Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 25


__ADS_3

"Gus kucing Gus lucu banget!" Lea mengangkat tubuh gembul Muzea yang merupakan kucing ras anggora milik Zheaan.


"Kamu suka sama dia?" tanya Zheaan senang melihat Lea yang duduk sambil memangku Muzea.


Zheaan mendekat dan mengelus bulu halus Muzea. Pria itu mengamati kucing miliknya yang senang sama Lea.


"Kamu suka sama Kaka Lea yah? Mulai sekrang panggil dia Bunda."


"Hah?" kaget Lea.


"Iya. Dia saya anggap kaya anak sendiri, dia belum punya Bunda dan kamu saja yang jadi bundanya dia."


Lea antusias bukan main


"Tapi Lea gak mau dipanggil Bunda maunya Buna." Lea menatap kucing lucu itu dan mengangkatnya kemudian dia mengelus kepalanya.


"Oke Muzea, Buna Lea maunya dipanggil Buna. Sekarang kamu udah punya Buna. Kamu pasti senang yah?" tanya Zheaan sambil mengajak Muzea berbicara.


Muzea terus menatap wajah Zheaan dengan bingung. Muzea tampak anteng diasuh oleh kedua orang itu.


"Udah kaya anak sendiri yah Gus."


"Memang anak saya dan kamu bunannya," kata Zheaan sambil tertawa.


"Gus mah."


"Kenapa? Kamu tidak suka?"


"Eh suka kok."


"Nanti sering-sering ke tempat saya buat main sama Muzea lagi," ucap Zheaan sambil menatap Lea dengan dalam.


"Pasti dong. Apalagi kan di sini Lea sering dapat makanan enak jadi Lea udah pasti ke sini lagi."


Mereka berdua pun asik bermain bersama di belakang halaman Ndalem.


"Lea kamu gak capek main sama Muzea terus?"


"Enggaklah. Muzea nya lucu!" Lea mengecup seluruh wajah Muzea. "Gemein kaya Lea dan kadang ngeselin kaya Gus."


"Saya ngeselin ya?" tanya Zheaan sambil menghembuskan napas panjang.


"Nah itu tau," ucap Lea. "Sadar juga akhirnya."


"Lea kamu kok gitu sama saya," ucap Zheaan pura-pura merajuk.


"Apakah saya terlihat peduli?" tanya Lea sambil meletakkan Muzea ke tanah.


"Oke-oke," ucap Zheaan.


Zheaan berjalan mendekati Lea dan membenarkan rambut Lea yang keluar dari hijabnya.


"Udah main sama Muzea sekrang masuk kita hapalan dulu. Ingat kamu belum setoran sama saya."


"Kan Lea udah setoran kemarin dua ayat."


"Tapi kan saya tidak terima dua ayat cuman. Saya maunya full sampai sepuluh dengan bacaan yang benar kalau bisa dengan artinya," ucap Zheaan enteng tanpa memikirkan bagaimana reaksi Lea setelah mendengar itu.

__ADS_1


"Ini namanya pemaksaan," ucap Lea sambil menarik napas lelah.


"Makanya belajar sama saya. Masuk dulu, nanti main sama Muzea."


Lea menatap kucing lucu itu dengan wajah sedih. Padahal dia lagi asik bermain bersama Muzea, eh ayah Muzea yang tidak tau diri itu malah menyuruhnya belajar ngaji.


"Ayah mu tidak berperasaan. Dia jahat sama Buna," adu Lea kepada Muzea.


Zheaan tersenyum lebar mendengar ucapan Lea. Lea sangat lucu jika sedang merajuk seperti itu.


"Muzea Ayah pinjam Bunannya dulu."


Lea memandang wajah Zehaan dengan malas.


"Muzea bilang gak boleh gitu. Selamatkan Buna."


"Bunannya nakal harus dihukum."


Muzea hanya diam sambil menatap kedua orangtunya. Kucing berbulu putih tersebut bermanja-manja di kaki Lea seolah dia mengikuti ucapan Lea dan melarang Zheaan membawa Lea dari dirinya.


"Tuh kan Muzea juga tidak menginginkan."


"Yaudah Muzea juga ikut belajar ngaji."


Zheaan mengangkat tubuh gembul Muzea dan berjalan lebih dulu. Lea semakin kesal dibuatnya.


"Dasar Gus nyebelin banget. Heran kenapa orang-orang suka sama dia. Padahal gak ada bagus-bagusnya."


___________


Lea yang tergolong anak yang aktif dan dia sangat ceria penuh semangat membantu di Ndalem.


Umi Sarni sangat senang dengan sikap Lea. Di balik bar-bar nya seorang Lea wanita itu sangat rajin dan juga baik tutur katanya. Hanya saja tersembunyi dan tertutupi oleh sifatnya yang semberono.


"Kamu capek? Lagian main terus sama Muzea," ucap Zheaan sambil mengelus rambut Lea.


Lea mengercutkan bibirnya. Ia mendongak dengan wajah merajuk. Lea sangat imut ditambah lagi jalannya yang sengaja ia buat seolah-olah tengah marah.


"Gus sih gak ingetin Lea kalau udah malam."


"Kenapa salahkan saya? Bukannya saya udah beberapa kali ingetin kamu? Kamunya aja yang keras kepala," ucap Zheaan sambil menyentuh kening Lea.


"Iya Lea yang salah," ucap Lea yang sudah pasrah dengan Zheaan. Pada dasarnya dia juga sudah tersudut mau bagaimana lagi, hanya menyerah dan itulah satu-satunya jalan Lea.


Mereka pun tertawa sepanjang jalan dan saling mengalahkan hal yang tabu. Lea sangat bahagia di malam itu karena dia bisa bersama dengan orang dicintainya.


Mungkin ini adalah kali pertamanya Lea merasakan jatuh cinta yang sangat dalam. Biasanya wanita itu yang suka memainkan hati para pria dan mengontrolnya. Tetapi dengan Zheaan dia tidak berdaya.


Lea merasa dirinya takluk dengan Zheaan dan terlebih Zheaan lebih mendominasi ketimbang dirinya.


Ingin mengatakan perasaan yang sebenarnya akan tetapi rasa minder terus menguak di dada Lea.


"Gus udah sampai," ujar La sambil menatap heran Zheaan di sampingnya yang tak kunjung beranjak.


"Saya tau."


"Lah, terus kenapa Gus gak pulang?" tanya Lea penasaran dengan wajah mengerut.

__ADS_1


"Kamu masuk dulu dan saya liatin kamu dari sini," ucap Zheaan an tersenyum lebar.


"Hah? Ini dekat kok pake diliatin segala sih Gus," ujar Lea dan menghela napas gusar.


"Siapa tau ada yang jahilan kamu nanti."


"Gak akan ad ayang berani sama Lea."


"Kamu yakin?" tanya Zheaan dan menatap Lea seolah tengah mengintimidasi.


"Yakin banget Gus."


"Saya yang tidak yakin. Masuk saja saya liatin kamu dari sini," ucap Zheaan dan menyodorkan tangannya menyuruh Lea bersalaman terlebih dahulu sebelum masuk.


"Kenapa Gus?"


"Salam."


Lea mengambil tangan Zheaan dan menyalaminya.


"Kaya gitu Gus!"


"Iya. Tapi ada yang lupa, ngucap salamnya mana?"


"Assalamualaikum." Kemudian Lea pergi dari tempatnya dan masuk ke dalam asrama itu sambil melambaikan tangan.


Wajah Lea tampak kebingungan karena merasa aneh dengan situasi ini.


"Jadi gini rasanya disukai oleh gus Zheaan?" ucap Lea sambil malu-malu.


Dan dia melirik para santri yang heboh mendengar kedatangan Gus Zheaan ke tempat santriwati.


Dan Lea melihat jendela kamar para santriwati yang terbuka dan ada yang mengintip. Jika dibandingkan dengan mereka Lea sangat minder.


"Orang pada cantik-cantik dan alim kenapa saya berbeda?" tanya Lea mengeluh dan dengan perasaan dongkol melangkah ke kamarnya.


Rafkha yang kebetulan ada di sana karena sebuah urusan terdiam melihat semuanya interaksi antara Zheaan dan Lea yang sangat akrab.


Ia tidak berani berburuk sangka dan berusaha tetap berpikiran positif. Namun dia sangat sedih karena melihat tanda-tanda kebahagiaan di mata Lea.


"Aku tidak mengerti ini. Tapi Lea aku akan berusaha lebih baik dari ini dan suatu hari akan mempersunting mu datang ke tempat orangtua mu," ucap Rafkha dan menghembuskan napas panjang. Ia beranjak dari tempatnya dan tak sengaja dia berpapasan dengan Zheaan.


Kedua orang itu langsung terdiam. Zheaan juga telah melanggar aturan karena ke tempat santriwati di luar jam yang ditentukan tanpa ada keperluan dan begitupun Rafkha.


"Kenapa kamu ada di sini?"


"Gus sendiri kenapa di sini?" tanya Rafkha dengan ramah tetapi berhasil menciptakan kecanggungan diantara keduanya.


"Ada hal penting."


"Begitu juga saya."


_____________


Tbc


Jangan lupa like dan komen setelah membaca

__ADS_1


__ADS_2