
Mata Lea berbinar melihat Zheaan berjalan sendirian habis pulang dari masjid.
Wanita itu lantas keluar dari persembunyiannya dan mencegat jalan Zheaan sambil merentangkan tangannya.
"Hayo mau lewat mana?"
Zheaan berhenti berjalan dan mengangkat kepalanya. Dia mendesah panjang dan kemudian menyunggingkan senyum melihat wanita itu.
"Sayang kamu bisa saja. Kenapa gak balik ke asrama?"
"Mau ngusir ya? Orang Lea lagi rindu banget sama Gus. Makanya Lea dari tadi nungguin Gus."
Zheaan menarik napas panjang dan meraih tangan Lea ke tempat yang lebih sunyi.
"Eh Gus mau narik Lea ke mana?"
"Ke tempat sepi?"
"Emang kita mah ngapain? Lea belum siap."
Mata Zheaan membola sempurna mendengar perkataan Lea. Laki-laki itu menggelengkan kepala tidak menyangka dengan hal yang dipikirkan oleh cewek itu.
"Ini otaknya omes banget. Jangan aneh-aneh deh kamu. Lagian kalau saya mau bisa di kamar saya ngapain di sini."
"Astaghfirullah Gus."
"Makanya kamu jangan mancing-mancing."
Zheaan memeluk Lea dan mencium keningnya.
"Kamu makin hari makin cantik."
"Gus juga tampan. Tapi masih tampan Winwin."
"Wahai istri saya, sudah saka katakan bukan jangan pernah menghalu dengan orang yang gak ada di sini. Liat saya, saya ada di depan kamu. Dan lebih ganteng dari Winwin Winwin itu."
Lea memandang wajah Zheaan dan memperhatikan setiap bagian di wajah Zheaan. Perempuan tersebut menarik napas panjang.
"Gantengan Winwin."
"Oke." Zheaan merajuk dan pria itu ingin meninggalkan Lea sendirian di tempat gelap tersebut.
"Gus!! Tungguin Lea. Kenapa Gus malah ninggalin Lea di sini sih. Gimana kalau misalnya ada yang ganggu Lea," ucap wanita itu dengan perasaan resah dan was-was. Lea mengejar Zheaan sebelum laki-laki tersebut semakin jauh.
"Makanya jangan bahas dia lagi. Sudah ada suami ganteng di sini masih aja bahas pria lain."
"Heheh maafkan Lea."
"Gak papa. Saya gak bisa marah sama kamu. Asal kamu jangan buat saya marah aja."
Zheaan memeluk Lea.
"Lea gak mau Gus marah. Kan Lea masih kangen sama Gus," ucap manja Lea seperti anak-anak.
"Cup-cup. Jadi istri saya lagi kangen saya, hm?" tanya Zheaan lalu menepuk kepala Lea dengan lembut. "Jangan sedih lagi. Kan lagi meluk saya."
"Iya tau, makanya Lea gak sedih lagi. Lea udah ceria." Lea mendongak dan menyengir.
__ADS_1
"Nah gitu dong. Makin imut dan gemas banget."
"Ingat jangan cubit Lea."
Zheaan terkekeh. Rupanya Lea sudah hapal dengan kebiasaannya yang sering mencubit Lea apabila dia sedang gemas dengan wanita itu.
Zheaan mencolek hidung mungil Lea.
"Gak akan. Kan saya sudah janji meski saya belum bisa menepati janji saya suatu hari nanti."
"Gus mah harus membiasakan tidak mencubit Lea lagi. Kalau dicubit itu enak, Lea mah welcome aja kalau misalnya Gus mau cubit Lea semaunya."
"Iya-iya sayangku. Saya usahakan."
"Gus mah kita kan katanya udah nikah kenapa Gus masih bicara sama Leo pakai bahasa yang formal gitu. Pakai bahasa yang romantisan dikit," keluh Lea pada suaminya itu.
"Jadi kamu mau kita ngomongnya pakai apa? Saya mah kurang update kalau masalah bahasa-bahasa romantis gitu."
Lea mulai memikirkan kata-kata yang yang cocok bagi dirinya dan Zheaan. Namun karena Zheaan adalah seorang yang taat dengan agama pastinya bahasa yang lebih cocok adalah bahasa mengenai hal-hal yang berbau agama.
"Gak tau. Lea mau dipanggil Buna aja sama kaya Muzea ke Lea."
"Jadi Lea maunya dipanggil Buna yah? Kalau saya dipanggil apa?"
Lea dan Zheaan sama-sama memikirkan kata-kata yang cocok untuk digunakan memanggil Zheaan.
"Abi ajalah."
"Kalau kamu Umi yah?"
"Bagusan Umi."
"Tapi Lea gak ukhti banget."
"Abi itu lawannya Umi bukan Buna."
"Tersebar Gus ajalah."
"Lah ngambek."
"Lagian Gus kayak gitu."
Zheaan mengehela napas. Tapi itu benar-benar tidak cocok.
"Iya Lea yang nyerah. Lea mau dipanggil Umi."
"Nah gitu kan bagus. Nurut sama suami."
Zheaan lantas mengusap kedua pipi Lea. Mereka berdua pun resmi mengganti nama panggilan. Akan tetapi untuk titel Abi Umi mereka gunakan setelah mempunyai anak nanti.
Tapi sekarang saya mengubah cara pembicaraan mereka menjadi aku kamu.
"Gus boleh nggak malam ini Lea tidur di Ndalem."
"Kenapa tidak boleh Lea? Boleh kok. Itu kan juga termasuk kamar kamu."
"Beneran?"
__ADS_1
"Aishh enak banget ternyata jadi istri Gus."
"Iya Ning."
"Lah kok dipanggil Ning? Lea kan bukan anak kyai."
"Kan kamu sekarang istri saya?"
"Oh jadi gitu yah Gus."
"Iya bener Azalea."
"Astaghfirullah Gus? Gus ngapain sama Lea berduaan di sini sambil pelukan? Apa yang Gus telah perbuat?"
Zheaan dan Lea terkejut mendengar suara tersebut. Dia melirik ke arah salah satu santri putra yang menangkap basah dirinya dan Zheaan.
"Astaghfirullah ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan Bayu."
"Tapi Gus? Maaf Gus. Saya akan tetap menyampaikan ke pihak keamanan."
"Bayu tunggu!!" teriak Zheaan dengan panik. Dia menatap Lea yang ketakutan. "Gak papa, saya akan berusaha menjelaskan."
"Lea takut Gus. Gimana kalau misalnya mereka gak suka sama Lea dan ngejek Lea."
"Apa yang perlu ditakutkan Lea? Kamu itu adalah istri saya jadi kamu gak usah takut sayang."
Zheaan menarik napas panjang dan tak lama tempat ini menjadi heboh dan ustadzah Alma bersama Ustadz Sholeh terkejut melihat Zheaan dan Lea.
"Apa yang kamu lakukan Gus? Pasti kamu kan Lea yang menggoda Gus?"
"Saya?"
"Kenapa menyalahkan Lea. Di sini tidak ada yang salah."
Ustadzah Alma melirik Zheaan, "maafkan saya Gus. Tetapi hukum di pesantren tetap berjalan. Tidak peduli siapa Gus, saya akan membawa Lea dan Gus untuk diinterogasi."
"Saya tidak menyangka dengan kamu Zheaan."
"Sudahlah. Kalian langsung saja bawa saya untuk diinterogasi di depan kyai."
Zheaan serta Lea yang berjalan di belakangnya yang ketakutan dan merasa malu itu menuju ke tempat sidang. Biasanya ayang masuk ke situ adalah orang-orang yang benar-benar berat kasusnya.
"Kamu kan Lea yang menggoda Gus. Mentang-mentang cantik."
"Alma jangan lagi berkata seperti itu. Kamu tidak berhak menyalahkan Lea."
Ustadzh Alma merasa kesal karena Zheaan lebih memilih membela Lea.
"Maafkan saya Gus. Tapi apa yang telah Gus perbuat tidak bisa menjadi hal yang baik buat dicontoh santri dan akan membawa dampak buruk bagi pesantren kita. Apa Gus tidak takut dengan hukuman berat di sini?"
"Kenapa saya harus takut. Saya sudah merasakannya dan saya mendapatkan rezeki dari Tuhan yang Tika terduga. Kamu akan tau apa maksud saya setalah kamu membawa saya ke depan kyai nanti."
_________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1