Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 27


__ADS_3

Pelajaran berlangsung dengan hikmat. Ustadzah Aisyah menjelaskan dengan sangat ramah kepada para santriwati yang tengah mengikuti pelajaran Fikih.


Mungkin ada beberapa hal yang membuat Lea dengan semangat mengikuti pembelajaran kali ini. Biasanya Lea akan membuat rusuh atau tidak melawak dengan teman-teman sefrekuensinya di kelas.


Dia adalah wanita yang paling heboh namun hari ini dia mendadak menjadi wanita kalem.


"Lea, lo kesambet setan apa?" Lea hanya melirik Dora sedikit sambil tersenyum miring. "Gue dapat hidayah tadi malam. Gue pengen belajar dengan benar siapa tau gue bisa ngalahin juara 1."


"Mata lo bisa, lo aja katanya di SMA ranking terakhir apalagi di sini."


"Hsyutt jangan keras-keras lah, turun harga diri gue," ucap Lea sambil menatap kesal Dora.


"Ya lagian lo aneh. Tumben banget."


"Harusnya lo seneng gue mau berubah, bukannya diledekin."


"Gue gak tahan kalau gak ledekin lo." Lea diam dan tidak ma menanggapi cerocosan Dora.


Lea tergolong wanita licik, ia sudah mengetahui jika dirinya dan Dora telah menjadi target, jadi karena itu ia berpura-pura malas menanggapi.


"Dora!!" teriak ustadzah.


Dora tersentak dan menatap ke depan. Dia meneguk ludahnya kasar melihat mata ustadzah Aisyah yang seakan ingin memakannya bulat-bulat.


"Ya Ustadzah?"


"Kamu bisa jelaskan apa yang saya jelaskan?"


"Jelaskan apa ya Ustadzah?" tanya Dora dengan bodohnya hingga membuat satu kelas tertawa.


"Makanya dengerin!!" teriak salah satu santriwati.


"Maaf saya mengaku salah Ustadzah."


Lea sedari tadi berusaha menahan tawa. Dia semaksimal mungkin membuat ekspresinya baik-baik saja, padahal hatinya ngakak tidak tertolong.


"Mampus," bisik Lea sambil mengedipkan mata mengejek.


"Awas lo!"


"Wle!" balas Lea.


Lea menatap ke depan seakan-akan dia menjadi wanita yang paling rajin. Bahkan hanya dengan mendengarkan penjelasan guru dia sudah merasa bak ilmuwan yang telah menemukan sesuatu yang hebat di dunia


"Ada yang bisa menjelaskan apa yang Ustadzah katakan tadi?" tanya ustadzah tersebut sambil melirik Dora.


"SAYA BUK!" cepat Lea mengangkat tangan.


"Ya Azalea, jelaskan." Ustadzah tersebut menatap Dora, "Dora kamu dengarkan baik-baik apa yang dikatakan oleh Lea."


"Iya Buk," pasrah Dora padahal di hatinya dia tengah memaki-maki.


"Dengerin saya dong. Jangan ditekuk mukanya gitu, gak enak dipandang." Lea sengaja memanas-manasi Dora.


"Dora kamu tidak boleh bereksperesi seperti itu. Hargai teman mu. Lea jelaskan baik-baik yah!"


"Baik Ustadzah." Lea menarik napas panjang. "Nah materi kali ini Ustadzah Aisyah menjelaskan tentang Zakat. Tadi Ustadzah Aisyah mengatakan bahwa Zakat fitrah adalah zakat yang harus dibayarkan bagi seorang muslim yang sudah mampu untuk menunaikannya. Zakat fitrah merupakan zakat yang wajib dikeluarkan satu kali dalam setahun. Waktu membayar zakat fitrah dilakukan pada bulan ramadhan, biasanya dibayarkan menjelang hari raya Idul Fitri. Bener gak Ustadzah?" tanya Lea penuh dengan wibawa.


"MasyaAllah benar sekali Azalea. Saya senang kamu mendengarkan dengan baik. Kedepannya kamu juga harus begini yah."


"Tentu dong Ustadzah, siapa tau kan saya bisa juara 1 nyingkirin Nia."


Nia selaku orang yang disebut Lea pun hanya tertawa. Lea memang aktif dan tidak ada perkataan Lea membuat Nia tersinggung.


"Wah bagus sekali jika begitu. Nia hati-hati posisi kamu direbut Azalea. Apalagi kalian tinggal sekamar, tidak ada yang bisa menduga siapa tau Lea diam-diam mempelajari buku-buku kamu."


"Tidak apa-apa Ustadzah. Saya senang jika Lea lebih baik lagi."


"Nah itu Ustadzah, Nia baik hati sama saya tidak kaya Dora ngeselin. Mungkin dia temennya setan."


"Iya Ustadzah benar dan Lea setannya," sahut Dora cepat.


"Astaghfirullah, Azalea, kamu bilang tadi mau lebih baik. Gak boleh ngomong gitu lagi ya."


"Iya Ustadzah. Lea khilaf. Biasakan manusia itu memiliki salah, gak ada manusia itu yang gak khilaf," cengir Lea tanpa dosa dan Dora menonton dengan wajah malas.


"Yaudah. Kalau begitu kita lanjut belajar."


"Tapi Ustadzah jam kita sudah habis," ucap Lea dengan wajah polos.


Ustadzah Aisyah menatap ke tangan kirinya yang terdapat jam tangan. Kemudian dia menatap Lea dan tersenyum.


"Kamu memang unik, dan orang pertama yang mengingatkan saya. Terimakasih Azalea." Ustadzah Aisyah menatap muridnya, "sebelum keluar kita baca doa dulu."

__ADS_1


Para santriwati itu pun membaca doa.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam."


Sifat asli Azalea pun keluar. Wanita itu menarik napas panjang dan tersenyum kepada kedua temannya.


Dora muak dengan wajah polos itu namun diam-diam sangat licik.


"Kenape lo cengir-cengir."


"Ternyata enak yah dipuji."


"Bangga lo?"


"Astaghfirullah, Azalea, Dora! Di kelas bahasannya dijaga jangan lo gue!" nasehat Nia dengan lembut.


"Oh!" ucap Lea dan Dora bersamaan ke Nia.


"Astaghfirullah!"


"Gak sekalian istighfar dengan komplit?"


Nia menggelengkan kepala. Dia hanya tertawa kecil. Beginilah nasibnya jika bersahabat dengan seseorang tapi dirinya sendiri yang tidak sefrekuensi.


"Eh Azalea semalam kamu pulang ke asrama diantarin sama gus Zheaan?" tanya Nia dengan raut bingung.


Lea terdiam dan menatap kedua temannya. Ia pun mengangguk lemah.


"Iya. Tapi gue gak mau dianya yang mau ngantarin Lea," ucap Lea sambil menarik napas panjang.


"Hah serius?" syok Nia sambil menatap Dora yang juga menampilkan ekspresi yang sama.


"Biasa aja kali mukanya," ucap Lea sambil memasang wajah memelas.


Dia membereskan buku-bukunya yang ada di atas meja, kemudian Lea menatap kedua temannya itu.


"Tapi benar-benar fenomena langka tau," ucap Dora sambil berpikir.


"Mungkin dia khawatir Lea pulang ke asrama kan udah malam banget. Lagian Lea kan masih satu keluarga sama Gus Zheaan."


Lea menatap Nia dengan pandangan senang. "Nah ini benar." Namun sebuah pikiran aneh melintas di kepala Lea. "Tapi kalau keluarga kenapa Gus....."


"Kenapa tidak dilanjutkan Lea?" tanya Nia dengan wajah penasaran menunggu ucapan Lea selanjutnya.


Lea menyengir dan menggaruk tengkuknya. Ia juga sedang kebingungan.


"Gak tau gue mau ngomong apa. Heheh," ucap Lea sambil menatap Nia polos.


"Aelah lo, yang jelas dong."


"Lo siapa? Lo gak diajak nimbrung," ucap Lea pada Dora.


Dora mengercutkan bibirnya dan menatap marah Lea.


"Awas aja lo?"


"Ampun suhu."


________________


Lea berjalan sendirian menuju ke taman yang ada di pesantren. Taman itu tempat umum biasanya cewek maupun cowok boleh berada di sana namun tetap ada batasan-batasan yang harus dipatuhi oleh setiap santri.


Sesekali dia healing dan muter-muter ketimbang dia rebahan di kamar. Lagian juga tugas tidak pernah dia kerjakan. Memang cewek gege Lea.


Lea berjalan sambil menebarkan senyum dan sok menjadi orang yang paling banyak memiliki fans.


Wanita itu menatap ke taman dan melihat ada beberapa santri putra sedang berada di sana.


"Seru juga." Lea menatap ke batasan yang memisahkan antara santri putra dengan santriwati. "Nagapin juga gue patuhi. Seorang Azalea anti diatur dan aturan itu untuk dilanggar," ucap Lea enteng.


Cewek itu tidak ada kapok-kapoknya. Dia bahkan tidak memikirkan resikonya dan tidak pernah jera atas apa yang sudah sering dia lalui, yaitu dihukum dengan sadis.


"Kan kalau gini pemandangannya lebih indah dari tamannya," cengir Lea sambil memperhatikan setiap orang yang ada di sana.


Pintarnya Lea dia bersembunyi di semak-semak. Cewek itu bersandar di batang pohon besar dan menutup matanya.


"Mending gue turu."


Merasa lelah terus memandangi lawan jenis, Lea pun tertidur di sana. Tidak ada yang menyadari keberadaan Lea.


Padahal mereka diberikan waktu istirahat sebentar akan tetapi Lea melewati itu dan malah asik molor di sana.

__ADS_1


"Assalamualaikum gus Zheaan," sapa Rafkha yang tidak sengaja melihat Zheaan yang ada di taman.


"Wa'alaikumussalam." Kedua orang itupun menjadi canggung setelah malam itu.


"Eumm Gus."


"Jika tidak ada yang perlu ditanyakan saya pergi!" ucap Zheaan dengan suara dingin.


Rafkha terkejut. Baru pertamakali Zheaan seperti ini padanya dan menatapnya dengan dingin.


"Maaf Gus, jika saya memiliki salah dengan Gus, saya minta maaf."


"Kamu tidak punya salah dengan saya." Zheaan memandang Rafkha dengan aura dinginnya, "kenapa kamu bisa ada di pesantren tempat santriwati malam tadi?"


"Saya ada urusan disuruh ustadz Abdul untuk membantu dia membenarkan salah satu toilet di tempat santriwati. Dan kebetulan saya lewat di depan asrama Lea dan melihat Gus."


"Saya dengar kamu juga menannyakan tentang Lea, ada apa?"


Rafkha menjadi bingung. Dia tersenyum canggung sambil menyentuh tangannya. Hawanya sudah kaya di padang salju.


"Kenapa memangnya Gus? Saya hanya khawatir dengan Lea, dia kan habis menerima hukuman berat."


"Tidak perlu khawatir Lea baik-baik saja, dia bahkan bisa lari-larian seperti sekarang."


"Hah maksud Gus Lea tidak ada di asrama?"


Zheaan menatap Rafkha dan menarik napas panjang.


"Ya. Beberapa santri mengatakan jika dia ada di taman ini."


Lea yang dari tadi sudah tersadar dan menguping pembicaraan itu pun langsung menutup mulutnya.


Jangan sampai tempat persembunyiannya diketahui. Lea berusaha mati-matian menahan suaranya.


Lea menatap ke kakinya dan melihat banyak semut hitam tengah menyerbu dirinya.


"Plis gue jangan teriak dong. Lo semut jahanam, dasar kang cepu, awas aja gara-gara lo gue teriak," ucap Lea dan menarik napas panjang dan berusaha menahan ketakutan.


Tapi semut itu tampak mengerikan.


"AAAAA!!" Lea langsung berlari keluar dari persembunyiannya dan memeluk tubuh Zheaan.


"Gus tolongin Lea, di sana banyak semut!" Rafkha dan Zheaan terkejut bersama-sama.


Zheaan menatap Lea yang sedang memeluknya. Ia meneguk ludah dengan kasar.


Rafkha juga tengah menatap Lea sedang memeluk Zheaan.


"Lea, kamu sadar tengah memeluk Gus?" Mendengar ucapan Rafkha refleks Lea menatap ke arah Zheaan.


"Kyaaa Gus Zheaan mesum!!"


"Hah?" tanya Zheaan merasa tersudutkan. "Bukannya kamu yang memeluk saya ya?"


"Gak gitu. Di sana banyak semut makanya Lea takut," ucap Lea sambil menarik napas panjang dan meminta perlindungan dari Zheaan.


"Lea kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Rafkha.


"Kenapa? Suka-suka Lea lah."


"Lea kamu ikut ke ruangan saya, saya yang akan menghukum kamu sendiri untuk introspeksi diri," tegas Zheaan dan menatap mata Lea dengan dingin.


"Dih Gus sok cool!"


"Gus maafkan Lea, biar saya saja yang dihukum. Lea pasti ke sini karena saya."


"Hah?" tanya Lea yang tidak mengerti trik Rafkha untuk menyelamatkannya.


Zheaan menatap Rafkha. Di mata hitam itu terlihat penuh dengan kecemburuan.


"Tidak perlu. Siapa yang bersangkutan dia yang harus menerima hukumannya. Jangan sampai kamu juga saya hukum!"


Zheaan menarik tangan Lea sedikit kasar. Lea terkejut dan menoleh ke arah Rafkha.


"Eeeh!! Eh Rafkha Assalamualaikum tapi saya ke sini bukan karena kamu!!"


Zheaan tersenyum miring. "Rafkha kamu dengar kan. Jadi kamu tidak perlu dihukum karena kesalahan dia."


____________


Tbc


Jangan lupa like dan komen setelah membaca

__ADS_1


__ADS_2