
Rafkha termenung di dalam kamarnya sambil berdiri di depan jendela.
Jujur saja Rafkha masih kepikiran soal tadi. Pertemuannya dengan Zheaan yang tak terduga-duga membuat Rafkha merasakan ada hak yang janggal.
"Tapi apa," gumam Rafkha sambil menggigit jarinya. Pria itu menghembuskan napas panjang dan menatap ke kamarnya.
Dia melihat semua teman-temannya sudah tertidur. Pria itu menatap lngit yang gelap gulita dan bulan berbentuk sabit.
"Kenapa sangat janggal sekali? Apa ada sesuatu? Dan tatapan Gus..." Rafkha tidak bisa meneruskannya. Pria itu sangat paham tatapan seperti apa yang dilontarkan oleh Zheaan terhadap Lea. "Mungkin aku salah lihat, tolong Rafkha jangan negatif thinking dulu."
Rafkha pun mengucap puluhan istighfar di dalam hatinya. Pria itu berjalan ke arah tempat tidurnya.
Rafkha sudah mengambil wudhu. Memang sudah menjadi hal rutinitas Rafkha berwudhu sebelum tidur.
Rafkha merebahkan tubuhnya. Dia tidak bisa tidur karena memang belum ada niat ingin tidur. Pria itu menarik napas panjang beberapa kali.
__ADS_1
Entah kenapa hal tadi menjadi pikiran buat Rafkha. Dia tidak bisa memejamkan mata karena itu.
"Apa Gus juga menyukai Lea?" Rafkha mati-matian melawan pikirannya tapi dia tetap saja pikirannya menjurus ke arah sana. "Memang sesat otak ku."
Rafkha pun memutuskan memejamkan mata dan membaca doa tidur. Tidak lama setelah membaca doa tersebut dia pun tertidur tenang.
Sedangkan di kediaman Zheaan, dia juga sama tidak bisa tidur memikirkan Rafkha.
Kenapa Rafkha bisa ada di sana. Mungkin biasanya Zheaan akan biasa-biasa saja, namun berbeda dengan sekarang. Dia merasakan ada sesuatu dengan Rafkha.
"Apa Rafkha menyukai Lea?" Zheaan bertanya-tanya namun sekelas Rafkha tidak mungkin sempat jatuh cinta.
"Namun sepertinya itu adalah hal yang tidak mungkin."
Zheaan mengurut keningnya yang berdenyut. Dia menaruh Al-Qur'an yang ada di tangannya ke rak buku.
__ADS_1
Dan kemudian laki-laki tersebut membuka pecinya dan rambut panjang Zheaan pun jatuh ke dahi.
Zheaan menatap kaca dan tersenyum melihat dirinya yang dirasa cukup menawan.
"Jika orang seperti Lea menyukai fisik, apakah fisik saya cukup menarik untuk Azalea?" Fisik Zheaan berbadan tinggi, hidung mancung, dan mata agak sipit namun tidak terlalu sipit serta memiliki warna kulit yang sedikit terang.
Ia ragu-ragu apakah orang sepertinya bisa membuat Lea jatuh cinta, tapi ada di satu sisi Zheaan bangga dengan dirinya sendiri dan selalu bersyukur telah diberikan fisik yang sempura.
"Kira-kira Lea apakah sudah tidur?" tanya Zheaan sambil memikirkan Lea.
Zheaan menarik napas. "Kapan saya bisa setiap hari memeluk kamu Lea, saya sangat ingin. Kamu mengatakan tidak mencintai saya, tapi saya akan tetap selalu mengejar hati mu meskipun kamu tidak suka dengan tindakan saya nanti."
Zheaan pun membuka baju kokonya dan dia hanya mengenakan sarung untuk menutupi auratnya dari pusar.
Zheaan melirik tubuhnya yang atletis dan sangat sempurna. Hanya dia yang pernah melihatnya bahkan saudaranya Zheaan tidak ingin mereka melihat.
__ADS_1
Cowok itu mengambil baju kaos dari dalam lemarinya dan mengenakan dengan cepat. Kemudian Zheaan menyemprotkan parfum untuk menambah aroma sedap dari tubuhnya.
"Saya rasa saya ganteng."