Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 28


__ADS_3

Suara burung yang berkicau dan terbang di atas pesantren menyadarkan Rafkha bahwa hari sebentar lagi hujan akan turun.


Pria itu menatap ke bawah dan minat tanah yang sedang dijatuhi oleh rintikan gerimis. Rafkha, dia dari tadi belum pulang ke asrama karena harus menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan oleh Ustadz.


Rafkha turun ke tanah dan berlari ke asrama sebelum hujan turun dengan sangat deras. Tapi naas hujan semakin lebat ketika dirinya bahkan belum sampai di asrama.


"Astaghfirullah, basah-basahan lagi," ucap Rafkha dan menarik napas panjang.


Air hujan yang sangat deras itupun mengguyur tubuh Rafkha. Rafkha berhenti berlari dan berjalan dengan santai menikmati rintikan hujan sesekali sambil menyiratkan sebuah senyuman.


Ia melihat Lea sedang berjalan sendirian di tengah hujan. Rafkha mengernyitkan keningnya. Pria itu tersenyum dan kemudian berjalan menghampiri Lea.


Seorang Rafkha berubah hanya karena seorang wanita yaitu Azalea. Dia sebelumnya sama sekali tidak pernah seperti ini.


"Assalamualaikum Lea."


Lea mendongak dan menatap Rafkha tengah menghadang jalannya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Lea dan memandang Rafkha.


Dia memerhatikan Rafkha dari atas hingga ke bawah. Cewek itu tersenyum.


"Kenapa kamu hujan-hujanan di sini?"


"Dan kamu Rafkha juga kenapa hujan-hujanan di sini?" balas Lea bertanya.


Rakha tertawa renyah. Dia memandang Lea dengan tatapan penuh perasaan.


"Saya di sini pengen pulang ke asrama tapi kehujanan."


"Lea juga sama."


"Emang kamu dari mana?" tanya Rafkha.


"Lea abis dihukum sama Gus."


Rafkha pun teringat dengan perbuatan Lea baru-baru ini. Dia menghirup napas dengan tidak nyaman.


"Apa kamu dimarah oleh Gus?"


"Lebih dari dimarahin."


"Jadi diapakan oleh Gus?"


Lea memandang Rafkha dengan serius. "Lea diancam mau dinikahin sama Gus kalau gak mau berubah. Dan Gus juga melarang Lea bertemu dengan Rafkha," ucap Lea dengan tampang sedih.


Rafkha terkaget-kaget. Dia pengen tidak percaya. Namun di satu sisi ada hal yang meyakinkan jika Zheaan benar-benar mengancamnya seperti itu.


"Kamu tenang saja, kamu berhak untuk menolak menikah dengan Gus," yakin Rafkha menenangkan Lea.


Lea memandang Rafkha kemudian menatap ke atas langit. Dia membiarkan tubuhnya diguyur hujan dan menikmati setiap butiran hujan yang jatuh ke wajahnya.


Tiba-tiba entah kenapa seperti ada yang menghalangi air hujan jatuh ke tubuhnya. Lea memandang Rafkha dan terkejut melihat pria itu menggunakan bajunya sebagai payung untuk Lea.


Untungnya Rafkha menggunakan kaos di dalam. Lea menarik napas bersyukur namun dia tetap merasa aneh dengan sikap Rafkha.


"Rafkha nanti kamu kedinginan."


"Aku kedinginan tidak apa-apa. Tapi kalau kamu sakit aku kenapa-kenapa," ucap Rafkha dengan serius. "Mau aku antar pulang ke asrama?"


Lea memandang Rafkha yang bersikap aneh. Seingatnya ketika mereka pertama kali bertemu Rafkha tidak seperti ini dan sangat menghindari wanita.


"Kamu kenapa Rafkha?"


"Aku kenapa?"


"Aneh banget."


"Kenapa aku tidak merasakannya," ucap Rafkha yang juga sama kebingungan.


"Kamu dulu tidak seperti ini. Dan tidak terlalu peduli dengan wanita dan malah menghindari Lea," jelas Lea dengan sangat jelas dan langsung membuat Rafkha pun terdiam.


Rafkha tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Mungkin tindakan diam ketimbang berbohong lebih baik.


"Lea hujannya deras banget. Saya antar kamu yah."


Lea menggeleng lemah dan malah diam di tempat sambil menatap Rafkha dengan dalam.


Rafkha merasakan dadanya berdetak sangat kuat tatkala ditatap seperti itu oleh Lea.

__ADS_1


"Jangan Rafkha. Saya bisa sendiri, kamu duluan aja ke asrama kamu," tolak Lea dengan bahasa yang sangat halus. "Lagian juga nanti bakal menambah masalah kalau Rafkha ngantarin Lea. Lea gak mau dihukum lagi dan Lea juga gak mau buat Rafkha malu."


Rafkha terdiam dan menatap Lea yang mulai melangkah. Sontak Rafkha mengejar Lea dan menahan tangan wanita itu.


"Lea tunggu."


Lea menatap Rafkha dengan kening berkerut. Dia memandang ke tangannya yang ditahan Rafkha.


"Rafkha kata Gus gak boleh sentuhan sama yang bukan sejenis." Lea menarik tangannya dan Rafkha juga Barus sadar dengan tindakannya.


Cowok itu menarik tangannya dan tersenyum tidak enak. Dia memandang Lea dengan wajah penuh bersalah.


"Lea maafkan aku."


"Iya tidak apa-apa. Ngapain nahan Lea? Apa ada yang ingin dibicarakan sama Lea?" tanya Lea.


"Saya penasaran apa hubungan kamu dengan Gus. Kata kamu Gus tidak membolehkan kamu pegangan tangan dengan lawan jenis tapi kenapa saya sering liat kamu sama Gus dan lebih dari pegangan tangan?" Akhirnya pertanyaan itu pun tersampaikan juga kepada Lea. Dari dulu Rafkha sering bertanya-tanya mengenai masalah ini.


Lea terkejut dan menunduk. Dia pun kebingungan.


"Kata Gus saya itu keluarganya."


"Tapi dari tatapan Gus sepertinya dia menganggap kamu bukan keluarganya tapi lebih dari itu."


Lea memejamkan mata sambil merutuki dalam hati.


"Rafkha Lea juga tidak tahu. Tapi Lea juga tidak mengerti dengan tindakan Gus."


"Dia menyukai kamu Lea. Tapi cara Gus salah, dia malah melanggar apa yang sering kali dia ucapkan dan peringatkan. Tapi nyatanya dia sendiri yang menyentuh tangan yang bukan Mahram. Setahu saya hanya keluarga dekat lah yang boleh saling menyentuh dan itu dengan batas yang tidak berlebihan, tetapi Gus saya melihat ada yang beda."


Lea refleks menatap tajam Rafkha dan menampar pipinya.


"Jangan menghina gus Zheaan dan juga jangan negatif thinking dengan Gus. Kamu tidak tau yang sebenarnya Rafkha."


Lea menarik napas panjang. Dia berjalan dengan cepat menuju asramanya sambil berlari.


Lea tidak terima ada orang yang memburukkan gus Zheaan.


"Apa yang saya katakan itu benar Lea," lirih Rafkha.


___________


"Astaghfirullah, kenapa Lea mengulangi hal yang sama," ucap Zheaan tidak habis pikir.


Padahal sudah pernah ia katakan jangan bertemu dengan Rafkha. Jika bertemu tidak sengaja cepat menghindar. Dan wanita itu tampaknya tidak mematuhi apa yang ditekankan Zheaan.


Zheaan dapat mengetahui dengan pasti bahwasanya Rafkha memiliki perasaan yang lain dengan Lea.


"Kenapa istri saya terlalu cantik dan disukai oleh banyak orang."


Bukan hanya Rafkha saja yang menyukai Lea. Rafkha hanyalah salah satunya dari sekian banyak orang di pesantren ini. Bahkan dikalangan ustadzh muda juga banyak yang menyukai Lea.


Zheaan memandang ke kaca.


"Tapi apakah dengan penampilan seperti ini dapat memenangkan hati Lea? Atau saya harus berpenampilan seperti anak muda dulu supaya disukai oleh Lea?" tanya Zheaan pada dirinya sendiri.


Zheaan menjadi over thinking saat mengetahui bahwa banyak yang menyukai Lea.


"Tidak aman jika saya terus menerus tidak mengatakan yang sebenarnya."


Zheaan memejamkan mata. Dia telah memanggil Rafkha kemari.


Tok


Tok


Tok


Dan benar saja Rafkha sudah datang.


"Assalamualaikum Gus."


"Wa'alaikumussalam. Masuk Rafkha."


Rafkha membuka pintu dan dia langsung bersesi tegang dengan Zheaan. Kedua mata pria itu sama-sama saling mengintimidasi.


"Ada keperluan apa ingin bertemu saya ya Gus?" tanya Rafkha.


"Duduk dulu."

__ADS_1


Rafkha menatap kursi dan mengangguk. Ia pun duduk terlebih dahulu dan langsung berhadapan dengan Zheaan.


Rafkha merasa dirinya seolah menjadi tersangka yang akan diintrogasi.


"Kamu semalam bertemu dengan Lea?"


"Benar Gus."


"Kalian hujan-hujanan."


"Lebih tepatnya kehujanan Gus."


"Tau Lea sedang demam?"


Wajah Rafkha panik. Dari siratan matanya sudah dapat dipastikan bahwa ia sedang khawatir.


"Benar Gus? Lea sedang sakit."


"Ada hubungan apa kamu dan Lea sampai kamu panik seperti ini?" tanya Zheaan memancing. "Saya dengar kamu juga menghina saya."


Tubuh Rafkha menegang. Apa mungkin Lea melaporkan kejadian hari itu pada Zheaan.


"Saya hanya penasaran kenapa Gus selalu bersikap beda dengan Lea dan memperlakukannya seperti memperlakukan seorang pria kepada wanitanya."


"Ada yang salah?" tanya Zheaan dingin.


"Tentu salah karena kalian bukan mahram," sahut Rafkha dengan penuh keyakinan.


Rafkha menarik napas panjang dan tersenyum canggung. Tidak boleh hanya anak murid saja yang perlu didisiplinkan, para ustadz juga.


"Jika saya katakan dia mahram saya bagaimana?"


"Setau saya keluarga jauh tidak boleh bersikap seperti itu bahkan kepada adik kandung cewek yang sudah dewasa."


"Saya memuji pengetahuan kamu Rafkha," ucap Zheaan dan memandang Rafkha sambil tersenyum. "Pengetahuan kamu mengenai agama cukup luas."


"Terimakasih, karena salah satu ilmunya saya dapatkan dari Gus."


"Kamu juga tetap menghormati saya."


"Karena saya memang harus menghormati seorang Gus namun tidak mentolerir perbuatan buruknya."


Zheaan merasa bangga dengan anak didiknya. Meskipun posisi keduanya sekarang sedang menjadi saingan tapi Zheaan tetap menghargai kepintaran Rafkha.


"Bagaimana status kita awalnya bukan mahram namun karena sebuah akad kita menjadi halal."


Wajah Rafkha langsung pucat pasi. Dia syok karena mendengar sebuah hal yang dimengerti Rafkha.


Tetapi Rafkha tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zheaan.


"Maksudnya Gus sudah menikah dengan Lea?"


"Ya kau benar Rafkha."


Rafkha menggelengkan kepala sambil meremas dadanya yang tiba-tiba sakit. Dia menatap Zheaan dengan wajah syok.


"Apa yang dikatakan oleh Gus benar?"


"Berapa kali saya harus mengulangi jawaban yang sama?"


"Gus, tapi tidak mungkin. Lea bahkan belum menikah."


"Kamu tidak tahu apa yang sudah terjadi. Tapi intinya Lea sudah sah menjadi istri saya satu tahun yang lalu."


Rafkha memandang Zheaan. "Tetapi Lea tidak tahu bahwa dia sudah menikah apa itu sah?"


"Tentu saja karena seorang wali nikah orangtuanya berhak atas anaknya, selain itu orangtua Lea tidak masalah dan sebagai anak Lea berhak mematuhi ayahnya selama tidak melanggar agama. Meskipun Lea tidak menyukai saya, tapi Lea tetap sah istri saya."


"Itu namanya pemaksaan."


"Tapi kita tidak tahu apakah suatu saat nanti Lea akan menyukai saya apa tidak," ucap Zheaan dengan penuh keyakinan.


"Bagaimana jika Lea tidak ingin menikah dengan Gus?"


"Saya akan melakukan yang terbaik sebagai suaminya. Namun jika dia tetap tidak bahagia dengan saya, saya terima apapun keputusan Lea."


Zheaan memejamkan matanya sedih. Dia juga tidak tahu pasti perasaan Lea, apalagi terakhir kalinya Lea mengatakan jika tidak menyukai Zheaan.


__________

__ADS_1


Tbc jangan lupa like dan komen


__ADS_2