Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 5


__ADS_3

Ketika luka Zheaan sudah sembuh dalam kurun waktu satu Minggu, pada akhirnya sesuai dengan perkataan ayahnya ia pun pergi ke masjid An-Nur yang tidak jauh dari tempatnya dirawat.


Dengan berat hati Zheaan memutuskan dan menerimanya karena itu memanglah kesalahannya. Pria itu memakai gamis putih sederhana dan diiringi oleh perawat menuju masjid.


Dari jauh Zheaan bisa minat jika sudah banyak orang berkumpul di masjid menunggunya melakukan akad mengucap sebuah janji suci yang sangat sakral di mata Tuhan.


Mungkin jodohnya sudah sampai. Tapi yang Zheaan tak habis pikir dirinya bertemu dengan sang wanita yang tertulis di lahul Mahfudz dengan keadaan cara yang benar-benar hina.


Itulah yang disesalkan oleh Zheaan.


Pria itu memakai peci putih dan tersenyum kepada keluarga Azalea yang memandangnya lebih bersahabat ketimbang pada saat di lapangan eksekusi.


"Assalamualaikum, Tante."


"Jangan panggil Tante, sebentar lagi kamu 'kan akan jadi menantu kami. Panggil bunda saja," pinta Hana dengan senyum ramahnya dan menyambut Zheaan layaknya anak sendiri.


Zheaan terpaku di tempat dengan rasa tidak percaya. Demi Allah Zheaan ingin menitikkan air mata ketika melihat senyuman dari orangtua korbannya.


"Bunda, maafkan saya," tangis Zheaan pecah dan berlutut di kaki Hana. Ia juga meminta maaf sebesar-besarnya pada Ikhsan.


Ikhsan menarik napas dan menenangkan Zheaan.


"Sudahlah Nak, tidak apa-apa. Mungkin ini sudah takdirnya."


"Tapi Om, saya benar-benar merasa sangat bersalah dengan keluarga Om dan Azalea," lirih Zheaan sambil menyebut nama istrinya. Perasaannya sesak kala menyebut nama wanita itu.


"Sama seperti Bunda, panggil aku ayah."


"Nak tenanglah." Zheaan menatap uminya yang menghampirinya.


Sungguh kejutan bagi Zheaan karena uminya ingin memeluk tubuhnya seperti sekarang. Zheaan juga melihat ada kakak dan adiknya lalu laki-laki tersebut cepat memeluk tubuh kakak dan adiknya itu


"Maafkan Zheaan, ya Teh, Den."


"Ndak apa-apa Aa," ucap adiknya.


"Mungkin ini sudah rencana Tuhan. Zheaan ingat pesan Teteh, jaga Azalea dengan baik. Dan perlakuan dia seperti ratu dalam keluarga mu. Hanya dengan itu kamu bisa menebus kesalahan mu," ucap ning Kansa memberikan petuah kepada adiknya yang sebentar lagi akan melepas masa lajang.


"Abi sungguh tidak menyangka jika korbannya adalah anak sahabat Abi saat mondok dulu. Abi dan Ikhsan pernah menjodohkan mu dengan Azalea. Pada saat itu kami hanya berjanji layaknya anak muda yang baru menemukan cinta dan sekarang ternyata janji itu terwujud. Jadi karena itu kenapa Abi tidak terlalu kecewa. Hanya cara mu menemukan Azalea yang salah."


Zheaan tercengang di tempatnya merasa tidak percaya dengan kehidupan yang terasa sempit.


"Maksud Abi Zheaan sudah dijodohkan sama Azalea bahkan saat Zheaan pun belum ada di kandungan, Umi?"


"Ya kamu benar, Gus."

__ADS_1


"Mungkin sudah garis Tuhan."


Zheaan melirik Ikhsan dan Hana yang tersenyum hangat padanya. Sungguh ia telah berhasil menghancurkan hidup seorang gadis, padahal Zheaan pernah berjanji pada diri sendiri bahwa dia akan memberikan kebahagiaan untuk orang lain.


"Maafkan hamba sudah mengingkari janji hamba ya Allah."


Penghulu sudah datang dan Zheaan merasakan dadanya berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Beberapa menit ke depan ia sudah sah memiliki tanggungjawab yang sangat besar.


Pria itu duduk di depan penghulu dan ada beberapa saksi di sana yang akan menyaksikan jalannya akad.


"Nak Zheaan siap?" tanya penghulu terzsebut kepada Zheaan.


Zheaan menarik napas panjang dan menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"InsyaAllah saya siap," ucap Zheaan dalam sekali tarikan napas.


"Baiklah ananda Zheaan Akbar Al-assofi, kita mulai akadnya."


Ayah dari Lea mengulurkan tangannya dan dengan keberanian yang sudah disusun oleh Zheaan ia pun menjabat tangan Ikhsan.


"Saya nikahkan engkau ananda Zheaan Akbar Al-assofi bin Akhyar Nabil Al-assofi dengan putri saya Azalea Nazira Al-Basyir binti Ikhsan Nazir Al-Basyir dengan mas kawin seperangkat alat sholat, satu juta dolar, saham Gantala dua puluh lima persen dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Azalea Nazira Al-Basyir binti Ikhsan Nazir Al-Basyir dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai," ucap Zheaan dalam sekali tarikan napas.


"Bagaimana para saksi sah?"


Kata sah menggema di telinga Zheaan. Pria itu masih merasa apa yang barusan dilewatinya hanya sebuah mimpi.


Zheaan memejamkan matanya, mulai saat ini ia pun memutuskan untuk mencintai istrinya tersebut dalam keadaan apapun. Mulai sekarang ia memiliki tanggungjawab yang besar.


Doa pun dihaturkan oleh para undangan dan saksi. Zheaan memejamkan matanya dan berdoa di dalam hati sambil menitikkan air matanya. Semoga dia dapat menebus semua kesalahan ini kepada Azalea.


Ia berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Lea. Zheaan pun sudah jatuh cinta dengan istrinya yang bahkan ia tak tahu jelas wajahnya karena ia dilarang menemui Lea karena trauma cewek tersebut, selain itu juga dia saat melakukan perbuatan hina itu dalam keadaan tidak sadar.


"Ya Allah sembuhkan istri hamba ya Allah, hamba sungguh ingin mencium keningnya saat ini," batin Zheaan dengan tulus.


"Din ini bener sahabat kita udah nikah?" tanya Yessa pada Dinda yang kebetulan ada di sana ikut menyaksikan calon Lea mengucapkan ijab kabul.


"Sa, ini bener Sa. Temen kita ternyata udah sold out duluan."


"Kasian, Lea gak boleh dikasih tau dulu."


"Kita berdoa aja semoga Lea dapat menerima Zheaan."


_________

__ADS_1


Azalea ketakutan dan tak berani bertemu pria. Cewek itu tengah dipeluk oleh sang bunda.


Ia menangis dalam pelukan sang bunda dan terkadang cewek itu juga akan berteriak ketakutan.


Sungguh Lea tidak menyangka dengan nasibnya yang malang.


"Bunda, Lea takut, Bun."


"Anak Bunda sayang, gak papa Nak, kamu aman sama Bunda sekarang. Tidak akan ada yang menggangu kamu saat ini."


"Tapi Bunda cowok itu jahat, hiks, hiks, dia lecehin Lea Bunda."


"Tenang Nak, tidak ada lagi dia. Dia sudah ditangkap pak polisi."


Lea menatap sang ibunda dengan tatapan penuh harap. Matanya yang bulat seolah meminta keyakinan dari ibundanya tersebut.


"Bener Bun?"


"Iya sayang." Hana menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Lea.


Lea mengeratkan pelukannya dengan bundanya tersebut. Ia merasa aman di dalam pelukan Hana.


"Ayah mana Bun?"


Bunda Hana terdiam karena tak bisa menjawab pertanyaan sang putri. Saat ini Ikhsan tengah membicarakan beberapa hal dengan Zheaan yang sudah resmi menjadi suami Lea.


"Ayah ada urusan, sayang," ucap bunda Hana dengan nada lembut.


Lea tampak murung tapi ia tetap tersenyum untuk sang bunda sambil memainkan ujung baju Hana.


"Bunda, Lea mau es krim."


"Lea mau banget ya sayang?"


"Iya Bunda."


Hana mengangguk dan memanggil suster yang merawat Lea untuk membelikan es krim kesukaan Lea.


"Suster Vivi, mau belikan Lea es krim?"


"Rasa apa Buk?"


"Yang rasa coklat yah."


______________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH


__ADS_2