
Lonceng sekolah berbunyi dan kelas para santri pun berakhir. Lea adalah orang yang paling semangat untuk keluar dari kelas terkutuk tersebut.
Cewek itu menggandeng tangan Dora mengajak cepat keluar dari kelas. Sementara Nia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku temannya tersebut.
"Lelet banget jalan lo njay," keluh Lea dan menarik paksa Dora.
"Hsyut, kalau mau ngomong kasar pelanin dikit lah woy," bisik Dora, "gimana kalau ada yang dengar? Lo mau dihukum sama pengurus sekolah."
"Bodoh amat."
"Lea, kamu masih hutang penjelasan dari kami. Kenapa kamu bisa tidur di Ndalem? Seumur-umur cuman kamu yang pernah diajak tidur di sana?"
"Kenapa memangnya? Iri ya?" Lea seakan tengah memanas-manasi Nia.
Dia tahu Nia tergila-gila dengan gus Zheaan. Siapa yang tidak ingin dengannya bahkan sekelas ustadzah Alma yang garang saja menyukai Zheaan.
Lea mengetahui itu dari tatapan Alma setiap kali berjumpa dengan Zheaan. Ustadzah Alma adalah musuh bebuyutan Lea, ingin sekali ia memamerkan kedekatannya bersama Zheaan pada Alma.
Kira-kira bagaimana reaksi Mak lampir tersebut? Sepertinya seru jika Lea benar-benar memansi Alma.
"Woy pake pelet apa lo?"
"Hsyut!! Enak aja lo bilang gue pake pelet," ujar Lea tidak terima dan menatap Dora sengit.
"Iye maaf. Makanya bilang, gue penasaran banget."
"Jadi ceritanya tuh gue diajakin nginap di Ndalem gara-gara gue di asrama gak bisa tidur. Btw kasurnya enak banget, terus kamar gus Zheaan itu wangi."
"Hah kmu tidur di kamar gus Zheaan?"
"Kenapa? Lagian dia yang nawarin sendiri, inget rezeki tidak boleh ditolak. Mayan lah itung-itung gue untung, bwahhaha!"
"Kalian tidur berdua?"
"Astaghfirullah enggak kali. Inget gue masih sadar, dan gus Zheaan apalagi."
"Tapi kok aneh banget yah gus Zheaan." Nia berpikir dengan perasaan tak nyaman.
"Gak tau sih, gak mikir kek gitu. Yang penting gue untung," ucap Lea lalu tersenyum lebar pada dua sahabatnya.
"Gus Zheaan itu dingin dan susah dideketin lho. Gue gak percaya sama lo, pasti lo kan yang maksa? Lagian juga gus Zheaan gak mau bertemu dengan wanita yang bukan mahramnya."
Lea termangu di tempat. Tiba-tiba ia merasakan ada yang salah di sini. Wanita itu meletakkan kedua tangannya di kepala sambil berusaha mengingat bagian mana yang salah.
"Wait, jika gue dan gus Zheaan bukan mahram, dan dia bilang kalau dengan yang bukan mahram gue gak boleh berduaan dan dosa."
"Kan emang bener, mana yang aneh?"
"Kok gus Zheaan suka berduaan dengan Lea?"
"Hah? Mu..."
"Assalamualaikum, Kaka Lea ada teman kak Lea yang ingin bertemu dengan Kaka."
"Wa'alaikumussalam. Dek ngomongnya yang pelan," nasehat Nia melihat adek kelasnya itu yang berlari ngos-ngosan.
"Eh Kaka, jadi kan pesantren lagi ngebolehin pihak keluarga maupun teman buat jenguk anggota keluarganya yang mondok di sini. Jadi teman Teh Lea ada yang datang. Makanya saya jemput Teh Lea."
"Oh iya gue lupa kan sekarang pihak pesantren lagi ngebuka wadah buat keluarga yang pengen jenguk." Lea melirik teman-temannya. "Gue duluan yah, dadah."
"Assalamualaikum," ucap Nia. Ia sengaja mengingatkan Lea pasalnya anak itu sering lupa untuk mengucapkan salam ketika berpisah.
"Eh, Wa'alaikumussalam."
Lea berlari ke tempat yang disediakan oleh pesantren untuk bertemu sanak saudara.
Dari kejauhan Lea bisa melihat Dinda dan Yessa dengan wajah haru. Ternyata mereka masih mengingat siapa Lea. Lea kira mereka melupakannya dan memiliki teman baru.
"Woy!! Bestai!!" teriak Yessa sambil memeluk erat tubuh Lea.
Dinda memutar dan memperhatikan seluruh tubuh Lea takut terdapat lecet. Dinda sangat tahu jika watak Lea itu degilnya Astaghfirullah. Sudah pasti Dinda dapat menebak bahwa Lea langganan hukuman.
"Lo gak papa?" tanya Dinda menarik napas panjang karena akhirnya lega juga setelah melihat tubuh Lea tidak kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Sebenarnya gue capek, di sini tuh kek penjara islami, kagak ada ponsel, gak boleh ngapa-ngapain. Belajar, ngaji, dan hapalan itu doang. Sumpah gue gak sefrekuensi sama begituan."
"Oh kasihan oh kasihan," ujar Yessa sambil mengucapkan kalimat itu dengan nada yang sama di serial Upin Ipin.
"Senangkan lo?" tanya Lea ketus menatap kedua sahabatnya jengkel.
"Hehehe."
Kenapa di antara mereka hanya nasib Lea yang sangat buruk? Sebegitu sialnya kah dirinya?
"Eh gimana banyak cogan gak di sini?"
"GUE GAK BOLEH KETEMU COGAN ANJAY! APALAGI SAMA GUS ZHEAAN GUE RASANYA PENGEN NAMPOL, GAK BOLEHIN ITU INI!"
Dinda dan Yessa saling pandang. Kedua wanita itu seolah tengah berbicara melalui isyarat mata.
Bagaimanapun juga kedua mahluk itu mengetahui bahwa Zheaan adalah suami dari Lea.
"Eumm Lea sabar aja, apa yang dikatakan gus Zheaan demi kebaikan lo," ringis Dinda sambil mengode Yessa.
"Nah bener apa yang dikatakan oleh Dinda. Lo harus nurutin apa kata gus Zheaan."
Lea menatap kedua orang itu dengan aneh. Tumben teman laknatnya itu menjadi orang yang suka menasehati.
"Lo berdua aneh. Lagian kenapa juga gue harus nurut sama dia? Dia bukan emak gue, bapak gue, suami gue. Intinya bukan siapa-siapa."
"HARUS TETAP TURUTIN!!" teriak Dinda spontan dan menjadi tontonan orang-orang.
"Hyustt, lo kalau ngomong tuh volume lu setel dikit ngapa."
"Ya maaf. Habisnya gue gemas banget sama lo," ujar Dinda dan berusaha menahan malu karena perbuatannya.
"Udah-udah. Mending lo ceritain bagaimana keadaan di luar."
Dinda dan Yessa pun menceritakan keseruan mereka di luar pesantren yang membuat iri Lea.
Andaikan dia bisa kabur dari pesantren ini. Lea lagi-lagi harus menelan kekecewaan saat menyadari betapa ketatnya pesantren.
"Malas ah mikirin mantan, kek gue gamon aja," ucap Lea yang muak mendengar nama pria menjijikkan itu.
"Kenape lo? Asal lo tau dia sering ke rumah lo, dan karena gue juga capek sama dia, gue kasih tau kalau lo dipondokin sama ortu lo, terus apa lo tau reaksi dia gimana?"
Lea pun mendekatkan wajahnya, "gimana?"
"Dia mau nyusul lo di pesantren."
"Dih geli gak mau gue."
"Akhem-akhem." suara daheman dari seseorang membuat ketiga orang itu menatap ke arah sumber suara dan terkejut saat melihat jika pelakunya ternyata adalah Zheaan.
"Gus Zheaan," sapa Dinda sok akrab. Dinda merinding melihat aura Zheaan yang mengerikan ditambah dingin lagi. Dinda dan Yessa merasa sedang diintimidasi.
"Hm. Bahas apa? Di sini dilarang membahas pria apalagi mantan, gebetan, pacar."
Dinda dan Yessa mati kutu. Mereka tak berkutik melihat tatapan Zheaan yang benar-benar menusuk.
Lea melirik Dinda dan Yessa bergantian lalu menatap Zheaan yang seakan hendak memakan orang hidup-hidup.
__________
Hari ini adalah jadwal Lea untuk piket di Ndalem. Rekannya bahagia minta ampun, sedangkan dirinya, Lea tak berhenti menekuk wajah.
Ia malas piket, wanita pemalas sepertinya mendadak menjadi babu setelah dipondokan oleh orangtunya.
"Keknya Bunda sudah capek sama gue makannya mondokin gue," keluh Lea dengan tatapan kosong.
Umi Sarni sangat baik, bahkan dia juga ikut membantu petugas piket membersihkan rumah.
"MasyaAllah, Lea kamu udah makin pinter yah."
Lea menatap umi Sarni dengan hidung mengembang karena melayang habis dipuji oleh umi Sarni.
Cewek itu makin besar hati.
__ADS_1
"Eh Umi. Bisa aja Umi mah."
Umi Sarni menatap Lea lalu mengusap puncak kepalanya. Ia menatap perut Lea. Umi Sarni menarik napas kecewa.
Mana mungkin ia akan memiliki cucu jika Lea sendiri tak tahu telah memiliki suami. Ia terlalu cepat berharap ingin melihat Zheaan junior.
"Udah makan Nak? Kamu nggak ikut temen mu makan di situ?"
"Gak papa kok Umi. Lea udah kenyang. Lagian mereka aja yang makan, kasian mereka yang banyak kerja dari tadi."
Umi Sarni tersenyum melihat keramahan hati Lea.
"Umi sudah suruh mereka buat bersihin dapur. Kalau begitu kamu saja yah yang membersihkan kamar gus Zheaan, mau, 'kan?"
Mata Lea melemas. Apa dirinya yang membersihkan kamar pria itu? Yang benar saja.
Lea ingin menolak namun melihat tatapan umi Sarni membuatnya tak berani mengeluarkan sepatah kata penolakan.
"I-iya Umi."
Lea harus menarik napas sabar dan masuk ke kamar Zheaan. Ia menatap kamar itu yang sudah rapi dan tidak perlu lagi dibereskan.
Lea tidak tahu jika kamar pribadi di Ndalem tidak boleh dibersihkan oleh petugas piket karena bersifat privasi.
Namun Lea? Dia dibebaskan untuk membersihkan kamar pribadi anggota keluarga kyai, kamar gus Zheaan lagi. Kepercayaan yang diberikan umi Sarni kepada Lea membuat iri para santri yang piket bersamanya.
"KENAPA HARUS GUE COBA YANG MEMBERSIHKAN KAMAR GUS ZHEAAN? GUE CAPEK, GUE LELAH," ucap Lea dan melirik pintu memastikan jika pintu itu tertutup.
Lea memandang sebal kamar Zheaan. Kenapa juga dia harus membersihkan kamar pria itu? Lagian juga sudah bersih, apalagi yang perlu dibersihkan?
Cewek itu menatap kasur dengan pandangan nafsu. Dari pada dia capek, mending memanfaatkan kamar ini sebaik mungkin. Ingat kesempatan tidak datang dua kali.
"Mending gue turu," ujar Lea dan terkekeh.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur Zheaan. Masih Lea ingat kekenyalan kasur uni saat Lea tidur malam tadi di sini.
"Kamar gus Zheaan harum banget. Khas aroma gus Zheaan." Lea mengambil bantal yang sering digunakan Zheaan dan menghirupnya dalam-dalam. "Harum banget sumpah. Jadi betah di sini."
Beberapa jam kemudian.
Zheaan tersenyum lebar. Zheaan tidak menyangka saat membuka pintu kamar ia disuguhi oleh seorang wanita yang sedang tertidur di kamarnya.
Bidadarinya.
Zheaan tak hentinya mengucap syukur di dalam hati melihat Lea terlelap nyaman di kasurnya.
"Lea, bangun. Sudah sore. Sudah siang."
Lea menggeliat dan menepis tangan Zheaan yang menyentuh bahunya. Cewek itu masih dalam keadaan tidak sadar.
"Apaan sih, gue lagi mimpi indah juga." Lea membuka mata dan terkejut melihat Zheaan yang mempelototinya.
"Aaaaa!"
Burk
Lea langsung memukuli Zheaan dengan bantal.
"Gus Zheaan mesum. Kok masuk kamar Lea?"
"Kamar Lea?" Lea melirik kamar itu tiba-tiba wajahnya melembut. "Eh Gus maaf."
"Lea, sudah Zuhur. Kamu tidak sholat?"
"Sebenarnya Lea udah boleh sholat sih, baru kemarin mandi wajib, tapi Lea malas sholat Zhuhur," prontal Lea.
"Sholat di sini diimami saya mau?"
______________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1