
Para tamu undangan berkumpul untuk melihat Zheaan melakukan ijab kabul kembali. Kali ini ada Lea di sampingnya, berbeda dengan kemarin hanya dia seorang mengucapkan janji suci.
Lea meminta ingin diulang ijab kabul agar dia benar-benar merasa telah menikah. Zheaan menjabat tangan ayah Lea dan siap melakukan ijab untuk kesekian kali.
"Nah Zheaan sudah siap?" tanya penghulu.
Zheaan mengangguk yakin, "saya sudah siap."
Penghulu itu melirik Lea, "Nak Lea sudah siap?"
Lea pun mengangguk yakin.
"Ya Lea siap."
"Baiklah ijab kabul akan dimulai."
Dengan diawali ucapan Basmallah, Zheaan menarik napas panjang dan mendengarkan ayah Lea mengucapakan kata-kata ijab sebelum dia mengucap kabul.
"Ankahtuka wa Zawwajtuka Makhtubataka Azalea Nazira Al-Basyir Binti Ikhsan Nazir Al-Basyir alal Mahri taqam salaat milyun dular khamsat waeishrun bialmiayat min 'ashum Gantala tadfae nqdaan, hallan."
Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha Azalea Nazira Al-Basyir binti Ikhsan Nazir Al-Basyir alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq," ucap Zheaan dalam sekali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi sah?"
"Sah!!"
Para undangan dan saksi yang ada di sana lantas memberikan doa untuk pasangan tersebut. M
"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin."
Zheaan melirik Lea yang ada di sampingnya. Pria itu tersenyum lebar kepada wanita tersebut. Lea menatap Zheaan dengan perasaan yang berdebar-debar.
"Zaujati." Zheaan mengecup kepala Lea dan Lea meraih tangan Zheaan dan mencium punggung tangan pria itu.
Zheaan tersenyum dan Lea pun menampilkan wajah penuh bahagia yang sama.
Pernikahan tersebut dilakukan di sebuah gedung dan dihadiri beberapa penjabat dan ulama. Tidak lupa juga ada para santri yang di sana, tidak luput juga ada Rafkha.
Rafkha menghela napas panjang dan memenjarakan mata membiarkan air bening tersebut mengalir di wajahnya.
Meski berat menerimanya kenyataan tersebut tetapi Rafkha berusaha untuk sadar dengan kenyataan.
Lea memandang teman-temannya dan juga santriwati yang menatapnya iri.
Zheaan dan Lea pun melakukan sungkeman kepada orangtua. Lea menangis di dalam pelukan bundanya.
"Bunda Lea udah jadi istri orang."
"Dari dulu kamu juga istri orang Lea."
Lea menatap ibunya. Air mata yang begitu deras mengalir seketika berhenti.
"Ya Lea tau. Bunda mah gak ngikutin suasananya."
"Iya-iya anak Bunda yang paling cantik."
Lea dan Zheaan melakukan sungkeman dengan cepat. Mereka pun duduk di pelaminan setelah melakukan hal tersebut untuk menyambut para tamu.
Lea memandang teman-temannya yang berlari ke arahnya dengan perasaan sangat sedih karena bahagia.
"Ya Allah temen gue udah jadi istri ustadz."
"Hiks, lo bisa aja Yessa," ujar Lea dan memeluk sahabatnya dari kecil tersebut. "Lo kenapa gak ngasih tau gue kalau udah nikah?"
__ADS_1
"Kata bunda dan ayah lo gak boleh kasih tau."
"Hiks, Lo liat nikahan gue dulu tapi gue gak liat. Kenapa gak adil."
"Udah-udah gak usah lebay bukannya lo udah nikah lagi, hah?" lerai Dinda dan Lea pun mengangguk.
Ketiga orang bersahabat tersebut pun saling berpelukan dengan sangat erat. Zheaan menghela napas sangat panjang melihat istrinya yang tidak terkendali apabila sudah bertemu dengan teman-temannya.
"Gus, yang sabar. Begitulah wanita harap maklumi saja," ujar Ning Kansa yang naik ke atas pelaminan.
"Gus tau Ning. Terimakasih Ning nasehatnya."
"Adik Ning udah nikah. Gak nyangka Gus duluan. Oh iya Ning mau kasih tau besok Ning udah mau balik lagi ke Mesir. Jaga diri baik-baik di sini, Ning pasti bakal kangen Gus."
"Kok tiba-tiba Ning? Kemarin aja datangnya juga tiba-tiba."
"Ya begitulah atuh Gus."
Zheaan menatap Lea yang lupa waktu apabila sudah berjumpa dengan sahabatnya tersebut.
"Azalea."
Lea melirik Zheaan dan dia pun tersadar dengan perbuatan cerobohnya.
"Eh. Gus maaf."
"Tidak apa-apa."
_______
Beberapa bulan kemudian
Lea pindah ke kota Bandung. Mereka menetap di sana setelah resmi menikah. Lea juga sudah lulus di pesantren. Rencana dia akan masuk ke perguruan tinggi namun semua itu harus ditunda karena kehamilan Lea.
"Abi perut Lea sakit banget."
Terlihat kekhawatiran di wajah Zheaan mendengar rintihan memilukan milik wanita itu. Zheaan lekas berlari menghampiri Lea.
"Ada apa sayang? Yang mana yang sakit."
"Perut Lea Abi."
Lea dan Zheaan membiasakan memanggil Umi dan Abi diantara mereka untuk mengajarkan sang buah hati nanti menyebut mereka dengan sebutan tersebut.
"Bentar, apa mau ngelahirin?"
Lea menarik napas panjang dan memukul pundak Zheaan. Mata tajamnya membuat Zheaan terdiam tidak berani membantah.
"Enak aja, orang belum waktunya. Masih ada 3 bulan lagi buat ngelahirin. Bayi kita juga sehat gak ada kemungkinan prematur."
"Iya-iya. Umi, Abi bercanda."
"Bercandanya keterlaluan," marah Lea dan membuang muka.
Zheaan menarik napas panjang dan memejamkan mata. Lagi-lagi dia salah. Lea semenjak kehamilannya dia lebih gampang emosi dan Zheaan menjadi sasaran amukannya.
"Anak Abi mau Abi sholawatin?"
"Mau Abi," jawab Lea dengan suara anak kecil.
Zheaan terkekeh mendengar Lea menjawab ucapannya. Ia mengusap Surai Lea dan menatap penuh sayang sang istri.
"Terimakasih sudah mau nerima aku dan terimakasih sudah mengandung anak ku."
__ADS_1
"Anak Lea juga," ujar Lea dengan wajah cemberut, "bukan anak Abi doang, liat Lea juga mengandung berarti anak Lea juga."
"Iya anak Umi." Zheaan mendumel dalam hati. Kenapa dia salah bicara lagi.
"Nah gitu."
Zheaan mengusap perut buncit Lea sambil membacakan sholawat.
"Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah. Tawassalnaa Bibismillaah Wabil Haadi Rasuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah."
Lea merasakan hatinya hangat mendengar Zheaan membaca sholawat untuk bayi di perutnya.
Seiring Zheaan membacakan sholawat Lea pun mengusap kepala Zheaan dengan penuh kelembutan.
Lea memperhatikan suaminya tersebut yang memperlakukan dirinya dengan baik dan berbaring di pahanya.
"Jadi kita berdua pernah di dalam perut ibu. Dan ternyata beginilah Umi mengandung aku dulu."
"Yaiyalah. Emang mau gimana lagi."
"Umi gak usah marah-marah, gak bagus. Mending umi lebih baik sholawat aja dan dapat pahala."
Lea menarik napas panjang dan berusaha menjadi wanita yang lebih kalem.
"Maafkan Lea."
Zheaan memandang Lea sambil menyunggingkan senyuman.
"Gak papa Umi. Abi paham kenapa Umi marah-marah."
Lea mengangguk dan memeluk leher Zheaan yang berbaring di pangkuannya.
"Lea juga gak mau marah-marah tapi bawaannya tuh pengen emosi mulu. Lea gak mau kaya gini terus. Kasian Gus Abi tersiksa sama Lea."
Zheaan menggelengkan kepalanya.
"Siapa bilang saya tersiksa? Malah kalau kamu marah-marah kelihatan lucu, imut aja gitu."
Lea memandang aneh Zheaan. Ada orang dimarahi malah senang dan malah mengatakan yang memarahi lucu.
"Umi rasa otak Abi udah kebalik."
"Eh gak gitu Umi."
Zheaan bangkit dari rebahannya dan memandang Lea dalam. Zheaan mengambil telapak tangan Lea dan kemudian menggenggamnya dengan sangat erat.
"Masih aja kecil telapak tangannya. Abi liat kalau orang lagi hamil itu tubuhnya makin berisi kenapa kamu gini-gini doang?"
"Ish kenapa gak senang? Bukannya bagus?"
"Bukan begitu. Abi justru pengen kamu makin bersisi soalnya Abi ngeliat tubuh kamu masih kecil rasanya gak tega ngehamilin cewek yang masih kecil kaya gini."
"Astaghfirullah Abi." Lea menggelengkan kepalanya. Memang perawakannya masih kecil dan dia bagaikan anak di bawah umur yang sedang hamil, oke Zheaan kali ini tidak salah.
_____________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. Terimakasih
__ADS_1