Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 42


__ADS_3

Lea habis melakukan luluran di kamar mandi. Biasalah wanita akan melakukan perawatan sebelum tidur. Wanita itu keluar dari kamar mandi dan melihat Zheaan yang sedang berada di atas kasur tengah memperhatikan dirinya.


Merasa ditatap terus oleh suaminya itu membuat Lea merasa tidak enak. Dia melirik penampilannya dan tidak ada yang aneh. Lea mencoba kembali untuk berpikir mencari keanehan di tubuhnya lagi-lagi dia tidak menemukan.


"Gus kenapa natap Lea kaya gitu?" heran Lea memastikan kenapa Zheaan terus menatapnya dengan pandangan yang sangat berbeda dari biasanya.


"Gak papa. Kamu cantik aja dan saya sedang berpikir kok saya bisa yah memiliki istri secantik ini," ujar Zheaan dan membuat wajah Lea tersipu merah.


Wanita itu menelan ludah dan menggelengkan kepalanya. Dia pikir ada apa dan ternyata pria itu hanya ingin menggombali dirinya.


"Gus mah. Jangan buat Lea salting, lagian juga ngapain sih buat Lea malu tiap hari."


"Ralat tiap detik malahan sayang. Mungkin karena hobi aja. Lagian kamu itu buat saya gemas."


"Kok bisa kan Lea gak ngapa-ngapain."


"Gak tau deh. Tanya ke Allah kenapa kamu selalu menggemaskan setiap saat. Kayanya emang udah setelan pabrik kamu gemasnya."


Lea tertawa dan Zheaan juga ikut tertawa renyah dengan ucapannya sendiri. Pria itu berdiri dan mendekati Lea. Dia mencium kening istrinya. Hak tersebut menjadi rutinitas Zheaan.


Lea merasa sangat dicintai apabila setiap Zheaan mencium keningnya. Pria itu mengusap kepala Lea dan mensejajarkan tingginya dengan cewek pendek di depannya tersebut.


"Kenapa istri saya pendek banget. Jadi makanya aku tuh gemas."


"Tuhkan mainnya fisik. Gak seru ah," rajuk Lea dan menekuk wajahnya.


"Cantik-cantik gini gak baik manyun. Cantikan senyum." Zheaan menarik kedua sisi bibir Lea dan membentuk sebuah senyuman. "Nahkan kalau gini istri saya makin cantik. Gemes deh. Pengen gigit pipinya."


Sontak mata Lea membulat sempurna mendengar keinginan Zheaan tersebut. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, takut jika Zheaan benar-benar melakukan hal tersebut.


"Enak aja. Gak boleh, siapa kamu mau gigit Lea?"


Zheaan membuka paksa telapak tangan Lea terebut dan dia langsung menyerobot pipi Lea dan menggigitnya pelan.


"Gemes banget. Pengen makan."


"Dasar kanibal," ujar Lea dan mendorong tubuh Zheaan.


"Gak papalah dikatain gitu sama kamu."


"Awas aja minggir. Lea mau pake Cream. Ingat Lea pinjam hp. Kapan sih Lea tamatnya, Lea kangen banget bebas dan main hp."


"Etsss No. Kalau nanti misalnya kamu udah gak di pesantren tetap harus berlaku baik dan memiliki akhlak yang bagus. Gak boleh keliaran dan harus menjaga martabat seorang wanita."


Lea tersenyum ke arah suaminya. Mungkin dulu Lea akan merasa tersinggung diberi nasehat seperti itu. Namun sekarang Lea sadar perbuatannya dulu memang sangat buruk dan Lea harus berubah menjadi lebih baik lagi.


"Siap pak Bos."


"Nah gitu dong. Ke orang jangan jutek dan harus bersikap sopan."


"Iya ayang Zheaan." Lea tersenyum lebar ke arah suaminya, "minggir dulu dong."

__ADS_1


Zheaan pun menyingkir dari posisinya. Lea berjalan ke arah meja rias dan memoleskan Cream malam.


"Lea maafkan saya jika terlalu ngekang kamu. Ingat kamu juga harus setoran hapalan ke aku."


"Iya Gus saya tau."


"Terimakasih sudah mau mengerti saya."


Lea menatap ke arah suaminya dan melemparkan senyum manis miliknya.


"Sudah saya katakan Gus tidak usah berterimakasih. Seharusnya Lea yang berterimakasih kepada Gus sudah memberikan perubahan yang baik untuk Lea. Lea senang Gus perhatian kepada Lea terus."


___________


Lea membuka mata. Dia ketiduran dan Lea tidak menyadarinya. Wanita itu melirik ke samping tidak ada Zheaan di tempat tidur.


"Kemana suami Lea?" Lea menatap ke seluruh sudut ruangan di rumah ini dan dia melihat suaminya sedang sibuk bekerja. "Gus kebiasaan kalau kerja sampe malam."


Lea bangun dari posisi baringnya dan menatap dirinya. Dia tersipu malu melihat tubuhnya dibalut selimut. Padahal seingat Lea dia tidak memakai selimut.


Hal yang paling membuat wanita itu merasa sangat malu dan ingin menghilang dari bumi adalah dia tengah memakai pakaian yang sangat terbuka yang sengaja dipakainya untuk penyerahan diri.


Lea pada akhirnya memutuskan melakukan itu setelah berpikir ulang dan hampir mati frustasi.


"Sumpah kalau Gus tadi nyelimutin Lea berarti dia ngeliat Lea pakai baju kaya gini."


Lea menatap Zheaan dan pria itu seakan sadar bahwa Lea sudah bangun. Zheaan memandang Lea dan cewek itu langsung salah tingkah.


Dia menatap dadanya. Baju tersebut memiliki belahan dada yang rendah. Lea langsung menutupi dan menyilangkan tangannya.


"Maaf Gus."


"Lea kalau kamu tidak ingin saya hilang kendali jangan pake baju kaya gitu lagi ya sayang," tukas Zheaan.


"I--iya Gus."


"Saya mau ke kamar mandi. Mau mandi bentar soalnya gerah banget. Kamu ganti baju."


Lea terdiam di tempat. Wanita itu melirik kepergian Zheaan yang tiba-tiba.


"Salah gue? Kenapa Gus tiba-tiba mandi malam kaya gini?" tanya Lea ke dirinya sendiri. "Gus Zheaan aneh banget."


Lea pun akhirnya sadar dari kepolosannya. Wanita itu menepuk kepalanya ketika menyadari apa yang tengah terjadi dengan Zheaan. Pria itu pasti sedang berperang dengan nafsunya sendiri.


"Kok Gus jadi cewek bego banget ya. Kalau orang ngeliat gue pasti dikiranya gue pura-pura polos." Lea sangat merasa bersalah kepada Zheaan.


Lea kebingungan, tidak tahu dirinya harus melakukan apa. Zheaan memintanya tadi mengganti pakaian, tapi kenapa Lea tetap di sini dan sama sekali tidak bergerak untuk mengganti pakaiannya.


Selang beberapa lama. Zheaan keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk. Dia berharap Lea sudah tidur dan mengganti pakaiannya.


Zheaan memandang ke arah ranjang dan memejamkan mata ketika Lea masih sadar dan dengan pakaian tadi sambil menatapnya dengan polos.

__ADS_1


"Astaghfirullah ya Allah, kuatkan hamba mu," ucap Zheaan sambil menarik napas panjang.


Lea terdiam di ranjang sambil menatap Zheaan terpana. Lea meneguk ludahnya melihat perut sixpack Zheaan.


"Gus," lirih Lea dengan suara serak.


"Lea saya sudah katakan kalau kamu tidak mau saya kelepasan ganti baju kamu."


Lea memandang wajah Zheaan dengan berani. Lea berat untuk mengatakan niat baiknya itu.


"Gus!"


"Apa? Ada apa Lea?" Zheaan melirik ke tubuhnya. Barulah pria itu sadar bahwa dia hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggang.


Pria itu lantas merutuki kebodohannya.


"Sebentar saya pakai baju dulu."


"Gus sebentar." Zheaan berhenti dan memandang Lea dengan alis berkerut.


"Ada apa lagi?"


"Lea sudah siap Gus. Lea sengaja pakai baju gini untuk Gus."


Zheaan mematung di tempat. Tiba-tiba tubuhnya bergetar dan dadanya berpacu kencang.


"Ka-kamu serius?"


"Lea serius."


Zheaan pun mendekati Lea dan menatap ke arah mata Lea yang berusaha agar tidak ketakutan.


"Aku tanya kamu sekali lagi, kamu serius Lea sudah siap?"


"Iya Gus."


"Jangan gugup gitu." Zheaan menyentuh pipi Lea dan mengusapnya.


"Le.. Lea gak gugup."


Zheaan menarik napas dan mencium kening Lea dengan hikmat.


"Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


Kemudian Zheaan mendekatkan wajahnya kepada Lea dan menyatukan bibir mereka.


"Tapi Gus harus lembut."


"Aku janji Lea."


_____________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMAKASIH.


__ADS_2