
"ASSALAMUALAIKUM BUNDA!!" teriak Lea sambil membuka pintu rumah dengan semangat.
Bunda Hana dan Ayah Ikhsan yang tengah membaca koran di rumah tamu terkejut mendengar suara anak tunggalnya.
"Yah itu suara Lea?"
"Iya kayaknya."
"Tapi kenapa ada Lea di sini? Bukannya dia seharusnya ada di pesantren?"
"Ya mana Ayah tau Bunda."
Bunda Hana menarik napas dan menatap ke arah pintu. Jantungnya hendak copot melihat putri tercintanya berdiri di depan pintu sambil menyengir.
"Lea!"
Ayah Ikhsan mengangkat kepala dan dia menarik napas panjang sambil menggeram melihat ada Lea di sana.
"Kamu kenapa ada di sini?"
Lea yang semula semangat langsung terdiam. Dia mengira bahwa akan disambut dengan hangat namun salamnya saja tidak dijawab eh sang ayah.
"Ayah, kenapa tidak menjawab salam Lea?"
"Wa'alaikumussalam."
Lea menarik napas panjang dan matanya berkaca-kaca. Ia tersenyum getir dan melangkah mendekati keluarganya yang berkumpul itu.
"Kenapa kamu ada di sini Nak?"
"Kenapa Lea ada di sini? Karena Lea kabur Yah, Bunda."
Bunda Hana menghela napas dan menatap ayahnya yang hendak menerkam Lea.
"Yah, tenang dulu. Kita dengarkan penjelasan Lea." Bunda Hana menatap Lea sambil tersenyum hangat, "anak bunda yang cantik, kenapa Lea bisa ada kabur dari pesantren?"
"Lea Kabir karena Lea tidak suka pesantren dan Lea tidak mau tinggal di pesantren. Lea dibuli sama Nindy. Dan Nindy bilang ke teman-teman Lea kalau Lea udah gak suci lagi. Hiks, Lea malu Bunda. Lea gak mau lagi ketemu mereka, Lea tidak baik Bunda. Lea benci orang yang telah menodai Lea. Lea pengen dia dihukum seberat-beratnya."
Bunda Hana berdiri dan langsung memeluk tubuh rapuh Lea. Dia mengusap pundak Lea dengan hangat.
"Bunda mengerti apa yang kamu rasakan Lea. Kamu jangan nangis lagi Nak. Tenanglah," ucap bunda Hana.
"Apa ada yang malu sama Lea Bunda? Kata mereka tidak akan ada yang mau sama Lea lagi, Bunda?"
"Ngawur kamu. Tentu banyak yang suka sama Lea. Untuk urusan jodoh Lea tenang saja, jodoh sudah diatur oleh Tuhan. Jadi Lea tinggal berdoa semoga diberikan jodoh terbaik."
Lea terdiam dan seketika dia teringat dengan gus Zheaan. Bagaimana kabar gus Zheaan, dan bagaimana Zheaan sedang? Apakah sedang sibuk mencari dirinya. Jika memang benar begitu Lea sungguh sangat bersalah dengan Zheaan karena telah merepotkan.
"Kenapa sedih sayang?"
"Lea sedih karena Lea ada suka sama seseorang tapi Lea merasa tidak pantas dengan perasaan Lea."
Bunda Hana mengernyit tidak mengerti.
"Sayang duduk dulu sini."
Lea duduk di samping bundanya. Cewek itu menatap ayahnya yang dari tadi memandang dirinya dengan penuh intimidasi.
Hana yang mengerti kecanggungan Anatar anak dan ayah itu pun berusaha a mencairkan suasana.
"Ayah, Lea, jangan begitu. Salam dulu sama ayah."
Lea mengulurkan tangan meminta tangan ayahnya untuk dia salami. Ikhsan dengan ekspresi dingin menyodorkan tangannya dan kemudian disambut oleh Lea.
"Assalamualaikum Ayah."
"Di pesantren kamu tidak membuat ulah, 'kan?"
"Tidak. Lea tidak membuat Maslah."
"Kamu jangan mau berbohong, Ayah tau apa yang semuanya terjadi di pesantren."
Lea menarik napas dengan panjang. Memang Lea tidak akan pernah bisa membohongi seorang ayah. Pengetahuannya sungguh jeli di luar batas kemampuan Lea.
"Ayah memata-matai Lea?"
"Ayah tidak pernah memata-matai kamu."
"Tapi Lea tidak percaya Ayah. Kenapa Ayah memata-matai Lea? Lea sudah besar Ayah, Lea bukan lagi anak kecil."
Ayah Ikhsan menatap bunda Hana.
__ADS_1
"Lea tenanglah Nak. Kami mengkhawatirkan kamu di sana."
"Gak guna juga mata-matai kalau Lea tetap aja gak ada yang nolongin ketika Lea dibully," ucap Lea sambil mendecih.
"Kamu dibully karena kesalahan kamu, 'kan?"
"Ayah!" tegur bunda Hana. "Ayah bisa ngomong nya gak usah begitu. Kasian Lea? Pikirkan perasaan Lea Ayah."
"Kenapa karena Lea? Mulut mereka aja yang tidak bisa direm!"
"Karena kamu selalu membuat masalah makanya dibully."
"Sebenarnya Ayah sayang Lea gak?"
Lea sudah capek dengan situasi ini. Dia pun akhirnya bertanya seperti itu ketika mulutnya sudah tak bisa direm lagi.
"Lea paa yang kamu katakan? Tentu ayah kamu menyayangi kamu Nak."
"Bunda tapi Ayah selalu nyalahin Lea," ucap Lea dengan suara serak. Dia berusaha menahan air matanya.
"Bunda tau. Hyust ayah kamu sayang banget sama kamu."
Lea menatap ayahnya. Dia hampir tidak percaya apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Maafkan Ayah jika telah membuat kamu sakit hati. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan supaya kamu intropeksi diri. Tapi ini kayaknya nyakitin kamu. Yasudah Ayah minta maaf sama kamu."
Lea langsung memeluk ayahnya dengan sayang.
"Lea tau Ayah baik sama Lea."
Buna Hana tersenyum melihat kedekatan kedua orang tersebut.
"Lea Ndalem tau kamu kabur?"
"Kau mereka tau bukan kabur namanya Bunda," ucap Lea menahan kesal dengan bundanya.
"Hahaha maafkan Bunda."
"Bagaimana dengan Zheaan dia baik sama kamu?" tanya Ikhsan memastikan bahwasanya putrinya dijaga dengan baik oleh Zheaan.
"Gus? Gus Zheaan baik sama Lea dan terkadang jahat juga suka nyuruh Lea hapalan," ucap Lea dan mengercutkan bibirnya, "Lea gak suka sama dia sumpah."
"Jika Gus jahatin kamu, kamu bilang saja ke Ayah."
"Siap Ayah."
_________
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!!" teriak Leadan berlari ke arah pintu utama.
Dia mendengar ada orang yang mengetuk pintu. Mungkin itu tamu penting orangtunya.
Lea malas untuk berbenah. Dia membiarkan dirinya berpakaian dengan kaos ketat dan celana sepaha.
"Bentar!"
Lea membuka pintu. Saat ia mendongak dan betapa terkejutnya Lea mengetahui bahwa orang yang datang ke rumahnya adalah Gus Zheaan.
Tidak kalah terkejut dengan Lea, Zheaan pun sangat syok melihat penampilan Lea. Refleksi Zheaan membuang muka.
Sekuat-kuat imannya, ia adalah pria normal pada umumnya. Zheaan memiliki nafsu di atas rata-rata.
"Gus? Kenapa Gus ada di sini?" heran Lea dan merasakan gugup sekaligus karena ketahuan kabur oleh Zheaan.
"Lea kenapa kamu memakai pakaian seperti itu?"
"Kenapa? Kan gak masalah. Ini juga rumah Lea, jadi Lea bebas mau ngapain," ucap Lea tidak mengerti bahwa penampilannya itu bisa menarik hasrat orang lain.
"Lain kali kamu tidak boleh memakai pakaian seperti itu baik dinluar maupun di rumah."
"Dih aneh Gus. Ya udah masuk dulu ke rumah Lea. Masa iya Gus mau berdiri dulu di situ sampai selamanya."
"Terimakasih," dingin Zheaan dan melangkah masuk terlebih dahulu tanpa melirik Lea di sampingnya.
"Kenapa dah dengan Gus. Tumben banget kaya gitu, biasanya cerewet aja. Tapi kenapa sekarang aneh banget," ucap Lea tidak mengerti dengan Zheaan.
Cepat seki laki-laki itu berubah. Benar-benar kaya bunglon.
"Saya duduk di sini?" izin Zheaan kepada Lea.
__ADS_1
"Duduk aja. Bentar Lea ke dapur ambil air."
"Sekalian ganti baju kamu Lea," ucap Zheaan seperti sebuah perintah.
"Iya."
Lea pun pergi ke dapur. Zheaan sudah bisa tenang ketika Lea telah pergi. Dari tadi dia berusaha menjaga pandangan meski Lea adalah istrinya sendiri.
"Kenapa deh dengan Gus aneh banget. Lagian juga tau rumah gue dari mana?" gumam Lea penuh dengan pertanyaan.
Lea tidak dapat menuangkan air hangat ke dalam gelas hanya karena perkara memikirkan Zheaan saja.
"Kenapa deh gue selalu mikirin Gus."
Lea merutuki dirinya sendiri. Perempuan itu menarik napas panjang lalu menghembuskan dengan perlahan. Siapa tau dengan metode begitu dia bisa sedikit demi sedikit berubah.
"Lea, ada apa Nak siapa yang datang?" tanya Bunda Hana yang baru saja keluar dari toilet.
"Gus Zheaan. Lea heran kenapa dia bisa tau rumah Lea di sini. Kenapa juga Lea pake acara dijemput segala."
Bunda Hana tiba-tiba jadi bersemangat. Lea merasa ada yang aneh dengan ibunda tercintanya.
"Kenapa Bunda?"
"Jadi Gus sudah datang?"
"Iya Bunda kenapa emang? Gus duah datang dari tadi. Ini Lea lagi buatin minuman buat dia."
Lea memicingkan matanya. Kemudian Lea menarik napas panjang. Terjawab sudah pertanyaannya. Jadi bundanya ini yang memberitakan Zheaan bahwa Lea ada di sini dak memberikan alamat Lea.
Jika tahu begitu Lea sangat menyesal pulang ke rumah. Mungkin dia bisa datang ke tempat Yesa terlebih dahulu baru pulang ke sini.
"Jadi Bunda yang ngasih tau Lea ada di sini ke Gus?"
"Iya. Kenapa memang?" tanya Bunda Hana.
"Terserah Bunda aja. Kenapa juga harus dikasih tau kalau Lea ada di sini. Kaya gak senang aja Lea ada di sini."
"Hsyut Lea tidak boleh seperti itu."
Lea keluar dengan pakaian yang masih sama. Lea tidak mematuhi ucapan Zheaan.
"Nih buat Gus."
Zheaan deg degan melihat pakaian Lea. Kenapa Lea tidak patuh dengan ucapannya.
Zheaan menghela napas sebanyak mungkin dan tersenyum ramah.
"Lea saya bukannya sudah bilang?"
"Oh pakaian? Ingat di sini adalah rumah Lea bukan pesantren, jadi suka-suka Lea mau pakai pakaian seperti apa."
"Tetap saja tidak boleh Lea. Bagaimana ada orang asing di rumah ini, hah?" tanya Zheaan penuh amarah.
"Gus, ingat gak usah berlebihan."
"Bagaimana saya tidak bisa berlebihan Lea. KAMU ITU ISTRI SAYA!!! SAYA TIDAK TAHAN MELIHAT ADA ORANG LAIN YANG MENATAO KAMU DENGAN PAKAIAN SEPERTI INI!" marah Zheaan sampai dia lupa sudah keceplosan.
"Apa kata Gus? Lea istri Gus? Huh, karangan seperti apa? Sungguh Lea terharu Gus.
Zheaan menarik napas panjang dan mencengkam tangannya.
"Lupakan."
Meski sudah disuruh melupakan kenapa Lea tidak usia melupakan. Seperti memang ada yang janggal dengan ucapan Zheaan.
"Gus tolong jelaskan apa yang Gus bilang?" tanya Lea dengan tubuh bergetar.
"Apa kurang jelas Lea? Saya sudah katakan untuk lupakan.
"Lea tidak mengerti. Kenapa Gus bisa mengatakan Lea adalah istri Gus."
Zheaan menarik napas panjang dan menatap mata Lea dengan seksama.
"Ya benar saya adalah suami kamu dan kamu adalah istri saya."
________
Tbc
Jangan lupa Like dan komen setelah membaca
__ADS_1