Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 21


__ADS_3

Para santriwati menyambut kedatangan Lea di pintu gerbang setelah Lea dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit setelah dirawat di sana beberapa hari. Yang dilakukan oleh santriwati adalah sebagai bentuk dari rasa solidaritas.


Lea terharu dengan momen itu. Tak menyangka jika dirinya juga dipandang di pesantren ini.


"Gus ini beneran ya?" tanya Lea tidak percaya melihat banyaknya orang yang menunggunya di depan pintu gerbang.


"Kenapa? Kamu tidak salah lihat. Mereka peduli pada mu Lea."


Di kumpulan itu semuanya hanya wanita. Lea tak sengaja menatap ke arah pohon rindang. Ia mengernyitkan kening, bukankah itu Rafkha? Kenapa dia bersembunyi di sana.


Lea ingin memanggil Rafkha, tetapi Rafkha mengode agar tetap diam. Cowok itu tersenyum manis padanya lalu tak lama pergi.


Awalnya Rafkha hanya memastikan jika Lea baik-baik saja.


"Ada apa Lea?" tanya Zheaan bingung.


Lea langsung panik dan menggeleng.


"Gak papa Gus."


Senyuman Lea mengembang dan menatap pada santriwati.


"Lea kamu tidak apa-apa?" tanya Nia yang berlari cepat ke arah Lea.


"Lo gak papa, kan? Lo baik-baik aja, 'kan? Gak matikan lo?"


"Lo liat gue sekarang masih hidup apa lagi gentayangin lo?" kesal Lea.


"Dora, Lea bahasa kalian," tegur Zheaan. Bisa-bisanya Dora dan Lea lupa jika dia sedang berada di depan Zheaan dan juga keluarga Ndalem.


"Kalian pada tenang aja, aku gak papa kok."


"Syukurlah, Alhamdulillah kalau begitu," ucap Nia. Mata Nia melirik Zheaan yang sangat dekat dengannya, Zheaan sangat tampan, hidungnya mancung.


Baru kali ini Nia berada sedekat ini dengan Gus Zheaan. Ia merasakan dadanya berdetak dua kali lebih cepat. Itu sungguh mengganggu Nia.


Dora dan Lea yang menyadari reaksi tubuh Nia terdiam. Dora meraih tangan Nia dan berbisik jika harus stay cool. Biar terlihat lebih berwibawa di depan Zheaan.


"Sekarang saya antar kamu ke asrama kamu?"


"Saya udah kaya artis ya Gus!"


"Bukan begitu. Kamu kan belum sembuh pulih Lea, nanti kalau kamu kenapa-napa bagaimana?" tanya Umi Sarni.


Lea menggaruk kepalanya. Ia tersenyum lebar pada umi Sarni untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Oh gitu ya Umi."


"Makanya jangan apa-apa mau sendiri," sindir gus Zheaan dan matanya sambil melirik Lea.


"Iya-iya Gus yang benar."


Lea pun melangkah masuk ke dalam halaman pesantren sambil dipapah Nia dan Dora. Orang-orang yang menunggunya juga bersyukur melihat keadaan Lea baik-baik saja.


Sesampainya di asrama Lea duduk di kasur dan menatap kedua sahabatnya dengan bingung. Zheaan sudah pergi.


"Apa yang terjadi pas gue dibawa ke rumah sakit?"


"Pinter banget lo Lea. Langsung lapor ke keluarga Ndalem abis dihukum. Tau gak kalau ustadzah Alma dihukum juga?"


"Hah yang benar?!" kaget Lea dan menutup mulutnya tidak percaya. "Wihh keren, biar mampus tuh ustadzah Alma. Jangan bisanya hukum anak orang doang, pas dihukum balik marah. Hahahaha!" Rasanya Lea sangat puas. Dendamnya pun perlahan mulai padam. "Btw dia dihukum bagaimana?"


"Dijemur. Tsania senior sok jago itu juga ikut dihukum."


"Kasian sih sama ustadzah Alma, dia sampai nangis." Nia memasang wajah sedih.


Dora dan Lea melongo. Sedangkan keduanya bahagia dan hanya Nia yang berduka.


"Dia mah punya hati lembut makanya gak tegaan," gumam Dora.


"Gue juga punya hati lembut kok."


"Lo lembut? Kasar begitu dibilang lembut!"


Lea memandang Dora sinis.


"Gak ada baik-baiknya sih lo! Padahal gue baru datang dari rumah sakit lho. Seharusnya dibaikin kek, atau gak dilayanin gitu, lo gak kasian apa sama gue?" tanya Lea sok dramatis.


"Kasian sama lo? Hahahha itu mah derita lo!" ujar Dora tertawaan.


Nia menarik napas panjang. Ia menyentuh tangan Lea membuat cewek itu terkejut.


"Kenapa Nia?"


"Kamu katanya diturunkan satu tingkat yah pas masuk sini? Seharusnya kamu sudah tamat sekolah, 'kan?"


Lea mendengus. Itu memang benar. Karena dia diturunkan satu tingkat menjadi mengulang satu tahun lagi karena Lea tidak lolos ujian tes baca huruf Arab Melayu saat masuk ke pesantren ini.


"Gak usah diingetin."


"Seharusnya aku manggil kakak."


"He! He! Nia, gak usah deh bilang gue kakak. Gue merasa lebih tua."


"Tidak apa-apa. Bagaimana masih sakit?" tanya Nia dan memeriksa punggung Lea.


"Au, sakit. Belum sembuh Neng," ucap Lea dan merintih.

__ADS_1


"Cupu amat, masa begitu doang kesakitan," sindir Dora.


"Makanya sini cobain. Mau gue pukul gak lo?"


"Tidak. Makasih!"


Tok


Tok


Tok


"Siapa yang datang?" tanya Lea penasaran.


"Gak tau. Bentar gue buka," ucap Dora dan berjalan menuju pintu.


Lea memandang Nia. Mungkin ada orang lain yang ingin berkunjung ke tempat mereka dan ingin menjenguk Lea.


"Mungkin orang yang ingin menjenguk kamu."


"Kok bisa? Gak mungkinlah, kan di sini temen gue kalian doang."


"Jangan begitu. Kamar sebelah juga teman kita."


"Gak sedekat sama kalian."


Lea memandang bingung Dora yang berjalan ke arah mereka sambil menatap dia seakan tengah meminta jawaban.


"Kenapa dah muka lo? Biasa aja kali!"


"Jawab pertanyaan gue dengan jujur!" todong Dora.


"Kenapa Dora? Apa sesuatu yang sedang terjadi."


"Teman kita kayaknya lagi disukai orang."


"Hah? Maksud?" tanya Lea tidak mengerti.


"Ciehh!!"


"Yang bener ngapa, kenapa sih?"


"Nih ada yang ngirimin ini buat lo dari santri putra tapi gak tau siapa. Jawab siapa dia?"


Lea cepat merebut bingkisan itu. Ia membuka dan melihat beberapa makanan ringan dan juga ada obat.


Ia juga bingung bagaimana caranya menjawab pertanyaan Dora jika dirinya sendiri saja tidak tahu siapa orang itu.


"Demi apapun gue juga gak tau!"


"Siapa kira-kira?"


"Gak tau tapi Biarin aja. Yang penting hamba Allah dan lebih penting lagi gue dapat makanan anjay. Kalau tau begini gue mau sakit aja terus!! Enak banget ternyata sakit, banyak yang peduli!!"


"ASTAGHFIRULLAH LEA!!"


__________


Entah kenapa Lea hari ini sangat semangat untuk mengikuti sholat Dzuhur berjamaah di mushola. Biasanya ia selalu bolos.


Dan untuk hari ini Lea mendadak taat. Mungkin sudah mendapatkan hidayah, meskipun beberapa menit lagi hidayah itu bakal dicabut.


"Tumben lo sholat," sindir Dora.


"Gue gak sholat disalahin, gue sholat juga disalahin."


"Bukan begitu..."


"Sudah Dora. Seharunya kita bersyukur Lea sudah mau ikut sholat berjamaah," sela Nia.


"Hem, iya deh lo menang."


"Iya dong."


Lea berjalan dengan gembira menuju musholla. Dari jauh Lea sudah mendengar suara orang murotal dan terdengar sangat merdu.


"MasyaAllah, seketika idaman gue mas-mas santri," gumam Lea tatkala mendengar suara merdu orang tersebut.


"Ini siapa yang ngaji?"


"Pasti Rafkha," jawab Nia sayang sudah hapal dengan suara merdu Rafkha.


"Pintar juga tuh anak."


"Jangan salah, Rafkha itu salah satu santri berbakat lho di pesantren ini."


"Kasian gara-gara gue pasti citra dia buruk."


"Sudah pasti sih," sindir Dora sambil melirik Lea.


"Elu mah."


"Cepat-cepat kita ke Mushola biar dapat barisan paling depan!" ucap Lea dan lebih dulu berlari agar dapat saf paling depan.


Lea dan Nia saling pandang. Tumben sekali, ada apa dengan Lea? Tidak seperti biasanya.


Sebenarnya yang terjadi pada Lea adalah dia baru saja mengetahui jika Zheaan sering menjadi imam.

__ADS_1


Karena Lea yang notabennya sudah falling in love dengan Zheaan tentu ingin mendengar suara merdu crush nya.


"Di sini!" Lea sudah lebih dulu menempati saf paling depan dan duduk tanpa mau menyingkir.


Kebetulan ada tempat kosong di sampingnya dan Lea menyuruh keuda sahabatnya itu mengisi sekaligus di tempat itu.


"Yakali muat," keluh Dora.


"Kan nanti beridri juga, pasti muat kok."


Itulah Lea tidak mau kalah. Teman-temannya hanya bisa pasrah dengan wanita itu.


"Terserah mu saja." Pada akhirnya kedua orang itupun mengikuti perkataan Lea.


Selesai murotal, suara adzan pun mengundang. Lea menatap ke depan. Suaranya sungguh merdu.


"Siapa yang adzan?" bisik Lea.


"Gak tau. Tau orangnya tapi gak tau namannya."


Lea penasaran dan hendak membuka tirai. Kedua mata Nia dan Dora melebar.


Dora menahan tangan Lea.


"Apa yang lu lakukan Lea. Jangan dibuka!" bisik Dora kecil.


Lea mendesah kecewa dan duduk dengan posisi yang benar. Ia menatap ke sekitar melihat orang-orang yang tengah memperhatikannya.


"Hay! Ada yang salah?" tanya Lea pada orang yang dari tadi sudah memperhatikan dirinya.


"Eh tidak ada yang salah," ucapnya.


Lea pun menarik napas dan ketika adzan selesai, Nia pun mulai berbicara.


"Lea lain kali kalau orang lagi adzan jangan berisik yah. Kita harus bisa menghargai adzan," ucap Nia dengan suara lembut.


Lea memandang Nia dan mengercutkan bibirnya. Lagi-lagi dia yang salah.


"Sekarang udah boleh, 'kan?'


"Hyust pelan aja. Sebentar lagi orang mau sholat. Ayo berdiri."


"Mau ngapain?"


"Ya sholat lah." Beginilah kiranya gambaran seseorang yang baru pertama kali sholat berjamaah.


Lea pun berdiri dan ketika suara imam baru saja mengucapkan kalimat takbir, Lea langsung mengenalinya, suara Zheaan. Orang yang telah memporak porandakan hati Lea.


Dia bukannya sholat malah tersenyum-senyum sepanjang sholat dilaksanakan hingga selesai.


Memang aneh makhluk seperti Lea.


"Assalamualaikum warahmatullah!"


Lea berusaha agar tetap tenang ketika mendengar suara mas kulin Zheaan sepanjang sholat berlangsung.


"Kenapa lo?" bisik Dora.


Lea pun langsung menormalkan wajahnya.


"Gak papa," ujarnya setenang mungkin.


"Pasti lo salting kan dengan suara gus Zheaan. Tenang aja, seluruh santriwati di sini juga begitu."


Lea merengut. Entah kenapa dia merasa sangat cemburu.


"Oh."


"Jangan marah. Doain gue bisa dapatin gus Zheaan juga."


"Tapi kan Nia juga suka sama gus Zheaan."


"Untuk urusan Gus Zheaan kita tidak mengenal teman."


Lea terdiam. Begitukah, jadi bolehkah dia egois tidak memikirkan teman-temannya? Tapi balik lagi memang Lea tidak pantas untuk Zheaan.


Saat doa sudah selesai dibaca dan saatnya giliran untuk Zheaan menyampaikan pidato singkatnya.


"Sekrang pidato?" tanya Lea.


"Iya. Lebih tepatnya tausiah, Gus langsung yang akan memberikan tausiahnya."


Lea pun dengan patuh menyimak tausiyah Zheaan. Tapi sayangnya dia tidak bisa melihat Zheaan. Kebetulan Lea paling sudut dan pada saat kedua temannya lengah, Lea memanfaatkan peluang itu untuk membuka tirai pembatas.


Lea tersenyum melihat Zheaan dengan penuh wibawa memberikan tausiyah. Rasanya Zheaan berbeda dengan Zheaan yang Lea kenal.


"Rosull sendiri pernah mengatakan kepada umatnya bahwa penduduk negara kebanyakan merupakan orang-orang yang fulu sombong di dunia. Haritsah bin Wahb berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Maukah kalian aku beri tahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang kasar, rakus, dan sombong." (HR Bukhari dan Muslim)" Isi tausiyah Zheaan.


"Cakep amat kalau gus Zheaan begini," ucap Lea bergumam.


Zheaan tidak sengaja dari mimbar melihat kepala Lea yang menyembul di balik tirai.


Dia mengernyitkan kening. Namun beberapa saat kemudian dia tersenyum membalas senyuman Lea yang tengah menyapanya.


Zheaan semakin ingin menunjukkan wibawanya pada saat tahu jika istrinya ada di saf paling depan dan tengah mendengarkannya.


_________

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2