
Zheaan membawa Lea ke ruangannya sementara wanita itu mendumel tidak jelas sambil mengikuti Zheaan di belakang.
"Apaan sih sok ganteng banget," gerutu Lea, "ya emang ganteng juga sih. Bukan gue terpesona, tapi gue cuman muji dikit," sangkal Lea dengan suara pelan.
Zheaan yang mendengar ucapan Lea hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Pria itu membuka pintu ruangannya dan menyuruh Lea masuk.
"Teteh, bisa masuk duluan," ucap Zheaan dan Lea menatap sebal cowok tersebut.
"Y."
Zheaan merasa gemas pada Lea. Ternyata sebahagia ini rasanya bertemu dengan wanita yang sudah disahkan olehnya melalui ijab kabul yang keluar dari mulutnya.
"Ya Allah, sungguh indah ciptaan mu. Hamba beruntung memilikinya dan akan tetap mencintainya bagaimanapun dia. Istri ku yang cantik, semoga Allah ridho kepadamu dan semoga kamu bisa memaafkan perbuatan ku," ucap Zheaan pelan sambil mengiringi Lea.
"Ngomong apaan sih? Kok bisik-bisik gitu," ucap Lea sambil mudur dan memeluk tubuhnya.
"Tidak apa-apa."
"Kita mau ngapain di sini?"
"Memberikan hukuman untuk kamu."
"Ishh, baru aja masuk ke pesantren, belum sempet gue belajar dan sekarang elo yang gak tau asal-usulnya malah mau ngehukum gue, situ waras apa enggak sih?"
"Hyustt ngomong nya dihalusin dikit, biar teteh lebih cantik."
Lea terdiam dan kemudian wajahnya berubah masam. Wanita itu mengepalkan tangannya lalu menunjuk wajah Zheaan tidak terima.
"Jadi maksud elo gue sebelumnya gak cantik."
"Pikir aja teteh geulis," ucap Zheaan sambil mengusap kepala Lea.
Melihat letak hijab pashmina Lea yang acak-acakan, Zheaan lantas membenarkannya.
Lea terpaku ditempat tidak percaya. Baru kali ini ada pria yang membenarkan hijabnya, biasanya hanya ayahnya.
"Lain kali make hijabnya yang benar yah cantik, rambut itu aurat dan hanya boleh dilihatkan kepada mahram kamu," ucap Zheaan yang tidak mendapatkan jawaban karena orangnya yang dinasehati sedang salting parah. "Teteh," sapa Zheaan sambil mengibaskan tangannya di depan Lea yang tengah melamun.
Lea tersadar dan menatap Zheaan dengan napas memburu. Lea merajuk khas sekali dengan sifat cewek.
"Geulis tuh apa sih artinya? Gue gak ngerti anjay."
Zheaan meletakkan telunjuknya di bibir Lea. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepala, Lea lagi-lagi dibuat terpaku dengan Zheaan.
"Neng geulis, ngomongnya gak boleh kasar. Gak baik ngomong gitu, lain kali ucapin hal-hal yang mendapatkan pahala, seperti memanggil suami dengan sebutan mesra."
"Gue belum nikah woy! Enak aja, gue gak punya suami, jadi gue bebas."
Zheaan tersenyum tipis dalam hati. Tiap hari ia memikirkan Lea. Wanita itu yang telah berhasil membuatnya selalu kepikiran, ketika mereka sudah bertemu Lea tidak mengetahui dirinya siapa.
Zheaan terpaksa harus menahan perasaannya. Ini juga demi kebaikan Lea, cewek tersebut pasti akan kembali trauma jika mengetahui dirinya siapa.
"Jika Teteh nanti sudah memiliki suami, Teteh harus memanggilnya mesra atau dengan sebutan ya Zauji."
"Enggak, kurang banget dih... Gue pengennya manggil my honey bunny."
Zheaan tersipu malu. Ia menggaruk telinganya yang memerah bertanda ia salting.
"Boleh teteh peraktekin, saya pengen mendengarnya. Anggap saja simulasi."
"Eh gak kali ye. Lo siapa nyuruh-nyuruh gue? Elo bukan laki gue njay."
Suasana menjadi hening. Ini terjadi karena Zheaan tidak bisa mengontrol dirinya. Ia menunduk dan tersenyum lalu memperhatikan wajah Lea yang sangat cantik.
Zheaan terpaku alias terpesona dengan Lea. Ia sudah jatuh cinta kepada Lea saat menyebut nama wanita itu ketika akad, dan sekarang ia tambah jatuh cinta kala untuk pertama kalinya melihat wajah wanita yang bergelar istrinya.
"Sepertinya kita sudah lama berbasa-basi. Saya hampir lupa ingin menghukum kamu."
__ADS_1
"Ishhh padahal gue udah seneng dia lupa. Tuh cowok sok cool banget, untung ganteng."
"Nyebut apa tadi?"
Cewek itu langsung kaget dan menutup mulutnya.
"Dih pede banget, gue gak nyebut apa-apa."
"Kamu juga cantik kok." Mata Lea melotot dan wajahnya tidak bisa diajak berkompromi malah ikutan memerah. "Sini duduk di samping saya."
"Ngapain buka Qur'an?"
"Geulis, tidak usah banyak bertanya. Sini duduk di samping saya. Hari ini saya sedang senang, jadi saya akan memberikan hukuman kepada kamu yang paling ringan. Jadi kamu saya hukum baca Yasin tiga kali ulang."
Mulut Lea menganga. Tidak masalah, cuman dia sudah lama tidak mengaji. Bukan orangtunya yang tidak pernah menyuruh tetapi dirinya sendirilah yang selalu membohongi orangtunya jika sudah mengaji.
Akibat kefatalan itu akan berdampak sekrang. Bagaimana caranya ia harus mengaji, ia saja sudah melupakan beberapa huruf.
"Kenapa bengong?"
"Gue gak bisa baca Arab. Hukuman yang lain aja, gampang apaan," gerutu Lea.
Zheaan diam. Ia tak menyangka demikian jika Lea tidak bisa membaca huruf Arab.
"Tidak masalah saya bisa ngajarin kamu."
"Gak, gak deh. Gue gak kenal lo, bisa aja kan lo bohong dan ternyata lo bukan bagian dari pesantren ini?"
"Astaghfirullah. Tenang saja, saya adalah bagian pengurus keamanan di pesantren ini."
"Emang sekarang kita gak aman?"
"Bukan begitu." Zheaan menarik napas dan menarik halus tangan Lea, Lea yang tersihir dengan sifat Zheaan terdiam. Ia menurut duduk di samping Zheaan.
"Kita mau ngapain?"
"Tapi saya gak bisa."
Refleks Zheaan meletakkan telunjuknya di bibir Lea.
"Hsyut!! Tidak ada yang tidak mungkin. Yang penting kamu berusaha buat belajar." Lea mengangguk. "Nah gini, MasyaAllah, selain kamu cantik kamu juga penurut yah."
Wajah Lea memerah. Ia membuang muka dan mengusap wajahnya itu sambil berusaha menahan senyum.
"Situasi apa ini ya Allah. Nape gue salting banget dah. Fix nih orang buaya."
"Satu lagi nama saya Zheaan Akbar Al-assofi. Panggil saja Zheaan, mau manggil mas juga gak papa."
"Ze-zeha-an?"
"Dalem."
_______________
Selesai memberikan hukuman kepada Lea, Zheaan membawa perempuan tersebut ke Ndalem.
Ia tahu orangtua dari istrinya itu tengah mencari Lea.
Kedatangan Zheaan dan Lea ke Ndalem berbarengan membuat bengong orang-orang yang ada di sana.
Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang tengah mereka liat. Zheaan bersama istrinya.
"Bunda kok natap Lea gitu amat sih?" Lea melirik dirinya, "kalian juga natap gue ngape kek gitu? Emang ada yang salah dari gue."
Lea berusaha mencari letak kesalahan dirinya. Ia menatap ke sekitar dan tidak sengaja melihat Zheaan di sampingnya.
"Oh jadi kalian tuh kaget ngeliat nih orang? Jadi benar dia bukan bagian dari pengurus pesantren?" Lea menunjuk Zheaan, "oh jadi lo bohongin gue, anjay? Bangs.at lo!!"
__ADS_1
"LEA!!" bentak Ikhsan yang terlampau malu dengan bahasa yang digunakan anaknya.
"Apaan sih, Yah? Kok bentak Lea," ucap Lea dengan mata berkaca-kaca.
Zheaan terperanjat dan menarik napas panjang.
"Tidak apa-apa, O-om!" Terpaksa Zheaan memanggil Ikhsan dengan sebutan Om agar Lea tidak curiga.
Ikhsan menarik napas panjang. "Lea, kamu itu harus hormat kepada dia. Dia itu anak dari pemilik pesantren, kamu harus nyebut dia Gus."
Wajah Lea tampak sangat kaget. Jadi ini Gus yang diceritakan ayahnya. Ia harus hormat kepada Gus tersebut.
"Jadi ini orangnya Yah?"
"Ya, kamu harus minta maaf."
Lea masih syok dan ia menatap Zheaan dengan cengiran di wajah polosnya.
"Ma-maa-maaf Gus." Lea langsung menyalami tangan Zheaan.
Kenapa Zheaan tegang? Bukannya apa yang dilakukan Lea benar? Kan anak kyai terhormat, dan ia haru memberikan salam sebagai tanda hormat.
"Lo, eh Gus kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Akhem-akhem!"
Daheman kyai Akhyar menyadarkan dua sejoli tersebut. Mereka pun langsung bersikap hormat.
"Assalamualaikum Kyai."
"Kalian ketemu di mana?"
Zheaan baru saja ingin menjawab tetapi didahului oleh Lea.
"Itu Kyai, Kyai tau? Dia itu, marahin Lea, padahal kan Lea pengen keliling pesantren. Masa katanya Lea gak boleh ke asrama cowok. Padahal kan sama aja. Terus dia ngehukum Lea, sok banget, 'kan? Lea juga kesal Kyai."
"Lea," peringat Hana.
"Tidak apa-apa." Kyai Akhyar tersenyum dan melirik anaknya yang menunduk malu-malu.
"Benar Gus?"
"I-iya Abi."
"Jadi Lea, di pesantren kamu tidak boleh ke asrama cowok. Laki-laki dan perempuan tidak boleh berduaan ataupun saling bertemu jika tidak ada kepentingan."
"Tapi, tadi Lea berduaan sama Gus Zheaan."
Hening
"Kalau itu tidak apa-apa, karena dia Gus mu," ucap bunda Hana mencarikan suasana. Dia tersenyum sambil menyembunyikan kegugupannya.
"Oh jadi begitu?"
"Iya."
"Nak Lea, kamu sekarang sudah resmi menjadi anggota pesantren Darunnajah. Kamu akan diantarkan oleh Ning Kansa ke kamar mu."
"Baik Kyai."
"Ning Kansa ini kakaknya Zheaan," kenalkan kyai Akhyar pada Lea. "Ning, antarin nak Lea ke kamarnya."
"Baik Abi."
_______________
__ADS_1
Tbc