Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 22


__ADS_3

Lea sumringah melihat Zheaan tengah berjalan menuju Ndalem seorang diri sambil menundukkan kepala. Lea, cewek itu sengaja menunggu Zheaan di dekat pohon rindang yang tidak jauh dengan Ndalem.


"Gus Zheaan tungguin Lea!" teriak wanita itu lalu menghampiri Zheaan dengan senyum menumpuk di wajahnya.


Zheaan mengerutkan keningnya. Ia berhenti berjalan dan membalikkan badannya. Penampilan Zheaan memang tidak ada yang berubah, tapi status Zheaan di hati Lea sudah beda jadi tatkala Lea menatap Zheaan ia seakan tengah menatap malaikat.


Zheaan mengenakan baju Koko hitam serta sarung putih dan peci senada. Zheaan tersenyum membalas senyum Lea membuat Lea merasa tungkainya lemas melihat senyuman itu yang benar-benar menghipnotis dirinya.


"Gus Zheaan kalau ganteng gak usah banyak-banyak. Lea kan overdosis jadinya liat senyum gus Zheaan," canda Lea sambil tersenyum malu-malu.


Wajah Zheaan memerah padam. Pria itu menundukkan kepalanya. Zheaan berusaha semaksimal mungkin tidak menunjukkan senyuman di wajah Lea. Sangat gengsi jika Lea tahu bahwa ia sedang salting parah.


"Kamu juga cantik."


"Iya karena kan saya cewek Gus."


"Cantik kamu beda. Kamu tuh unik," ucap Zheaan.


"Saya tidak percaya."


"Terserah kamu, yang penting saya mengatakan hal yang jujur."


Lea tertawa gelak. Antar sedih dan senang. Sedih jika dia merasa tidak pantas untuk Zheaan ditambah dia adalah satu keluarga dengan Zheaan dan senang jika dirinya dapat bercanda seperti ini bersama Zheaan.


"Gus mah bisa aja. Lea kan jadi salting. Heheh, liat wajah Lea merah, kan? Gus Zheaan mah harus tanggung jawab udah buat anak orang baper."


Lea tertawa dan tanpa malu mengatakannya.


"Kamu baper karena saya?"


"Enggak. Lea malah laper."


"Kamu lapar? Ke Ndalem, Umi pasti sudah siapkan makanan enak."


Awalnya niat Lea hanya bercanda, namun ditawari seperti ini siapa yang ingin menolak?


Lea pun dengan girang mengangguk cepat. "LEA MAU!!"


"Kayaknya kamu laper banget."


"Iya, tadi pagi Lea gak makan."


"Kenapa tidak makan?"


"Lea malas. Makanannya gak enak, gak ada ayam."


"Di Ndalem juga kayaknya juga tidak ada ayam," pancing Zheaan.


"Gak ada yah?" tanya Lea kecewa, "gak papalah, kan ada Gus!"


"Apa hubungannya?" tanya Zheaan jenaka dengan padangan tidak bisa lepas dari Lea.


"Ada, karena kalau liat gus Zheaan tuh bawaannya Lea jadi adem. Dan Lea juga udah kenyang."


Zheaan gemas dengan Lea. Ia mencubit pipi berisi milik wanita itu.


"Lain kali jangan begitu. Saya jadi baper beneran, kamunya malah biasa saja."


"Ternyata orang kaya Gus bisa baper."


"Karena saya manusia," jawab Zheaan dengan sumringah. "Jadi ke Ndalem? Eh kenapa kamu malah cegat saya di sini."


"Saya mau malak Gus."


"Malak saya?" Tanpa diduga-duga Zheaan mengambil uang merah beberapa lembar dari kantong bajunya. "Ini buat kamu."


Lea membulat. Semenjak di pesantren uang seribu pun menjadi berharga di mata Lea. Ia langsung merebut dari Zheaan tanpa sungkan.


"Ini punya Lea, 'kan? Jangan marah." Lea menggulung uang tersebut dan memasukkan ke dalam kantung baju gamsinya, "jadi Lea ke sini sebenarnya mau cari Gus buat hapalan surat Al-kahfi."


"Oh seperti itu." Zheaan melirik Lea, "Lea, lain kali kamu kalau sholat jangan kaya tadi lagi yah. Tidak boleh."


"Iya-iya. Tuhkan Lea udah tebak bakal dimarahi kayak gini."


"Saya tidak memarahi kamu tapi lagi menasehati kamu," ucap Zheaan. "Jadi ke Ndalem?"


"Jadilah."


"Lah ayo."


Zheaan dan Lea pun berjalan menuju ke Ndalem. Lea menatap halaman yang sangat indah dan letaknya strategis.

__ADS_1


"Assalamualaikum Umi!" ucap Zheaan tatkala melihat uminya membuka pintu dan langsung menyalami tangan umi Sarni, Lea pun melakukan hal yang sama.


"Wa'alaikumussalam Gus." Umi Sarni menatap Lea, "eh ada neng Lea juga. Ayo masuk."


"Umi gak kenapa-kenapa nih kalau Lea masuk?"


"Kenapa? Bukannya kamu juga sering sudah ke sini? Kenapa sungkan?" tanya Umi Sarni dan menarik tangan Lea masuk ke dalam. "Makan dulu gak Lea? Kebetulan Umi lagi masak daging."


Lea melirik Zheaan dengan tersenyum miring. Zheaan pun hanya menghela napas.


"Lea mau Umi."


"Yaudah sini ke dapur sama Umi. Di dapur juga ada ning Salsa," ucap Umi Sarni.


Lea mendekati Zheaan dengan wajah julid. Ia menaik turunkan alisnya.


"Huu!! Dagingnya saya habisin biar Gus gak bisa makan. Eh, ngomong-ngomong hapalannya nanti aja," ucap Lea dengan gampangnya.


Zheaan menggelengkan kepala melihat tingkah laku istrinya itu. Kenapa sangat menggemaskan sekali? Saking gemasnya Zheaan ingin membanting Lea ke kasur dan mengunyel-unyel pipi Lea.


"Andai kamu tau Lea, saya sangat ingin memeluk kamu, tanpa kamu marah kepada saya," ucap Zheaan lalu menghela napas panjang.


Pria itu pun mengikuti kedua wanita yang sangat dicintainya tersebut dari belakang. Umi Sarni sepertinya sudah sangat sefrekuensi dengan Lea.


Mereka terus mengobrol. Ditambah ada Salsa, pecahlah obrolan tersebut dan Zheaan hanya menjadi nyamuk di antara ketiga wanita tersebut.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam." Kansa datang dan Zheaan makin berasa tidak berguna, bahasa lainnya, hanya nyampah.


"Eh ada Lea juga di sini." Kansa melirik Zheaan yang dari tadi hanya diam. "Pasti Gus Zheaan yah ngajakin ke sini!"


"Bener!!" Zheaan sontak menatap Lea. Wajahnya muram, memang Lea suka bercanda tapi dia tidak suka mendengar Lea berbohong.


"Akhem-akhem." Kansa sengaja batuk dibuat-buat untuk mengode Zheaan.


___________


"Kalau nun mati bertemu dengan huruf ba hukum bacaannya itu Iqlab," jelas Zheaan sambil menatap Lea di sampingnya yang mengenakan mukena tengah belajar mengaji. "Tau apa itu Iqlab?" tanya Zheaan.


Lea terdiam sambil berpikir. Wanita itu mencoba memilah-milah bahasa yang cocok untuk menjelaskan.


"Jadi secara bahasa Iqlab berarti membalik atau menukar. Sedangkan secara istilah Iqlab adalah apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf ba' (ب) dengan menukar bunyi nun sukun atau tanwin kepada huruf mim sukun atau mati. Diingat, jangan lupa lagi," ucap Zheaan sambil mengelus kepala Lea.


"Nah Lea tadi mau bilang gini. Tapi keburu Gus yang jelasin." Zheaan menarik napas panjang. Ada-ada saja Lea, padahal ngeles Lea seperti itu sudah basi


"Yakin kamu? Sekarang saya minta kamu jelasin apa itu Izhar?"


Lea dengan mantap tersenyum. Ia ingat apa itu pengertian Izhar.


"Izhar adalah salah salah satu hukum nun mati atau tanwin bila bertemu huruf hijaiyyah yang telah ditetapkan." Lea menepuk dadanya. Dapat menjelaskan apa itu arti Izhar pun dia sudah sangat bangga sampai ke langit. "Bener kan Lea?"


"Ya benar."


"Yey Lea pintar!!" Lea bertepuk tangan bangga.


"Iya Lea pintar. Nanti kedepannya tambahin pinternya lagi yah," ucap Zheaan.


"Gus! Lea punya kata-kata buat Gus. Dijamin Gus bakal baper. Karena kata-kata Lea ini sangat menyentuh sampai ke ulu hati Gus, jangan diremehkan seorang Azalea."


"Memang gombalan seperti apa?" tanya Zheaan seakan menantang Lea.


Zheaan sepertinya belum tahu Lea. Lea terkenal dengan mulutnya yang mematikan, atau istilah kerennya buaya betina. Gombalan yang dikeluarkan dari setiap kata yang ia ucapkan mampu membuat anak orang baper tingkat akut.


Ditambah lagi ia merupakan kang ghosting. Gini-gini Lea banyak yang dekati, dan Lea juga tergolong friendly, namun tidak sasimo.


"Karena kita tadi lagi bahas hukum bacaan tajwid Al-Qur'an, jadi gombalan Lea berhubungan dengan itu." Zheaan dengan serius mendengarkan. "Saya memang tak seperti Iqlab yang hanya satu-satunya, tetapi izinkanlah saya menjadi mad arid lissukun yang terakhir untuk gus Zheaan," ucap Lea dan menutup wajahnya sambil berteriak. "Aaaa!!"


Zheaan terdiam dengan pipi memerah. Ia menatap ke atas sambil senyam senyum.


"Gus Zheaan salting. Momen langka, Lea foto ah."


Refleks Zheaan menutup wajahnya dan seolah-olah tengah menghindari kamera.


"Hahah Gus lucu kalau salting. Padahal kan Lea gak punya handphone. Hahha!!" ejek Lea habis-habisan pada Zheaan.


Zheaan menarik napas dan menatap Lea dengan tajam. Kini Lea yang balik terintimidasi dan dadanya berdetak dua kali lipat sangat gugup.


"Gus Zheaan mau ngapain?"


"Jika disuruh memilih di antara empat hukum bacaan tajwid maka saya akan memilih idgham billaghunnah, di mana hanya ada kita berdua tidak ada yang lain," ucap Zheaan membalas gombalan Lea.

__ADS_1


Bukan Lea saja yang bisa menggombal, Zheaan juga bisa. Kini dia ingin membuktikan pada Lea bahwasanya dia juga bisa membuat wanita itu salting.


Lea terdiam dengan wajah memerah. Namun di matanya memancarkan kesedihan. Jujur Lea sangat senang dibalas oleh Zheaan. Tetapi dia sadar bahwa gus Zheaan pasti bercanda.


"Lea kamu kenapa?"


"Eh nggak papa Gus. Lea cuman lagi senang aja. Gus kok mau gombalin orang kaya Lea? Bahkan ustadzah Alma aja gak suka sama Lea."


"Emang saya suka sama kamu?" tanya Zheaan bercanda.


Lea tersenyum miris. "Mana mungkin Gus suka sama saya."


"Meskipun tatapan saya padamu seperti alif lam syamsiah yaitu samar-samar, tetapi cinta saya padamu seperti alif lam qhomariah berarti jelas. Saya sangat mencintaimu Lea," batin Zheaan berucap tak mampu untuk mengatakannya di depan Lea dengan lantang.


"Mungkin saja saya suka kamu."


"GAK MUNGKINLAH!" keras Lea.


"Kata siapa tidak mungkin? Memang kamu tau hati saya?" Lea melirik Zheaan dengan cengiran di wajahnya.


"Hehe Lea gak tau."


"Tabassamuki nafadjal qolbi," ucap Zheaan sambil menatap wajah Lea dengan serius.


"Apa artinya Gus?"


"Penasaran?" Lea mengangguk. "Cari tahu sendiri."


"Ih Gus mah."


Zheaan dan Lea tertawa kencang di dalam kamar tersebut.


"Ayo hapalan lagi suratnya, sudah berapa ayat hapal?"


"Belum hapal sama sekali. Hehe!"


"Kan tadi saya kasih kamu waktu ngehapalin."


"Kan Lea udah lupa lagi," jawab Lea ringan.


"Kamu tau kenapa kamu saya suruh hapalin surat Al-kahfi sebanyak sepuluh ayat?" tanya Zheaan.


Lea menggeleng. "Gak tau Gus."


"Jadi manfaat menghapal surat Al-kahfi bisa membuat kita terlindung dari fitnah Dajjal di akhir zaman nanti."


"Kan sekarang katanya sudah akhir zaman."


"Iya kamu benar Lea. Sebenarnya akhir zaman itu sudah dimulai sejak kematian Rasullullah."


"Lea baru tau Gus. Ternyata akhir zaman udah dari lama? Tapi kok gak kiamat-kiamat?"


"Jangan salah Lea. Di mata Allah, umur bumi hanya tinggal sebentar lagi, sedangkan menurut manusia fana seperti kita ini masih cukup lama. Ada awal maka ada akhir, jika ada kata diciptakan maka ada juga kata ditamatkan, berarti ada saatnya untuk seluruh dunia ini berakhir dan tamat yang sering kita sebut dengan kiamat."


Lea mendengarkan penjelasan Zheaan dengan seksama sambil mangguk-mangguk.


"Lea paham Gus."


"Bagus kalau kamu paham."


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum Gus!"


"Wa'alaikumussalam, ning Salsa buka aja pintu kamarnya."


Ceklek.


"Gus,teh Lea, maaf Ning ganggu. Di luar ada orangtuanya teh Lea."


Zheaan dan Lea saling tatap terkejut.


__________


Tbc


Jangan lupa untuk like dan komen setelah membaca

__ADS_1


__ADS_2