
Zheaan menurunkan Lea dari gendongannya. Wanita itu masih setengah sadar. Dia baru beberapa jam tertidur dan kini terbangun karena sudah sampai di pesantren.
"Gus Lea capek banget pengen tidur."
"Ke kamar saya?"
"Tapi Lea maunya tidur sendiri."
"Oke kalau itu mau kamu." Mata Lea segar seketika. Dia tidak menduga Zheaan akan menjawab seperti itu.
Zheaan cukup pengertian, dan itu menarik perhatian Lea. Lea menatap raut wajah Zheaan dan terlihat sedang kelelahan membuatnya tak tega.
"Gus Lea cuman bercanda malahan."
"Tidak apa-apa. Mungkin kamu belum siap. Saya bisa tidur di luar dan kamu bisa pakai kamar saya."
Lea menarik napas panjang. Dia menatap ke arah rumah. Posisi keduanya saat ini tengah berada di depan halaman.
"Lea! Gus!! Kenapa masih berdiri di sana ayo masuk!" seru Umi Sarni mengajak masuk keduanya. "Udah malam banget, kasian Lea juga kayaknya kecapekan banget."
Lea menarik napas panjang dan mendahului Zheaan masuk ke dalam rumah.
"Tungguin saya."
"Yang cepat dong Gus jalannya, Lea ngantuk banget. Mata Lea juga udah kaya dilem aja saking ngantuknya."
Lea menarik napas panjang dan kemudian wanita itu meninggalkan Zheaan dengan membawa bberapa barang Lea di tangannya.
"Dasar cewek." Zheaan menggelengkan kepala.
"Assalamualaikum!!" sapa Lea dan masuk ke Ndalem.
"Wa'alaikumussalam. Kamu tidur di sini yah di kamarnya Zheaan, gak papa kan sayang?"
"Gak papalah Umi, kan suami Lea."
Hening.
Tidak ada yang membuka pembicaraan ketika Lea mengucapkan kalimat tersebut. Satu keluarga terfokus dengan Zheaan.
Zheaan yang baru masuk seketika menjadi tersangka. Dia menatap seluruh anggota keluarganya dengan tatapan bingung.
"Kenapa Umi? Abi? Ning?"
"Lea... Itu..." Ning Kansa tak tahu harus mengatakan seperti apa.
Zheaan tersenyum ke semua anggota keluarganya. Dari raut wajah Zheaan dapat disimpulkan Umi bahwa Lea sudah mengetahui yang sebenarnya.
"Jadi benar Lea sudah mengetahui kamu suaminya Gus?"
Zheaan mengangguk.
"Lea, kamu tidak apa-apa?"
Lea diam. Di satu sisi dia merasa kecewa namun ada di sisi lain dia menerima Zheaan dengan sukarela.
"Mau bagaimana lagi? Lea yang seharusnya merasa tidak pantas masuk ke dalam keluarga Umi."
"Astaghfirullah Lea, kamu ngomong apa Nak. Malah kami yang sangat bersalah kepada kamu, maafkan Zheaan yang dulu."
Lea menatap wajah Zheaan. Pandangan kekecewaan terpancar dan Zheaan menghela napas pasrah ditatap seperti itu.
"Saya memaafkan Gus. Tapi Lea juga senang suami Lea adalah satu-satunya orang yang pernah menyentuh Lea."
Senyum Zheaan pun cerah kemabli. Tatapannya penuh dengan ucapan terimakasih.
"Saya tidak tahu harus mengatakan apa, tapi saya sangat berterimakasih dengan kamu Lea yang sudah mau nerima saya apa adanya meskipun saya pernah menyakiti perasaan kamu."
Lea menggelengkan kepala. "Tidak Gus. Saya yang harus berterimakasih karena Gus sudah mau bertanggungjawab. Selain itu Gus juga baik banget ke Lea padahal Gus tau gimana kelakuan Lea. Cuman Gus yang mau nerima Lea."
Umi Sarni dan Abi Akhyar yang menjadi saksi kejadian itu hanya tersipu malu.
"Anak Umi sudah besar sekrang yah, gak kerasa udah punya istri aja. Kalian lucu banget, tapi sayang gak boleh saling tuduh yah. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing. Jadi Lea, maupun Zheaan kalian harus sama-sama saling membantu dan juga saling menerima."
"Iya Umi."
""Lea kamu kalau tidak betah di sini bilang saja. Jangan kabur-kaburan lagi. Kamu tenang saja, orang yang sudah menghina menantu Abi, sudah mendapatkan sanksinya."
Lea diam teringat dengan Nindy. Lea sangat kesal dengan wanita itu yang berani-beraninya menghina dia di depan publik dan tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
Semoga Nindy merenungi perbuatannya dan tidak mengulanginya lagi. Lea berharap juga ada perubahan Nindy di pesantren ini.
Entah apa nanti reaksi Nindy ketika mengetahui bahwa dia adalah istri dari Gus Zheaan dan Zheaan pulalah pelaku dari pelecehannya.
"Iya Abi."
"Lea, kamu lelah banget yah. Kamu sama Gus masuk ada di dalam kamar, nanti Umi suruh Asep aja yang angkatin barang kalian."
"Tapi Umi..."
"Aduh Gus, masuk aja di dalam rumah. Kasian lho Lea nya kayaknya kelelahan banget. Kamu temanin gih. Jangan mikirin barang-barang kalian, tenang saja tidak ada yang bakal mencurinya juga."
"Bukan itu Umi....."
"Iya Umi tau kamu gak enak hati sama Asep," potong umi Sarni. "Ya ampun Gus. Masuk aja ke kamar, liat istri kamu gak bisa buka mata lagi saking ngantuknya."
Lea merasa tersindir tapi harus tetap stay cool.
"Gus buruan ah, Lea capek banget ini Gus."
"Ya udah ke kamar kalau kamu ngantuk banget," ujar Zheaan dan membawa Lea ke kamarnya.
Ketika pintu kamar dibuka aroma mint yang pertamakali Lea cium. Dia menghirup dengan puas aroma menenangkan itu.
"Selera Gus bagus juga."
"Kamu suka Lea?"
"Iya. Laki banget baunya," ujar Lea dan menghirup udara dengan kencang. "Aaaa enak banget kayaknya kalau gue tidur di sini."
Lea berlari ke arah kasur dan melemparkan tubuhnya di atas kasur tersebut lalu memejamkan mata.
"Otak gue rasanya pada rileks banget tidur di kasur seempuk ini. Ini semua punya Lea ya Gus."
"Terserah kamu. Saya bisa tidur di bawah." Lea mendudukkan tubuhnya. Dia menatap intens Zheaan. "Ada apa?"
"Apa Gus mau tidur di situ?" tunjuk Lea ke lantai yang menurutnya sangat tidak layak untuk dijadikan tempat tidur.
"Ya mau di mana lagi."
"Di tempat Lea. Lea bercanda doang tadi. Gus mah gak asik baperan banget," keluh Lea dan mengercutkan wajahnya.
"Iya-iya saya tidur di sana. Tapi nanti yah saya mau bersih-bersih dulu sekalian mau wudhu. Tapi kalau kamu udah ngantuk banget bisa langsung tidur."
Selang beberapa lama kemudian Zheaan kuat dari dalam kamar mandi dalam keadaan sudah berwudhu.
Rambut panjangnya yang basah jatuh ke dahi dan terlihat beberapa tetesan air yang jatuh ke pipinya.
Zheaan mendekati Lea dan memandang wajah wanita itu dengan cukup lama. Pesona Lea sangat memukau bahkan membuat seorang Zheaan yang dulu terkenal dengan dinginnya terhadap wanita seketika Luh dihadapan dengan Lea.
"Cantik banget kamu sayang. Untung yang dapatin kamu itu saya. Saya tidak bisa memikirkan jika itu bukan saya yang mendapatkan hati kamu."
______________
Lea merasakan ada yang aneh di tidurnya. Dia membuka mata perlahan dan pemandangan yang pertama kali dilihat oleh cewek itu adalah wajah damai Zheaan.
Lea menyipitkan matanya dan memastikan jika orang yang dilihatnya itu adalah Zheaan.
Merasa belum percaya juga Lea lantas melotot dak menyentuh wajah Zheaan.
"MasyaAllah ganteng banget."
Lea menyentuh permukaan wajah Zheaan dan rasanya sangat gugup. Tidak biasanya Lea seperti itu. Dia sering menyentuh pria dan kenapa jika itu Zheaan Lea merasa bak ada yang mengaliri tubuhnya.
Zheaan mengerjapkan mata ketika merasakan ada yang menyentuh wajahnya.
Bak dihantui Lea langsung gugup dan menarik tangannya. Dia tidak ingin diketahui oleh Zheaan bahwa telah diam-diam memperhatikan pria itu. Zheaan hyang menyadari bahwa Lea tengah memperhatikan dirinya sontak menahan tangan Lea.
"Gus," cicit Lea sambil menatap Zheaan dengan lirih.
"Ada apa?" Zheaan membuka mata dengan sempurna.
"Itu..." Lea melirik ke tangannya yang ditahan Zheaan, "lepasin tangan Lea."
"Lepasin tangan kamu. Bukannya tangan kamu ini sudah jahil menyentuh wajah saya?"
Lea kalang kabut dan dia memandang ke arah lain supaya tidak terlalu gugup dan berusaha menghindari tatapan maut Zheaan.
Lea tidak akan pernah berdaya melihat manik kelam itu memandangnya dengan sangat dalam.
__ADS_1
"Itu Gus gak sengaja."
"Oh gak sengaja ya," sindir Zheaan.
"Udahlah Gus, Lea mau balik ke asrama."
"Kamu belum layanin suami kamu."
Lea memandang kesal Zheaan. Wanita menarik napas sebanyak-banyaknya dengan emosi.
"Saya bukan pelayan."
"Astaghfirullah, tidak boleh seperti itu."
"Yaudah, Gus mau apa? Lea lagi baik nih."
"Mandi bareng," ujar Zheaan santai dan sukses dihadiahi oleh Lea sebuah bantal.
"GAK!!!"
"HAHAHAH!!" Zheaan gelak tertawa meledek Lea yang wajahnya merah padam.
Lea sangat malu dan merasa jijik mendengar ucapan sehat padahal tidak ada yang masalah bagi pasangan suami istri. Tapi bagi Lea yang baru saja mengetahui jika dia telah memiliki suami tentu sangat terkejut dengan ucapan Zheaan.
"Apaan sih Gus, ngomong nya gak bisa difilter yah?" ujar Lea mengungkapkan kekesalannya kepada Gus Zheaan.
"Filter bagaimana, bukannya itu sudah benar ya? Emangnya ada yang salah dengan saya mengatakan itu."
"Salah pakai banget Gus," sambar Lea dengan cepat.
"Kan kamu adalah istri saya sendiri."
"Kan Lea baru tahu kalau Gus adalah suami Lea. Jadi itu belum wajar Gus."
"Jadi kalau udah lama tahunnya, wajar kalau saya suatu hari nanti ngomong kayak gini lagi."
Lea terdiam sambil merengutkan wajahnya. Bukan itu yang ia inginkan, namun namanya Zheaan pasti memiliki jawaban yang dapat melumpuhkan Lea.
"Terserah aku saja. Saya mau mandi duluan dan jangan sekali-kali gus Zheaan mengintip Lea."
Lea masuk ke dalam kamar mandi. Dia bahkan sampai lupa membawa baju ganti beserta handuk.
Ingin mengingatkan tetapi Zheaan sudah mendengar suara gemericik air yang menunjukkan bahwa Lea sudah mandi.
"Yah telat." Zheaan tersenyum memandang pintu kamar mandi.
Sesuai dugaannya. Lea berteriak dari dalam kamar mandi minta diambilkan baju ganti.
"Gus Lea lupa bawa baju ganti!!"
"Ya ambil sendirilah."
"Gus gak mikirin Lea!!" teriak Lea dengan nada kesal. "Lea juga lupa bawa handuk."
"Punya tangan punya kaki ya tinggal keluar jangan manja!!"
"GUS!! HIKS."
Zheaan menarik napas panjang mendengar isakan tangis dari kamar mandi tersebut.
"Iya-iya saya ambilkan, tapi Lea jangan nangis dulu."
Sean bangkit dari posisi rebahannya dan dan mengambilkan handuk Lea. Kemudian pria itu meminta Lea membuka pintu sedikit untuk menyerahkan handuk tersebut.
Lea perlahan membuka pintu itu dan mengulurkan tangannya menjemput handuk yang dikirimkan Zheaan.
"Nanti lain kali jangan sampai lupa lagi."
"Iya Gus." Entah itu bakal didengarkan oleh Lea atau tidak, tetapi pada kenyataannya Lea memang tidak mendengarkan ucapan Zheaan.
Tidak lama kemudian leha keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk sedada.
Bagi Lea itu biasa saja namun bagi Zheaan itu sangat luar biasa.
"Kamu jangan menguji iman saya, Lea."
_______
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komen setelah membaca.
Terimakasih sudah mengikuti novel ini dan masih setia membaca dari awal.