Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 41


__ADS_3

Lea menumpahkan seluruh perasannya di dalam dekapan nyaman Zheaan. Zheaan merasa iba dan sekaligus sangat bersalah mendengar raungan Lea yang menyayat hati.


"Sudah jangan nangis lagi."


"Tapi Gus tau sendiri kan kalau misalnya kalau Lea sudah sayang banget sama seseorang Lea gak bisa lepas dari dia dan Lea bakal nganggep dia kaya saudara Lea sendiri Gus. Lea sayang banget sama sahabat Lea Gus."


"Iya saya tau. Tapi kan kalau kamu nangis nggak akan pernah merubah apapun itu, sayang."


Lea menatap Zheaan. Apa yang dikatakan oleh Zheaan memang benar. Senyaring apapun ia menangis tidak akan pernah merubah apapun.


"Gus! Terima kasih dari tadi udah sayang banget sama Lea. Selalu memperhatikan Lea, nggak tahu mau ngomong apa saking cintanya sama Gus." Ungkapan hati Lea yang benar-benar sangat dalam. Wanita itu mengeratkan pelukannya kepada Zheaan.


Zheaan yang mendengar kalimat yang diucapkan oleh Lea merasa sangat terharu. Dia mengusap punggung belakang Lea untuk menunjukkan rasa cinta yang sangat dalam darinya.


"Sudah menjadi kewajiban saya, Lea." Zheaan menatap ke arah depan. "Kamu adalah istri saya, sepenuhnya kamu adalah tanggung jawab saya."


"Iya Gus."


Zheaan menarik napas sambil tersenyum. "Bagaimana Azalea? Apa kamu sudah merasa tenang? Apa kamu ingin kembali ke asrama? Atau tetap di sini bersama saya selamanya."


Lea meregangkan pelukan tubuhnya dengan Zheaan.


"Tentu Lea akan di sini bersama Gus selamanya. Gus adalah suami saya dan Lea sebagai istri yang baik harus bersama Gus dan melayani Gus setiap hari."


Zheaan mengangguk. Ia merasa puas dengan jawaban Lea. Memang itulah jawaban yang diinginkan oleh Zheaan.


"Terima kasih kamu sudah mau memilih aku. Aku senang mendengar keputusan kamu Lea." Zheaan menatap penuh arti ke Lea. "Lea kamu mau punya berapa anak?"


"Terserah saja. Yang penting Tuhan percaya pada Lea untuk menitipkan seseorang ke dalam rahim Lea."


"Begitu ya. Aku mau sebanyaknya sih."


"Kalau begitu Gus aja yang melahirkan. Lea gak mau, apalagi Lea takut melahirkan," ketus Lea dan langsung tidak mood mendengar keinginan Zheaan.


Dia pikir Lea ini siapa, emang Lea sanggup melahirkan seorang anak sebanyak-banyaknya? Lea melahirkan satu anak saja sudah ketakutan.


"Lah kenapa takut. Kan aku bakal ada di samping kamu dan akan bertanggungjawab."


"Mikir dong Gus. Lea aja gak mau berhubungan dengan Gus karena Lea takut pake banget. Dan apalagi disuruh melahirkan terus yang ada Lea bisa mati muda."


Mata Zheaan membulat. Dia menutup mulut Lea.


"Mulut kamu ini. Gak boleh kaya gitu," tegur Zheaan tak senang mendengar ucapan Lea.


"Kenapa?"


"Jangan ngomong kaya gitu. Aku takut kamu beneran pergi di masa muda. Aku pokoknya gak mau. Aku mau protes dan minta kamu tetap bersama aku. Aku lebih rela aku yang pergi duluan."


"Kalau gitu mah Lea yang gak ikhlas," ucap Lea merengut.


"Udah-udah jangan mikir kaya gitu, yang penting kita berdua terus tetap bersama selamanya dan meminta kepada Allah dipanjangkan umur."

__ADS_1


Zheaan dan Lea mengangguk dan tersenyum bersama.


"Lea senang mengenal Gus."


"Dan aku juga begitu. Aku tidak pernah menyesal menikahi kamu Lea. Kamu adalah istri yang sangat aku sayangi. Aku tidak pernah bosan mengatakan jika kamu adalah orang satu-satunya sampai aku tua. Aku bersumpah atas nama Allah jika aku tetap terus bersama mu."


Zheaan tersenyum dan mengecup kening Lea.


"Terimakasih Gus. Lea senang mendengarnya. Selain itu juga Lea ingin selalu bersama Gus."


__________


Ini kali pertamanya Lea berkumpul kembali dengan keluarga yang sangat komplit. Orangtua Lea baru saja datang dari Jakarta setelah mendengar anaknya sudah mengetahui yang sebenarnya.


Kumpul keluarga sambil melakukan selamatan atas pernikahan Lea dan Zheaan. Meski sudah dua tahun berlalu Lea dan Zheaan berencana ingin melakukan akad ulang dan resepsi.


Itu atas permintaan Lea yang ingin pernikahannya berkesan. Maka dari itu orangtua Lea juga datang ke sini.


"Nanti setelah menikah secara resmi apa kalian masih tetap tinggal di sini?"


Lea melirik Zheaan. Lelaki itulah yang akan menjelaskan semuanya.


"Zheaan akan nunggu Lea tamat dulu dan kemudian pindah dari sini ke luar pesantren. Tapi Zheaan janji akan menjaga Lea dengan sangat baik, dan berusaha membuat Lea lebih mengenal Allah."


Lea yang mendengar ucapan Zheaan merasa sangat terharu. Suaminya begitu membanggakan dia, padahal Lea jika bukan karena Zheaan mungkin dia akan menjadi orang yang paling tak terlihat dalam kumpulan ini.


"Baiklah jika itu keputusan kalian. Bunda harap kamu dapat menjaga anak kesayangan Bunda itu. Bunda tidak ingin mendengar sesuatu yang menyakiti hati Lea."


"Ayah pegang kata-kata mu Gus."


Abi Akhyar dan umi Sarni tersenyum bangga pada putra semata wayangnya.


"Zheaan. Kamu dengarkan Gus apa yang dibilang orangtua Lea. Jagalah Lea dengan baik, dan Umi juga tidak akan memaafkan kamu jika kamu menyakiti hati Lea."


"Umi tenang saja."


"Abi akan membimbing kamu menjadi suami yang baik untuk Azalea."


"Terimakasih Abi." Zheaan menatap Lea dengan senyum yang sangat luwes.


"Abi, Zheaan mau berdua dulu sama Lea. Gak papa Abi, Umi, Ayah, Bunda?"


Semua orang yang di sana menatap Lea yang menunduk dan menggenggam tangannya malu-malu.


"Tidak apa-apa Gus. Kami akan memberikan waktu untuk kalian berdua."


Zheaan memandang Lea dan mengangguk. Awalnya Lea merasa tidak enak, namun ketika telah diyakinkan oleh bundanya Lea pun mengikuti Zheaan.


"Tidak apa-apa Nak. Pergi saja sama Gus. Mungkin Gus ada yang ingin disampaikan kepada kamu."


Lea pun mengikuti Zheaan yang membawanya ke kamar.

__ADS_1


"Huh, akhirnya bisa berduaan juga."


"Jadi kamu mau ngapain minta aku dan kamu berduaan."


"Apalagi kalau bukan mau mesra-mesraan sama ayang."


Zheaan menyuruh Lea duduk dan dia berbaring di pangkuan Lea.


"Enak banget kalau terus kaya gini."


"Ih Gus mah."


Zheaan tertawa dan memandang wajah Lea dari bawah.


"Kenapa istri Zheaan cantik banget sih. Zheaan jadi salting," ujar Zheaan bangga.


"Tuh kan Gus. Suka banget buat Lea malu."


"Kenapa? Lea tidak suka?"


"Bukan gitu. Lea cuman malu Gus."


"Ngapain juga malu."


"Ishhh Gus mah tidak mengerti Lea."


Zheaan menatap perut Lea. Dia menyentuh perut datar istrinya.


"Kapan yah ada Zheaan junior di sini."


Lea memutar bola matanya.


"Gak tau kapan."


"Hehe buatnya aja gak pernah."


Lea memukul mulut Zheaan.


"Ingat ketika Lea siap. Lea masih merasa takut."


"Aku juga gak maksa. Tapi kalau misalnya ditawarin sama kamu aku ikut aja."


"Ishh.. ngeselin banget deh."


"Bentar lagi mau adzan. Saya mau kamu jadi makmum saya."


"Perasaan hari-hari juga gitu," cibir Lea.


__________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. Terimakasih


__ADS_2