Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 33


__ADS_3

Kecanggungan antara Zheaan dan Lea berlangsung cukup lama di atas meja makan. Bunda Hana dan Ayah Ikhsan menjadi saksi.


"Kalian mau makan atau tatap-tatapan kaya gitu?" tanya Hana sambil mengambil piring dan memasukkan nasi ke dalamnya. "Mana natapnya canggung lagi."


Mata Zheaan tersadar dan menatap Hana. Dia tertawa pelan lalu melirik Lea.


"Maaf Bunda, tidak bermaksud ingin berbuat ulah di atas meja makan begini," ucap Zheaan lalu tersenyum dengan ramah. Dari ekspresi wajahnya dapat dilihat dia tengah menunjukkan rasa penyesalannya


Bunda Hana menatap Zheaan dengan sedikit marah. Lebih tepatnya berpura-pura marah. Zheaan selalu saja minta maaf seolah-olah dia bukan bagian dari keluarga itu.


"Kamu kenapa Zheaan? Dari tadi minta maaf terus sama Bunda. Kamu tidak salah," ucap Hana sambil menggelengkan kepala.


"Zheaan di sini tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah sendiri dan kamu juga bukan orang lain, 'kan?" ujar Ayah Ikhsan yang pada akhirnya berbicara.


"Eh Ayah. Zheaan merasa belum enak saja berkumpul dengan kalian."


"Kenapa tidak enak?"


Zheaan melirik Lea yang sudah makan terlebih dahulu. Hana dan Ikhsan ikut melihat Lea dan terkejut menatap anaknya itu telah makan mendahului yang lain.


Hana dan Ikhsan menghembuskan napas lelah. Memang Lea suka begitu. Ini adalah sifat Lea yang menurut bundanya sangat memalukan.


"Astaghfirullah Lea kamu itu sudah menikah masih saja kelakuan kaya gitu."


Lea yang semula telah asik makan dengan tenang tiba-tiba merasa terganggu dengan ucapan ibunya. Dia mengangkat kepalanya dan menyengir bodoh tidak mengerti apa-apa.


"Ada apa Bunda?" Lea menatap sekitar ke arah Zheaan dan juga ayahnya. "Kalian juga kenapa natal Lea gitu amat sih? Ada yang salah dengan Lea?"


Lea memperhatikan dirinya dan dirasa oleh cewek itu tidak ada yang salah dengannya.


"Kenapa sih?" heran Lea terus bertanya-tanya.


"Kamu tau adab Lea? Yang lain belum makan dan kamu sudah makan duluan." Lea pun menatap ke arah piringnya dan menghela napas banyak. "Oh ini toh salah Lea. Ya maaf, tinggal kalian ikut makan juga apa salahnya."


"Lea tidak boleh ngomong kaya gitu SMA orangtua kamu."


Lea menatap Zheaan sengit. Awas saja Zheaan sudah berani-beraninya melarang dirinya.


"Ya. Terimakasih nasehatnya. Kebetulan Lea sudah tau, tidak perlu diingatkan."


"Yang sabar Zheaan. Lea memang begini. Kamu harus banyak-banyak sabar aja. InsyaAllah kalau dibimbing terus Lea bakal berubah," ucap Hana menyemangati Zheaan.


"Tidak apa-apa. Zheaan pasti sanggup. Lagipula menang sudah seharusnya Zheaan sabar supaya Lea cepat berubah."


"Kau ngomongin orang jangan di depannya," sindir Lea. "Lagian juga berubah apaan. Mau berubah jadi Ironman gitu? Atau berubah jadi Ultraman?" tanya Lea sambil menggelengkan kepala. "Ck, ck, ck."


"Lea Ayah tidak pernah mengajari kamu seperti itu," tegur Ikhsan kepada anak semata wayangnya.


"Iya."


"Sekarang kita mulai berdoa. Kamu Lea, belum doa, 'kan?" tanya Ayahnya sambil mengintimidasi Lea.


Lea mengangguk lemah. Lagi-lagi dai menjadi tersangka dan menjadi contoh tidak baik. Mungkin Zheaan setelah ini menertawakan dirinya habis-habisan.


"Zheaan kamu mimpin doanya." Zheaan menatap Ikhsan.


Tidak biasanya Zheaan merasakan berdebar sangat luar biasa. Bahkan dia selalu percaya dori ketika berdiri di depan ribuan orang banyak, namun dia tiba-tiba menjadi pria yang lemah saat disuruh mimpin doa di depan calon mertua.


"I--iya Ayah." Zheaan mengangkat tangan berdoa. "Allâhumma bârik lanâ fî mâ razaqtanâ wa qinâ adzâban nâr, bismillâh.


Ya Allah, berkahilah kami pada apa yang telah Engkau karuniakan dan lindungilah kami dari siksa neraka."


"Yey makan!!!" Lea tanpa menunggu yang lain langsung melahap makanannya tadi.


Dia menghabiskan dengan sangat brutal membuat Zheaan geleng-geleng kepala dengan kelakuan istrinya.


Percaya tidak percaya dulu Zheaan mengharapakan seorang istri yang sangat anggun dan pendiam juga pintar dengan agama.


Namun bertemu dengan Lea semua keinginan itu hilang hingga hanya Lea lah yang pantas menurut Zheaan untuk bersamanya.

__ADS_1


Tidak ada orang lain dan Zheaan juga tidak ingin menikah lagi. Dia hanya setia dengan Lea.


Meski di kalangan orang alim terkenal dengan poligami tetapi Zheaan berjanji seumur hidupnya tidak akan pernah mempoligami Lea.


Hanya Lea yang ada di hatinya. Jika itu memang memaksa Zheaan, Zheaan tetap berada di jalan yang sulit jika diharuskan.


Zheaan memandang Lea. Betaoa cantiknya istrinya itu dengan segala kesederhanaan dan apa adanya tidak dibuat-buat.


"Lea makannya pelan-pelan."


Zheaan membenarkan rambut Lea yang sedikit keluar dari hijabnya.


Meski di dalam sini semuanya adalah mahram Lea namun dia tetap menggunakan hijab ketika mengetahui bahwa Zheaan suaminya. Aneh bukan ketika belum mengetahui Lea malah membuka auratnya dan ketika dia tau Zheaan suaminya seketika dia menjadi wanita Solehah.


Lea takut Zheaan akan tergoda. Karena dia istrinya dan memiliki kewajiban itu untuk melayani Zheaan, bagaimana dengan dirinya? Lea belum ingin Zheaan menyentuhnya.


"Gus kenapa dari tadi natap Lea Mulu sih? Gus tidak makan apa?"


"Saya sudah makan. Makan ngeliat sambil liat kamu itu makin nikmat Lea."


Buna Hana uang mendengar percakapan itu tersenyum malu-malu dan menyikut suaminya.


"Yah, anak kita sudah jadi punya orang lain."


"Kamu benar Hana, terkadang aku sedih ngeliat Lea. Anak perempuan satu-satunya kini bukan hak kita lagi. Sudah menjadi hak suaminya."


"Sudua Yah. Cepat atau lambat memang harus begini, 'kan?" tanya Bunda Hana sambil melirik dua pasangan itu.


"Tapi kenapa untuk Lea terlalu cepat."


"Mungkin sudah takdirnya."


Lea menatap kedua orangtunya yang tengah membahas dirinya.


"Ayah dan Bunda ngomongin Lea apa?"


"Eh anak Bunda yang canti, kita lagi tidak ngomongin Lea yang aneh-aneh. Cuman masih belum nyangka aja kamu udah nikah."


"Lea juga sama."


Lea menatap Zheaan dan menyengir sesaat. Sudah bersuami dan suaminya adalah Zheaan bukankah itu seperti karangan sebuah cerita yang hanya ada di dunia novel?


_____________


Lea beridri di depan pintu menunggu kedatangan Zheaan. Hari ini mereka akan pulang ke pesantren.


Zheaan ternyata datang kemari hanya untuk menjemput darinya. Mengetahui status mereka yang sudah berbeda, timbul niat licik Lea untuk tinggal di Ndalem.


Dia sungguh tersiksa di sana tidak ada apa-apa yang dapat menghibur dirinya.


"Gus Zheaan kok lama banget ya Bunda."


"Sabar atuh Neng. Tunggu sebentar lagi."


"Tumben banget cowok lama Bunda."


"Mungkin Zheaan lagi ada kendala."


Lea mengembuskan napas panjang. Wanita itu menatap jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Bentar deh Lea cek ke dalam Gus ngapain aja sampe lama begitu. Kaya cewek aja."


Baru saja Lea hendak masuk ke dalam rumah, dan orang yang sedang menjadi pikirannya itu sudah keluar dengan penampilan yang sangat mengejutkan Lea.


Bukan hanya Lea tetapi bunda Hana juga. Hana merasa orang di depannya itu bukanlah Zheaan namun dua orang yang berbeda.


"Hahaha!!" Lea gelak tertawa minat penampilan Zheaan. "Ngakak banget sumpah, tumben banget Gus pake baju kaya gini."


Zheaan terdiam sambil menyentuh tengkuknya. Ternyata bakal menarik perhatian Lea tetapi penampilannya ini malah membuat Lea menertawakan dirinya.

__ADS_1


Jika tahu begini Zheaan tidak berpenampilan aneh-aneh.


"Maaf, saya kira kamu bakal suka dengan penampilan saya. Saya sengaja begini supaya tidak membuat malu kamu ketika kita di jalan nanti."


Bunda Hana menyenggol anaknya. Dia seolah tengah menggoda habis-habisan Lea.


"Bunda kenapa sih," keluh Lea sambil membuang wajah yang bersemu merah.


"Emang Bunda kenapa?"


"Bunda pake nannya lagi. Kenapa nyikut Lea segala."


"Hargain suami kamu sayang. Kamu gak liat dia secakep itu malah diketawain."


Lea menatap Zheaan sekali lagi. Benar kata bundanya Zheaan memang sangat ganteng dan itu membuat hati Lea meleleh.


Aura dari good boy berubah menjadi bad boy tatkala dia memakai pakaian anak muda yang sering kenakan.


"Udah ih Bunda."


"Maaf buat kamu malu. Saya bisa ganti baju kaya biasanya."


Lea menggeleng dan menahan tangan Zheaan. "Ngapain ganti baju. Kalau kaya gini Gus malah ganteng banget. Lea gak malu malah bangga punya suami kaya Gus."


Zheaan terdiam dan menatap dalam mata Lea. Dia tersenyum lebar. Cowok itu tengah salting tingkat tinggi.


"Kamu benar?"


"Saya benar Gus. Kenapa sih, ganteng banget malahan. Ayo pulang. Kita pulang pake apa? Pake bis?"


Zheaan menggelengkan kepala dan menunjuk mobil Lamborghini miliknya.


"Hah itu punya Gus?" ujar Lea tidak percaya menatap mobil itu yang sangat mewah dan juga hampir tidak pernah Lea miliki. "Itu beneran mobil Gus."


"Iya itu mobil saya dan sekarang juga jadi mobil kamu."


Lea memandang wajah Zheaan. "Serius Gus itu punya saya?"


"Iya Lea."


Lea tanpa pikir panjang langsung lari dan masuk ke dalam mobil tersebut. Dia orang yang paling semangat masuk mobil meninggalkan Zheaan yang terkekeh.


"Gimana? Lea cantik dan unik gak?" tanya Hana dan menatap Zheaan seolah tengah menggoda Zheaan.


"Bunda." Zheaan memandang ke arah Lea, "benar kata Bunda. Lea memang sangat imut dan juga cantik. Zheaan tidak pernah berpikir bahwa wanita itu adalah istri Zheaan suatu hari nanti.


"Aduh Bunda meleleh dengannya. Memang yah anak sekrang pada bucin-bucin kalah orangtunya."


"Bunda bisa aja. Gus tidak bisa sebucin itu Bunda."


"Gak bisa gimana. Gak di meja makan gak sekrang sampe pake baju kaya gini, apa namannya kalua bukan bucin."


Zheaan tertawa kecil dan merasakan wajahnya sangat panas karena malu.


"Tuhkan Zheaan sampe merah gitu mukanya."


"GUS!!! INI KAPAN BERANGKATNYA! LEA GAK SABAR BANGET PAKE MOBIL INI JALAN-JALAN!!"


"Zheaan gak papa pulang dulu aja lebih cepat. Kayanya Lea udah lupa sama bundanya dan juga gak ingat lagi sama bundanya."


"Astaghfirullah. Jangan begitu, nanti Zheaan nasehatin Lea."


"Bunda cuman bercanda Zheaan. Aduh udah sana temui Lea."


__________


Tbc


Jangan lupa like dan komen setelah membaca.

__ADS_1


__ADS_2