
"Gus sumpah ini enak banget mobilnya. Sumpah Lea gak nyangka ini ternyata mobil milik Lea. Makasih banget Gus. Gak nyangka Gus sekaya itu," ujar Lea dari tadi tak henti berucap hal serupa.
Ya namannya orang syok, ya seperti Lea. Pagi-pagi dapat rezeki nomplok yang tak pernah diduganya, siapa yang tidak senang.
Zheaan melirik Lea dan tersenyum simpul. Melihat kebahagiaan di wajah Lea cukup membuat hati Zheaan merasa tenang.
"Kamu dari tadi ngomong gini kayaknya senang banget."
"Ya siapa yang tidak senang Gus. Lea tuh senang banget tau," ucap Lea sbjl memperhatikan mobil mewah tersebut.
"Saya kira kamu sudah sering naik mobil kaya gini."
Merasa tersindir Lea menatap Zheaan. Dia emang terkesan nora seolah-olah tidak pernah naik mobil kaya gini.
"Saya pernah lho Gus. Jangan ngomong kaya gitu ah, Lea jadi gak mood. Lea sering, cuman Lea gak dibolehin beli aja sama Ayah dan Bunda."
Zheaan menghela napas. Jadi dirinya sudah salah bicara yah sampai membuat Lea marah seperti itu padanya.
"Maafkan saya jika sudah salah bicara dan menyinggung kamu Lea."
Lea mengercutkan bibirnya dan membuang muka. Seketika Lea yang ceria berubah menjadi kalem.
Zheaan merasa tidak enak hati didiamkan oleh Lea. Pria itu berinisiatif untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Lea."
"Hm," balas singkat Lea seperti orang malas berbicara.
"Kamu jangan marah sama saya."
"Terserah saya lah mau marah apa enggak. Bukan urusan Gus juga, 'kan?"
Zheaan menarik napas panjang. Harus ekstra sabar menangani cewek yang lagi ngambekan kaya gini.
"Oke-oke. Kita gak pulang langsung ya. Saya ada urusan sebentar. Kamu tidak apa-apa?"
"Gak."
Zheaan pun memfokuskan menyetir mobil. Lebih baik dia diam daripada menambah rusak mood Lea.
Lea memejamkan mata dan menikmati perjalanan ini yang entah akan ke mana.
Namun Lea merasa janggal ketika tiba-tiba dia merasa mobil berhenti begitu saja. Lea mmbuka mata dan menatap Zheaan bingung.
"Kenapa berhenti?" tanya Lea penasaran dan menatap keluar.
Lea semakin dibuat bingung karena Zheaan berhenti di sebuah perusahaan yang sangat besar di Jakarta. Setahu Lea cabang perusahaan ini ada di mana-mana.
"Sudah sampai."
"Hah sampai? Gus mau ke perusahaan ini? Ada keperluan apa? Lea mau ikut, Lea penasaran dalamnya. Udah dari lama Lea pengen ke sini Gus. Penasaran siapa yah yang punya perusahaannya."
Zheaan memerhatikan Lea dengan detail. Dia mengusap kepala Lea dengan sangat pelan namun nyaman.
"Yaudah kita masuk ke dalam."
Zheaan keluar lebih dulu dari mobil dan membukakan pintuĀ untuk Lea. Lea merasa tersipu karena bak diperlakukan seperti ratu.
"Makasih Gus."
"Jangan panggil saya Gus. Panggil saya Mas saja boleh."
"Gak. Maunya Zheaan aja."
Zheaan menyentil jidat Lea. Dia tersenyum dan meletakkan kedua tangannya di pundak Lea.
"Mau tau gak? Suami istri itu tidak boleh ngomong pake nama. Bagaimana kalau saya panggil sayang aja? Itu lebih romantis."
Lea berjalan lebih dulu ke arah perusahaan sambil menahan salting yang tidak tertolong.
"Heran, kenapa seorang Gus kaya Zheaan bisa gombal gitu. Ngalahin gue ratu gombal aja."
"Ngomong apa sayang?"
"Hah?" tanya Lea pura-pura tidak mendengar.
Zheaan menyempatkan untuk mencubit pipi Lea. Sudah dari du Zheaan merasa sangat gemas dengan pipi itu dan hari ini dia kesampaian menyubit pipi Lea untuk kesekian kali.
"Sayang, jalannya pelan-pelan."
"Ya." Lea membalikkan tubuhnya dan menatap Zheaan dengan wajah datar. "Jangan bilang gitu lagi Gus. Lea sangat malu. Gimana kalau ada yang dengar?"
"Ya bagus dong mereka tau siapa kamu dan siapa saya."
"Intinya kita sama-sama manusia," ujar Lea.
"Saya tau."
__ADS_1
"Nah."
Zheaan menggandeng tangan Lea. Lea terkejut karena Zheaan tiba-tiba melakukan itu. Dia menatap ke sekitar melihat banyak wanita yang yang merasa kecewa melihat Zheaan menggandeng tangannya.
Lea membalas gandengan Zheaan. Dia merasa jengkel Zheaan ditatap seperti itu oleh banyak wanita. Sebut saja Lea cemburu akut.
Zheaan juga merasa kaget melihat Lea tiba-tiba membalas gandengan tangannya. Ia menatap sekitar dan menyunggingkan senyum karena paham dengan reaksi Lea.
"Tenang mereka hanya bisa natap saya kaya gitu tapi tidak bisa memiliki saya. Hanya Azalea yang bisa memiliki saya."
Azalea mendecih ke arah Zheaan. Laki-laki itu terus mengoceh dari semalam betapa bahagianya memiliki Zheaan.
Jika dikatakan Lea sangat senang tentu saja dia merasa senang dibanggakan oleh suaminya sendiri terlebih lagi Zheaan adalah orang yang dicintai Lea.
"Iya-iya Lea tau."
"Nah gitu kan cantik jadinya. Gak usah manyun dong sayang. Gak enak dipandang."
"Gak nyuruh Gue mandang Lea kok."
"Saya mau mandang kamu karena adem banget."
"Gus," melas Lea.
"Iya-iya."
Zheaan berjalan ke arah resepsionis dan resepsionis yang melihat Zheaan langsung menunduk hormat.
"Assalamualaikum Bos."
"Hah Bos? Gue gak salah dengar?" tanya Lea terkejut.
Dia melirik Zheaan dan mencari hal yang bisa meyakinkan jika Zheaan adalah seorang bos di perusahaan ini.
"Iya Mbak, ini Bos Zheaan direktur perusahaan Mitra Cahaya."
"Hah? Apa-apaan ini. Kok Gus kaya banget sih?"
"Kenapa memang? Ini uangnya juga buat kamu."
Tolong Lea segera. Dia ingin pingsan mendengar ucapan itu. Demi apa uang sebanyak itu akan menjadi miliknya?
Ya Tuhan Lea seperti hendak mati mendadak karena tidak percaya.
"Gue rasanya pengen mati di tempat dengarnya."
"Astaghfirullah Lea, jangan begitu. Saya tidak senang mendengarnya."
"Lea mau saya ambilkan air dulu "
"Enggak. Lea mau je rumahan Gus, Lea mau memastikan apa yang dikatakan oleh mereka benar."
"Baiklah. Kita ke ruangan saya."
Lea mengangguk dan berjalan dituntun oleh Zheaan. Lea benar-benar syok wanita itu menatap ke arah pintu yang bertuliskan DIREKTUR UTAMA.
"Jadi benar Gus."
"Ya benar Lea. Tidak mungkin saya bohongin kamu."
Lea dengan semberono membuka pintu dan menatap ke ruangan yang sangat bersih.
"Tapi kan Gus ngajar di pesantren tapi kenapa bisa punya ginian?"
"Ini perusahaan keluarga dan saya kerja dari pesantren melalui daring."
"Emang gak capek."
"Kalau liat kamu jadi gak capek."
Lea menoleh ke arah Zheaan dan mengercutkan bibirnya. Bisa-bisanya Zheaan berucap dengan demikian.
"Gus mah dari tadi bilang gitu Mulu Lea kan malu."
"Kenapa malu."
"Gak tau ah."
Lea duduk di kursi direktur utama. Dia seketika cosplay jadi direktur.
"Cocok gak sih Lea duduk di sini jais direkturnya?"
"Tentu cocok banget malahan."
Lea tersenyum lebar dan menarik napas panjang lalu melanjutkan banyak hal yang menyenangkan di dalam ruangan itu.
"Aaa Lea jadi pengen punya perusahaan sendiri juga."
__ADS_1
"Ini juga nanti bakal jadi perusahaan kamu dan anak-anak kita Lea."
"Jangan mikirin anak, Lea belum mau dan malu."
"Kenapa? Kamu gak mau punya anak dari saya."
Lea memejamkan mata sambil mengelus keningnya.
"Bukan gitu Gus. Cuman Lea malu banget. Dan belum siap, Gus ngerti Lea gak sih?"
"Saya tau. Makanya saya tidak akan meminta kamu sebelum kamu yang minta sendiri."
"Nah gitu dong." Lea melemparkan senyuman manisnya ke arah Zheaan. "Kan Lea sayang banget sama Gus."
_____________
Mobil berhenti tepat di depan pesantren. Zheaan menatap ke sampingnya. Lea masih tertidur dengan nyaman.
"Zaujati, bangun udah sampai."
Tidak juga Lea bangun dari tidurnya. Wanita itu menggeliat sebagai respon dan kemudian kembali tidur.
"Lea ayo bangun."
"Apaan sih, Lea pengen tidur dengan nyenyak. Jangan ganggu Lea lah."
Zheaan menarik napas dan memutuskan untuk menggendong tubuh Lea.
Saat keluar dari dalam mobil keluarga nya menyambutnya. Zheaan terkejut disambut dengan heboh seperti itu. Ia menatap Lea yang digendongnya.
"Sudah tidur Gus?"
"Iya Umi dari di jalan tadi. Kayaknya Lea kelelahan banget Umi."
"Bawa masuk dulu ke Ndalem."
Lea mendengar ribut-ribut. Dia juga merasa tubuhnya mendarat di udara. Cewek itu membuka mata perlahan dan melihat dirinya tengah digendong Lea.
"Apa-apaan nih," gumam Lea dan langsung melompat dari gendongan Zheaan.
"Kenapa Lea bisa digendong sama Gus?"
Lea menatap ke sekitar dan ternyata banyak orang.
"Eh sudah malam?"
"Kaya Teh. Teteh udah bangun, masuk ke Ndalem dulu."
Lea menatap Zheaan. Dia pun teringat jika Zheaan adalah suaminya. Tiba-tiba Lea merasa canggung ketika memikirkan bahwa mereka adalah keluarganya.
"Ada apa Lea?" tanya Abi Akhyar.
"Eh gak Abi. Lea gak apa-apa."
"Masuk dulu yah."
Lea berusaha mengurangi rasa kecanggungan. Wanita itu menatap Zheaan sambil meminta bantuan dari Zheaan.
"Kenapa?"
"Tolongin Lea. Lea malu banget. Jadi selama ini mereka tau kalau Lea itu adalah istri Gus?"
"Ya tentu tau Lea."
"Sumpah Lea malu banget. Mau diletakkan di mana muka Lea Gus."
"Kenapa sih. Mereka bahagia kok kamu jadi menantu umi dan abi."
"Tapi kan Lea tuh gak baik banget, gimana kalau misalnya Lea bakal makin dihujat," ujar Lea merasa tidak nyaman.
"Gak usah mikir begitu atuh Neng. Ayo masuk. Kenapa tadi bangun, padahal nyenyak banget," ujar Zheaan sembari meraih tangan Lea dan menggenggamnya.
"Gimana Lea gak bangun coba kalau yang liatin Lea sebanyak itu. Gak mungkinlah Lea molor Mulu Gus," ucap Lea dan kemudian berjalan mengikuti keluarga Zheaan dari belakang.
"Lea hati-hati jalannya ini gelap banget tau."
"Iya Gus."
Zheaan menghela napas panjang kalau kemudian mengambil alih tubuh Lea. Dia menggendong wanita itu meski Lea sempat meneriakkan penolaknya.
"Aaa Gus mah," ujar Lea kesa.
"Lagian juga kamu disuruh hati-hati malah cepat banget jalannya. Ini malam Lea gimana kalau misalnya kamu kenapa-kenapa. Mana kamu masih ngantuk banget."
"Gus pikir, Gus juga gak bakal kenapa-kenapa."
"Saya tau Lea saya bakal mendapatkan bahaya juga, lebih baik saya yang mendapat bahaya daripada kamu."
__ADS_1
_______
Tbc jangan lupa like dan komen setelah membaca