
Lea menatap semua barang yang dia kemas di dalam kardus. Keputusan Lea sudah bulat, lagipula ia sudah terlanjur sangat malu.
Lea tidak tahu akan menaruh di mana mukanya, yang ingin dia lakukan sekarang pergi dari tempat ini sejauh mungkin menghilangkan rasa malu terhadap teman-teman satu pesantrennya.
"Kenapa seorang Azalea sangat malang sekali?" gumam Lea meratapi nasib yang sudah terlanjur. "Dari dulu gue gak pernah benar-benar mendapatkan kebahagiaan," ucap Lea dengan suara lemah.
Air matanya menetes ke pipi membuat Lea terlihat sangat rapuh. Dia merasakan sesuatu yang sangat mendalam di dalam dadanya, seperti ditusuk oleh ribuan pisau setiap kali mengingat dirinya yang sudah kotor.
"Lea tidak sesuci dulu. Teman-teman Lea pasti ngetawain Lea. Lea pasrah," ucap Lea dalam hening.
Gelap gulita menyelimuti seluruh bumi. Lea menarik napas panjang dan menatap ke tangannya yang terdapat beberapa barang.
"Sudah gelap banget. Apa gue masih bisa keluar yah?" Sengaja Lea memilih jam malam untuk melarikan diri dari pesantren.
Karena pada saat malam orang bisa lengah dan aksesnya keluar juga lebih mudah.
"Lea pasti bisa," ucap Lea sambil menarik napas. Lea memejamkan mata dan mulai melangkah memberanikan diri. Apa pun resikonya nanti Lea akan menerima semuanya.
Tapi semoga saja dia tidak bertemu salah satu orang di pesantren ini. Baik itu para santri maupun ustadzah.
Lea menatap ke arah tempat yang sudah ia pantau dari tadi siang. Di tempat itu terdapat lobang kecil yang dapat memuat tubuh Lea keluar. Kebetulan tubuhnya sangat kecil dan itu memudahkan Lea.
Dari lobang itulah dia berusaha keluar dari lingkaran pesantren. Mungkin tidak ada yang tahu, tapi Lea berharap memang tidak ada yang mengetahui apa yang dilakukannya.
"Akhirnya Lea keluar juga." Lea menarik napas panjang dan tersenyum lebar. Ia bangga dengan pencapaiannya. "Hebat banget gue. Dinda dan Yessa harus tau apa yang gue lakukan. Benar-benar berprestasi gue," kagum Lea terhadap diri sendiri.
Lea tersenyum miring lalu kemudian cewek itu berjalan meninggalkan pesantren. Dia beberapa kali hendak terjatuh karena barang bawaan yang terlalu berat.
"Lagian Bunda sih kirimin Lea barang-barang yang berat-berat kan Lea pulangnya susah. Mau ditinggal tapi juga sayang," ucap Lea sambil mengerucutkan wajahnya.
Lea menggerutu sepanjang jalan. Mungkin karena dumelan tersebut dia melupakan rasa takut dengan pepohonan besar di area lingkungan itu.
"Eh tumben gue gak mikirin hantu," ucap Lea bertanya-tanya pada diri sendiri. "Astaghfirullah, lagian kenapa gue harus ingat. Padahal kan bagus kalau gue lupa. Emang tolol gue," ucap Lea lalu menarik napas panjang.
Dia mengumpati kesalahan yang dilakukannya. Lea menjadi merinding rasanya.
Semua bulu kuduknya berdiri, cewek itu berharap dia selamat sampai tujuan.
"Jangan sampe gue mati di tengah jalan. Sumpah sia-sia apa yang telah gue lakukan kalau mati konyol di sini," ucap Lea dan menarik napas panjang.
Lea menatap seluruh pepohonan yang ia lewati. Sangat rimbun, dan seolah tengah memberikan Lea ketakutan. Tapi hal itu memang terjadi, Lea sangat ketakutan.
Air matanya menggenang dan sekali berkedip saja maka dia akan menangis sesugukan.
"Sumpah plis, hantu jangan ganggu gue," mohon Lea lalu berlari terbirit-birit.
Tujuan utama Lea adalah sampai di jalan raya.
Lea menarik napas panjang karena akhirnya ia pun mencapai ke jalan raya. Sebanyak mungkin Lea menghirup udara dengan rakus.
"Nih paru-paru keknya kelaparan banget. Gue capek tau ditambah narik. Napas banyak-banyak gini," cerocos Lea.
Jalan raya di sini sangat sepi. Lea bahkan berpikir dia akan mati di tempat ini.
Tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Jikapun ada hanya beberapa dan tidak banyak. Lea berpikir jika dirinya memang sudah ditakdirkan menderita.
"Hiks, Azalea yang malang. Kenapa nasib gue gak sebagus teman-teman gue. Kenapa harus gue sendirian yang sial," keluh Lea terhadap keadaan yang tidak berpihak dengannya.
Lea menggunakan punggung tangannya menghapus air mata yang dari tadi terus berjatuhan. Menikmati rasa ketakutan dan Lea pun berusaha menenangkan dirinya.
"Gue pasti bisa selamat sampai tujuan. Meski gue gak tau gimana cara selamat nya."
Lea menatap sebuah lampu mobil yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Lea ingin sekali meminta bantuan tapi Lea juga takut jika orang itu tidak lebih dari seorang predator.
__ADS_1
Lea diam sambil berusaha bersikap tenang. Intinya tidak boleh panik.
"Gak, gak, gue gak panik," yakin Lea dan menatap ke arah mobil itu yang ternyata berhenti.
Deg
Dada Lea berdegup dengan kencang. Dia pun meremas tangannya. Lea bersiap ingin lari tapi tiba-tiba orang itu menahan tangannya.
"Mbak, tenang. Saya bukan orang jahat. Saya akan bantu Mbak."
Lea membalikkan tubuhnya. Kedua orang itu sama-sama terkejut. Tangan Lea yang semula bergetar menjadi tenang seketika.
"Gue kira siapa ternyata elo."
"Dan gue juga ngira siapa ternyata elo," balas pria itu dan menghela napas panjang. "Lagian lo ngapain di sini, Leot!!"
"Nama gue itu LEA bukan LEOT!!"
"Lagian lo kaya meleyot gitu," ucap cowok tersebut yang berhasil membuat amarah di wajah Lea.
"Enak aja lo!!"
"Biasa aja kali Mbak mukanya, gak enak dipandang soalnya."
"Muka lo noh yang gak enak dipandang." Lea mendecih, "lagian lo tumben ada di sini Yadi!"
"Gue? Ada urusan. Nah sekarang gue tanya lo, tumben lo ada di sini?"
"Gue dimasukin ponpes sama bonyok dan gue lagi kabur."
"Hahaha! Rasain, mampus kan lo dimasukkan ponpes. Gue kira lo keluar bakal jadi ukhti." Tadi memperhatikan penampilan Lea. "Tapi emang sih lo kaya ukthi."
"Kan gue cewek Oneng."
"Mata lo. Dih awas aja buka, gue udah Istiqomah sekrang."
"Alhamdulillah Lea ada perubahan dari lo. Gak sia-sia Bunda dan ayah lo masukin ke ponpes. Maaf tadi cuman mancing lo doang," ucap Yadi penuh dengan senyuman di wajahnya.
"Lo kira gue ikan apa pake dipancing."
"Gak gitu woy. Nih masuk ke mobil gue, mau ke mana kita? Pulang ke Jakarta, kebetulan gue mau ke Bandung sekalian ngantarin lo ke bandara."
Lea pun berubah semangat. Dia menghapus air mata yang tersisa dan masuk ke dalam mobil.
"Dasar cewek. Gue yang disuruh angkatin barangnya. Malas banget dah lo," gerutu Yadi dan mengangkut semua barang Lea ke dalam bagasi mobil.
Sementara yang bersangkutan merebahkan tubuh di bagian penumpang dan menutup matanya. Mungkin dia sudah berpindah alam semesta.
"Kalau gak gini bukan Azalea namannya," ucap Yadi sambil memperhatikan Lea.
_____________
Kehebohan di pesantren sampai ke tempat tetangga. Hilangnya seorang salah satu anggota pesantren di tempat santriwati membuat panik keluarga kyai.
Terutama Zheaan. Ia merasa tidak tenang. Apalagi dia melihat jika barang-barang Lea tidak ada di kamar.
Otomatis cewek itu kabur dari pesantren. Dia sudah melakukan pencarian di area sekitar dan menemukan sebuah lobang yang Zheaan duga cewek itu keluar dari sana.
"Astaghfirullah, Lea kemana kamu," khawatir Zheaan sambil berusaha setenang mungkin.
Namun hatinya jelas menolak. Kegelisahan terus menghantui Zheaan. Bahkan barang sedikit dia istirahat tidak bisa.
"Apa yang sebenarnya terjadi sampai Lea kabur?"
__ADS_1
"Palingan tidak betah di pesantren Gus."
Zheaan menatap orang yang berbicara tadi.
"Apakah benar Nia?"
Nia terkejut dan menatap Gus. Teman akrab Lea itu berusaha menahan rasa takutnya.
"Saya tidak tahu pasti. Setahu saya Lea memang tidak betah, tapi dia juga sudah akrab dengan lingkungan pesantren dan mulai bisa menerimanya. Jadi kaget saja jika Lea kabur tiba-tiba karena tidak betah," jelas Nia.
Zheaan menarik napas. Ia memejamkan mata dan pria itu ingin menumpahkan perasaan takutnya.
"Gus, saya dengar kemarin salah satu santriwati baru di sini menghina Lea." Suara itu menarik perhatian Zheaan. Dia menatap ke arah orang tersebut, "Lea dihina dan dikatain sudah tidak suci lagi dan pernah dilecehkan. Semenjak saat itu Lea tidak terlihat lagi dan tiba-tiba terdengar kabar dia menghilang. Mungkin karena hinaan itu dia merasa malu, mungkin hal itu memang pernah terjadi padanya."
Mata Zheaan menggelap.
Tangannya mengepal, Zheaan tak dapat lagi mengendalikan emosinya. Seakan perasaan marah terus meletup-letup.
"SIAPA YANG TELAH MENGHINA AZALEA!!!"
Semua orang terkejut mendengar suara marah Zheaan. Sangat mengerikan, mungkin itu adalah pertama kali bagi santriwati mendengar Zheaan marah.
Semua orang serempak menunjuk Nindy.
Zheaan menatap Nindy yang terdiam ketakutan. Dia menarik napas panjang berusaha tenang.
"Kamu yang sudah menghina Lea?"
Nindy menatap Zheaan dengan tubuh bergetar.
"Tidak. Mereka semua bohong Gus."
"Oh? Apakah saya percaya ketika semuanya mengatakan kamu pelakunya sementara kamu sendiri mengatakan tidak?"
"Maafkan saya Gus," ucap Nindy dan langsung memohon ampun dari Zheaan.
"Mungkin kamu saya maafkan tapi bagaimana dengan Lea? Dengan dialah kamu bersalah."
Zheaan menarik napas dan menatap para Ustadzah yang ada di sana. Dari isyarat mata sudah dapat mereka duga jika Zheaan meminta keadilan dari para ustadzah menghukum Nindy.
Zheaan berjalan ke Ndalem sambil menitikkan air mata. Dia merasa sangat bersalah.
"Maafkan sayang Lea," gumam Zheaan dan mendongak menahan air mata.
Rafkha yang kebetulan ada di sana juga menahan air matanya. Ia mengepalkan tangannya.
Rafkha pun menyadari sebuah kejanggalan selama ini. Apa Zheaan adalah pelaku dari pelecehan Lea. Jika benar Lea dilecehkan, dan kemudian Zheaan menikahinya?
Namun entah kenapa naluri Rafkha tidak bisa menerimanya. Dia tidak bisa mempercayai Rasanya tidak mungkin.
"Rafkha apa yang kamu pikirkan, tidak mungkin Gus seperti itu," ucap Rafkha. "Tapi jika itu memang benar, saya benar-benar kecewa dengan Gus."
Rafkha keluar dari area santriwati. Ia sangat khawatir ketika mendengar kabar bahwa Lea kabur dari pesantren makanya Rafkha ke tempat santriwati.
Cowok itu melangkah sambil menitikkan air mata. Dia terus kepikiran bagaimana perasaan Lea mengetahui jika benar Zheaan pelaku pelecehannya.
"Tapi tidak mungkin juga Lea tidak mengetahui orang yang telah melecehkannya, 'kan? Kalau benar Gus, Lea sudah tidak ingin dekat dengan Gus."
Itulah yang terus Rafkha pikirkan.
__________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA