
Hari-hari Lea sangat membosankan. Ia sering bertemu dengan hapalan dan tulisan Arab yang menurut Lea sama sekali tidak membuatnya mengerti.
Wanita itu duduk termenung di depan kosan. Melihat tempat yang sepi hanya ada Lea, Zheaan yang melihat Lea lantas menghampiri cewek itu dan berjongkok di depannya.
Lea belum menyadari jika Zheaan ada di depannya. Wanita itu sangat fokus dengan renungan yang berputar di otaknya.
"Kenapa? Sedih lagi?" tanya Zheaan dan menyingkirkan rambut Lea yang jatuh di depan wajahnya.
Lea mengangkat kepala dan terkejut melihat Zheaan sedang tersenyum lebar padanya.
"Gus!"
"Ya ada apa?"
"Kenapa Gus bisa ada di sini?"
"Kenapa? Tidak boleh? Saya hanya ingin melihat salah satu keluarga saya," ucap Zheaan sambil menatap dalam Lea.
Lea menundukkan wajah malu. Ia menutup wajahnya dan berusaha menormalkan ekspresinya.
"Bukan begitu.."
"Ingat kamu keluarga saya, ada yang salah?"
"Tidak ada yang salah Gus." Lea menatap kagum Zheaan.
Zheaan sangat sempurna dan berbeda dengan dirinya. Ia hanyalah wanita bar-bar dan tidak ada agamisnya sama sekali, jika disandingkan dengan Zheaan yang ada akan membuatnya seperti gambaran haram dan halal, 'kan?
"Lea, kamu kenapa melamun. Hey, hati-hati ingat kalau kamu melamun gini setan lebih mudah untuk mengontrol tubuh kamu, ingat jangan melamun," ujar Zheaan meyakinkan Lea.
Lea mengangkat wajahnya. Kenapa gus Zheaan sangat perhatian kepadanya? Kenapa gus Zheaan tidak dingin kepadanya? Kenapa sih gus Zheaan harus ganteng?
Lea menyadari ada yang aneh dengan dirinya kepada Zheaan. Lea tahu betul dengan keanehan itu. Namun Lea sadar diri untuk menjatuhkan hati kepada orang yang mungkin hanya menjadi angan baginya.
"Gak papa Gus."
"Kamu kenapa sedih? Apa ada yang salah dengan saya?"
Lea menggeleng cepat.
"Tidak. Gus Zheaan tidak ada yang salah," ucap Lea cepat dan menyengir.
Zheaan menarik napas dan tersenyum. Pria itu menuntun Lea berdiri dan mengusap kepala Lea yang tertutup hijab.
"Alhamdulillah, sekrang kamu lebih tertutup. Jangan pernah dibuka lagi ya, saya marah."
"Siap bos!!" teriak Lea dan menaruh tangannya di kening seolah tengah hormat.
Zheaan tertawa dan menyentil hidung Lea. Kemudian kedua orang itu tertawa bersama-sama.
"Lea kamu bosan di sini yah? Bagaimana kalau malam nanti saya ajak kamu ke pasar malam. Baru buka hari ini lho, pasti bakal seru!"
"Emang dibolehin Gus?" tanya Lea serius.
Seumur-umur ia hendak keluar sejengkal dari gerbang saja dilarang apalagi ini berencana ingin keluar untuk pasar malam.
Yang ada dirinya pagi besok bakal gosong dipanggang ustadzah Alma. Lea mendengus kenapa wanita itu sangat kasar.
"Lea gak mau. Gak mau dipanggang lagi sama ustadzah Alma. Gus tau kan kalau ustadzah Alma itu nenek lampir. Ih serem," ujar Lea bergidik ngeri mengingat wajah garang Alma.
"Heh Astaghfirullah, tidak boleh seperti itu. Ingat harus hormat kepada yang lebih tua. Ustadzah Alma berlaku gitu demi kebaikan kamu Lea, demi mendisiplin kan kamu Lea."
__ADS_1
Lea memandang Zheaan. Wanita itu menatap serius ke bola mata hitam Zheaan. Ia mengangguk puas sambil tertawa kecil.
Entah kenapa Lea jadi marah dan cemburu mendengar Zheaan membela Alma ketimbang dirinya.
"Astaghfirullah, apa maksud kamu Lea. Ingat kamu itu keluarganya, dan gak boleh keluarga itu saling suka."
"Bela aja ustadzah Alma."
Zheaan pun menyadari kemarahan Lea. Ia tertawa dan mensejajarkan kepalanya dengan Lea.
"Ingat jangan marah begini, senyum itu ibadah apalagi senyumnya untuk saya."
Lea tersenyum lalu kemudian tertawa malu.
"Oh iya kalau misalnya, kita malam ini ke pasar malam emang bisa? Kan kita gak bakal dibolehin dan juga Lea pasti ada kelas nanti malam," ucap Lea lesu.
Lama-lama Lea mabok agama di sini.
Zheaan tersenyum lebar. "Tenang saja. Malam ini juga tidak akan ada kelas karena pihak pesantren memberikan hari libur untuk malam ini karena ada rapat?"
"Gus tidak ikut rapat?" bingung Lea.
"Tidak. Gus sudah minta izin sama Abu untuk ngakak kamu ke pasar malam, nanti malam."
Lea seketika menjadi cerah dan ceria. Wanita itu tersenyum lebar dan memeluk tubuh Zheaan dengan erat. Ingat itu hanya refleks Lea.
"AAAA MAKASIH GUS!" Zheaan membeku melihat Lea memeluknya.
Seumur-umur baru Lea yang berhasil membuat dadanya tidak senonoh berdetak. Kenapa Lea secandu itu?
"Saya bahagia istri saya Lea."
"Siap Gus ganteng," ujar Lea sambil menaik turunkan alisnya.
__________
Lea menatap takjub kembang api yang meledak di udara. Wanita itu sangat bahagia dalam momen tersebut. Masa-masa yang sangat indah, dan Lea akan merekamnya di dalam benak Lea.
Zheaan melirik Lea dari samping. Outfit mereka sangat simpel. Zheaan menggunakan baju Koko putih dan dengan peci warna senada lalu menggunakan sarung dengan brand ternama apalagi kalau bukan wadimor, sarung khas Indonesia.
Dan Lea sengaja menggunakan abaya hitam dan menggunakan cadar. Zheaan sengaja menyuruh Lea memakai cadar semata-mata agar tidak ada pria lain melirik nafsu istrinya, bagaimanapun juga Lea sangat cantik.
Zheaan saja yang imannya sudah dilatih dari kecil goyah menatap wajah cantik Lea apalagi matanya.
"Kamu suka?" tanya Zheaan sambil memandang dalam Lea.
Wanita itu bahkan sampai tidak mendengar lagi pertanyaan Zheaan saking sibuknya dengan dunianya.
Ia memakan somay dan barbaarnya Lea malam mengangkat cadarnya tinggi saat makan.
Tidak ada pilihan lain selain Zheaan harus pasrah.
"Cantik banget, Lea mau mewarnai kaya gitu juga. Kemarin kan viral di TikTok sama pasangannya suka mewarnai gitu. Ayok!! Karena Lea jomblo jadi Gus harus nemenin Lea warnain gambarannya."
Zheaan terperangah menatap Lea. Pria itu menahan napas. Apa tadi kata Lea? Pasangan? Entah kenapa hati Zheaan berbunga-bunga saat Lea menyebut itu.
"Ayo!"
Keduanya duduk di kursi jongkok dan Lea memilih princess Jasmine untuk diwarnainya.
Wajah antusias Lea membuat Zheaan tidak tega untuk menolaknya.
__ADS_1
"Cantikan Jasmine apa cantikan Lea?"
Zheaan yang memang dari tadi menatap Lea pun mengangkat alisnya.
"Kenapa mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas apa jawabannya? Tentu cantikan kamu Lea."
Lea memandang sumringah Zheaan.
"Nah jawaban Gus benar."
Lea mulai menggores kuas di atas kertas hingga beberapa menit kemudian mereka pun selesai.
Lea membayarkan uangnya dan membawa pulang lukisan itu.
"Kamu mau beli apa?" Zheaan tetap menawari Lea apapun meksipun belanjaan sudah penuh di kedua tangannya.
Lea menaruh tangan di dagu dan mulai berpikir-pikir. Kira-kira apa lagi yang kurang.
"Lea mau main itu sebelum pulang," tunjuk Lea ke tempat kincir angin.
Zheaan menahan napas. Ia tidak takut ketinggian hanya saja Zheaan bisa mabuk jika mencium angin malam yang berhembus kencang.
"Lea apa tidak ada yang lain?"
"Gak mau. Lea maunya cuman itu," keras Lea.
Zheaan pun mengangguk pasrah. Lagi-lagi ia tidak bisa menolak Lea.
Lea membeli tiket dan masuk ke dalam kincir angin itu. Ia yang paling semangat melebihi anak-anak.
Wanita itu berteriak saat kincir angin tersebut diputar. Zheaan mati-matian menahan rasa mulanya sambil menatap wajah bahagia Lea agar dia bisa bertahan.
"AAAAA ENAK BANGET!! SEGAR!!"
"Lea kamu tidak takut?"
"Ngapain takut Gus. Ini enak banget Gus."
Lea memejamkan mata dan menikmati setiap hembusan angin. Tak terasa ternyata waktunya sudah habis.
Lea membuka mata dan ia mendesah kecewa karena sudah berakhir.
"Gus, beli tiketnya lagi yuk." Saat melihat Zheaan Lea terdiam.
Pria itu menatap Zheaan yang sudah dalam keadaan setengah sadar. Lea memapah Zheaan dengan wajah khawatir.
"Gus tidak apa-apa?"
"Tentu saja saya tidak kenapa-kenapa kalau ada kamu di sini," ucap Zheaan dan berusaha menahan rasa mual di perutnya.
Saking kuatnya dobrakan di dalam perut membuat Zheaan akhirnya memuntahkan ganjalan itu dengan deras.
Lea terkejut dan refleks mundur.
"Maafkan saya," ucap Zheaan sangat malu.
__________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1