnya saat menyadari kelalaian yang sudah diperbuatnya. Wanita itu menjauhkan kepalanya dari dada Zheaan dan menatap Zheaan dengan dalam.
"Gus maafkan Lea."
"Tidak apa-apa. Lagian saya bisa maklumi kamu Lea. Asal sekarang hanya saya yang ada di hati kamu."
"Lea janji cuman ada Gus di hati Lea." Lea mengambil kelingking Zheaan dan menautkan dengan kelingking miliknya. "Nih Lea sudah janji Gus."
"Astaghfirullah Azalea, gak perlu begini juga atuh sayang."
"Kalau orang mau buat janji itu harus kaya gini Gus, biar dia gak ingkar."
"Oke-oke saya ikuti kamu." Lea memandang Zheaan dan tersenyum lebar.
"Nah gitu dong. Baru suami kesayangan Lea."
Lea memeluk erat tubuh Zheaan. Sedangkan Zheaan terkikik saking gemasnya melihat Lea yang manja padanya.
"Iya-iya, saya tahu emang saya itu paling terbaik di hidup kamu," pede Zheaan tengah menyombongkan dirinya.
Lea yang semula asik memeluk Zheaan tiba-tiba merasa mual mendengar ucapan cowok itu.
Wanita itu melepaskan pelukannya dari Zheaan dan memandang wajah Zheaan sambil berekspresi geli.
"Ih Gus mah terlalu kepedean," ujar Lea.
Zheaan diam. Ternyata hal yang dilakukannya malah membuat Lea merasa ilfil.
"Maafkan saya kalau kamu nggak suka mendengarnya."
Melihat ekspresi Zheaan seperti anak yang baru saja dimarahi ibunya itu membuat Lea ingin tertawa terbahak-bahak, Zheaan sangat lucu dan imut jika sedang merasa sangat bersalah seperti itu.
Zheaan memandang Lea tidak mengerti. Kenapa wanita itu malah tersenyum-senyum tidak jelas padahal dia sudah meminta maaf jika Lea tidak menyukai tindakannya.
"Kamu kenapa?"
"Lea kenapa?"
"Dari tadi liatin saya sambil pengen ketawa gitu. Emang ada yang lucu di diri saya?"
"Hahahaha!!" Lea tak mampu lagi menahan tawanya. Ia pun tertawa lepas di depan cowok itu yang tengah kebingungan. "Gus kalau ketakutan gitu lucu banget sih. Dari dulu Lea suka ngeliat wajah Gus yang kek gitu." Lea menyubit pipi Zheaan, "gemes banget."
__ADS_1
"Auu!!" rintih Zheaan, "jangan kuat-kuat juga nyubitnya," keluh Zheaan lalu menarik napas dengan dalam-dalam.
"Nah, sekarang Gus tahu kan gimana sakitnya Lea dicubit-cubit kayak gitu. Jadi please dari sini belajarlah jangan mencubit wajah Lea lagi. Apa Gus tega cubit orang seimut kayak Lea?"
"Justru karena kamu terlalu imut makanya saya cubit," ucap Zheaan.
Lea tidak terima dengan penuturan pria itu. Ia ingin protes tetapi sepertinya Lea tidak akan berhasil. Perempuan tersebut memejamkan mata menetralkan perasannya.
"Terserah Gus." Lea membuang muka dan berjalan dengan acuh tak acuh.
Zheaan menyentuh kepalanya kemudian mengurutnya perlahan karena ia tahu bahwa Lea sedang mengambek padanya. Tentunya ingin mendapatkan maaf wanita itu seperti memperjuangkan kemerdekaan.
Sangat sulit, apalagi Lea sering menangis dan ujung-ujungnya dia akan mengadu pada Umi Sarni. Lalu Zheaan lah yang akan dimarahi oleh uminya.
"Lea tungguin saya! Maafkan saya Lea, oke kali ini saya tidak akan membantah kamu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin tidak mencubit kamu," ucap Zheaan penuh dengan perasaan bersalah, "tapi kalau kamu misalnya lucu banget maafin aku kalau cubit pipi kamu."
Lea menghentikan jalannya. Dia awalnya sudah sangat senang mendengar Zheaan meminta maaf padanya. Namun ketika mendengar penuturan kalimat di akhir moodnya kembali dirusak.
"Gus mah, Lea cubit marah, giliran cubit Lea senang. Kok nggak adil gitu ya?"
"Iya-iya sayangku. Jangan ngambek lagi yah, nih pipi saya kamu cubit aja sepuasnya."
Lea tersenyum, "sakit gak?" Bukannya cubitan Lea malah mencium pipi Zheaan.
Zheaan terdiam lalu menatap wanita itu sambil tertawa kecil. Dia mengusap kepala Lea dengan cukup kencang.
"Istri saya sudah mulai nakal yah?"
"Gak, Lea itu pintar."
"Masa? Saya tidak percaya ah. Tadi aja cium pipi saya!"
"Oke lain kali Lea gak mau lagi."
"Ish Gus mah tau aja apa kelemahan Lea."
Jika Zheaan sudah memainkan alisnya, siapapun yang akan melihatnya tidak akan sanggup menahan pesona dari Zheaan.
Pria itu memiliki wajah yang sangat rupawan ditambah dia memainkan salah satu dari anggota tubuhnya dan malah menambah ketampanan yang dimiliki oleh Zheaan.
Maka dari itu banyak dari santriwati di sini yang mengidam-idamkan pria seperti Zheaan. Tidak hanya satu atau dua melainkan hampir seluruh santriwati di sini.
Tapi balik lagi, hanya Lea pemenangnya. Entah apa yang akan dilakukan oleh santriwati ketika mengetahui bahwa Lea adalah istri dari Gus yang mereka dambakan.
Keberuntungan mungkin hanya milik Lea, itulah yang mungkin akan dipikirkan oleh mereka. Tapi itu memang benar adanya, namun tidak selamanya Lea bahagia.
Hubungan mereka akan diuji oleh beberapa rintangan. Pada dasarnya tidak ada sesuatu itu yang mulus.
Entah itu akan terjadi hari ini besok atau nanti. Akan tetapi Lea dan Zheaan berharap jika hal itu benar terjadi suatu saat nanti, harapan keduanya adalah mereka akan tetap terus bersama-sama dan melewati rintangan itu dengan saling membantu.
"Lea kamu kan sebentar lagi ada jam Sejarah. Ke asrama dan jangan lupa masuk gak boleh bolos. Awas aja misalnya aku dengar kamu bolos lagi."
"Siap pak suami." Lea memberikan hormat ala-ala hormat bendera.
"Buruan ke sana. Nanti telat lagi kamu masuknya, terus cari-cari alasan buat ngehindarin kelas."
"Iya-iya suamiku yang ganteng dan sangat bawel ini."
__________
Lea sudah tak tahan menahan perasaan rindu yang ada di dadanya. Baru saja beberapa jam dia berpisah dengan Zheaan, wanita itu sudah merasakan sesuatu yang penuh kerinduan di dadanya.
Sehabis sholat Isya ditunaikan, Lea berencana pergi ke Ndalem. Mungkin dua sahabatnya Dora dan Nia sampai sekarang masih bertanya-tanya kenapa Lea sering kali menginap di sana.
"Dora! Nia! Gue duluan ya!"
__ADS_1
"Mau ke Ndalem lagi?" tanya Dora serius.
"Nah tuh tahu," ujar Lea dan memetik jarinya di depan wajah Dora.
Dora merasa kebingungan yang sangat luar biasa. Dari kemarin dia ingin sekali mempertanyakan kenapa Lea akhir-akhir ini lebih sering tinggal di Ndalem ketimbang di asrama seperti dulu.
Semenjak Lea kabur dari pesantren, Nia dan Dora bisa merasakan sifat Lea yang sangat berbeda.
"Kok lu jarang sama kita lagi? Emang kita ada salah ya makanya lo nggak suka tinggal di asrama?"
"Bukan begitu Dora, tapi lo tau sendiri kan kalau di asrama tuh nggak enak banget makanya gue tuh sukanya di Ndalem. Ok? Ngerti kan jangan tanya lagi gue buru-buru. Dah Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Nia dan Dora.
"Nia, lo merasa nggak sih kalau ada yang berubah dari Lea. Setahu gue dia emang suka dulu Ndalem tapi nggak sesering ini. Apalagi kan Lea nggak suka sama Gus, pasti cewek itu nggak mau tinggal di sana."
"Benci gimana? Orang Lea suka sama Gus Zheaan kok! Kamu lupa kan dia kemarin bilang udah suka sama Gus."
"Astagfirullah, gue lupa padahal kan kemarin dia bilang. Berarti kalau gitu saingan gue nambah dong?"
"Entah siapa yang akan menjadi istrinya, sungguh sangat beruntung memiliki suami seperti Gus. Udah tampan, baik, memiliki aqidah akhlak yang bagus, dan tentunya orang yang dipilih itu pasti akan setara dengan dia. Sedangkan kita apa?"
"Nggak usah diperjelas lah ciri-ciri wanita yang disukai Gus nanti. Gue merasa tersindir woi," ucap Dora.
"Tapi kan emang bener Dora."
"Terus maksud lo, lo gitu yang lebih pantas sama Gus Zheaan?"
Nia beristighfar beberapa kali. Ternyata Dora salah kaprah. Apa yang dimaksud oleh Nia berbeda dengan yang ada di pikiran Dora.
"Tidak Dora, aki sendiri saja merasa tidak pantas untuk Gus."
"Udahlah Nia, jodoh tidak ada yang tahu. Bisa aja ternyata jodohnya Gus berbanding kebalik dengan apa yang kamu pikirkan tadi."
"Mungkin saja tapi kayaknya itu peluangnya dikit deh," ucapnya lalu menatap ke arah depan sambil menghela napas.
Nia baru pertama kali merasakan jatuh cinta dan itu pada Gusnya sendiri. Memang rasa ingin memiliki ini benar-benar menggebu, tetapi Nia harus siap siaga jika suatu hari nanti terdengar kabar bahwa Zheaan telah menikah.
"Eh, eh di sana kenapa pada ribut-ribut ya?" tanya Dora kepada dirinya.
"Kenapa Dora?"
"Coba deh liat ke sana. Rame banget, 'kan?"
"Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Lea. Lea ke arah sana gak tadi? Ya Allah mana ini malam."
"Lea gak bosen apa buat masalah."
"Mungkin orang lain lagi cari masalah sama dia." Nia berusaha untuk berpikir positif.
"Bisa aja."
Dora menghentikan orang yang berlari dari arah tempat keramaian itu.
"Eh, eh, ada apa? Kok rame-rame di sana yah?"
"Itu Gus Zheaan sama Lea keciduk lagi berduaan sambil bermesraan. Makanya orang heboh."
"Hah?!
___________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMAKASIH SMEUA.
__ADS_1