Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 36


__ADS_3

Suasana yang cerah menyambut pagi Lea. Sehabis selesai mengerjakan sholat berjamaah di masjid Lea langsung ke asrama menemui teman-temannya, siapa lagi jika bukan Nia dan Dora.


Lea memandang asramanya dengan wajah rindu. Padahal hanya beberapa hari ia tinggalkan tempat tersebut tetapi rasa rindu begitu dalam.


Lea masuk ke dalam asrama tersebut. Banyak pasang mata memperhatikan dirinya.


"Lea, gak jadi kabur dari sini. Kok balik lagi, rindu dengan asrama ya?"


Lea tertawa memandang orang yang meledeknya. Padahal sudah sangat jelas dia disindir dan diolok-olok tapi bagi Lea itu hanyalah jokes biasa.


"Gak papa, gue emang kangen tempat ini, hahah," tawa Lea lepas.


Lea juga tertawa jika mengingat kekonyolan yang dia buat. Padahal baru beberapa hari tapi Lea sudah merasakan betapa bodohnya dirinya tersebut.


"Tuhkan. Di sini mah asyik kenapa pake kabur segala."


"Iya di sini memang seru. Tapi tau sendiri kan gimana di sini."


"Kita harus kuat di sini karena tidak ada orangtua kita Lea. Anggap aja lagi ngelatih mental."


"Iya siap." Lea meletakkan tangannya di kening seolah-olah tengah hormat.


"Jangan gitu atuh. Santai aja."


"Hehe Lea mau aja. Assalamualaikum Lea masuk dulu mau ketemu Nia dan Dora."


"Oh iya dua orang itu kayanya lagi rindu banget sama kamu Lea," ujar orang tersebut yang membuat penasaran Lea apa saja yang dilakukan oleh dua sahabatnya itu ketika merindukannya.


"Makasih infonya, Lea duluan."


"Iya-iya. Titip salam sama Nia."


"Dora enggak?"


"Gak dulu deh. Gak akrab."


Lea terkikik menertawakan Dora. Cewek itu tiba-tiba membayangkan wajah Dora yang terlihat sangat kesal ketika dirinya tidak diberikan titipan salam oleh orang-orang.


"Nah bagus, Dora mah orangnya terlalu introvert banget. Jadi bagus deh kalau kamu nggak titipin salam sama dia," ujar Lea seakan tengah memanas-manasi keadaan.


"Eh, nggak gitu. Cuman emang nggak akrab aja. Dia kayaknya nggak sefrekuensi sama aku."


"Ya emang, karena Dora itu memiliki kelainan yang aneh banget," ucap Lea memburuk-burukan Dora di belakangnya.


Entah apa yang bakal terjadi jika Dora tahu bahwa Lea telah memburuk-burukannya di depan orang lain. Mungkin kepala Lea telah melayang dari tubuhnya.


"Astagfirullah. Dikurang-kurangin Lea jahilnya. Bagaimana kalau misalnya saya menyampaikan ini kepada Dora?"


"Iya itu mah namanya Cepu atuh Neng geulis," ucap Lea lalu melangkah masuk ke dalam asrama sambil tertawa.


Cewek itu kontan berlari ke arah kamar yang dihuni dirinya bersama dua sahabatnya itu. Lea melangkah pelan menuju pintu kamar dan membukanya.


Sengaja Lea melakukannya dengan sangat pelan untuk memberikan kejutan kepada kedua orang itu.


"Kira-kira mereka lagi ngapain ya di dalam," gumam Lea sambil memandang pintu.


Ketika pintu telah dibuka lebar, Lea sangat terkejut melihat kedua sahabatnya itu tengah menangis bersama.


"Lho kalian kok kenapa nangis?"

__ADS_1


Mendengar suara yang sangat familiar membuat Dora dan Nia menatap ke arah pintu.


Mereka saling pandang dengan perasaan terkejut. Dora menggosok kedua matanya ingin memastikan jika pandangannya tidak buram.


"Ini beneran Lea? Lo Lea?" tanya Dora dengan sangat tidak percaya.


"Lo kira gue apaan Dora? Hantu? Genderuwo? Atau maling gitu? Masa iya cewek secantik gue sempet-sempetnya dikira begituan."


"Ya Allah!!! Lo akhirnya balik juga ke sini! Gue kira lu nggak akan betah lagi di pesantren ini dan gak akan balik lagi ke tempat ini, Lea!"


Dora dengan erat memeluk tubuh Lea. Bahkan Lea merasakan bahwasanya tulangnya yang dililit tangan Dora sangat kencang hingga membuatnya kesulitan untuk menarik nafas.


"Masalah kangen gue itu biasa aja please, kok nggak lihat apa nasib gue yang mau jadi bubur kayak gini dibuat sama lo."


"Dora Astaghfirullah, jangan kenceng-kenceng meluknya. Kasihan lho Lea lemes banget wajahnya."


Lea memandang Nia yang sangat pengertian dengannya. Memang dari dulu Nia lah yang selalu membelanya dari dedemit satu ini.


"Lo nggak denger apa yang dibilang Nia?"


Dora melepaskan pelukannya dari Lea.


"Maafin gue sumpah. Ini gue kayaknya terlalu kangen banget sama lo. Makanya sampai kebablasan gini. Gak ada yang sakit kan dengan tubuh lo?"


"Apa lo bilang? Nggak ada yang sakit?" Lea tersenyum pasrah, "iya bagus. Memang nggak ada yang sakit. Nggak sakit," lirih Lea dengan wajah meringis.


"Lupain aja, anggap gue khilaf. Tapi gue beneran kangen sama lo. Aaa!!"


"Lo kangen tapi kaya nyiksa gue gitu yah," ujar Lea yang sudah pasrah dengan sahabatnya yang satu ini.


"Itu mah derita lo."


"Jahat banget lo Lea, lo nggak lihat sahabat paling cantik lo ini lagi kangen sama lo. Gue sama Nia takut banget kalau lu nggak mau balik lagi ke sini. Tapi ternyata gue secandu itu sampai lo kangen banget sama gue dan balik lagi ke sini," ucap Dora sambil bersedekap dada menghayati setiap kalimat yang dia ucapkan.


Untuk Lea, cewek itu berusaha menahan rasa mual yang dialaminya setelah mendengar kata-kata sok dramatis tersebut.


"You know dengan alay? Nah itu sifat lo tuh alay banget sumpah," Lea sambil melirik Dora.


Lea melihat ke arahnya yang dari tadi hanya bisa pasrah melihat kelakuan Dora yang memang membuat siapapun akan geleng-geleng kepala.


Lea mendekatinya dan langsung memeluk perempuan tersebut.


"Lo beneran kangen gue Nia?"


"Tentu, aku kangen banget sama kamu," ucap Nia dengan suara terharu.


Lea pun ikut merasakan terharu mendengar kata-kata Nia. Jika Dora yang berkata seperti itu mungkin dia akan muntah. Namun berbeda dengan Nia, Lea merasakan sangat bahagia dirindukan oleh wanita itu.


"Gue seneng banget lo rindu sama gue. Gue kira lu bakal bahagia kalau gue nggak lagi tinggal di sini." Memang Lea benar-benar tidak percaya bahwa Nia merindukannya, padahal dia sering mempercandakan wanita itu.


"Oi Lea, lo kok pilih kasih banget. Tadi aja sama gue lo kayak ngelihat setan bae, pas sama Nia kalem banget. Jangan-jangan yang lo punya dua kepribadian ganda deh," ucap Dora sambil memperhatikan setiap detail yang ada pada diri Lea.


Sebut saja bawa Dora sedang melakukan penelitian. Ibaratnya ilmuwan mendadak.


"Ngomong naon? Gue mah gak pernah peduli lo rindu apa enggak sama gue," enteng Lea sambil membuka hijabnya.


"Terserah lu dah." Dora dengan wajah cemberut menutup pelepasan rindu tersebut.


"Lea, kamu baik-baik saja kan pas di jalan? Nggak ada gangguan kan? Soalnya aku khawatir banget sama kamu. Aku takut banget Lea kamu kenapa-napa," ujar Nia sambil memperhatikan Lea.

__ADS_1


Lea terdiam sejenak. Dia mengingat kembali perjalanannya yang penuh dengan rintangan dan perjuangan hidup dan mati. Bukan berarti ia terlalu lebay, tapi itulah faktanya.


Lea pun sadar, jika fakta pasti akan sepi. Itulah istilah bahasa anak Tik Tok yang Lea ingat. Kebetulan Lea di rumah kemarin sempat menghabiskan waktunya bermain ponsel, apalagi kalau tidak membuka sosmed yang sudah berabad-abad tak pernah dibukanya.


Lea sampai kaget memiliki notif yang beribu-ribu pas pertama kali ia membuka aplikasi chatting. Sekarang dia sudah ada di pesantren, hal semacam itu tak bisa lagi dia temui.


Kecuali, jika Lea mohon pada Zheaan. Mungkin dirinya akan dapatkan nafkah batin yang tak akan pernah dilupakan Lea. Yaitu diam-diam meminta Zheaan meminjamkan ponsel miliknya.


Mana mungkin Zheaan mau menolak istri kesayangannya ini. Karena Lea terlalu imut dan menggemaskan untuk ditolak. Maka dari itu Lea sangat percaya bahwa dia akan berhasil menggoda Zheaan nanti.


"Gak papa Nia. Gue baik-baik aja, tapi gue mendadak gak baik-baik aja ngeliat muka suram tuh anak," tunjuk Lea ke arah Dora yang tadi hanya memasang wajah cemberut.


Wajah Dora makin memerah dan rusak. Dia membuang wajahnya tak ingin menatap Lea.


"Duh neng manezz lagi ngambek kah?" tanya Lea sambil tertawa melihat ekspresi lucu Dora.


Dora kesal dan menatap ke arah Lea, dia mendesis sambil menunjuk wajah perempuan itu.


"Lo mah," ujar Dora yang pada akhirnya tertawa tak bisa marah lama-lama dengan para sahabatnya.


"Dih Romlah, ketawa kan lu!! Hahah!! Gue tuh emang bisa balikin mood orang banget. Bahkan mampun membangkitkan mood lo. Sungkem dong sama gue."


"Dih sorry gak dulu terlalu alay soalnya."


Dora pun menghampiri Lea. Lea yang semula mengejek cewek itu malah memeluknya yang pertama kali.


"Duh fans gue lagi kangen banget kayanya nih."


"Mata lo fans." Dora melepaskan pelukannya dan menoyor kepala Lea. "Eh btw gimana kok Gus sampe rela gitu yah cariin lo. Sumpah dia tuh idaman banget, kayanya gue perlu kabur dulu baru bisa didatangi Gus. Enak banget jadi lo sumpah. Doain deh gue moga bisa jadi bininya."


Lea terdiam sambil menatap teman-temannya. Lea memandang wajah Nia yang tidak senang dengan ucapan Dora.


Lea menarik napas cukup panjang lalu melemparkan senyum ke arah Nia.


"Kenapa? Lo sedih dengar ucapan Dora? Lagian semua orang kan kata lo suka sama Gus."


"Ya aku tau, tapi..."


"Gue juga suka," to the point Lea yang membuat Nia dan Dora kompak menatap ke arahnya.


"Lah beneran lo?" tanya Dora tidak percaya. "Katanya kemarin gak suka dan benci banget sama Gus."


"Itu kan kemarin. Sekarang beda, dia baik ke gue gimana gue gak suka?"


Tiba-tiba Nia menjadi lebih murung. Dia menjauh dari teman-temannya dengan mata yang memerah.


Jauh di lubuk hati Lea teramat sedih. Mau bagaimana lagi, Zheaan adalah suaminya. Sekarang saja Lea merasa sangat cemburu mendengar Zheaan banyak disukai oleh para wanita, tak terlepas sahabatnya sendiri.


"Maafin gue egois Nia. Tapi kata Dora dalam mendapatkan Gus, memang harus egois."


Nia menatap ke arah Lea.


"Tidak apa-apa. Lagian suatu hari nanti yang akan menjadi istri Gus bukanlah kita. Tentu orang yang akan dipilih Gus lebih dari kita dan lebih mengetahui ilmu agama."


Dalam hati Lea berkata, "tapi nyatanya jodohnya Gus jauh dari kata-kata tersebut."


______________


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa untuk like dan komen setelah membaca. Terimakasih teman-teman.


__ADS_2