Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 37


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang spesial bagi Zheaan. Karena pada hari ini dulu dirinya resmi mengucapakan ijab kabul tepat untuk yang ke dua tahun dan pastinya selama dua tahun ini Zheaan masih menyandang status seorang suami dari Azalea Nazira Al-Basyir.


Sebuah keberuntungan dan anugerah besar dari Tuhan. Zheaan diberikan kejutan karena pada akhirnya dia bisa mengungkapkan identitas Lea yang sebenarnya.


Zheaan secara khusus mengundang Lea ke ruangannya. Namun dari tadi Zheaan sama sekali tidak melihat batang hidung wanita itu.


Entah ke mana larinya Lea sekarang, yang pasti dia tidak akan pernah datang tepat waktu. Zheaan sudah sering menasehati namun ucapannya dianggap angin lalu.


"Ke mana istri saya?" ucap Zheaan dalam hati sambil melirik pintu berharap ada Lea muncul dari arah sana.


Tapi nyatanya sudah hampir satu jam Zheaan menunggu tetapi wanita itu sama sekali tak datang-datang.


"Apa terjadi sesuatu sehingga Lea tidak bisa datang ya?"


"ASSALAMUALAIKUM GUS!!" teriak Lea nyaring dari arah pintu. Zheaan menghela napas dan tersenyum lebar melihat istri kecilnya tersebut.


Bahkan ketika mengucapkan salam Lea sangat bar-bar dan tak mempedulikan aturan. Memang itu sesuatu hal yang tidak baik, tetapi entah kenapa hal itu malah menjadi daya tarik Lea.


"Wa'alaikumussalam."


Lea terkikik dari arah pintu dan masuk dengan tampang polos tidak merasa bersalah sama sekali telah membuat Zheaan menunggu.


"Kok lama?"


"Kenapa? Gak terima? Lea ada kelas tambahan. Kalau mau protes, protes aja ke Ustadzah Nurul."


"Iya-iya saya percaya. Sekarang duduk dulu." Zheaan menepuk tempat duduk di sampingnya.


Lea mengira bahwasanya itu adalah isyarat Zheaan menyuruhnya duduk dan tidak menyangka jika Zheaan tengah menyuruhnya duduk di sampingnya.


"Maksud saya duduk di sini Lea," ujar Zheaan sambil berusaha tetap tersenyum. Dia menatap Lea dengan tajam, agar Lea mengetahui bahwa dirinya tengah menyuruhnya duduk di dekat dirinya.


"Ada apa Gus?" tanya Lea yang tengah kebingungan.


"Kamu tidak dengar apa yang saya ucapkan?"


"Lea dengar. Duduk di dekat Gus bukan?" tanya Lea dengan wajah bodoh.


"Kalau kamu sudah tahu kenapa tetap duduk di sana Azalea Nazira Al Basyir," ucap Zheaan menyebut nama Lea dengan komplit. Dia sebenarnya merasa sangat kesal namun dengan sepenuh hati ia menahan perasaan itu agar tidak menyakiti hati Lea.


"Karena Lea nggak mau Gus. Lea mau duduk di sini aja." Lea tersenyum menampakan deretan giginya yang berbaris rapi.


Zheaan merengut mendengar penolakan Lea. Ia ingin wanita itu berada di sampingnya. Jika Lea ada di sana jarak antara ia dan Lea sangat jauh.


Zheaan memutuskan untuk mengambil inisiatif sendiri. Dia yang duduk mendekati Lea.


Lea terkejut. Wanita itu meneguk ludahnya. Dia sengaja menghindar dari pria itu dan Zheaan datang sendiri kepadanya.


"Kenapa Gus duduk di samping Lea?"


"Karena kamu saya suruh duduk di samping saya kamunya gak mau," ucap Zheaan.


"Saya sengaja ngehindar dari Gus karena saya gugup."


"Oh jadi kamu gugup sama saya?" Zheaan menganggukkan kepalanya. Dia merasa senang mendengar hal itu.


"Bukan gitu Gus."


"Tapi wajah kamu merah. Jadi mau menyangkal bagaimana? Bukannya kamu juga ya yang bilang sendiri gugup."


"Iya-iya saya gugup Gus."


Lea kehabisan kata-kata untuk melawan pria ini. Tumben-tumben Zheaan bisa menang dari Lea.


"Gak usah gugup Azalea yang cantik. Saya baik dan tidak akan menyakiti kamu. Saya akan menjaga kamu, Jadi kamu jangan gugup dan takut sama saya." Zheaan memberikan beberapa alasan kenapa Lea tidak boleh gugup dengannya.


"Tapi Gus, Lea itu gugup banget sama Gus. Bayangin aja, Lea baru tahu kalau Gus itu suami Lea. Gimana Lea nggak gugup coba, apalagi suami Lea ternyata orang yang dianggap Lea paling menyebalkan," ucap Lea lirih sambil menatap wajah Zheaan.


Zheaan mengehela napas panjang dan menatap wajah Lea serius. Dia menyentuh wajah itu yang selembut sutra. Sangat halus menurutnya.

__ADS_1


"Kamu tau? Kamu itu adalah tipe saya dan adalah istri saya satu-satunya. Memang saya sekarang belum bisa membuat kamu jatuh cinta sama saya, tapi tolong kita coba bersama-sama dan saya akan menunggu kamu."


Lea merasa iba dengan raut wajah Zheaan yang benar-benar sangat sedih karena dia menganggap Lea tidak mencintai dirinya. Padahal Zheaan tidak mengetahui betapa cintanya Lea pada Zheaan.


Lea menundukkan wajahnya. Dia dirundung dilema, antara ingin mengatakan yang sebenarnya pada Zheaan atau tetap menyembunyikan perasaannya ini.


Tapi Lea tidak bisa lama-lama menahan perasaannya. Cepat atau lambat dia pasti akan berada di titik lelah.


Lea mengangkat wajahnya, " saya juga mencintai Gus," ucap Lea dengan wajah penuh keseriusan.


Deg


Zheaan terkejut mendengar pernyataan yang tiba-tiba itu. Saking tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata dan ekspresi, Zheaan terpaku bak orang linglung.


"Apa kata kamu? Apa saya salah dengar. Boleh diulang lagi?" tanya Zheaan sekaligus meminta agar Lsa mengulang kembali ucapannya.


"Lea serius. Lea juga cinta banget sama Gus," ucap wanita itu sambil meneguk ludahnya.


Lea berusaha menahan rasa malu yang terus meronta-ronta. Lea bersikap seakan-akan wanita yang tak memiliki rasa malu.


"Lea juga mencintai Gus," ulang Lea masih dengan sungguh-sungguh.


Zheaan yakin kali ini dia memang tidak salah dengar. Kebahagiaan terpancar dari aura wajahnya.


Refleks Zheaan langsung memeluk erat Lea. Pria itu mendekat dengan sangat kuat membuat Leah sambil ikut menitikkan air mata.


"Kamu kenapa ikutan saya nangis juga?" tanya Zheaan kemudian menghapus tetesan air mata yang basah di wajah Lea.


"Gak papa. Tapi baru kali ini loh baru ngeliat Gus nangis kayak gini."


"Saya sering menangis Lea. Apalagi setelah saya melakukan kesalahan tersebut, Saya lebih sering menangis karena memikirkan kamu," ucap Zheaan mengenang kembali dia yang dulu. "Lea, kamu benar-benar sudah memaafkan saya, 'kan?"


"Gus, emang berat ini untuk Lea. Tetapi leak akan mencoba untuk menerima Gus menjadi bagian dari hidup Lea."


"Lea, terima kasih banyak sudah mau memaafkan saya dan menerima saya."


___________


"Gus Lea tidur di sini aja yah malam ini?"


"Kamu mau tidur di kamar saya?"


"Mau banget lah."


"Tidur aja, ini juga kamar kamu," ucap Zehaan seraya mengelus surai wanita itu.


Lea sedang tidak memakai hijab. Zheaan masih merasa gugup setiap kali Lea melepaskan hijabnya. Karena pria itu masih belum bisa beradaptasi dengan kecantikan Lea yang sangat luar biasa dan bertambah berkali-kali lipat saat tak mengenakan hijab.


Apalagi tubuh Lea yang sangat pas dan cukup berisi membuat Zheaan yang dulu selalu kuat menahan iman harus meneguk ludahnya susah payah menatap kemolekan wanita itu.


"Gus kok natap Lea dari tadi?" Zheaan tertangkap basah. Pria itu menyentuh tengkuknya sambil menundukkan kepala.


"Memang saya tidak boleh menatap istri saya yang cantik ini?"


"Boleh tapi jangan gitu juga, Lea takut lihat wajah Gus. Kaya mau makan Lea."


"Memang saya mau makan kamu." Jelb, Lea merasakan tubuhnya merinding.


Wanita itu segera bangun dari rebahannya. Takut posisi dirinya sekarang bakal membangkitkan gairah Zheaan.


"Gus, nggak usah gitu lah. Saya kan jadi takut," ucapkan sambil mendekap dadanya.


Lea sudah telat. Dari tadi sebenarnya Zheaan menahan perasaan itu. Untungnya dengan segenap iman Zheaan masih mampu bertahan.


"Saya bercanda Lea. Jika saya sudah terlewat batas ingatkan saya. Saya akan berusaha mengontrol diri saya."


"I--iya Gus."


Lea menghela napas dan menatap ke seluruh ruangan Zheaan. Dak tersenyum melihat kamar ini yang sangat bersih.

__ADS_1


"Gus suka banget ya sama kebersihan."


"Karena kebersihan itu sebagian dari iman. Jadi kita dianjurkan untuk bersih."


"Benar apa kata Gus. Lea mah lantas gak pembersih orang gak punya iman."


"Astaghfirullah Lea, kamu itu masih punya iman. Dan ingat jangan ngomong gitu lagi. Nanti saya bakal ajarkan kamu untuk hidup bersih."


Lea memandang Zheaan, "beneran Gus mau bantuin Lea agar hidup bersih."


"Jelas saya mau, ke depannya juga kita bakal terus melakukan apa saja bersama-sama."


"Tapi saya takut kalau misalnya Gus stress sama Lea nanti lama kelamaan. Ibu sendiri kan tahu gimana sikap Lea. Sampai banyak anggota pesantren ini yang benci sama Lea."


"Mereka memiliki pandangannya masing-masing. Dan saya juga memiliki pandangan saya sendiri, jadi setiap orang memiliki penilaian. Dan penilaian saya kepada kamu tinggi banget. Kamu adalah tahta tertinggi di hidup saya, kamu pernah kan pengen dijadikan ratu? InsyaAllah saya akan menjadikan kamu satu-satunya ratu saya."


"Gus, Lea sudah sering dengar kata-kata Gua. Emang kata-kata Gua sangat menyentuh Lea. Karena itu Lea suka banget sama Gus."


Zheaan mendekati Lea. Lea pikir di awal Zheaan mau melakukan padanya maka dari itu dia hendak mundur.


"Jangan kemana-mana. Saya ingin mencium kening kamu."


Zheaan menyentuh pipi Lea lalu mendekatkan kepala wanita tersebut ke bibirnya. Zheaan mengecup cukup lama puncak kepala tersebut.


"Masya Allah, semoga Allah memberkati kamu dan semoga Allah menerima segala amal ibadah kamu."


"Terimakasih Gus doanya. Lea senang banget," ujar Lea.


Zheaan mengangguk. Dia sudah membersihkan diri dan saatnya Lea juga ikut tidur.


"Lea!"


"Hm?"


"Kamu tau hari ini hari apa?"


"Sabtu?"


"Hari ini adalah tepat di mana saya mengucapkan janji suci berupa ijab kabul."


"Maksud Gus?" tanya Lea masih kebingungan.


"Ya hari ini adalah tepat dua tahun kamu resmi menjadi istri saya dan baru sekarang saya bisa berada di samping kamu. Selama itu saya menahan rasa rindu kepada kamu."


Mata Lea berkaca-kaca. Bahkan dia baru tahu bahwa hari ini merupakan kedua tahunnya dia menjadi seorang istri.


"Lea termasuk istri yang durhaka nggak sih Gus? Soalnya kan Lea baru tahu kalau gus suami Lea."


"Tidak apa-apa. Lagipula saya tidak marah, kalau saya marah dan tidak terima wajar kamu bertanya seperti itu." Zheaan memberikan sebuah kalung untuk Lea. "Saya ada hadiah buat kamu. Saya gak bisa rayain besar-besaran, karena masih bisa uangnya digunakan untuk hal yang bermanfaat lainnya."


"Gus tidak apa-apa. Terus bersama Gus cukup itu kado untuk Lea." Lea menatap kalung yang sedang dipasangkan Zheaan. "Kalungnya cantik Lea suka banget."


"Terimakasih kamu suka."


Zheaan mengecup bibir Lea sekilas. Mata Lea membulat karena itu ciuman pertamanya.


"Ciuman pertama Lea."


"Kamu lupa itu ciuman untuk kesekian kalinya. Dulu saya sudah pernah merenggutnya."


"Astaghfirullah. Jangan ingetin Lea lagi. Anggap aja kita memulai hal baru."


"Oke-oke maafkan saya mengingatkan kamu kembali kejadian itu," sesal Zheaan.


________


Tbc


Jangan lupa like dan komen setelah membaca.

__ADS_1


__ADS_2