
1 tahun kemudian
Sudah satu tahun berlalu paska tragedi yang menimpa seorang Azalea Nazira Al-Basyir merupakan bagian keluarga Al-Basyir yang terkenal religius, namun berbeda dengan putri tunggal mereka yang sangat berbanding terbalik dengan julukan itu.
Sempat Lea dicap sebagai wanita murahan atas apa yang menimpanya itu oleh tetangga. Mereka menganggap wajar saja jika Lea dilecehkan karena kelakuannya yang terkenal nakal.
Demi menghilangkan gosip tidak enak Ikhsan memutuskan untuk pindah rumah dan mereka hidup di lingkungan baru.
Hanya saja Lea semakin jauh dengan sahabatnya Dinda dan Yessa namun pada hari ini kedua orang itu datang ke rumahnya sambil membawa pasukan seperti tengah ingin berperang.
Mereka menyerbu rumah Lea dan juga ada banyak laki-laki di antaranya. Dan pada saat rombongan itu datang kebetulan orangtua Lea lagi di pengajian.
"Baa!"
"Woy an.jeng!! Lo ngagetin gue," umpat Rozi sambil mengusap dadanya.
"Lebay anjirt, biasa aja kali."
"Dih, lo kira jantung gue aman, 'hah? Asal lo tau ya Lea, jantung gue mau copot. Untung gak kenapa-kenapa, kalau sempat ada apa-apa gimana? Gimana gue mau nikahin lo?" tanya Rozi sambil menarik napas.
Di wajahnya terlihat kekesalan. Dinda dan Yessa bersama 2 pria lainnya menatap Rozi dengan jijik.
"Lebay anj.ing," umpat Umam sambil menepuk pundak Rozi.
"Woy, you kira my best friend Lea mau sama you? Sorry my bestie seleranya very tinggi, you know? You gak level," ucap Yessa sambil memandang kesal Rozi. Sebut saja sebenarnya Yessa geram karena dilanda cemburu, tidak perlu basa basi intinya Yessa menyukai Rozi.
"Woy manusia purba, gue gak peduli asal lo tau. Gue tetap bakal ngejar Lea."
"Haduh apaan dah ini pada ribut-ribut. Lo gak peka banget sih Zi? Geram gue, mulut gue udah gatel banget. Asal lo tau ya, gentong sampah, Yessa suka sama lo." Dinda menarik napas panjang setelah mengucapkan hal yang sangat lama ia pendam.
Mata Yessa membulat. Ia tak menyangka jika sahabatnya itu bakal mengungkapkan perasaannya pada Rozi.
"Dinda!!! Apa-apaan lo!! Enggak yah, gue gak suka sama Rozi!!"
"Ciehh, jadi ceritanya ada yang lagi crush-in Rozi? Kiw bang, ada yang suka sama lo nih," Yoga menggoda.
Wajah Rozi memerah menatap Yessa. Ia mendadak jadi malu-malu.
"Ah yang bener?" tanya Rozi.
"Affah Iyah nih Sa, gak suka sama Rozi. Ganteng tau!!"
"Lea!! Jangan gitu dong, kan gue refleks jadi malu!"
"Tuh merah wajah lo. Akuin aja kali." Lea memandang Rozi, "Zi gimana nih? Masa bidadari secakep ini lo anggurin."
"Gak jadi. Gue gak jadi suka sama Lea, gue sukanya sama Yessa." Sebenarnya Rozi memang memiliki perasaan yang sama dengan Yessa hanya saja dia malu untuk mengakuinya.
"Ciehhh jadian nih ye ceritanya?" tanya Yoga sambil tertawa kecil.
"Coy! Buat merayakan ini kita harus party lah!" ujar Umam semangat.
"Di mana?" tanya Lea penasaran.
"Tenang aja, semuanya gue yang traktir. Di dekat rumah gue ada Club baru buka, ntar kita ke sana. Sekalian healing sambil dugem."
Lea menggerutu dalam hati karena ia bingung ingin mengambil keputusan yang mana. Ia sangat ingin ikut tapi bagaimana orangtuanya?
"Ikut gak lo Lea?"
"Alah cupu, tumben lo gak mau dugem. Dulu aei ratunya dugem," sindir Yoga.
Setelah berperang dengan hati dan otaknya Lea pun memutuskan memilih jawabannya, "oke gue ikut."
_____________
Plakkk
__ADS_1
Tamparan keras didapatkan Lea dari ayahnya. Ia menatap Ikhsan dengan takut-takut pasalnya ia tertangkap basah pulang dugem.
Memang Lea tidak meminum alkohol maupun menjual harga dirinya, dia hanya ikut berjoget menikmati musik akan tetapi tetap saja itu membuat Ikhsan murka.
"AYAH SUDAH BILANG JAUHI TEMAN-TEMAN MU ITU LEA!! MEREKA MEMBAWA PENGARUH BURUK BUAT KAMU! LIAT KAMU SEKARANG BERANI DUGEM TANPA SEPENGETAHUAN AYAH!! KAMU BENAR-BENAR MEMBUAT AKU MURKA LEA!!" Jika Ikhsan sudah menyebut dirinya dengan sebutan aku itu artinya ia benar-benar sangat marah.
Bunda Hana menangis dipojokkan melihat anaknya tengah dimarahi oleh suaminya. Hati ibu mana yang tega melihat anaknya tengah dimarahi habis-habisan oleh suaminya.
"Ayah, sudah Yah, kasian Lea," rintih Hana sambil menggelengkan kepalanya.
"Bunda, anak seperti ini memang harus diberikan pelajaran," marah Ikhsan.
Lea memandang kedua orangtuanya dengan mata sembab. Ia tahu telah membuat kecewa orangtuanya.
"Maafin Lea, Ayah, Bunda!"
"Gak papa Nak. Ibu maafin kamu."
"Lea, kamu lupa apa yang sudah terjadi dengan kamu satu tahun yang lalu? Dan kamu masih berani pergi ke tempat seperti itu?"
Lea memandang ayahnya dengan bibir bergetar. Bagaimana ia bisa lupa dengan tragedi yang memberikannya rasa trauma. Lea ingat betul, akan tetapi hal yang sempat dilupakannya kini memberikan rasa ketakutan kembali.
"Ayah! Bunda sudah bilang jangan ungkit lagi. Liat Lea ketakutan, Yah."
Ikhsan memandang Lea dan menarik napas dalam. Ia tidak membenci Lea ia hanya ingin memberikan pelajaran pada Lea.
"Kamu akan Ayah masukkan pesantren. Tidak ada penolakan, besok kita langsung ke Tasik Malaya di Jawa Barat."
"Maksud Ayah? Gak, gak, Lea gak mau Yah," tolak Lea keras.
"Apa Ayah bilang tadi, 'hah? TIDAK ADA PENOLAKAN," tekan Ikhsan.
"TAPI LEA GAK MAU MASUK PONDOK PESANTREN!! LEA MAU KULIAH DI UNIVERSITAS GAJAH MADA, AYAH!!" Lea meneriaki Ikhsan yang telah pergi. "Bunda," rajuk Lea dan memeluk sang ibunda sambil menangis.
"Sudahlah sayang, kamu turuti yah apa yang ayah mu bilang."
Bunda Hana meneguk ludahnya susah payah. "Ambil koper ke kamar Bunda ya, kamu beresin baju-baju kamu. Besok kita berangkat, yang sabar yah Nak. Ini demi kebaikan kamu!"
"Kebaikan gimana? LEA GAK BAIK-BAIK AJA BUNDA!"
Bunda Hana mengusap kepala Lea dan mengecupnya. Sungguh Hana sangat tahu apa yang dimaksud oleh suaminya. Ia sengaja mengirim Lea ke pondok pesantren Darunnajah karena sudah saatnya Lea mengenal siapa Zheaan.
_____________
Mobil Alphard memasuki halaman pesantren Darunnajah. Santri yang berkeliaran di sana terpaku melihat kedatangan mobil itu.
Tidak lama keluar seorang wanita dan seorang pria yang sudah berumur dan hampir mirip dengan kyai mereka yang merupakan pemimpin pondok pesantren ini.
Mereka mengira jika itu adalah teman baiknya kyai Akhyar. Tapi yang lebih mengejutkan lagi tak lama ada seorang wanita keluar dari dalam mobil dengan pakaian kaos serta celana kulot jin.
Hanya memakai hijab pashmina ala kadarnya dan tidak dikancing. Mata wanita itu bengkak, ia melihat orang sekitarnya yang tengah menatap dirinya aneh.
"Apaan sih anjirt, alay banget kek gak pernah liat orang kota aja, dasar kampungan," gerutu Lea dalam hati.
"Nak yang bener dong make hijabnya, jangan kek gini, gak malu apa sama santri lain. Mereka liatin kamu," ucap Bunda Hana dan membenarkan hijab Lea.
Ia juga memberikan pentul. Lea menghela napas pasrah.
"Bunda gak usah."
"Lea," tegur Ikhsan.
Lea tidak ingin menatap ayahnya setelah kejadian semalam. Ia jadi membenci orang rumah.
Mereka pun masuk ke dalam halaman pondok pesantren dan santriwati serta santriwan yang tak sengaja melihat Lea langsung mengucap istighfar.
Ada yang bahagia melihat Lea dan itu sudah pasti dari kalangan cowok.
__ADS_1
"Wih, cakep banget tuh cewek. Duh gue jadi pengen pacarin," ucap salah satu santriwan. Ingat tidak semua santri alim.
Lea menatap santriwan itu.
"ALAY KAYA GAK PERNAH LIAT CEWEK AJA LO!!" teriak Lea kesal.
Mereka kaget diteriaki Lea. Lea tidak peduli dan tanpa sepengetahuan orangtunya ia pun sudah terpisah dari mereka.
"Astaghfirullah," ucap seorang yang tidak sengaja berpapasan dengan Lea. Ia langsung menundukkan kepala.
Lea menganga. Ia menatap ke belakang melihat pria itu dengan tidak terima.
"WOY MAKSUD LO APAAN? LO KIRA GUE HANTU! GUE CAKEP ANJAY. GAK USAH NUNDUK, GUE TERSINGGUNG. KEK LO GAK PUNYA RASA SOPAN SANTUN AJA SAMA TAMU."
Santriwan itu terdiam dan berhenti. Ia memutar tubuhnya sedikit.
"Maafkan saya." Setelahnya ia hendak pergi dan Lea yang merasa tidak dihargai pun menarik tangan pria itu.
"Woy!! Main pergi gitu aja, lo kira keren? Gitu pesantren ini ngajarin lo? Ngajarin gak bisa ngehargain orang?!"
"Astaghfirullah Teh, maafkan saya Teh. Saya tidak bermaksud ingin menyinggung Teteh. Tapi ini pesantren, wanita dan pria tidak boleh bertemu selain dengan mahramnya atau ada kepentingan sesuatu."
"Oh? Alasan klise. Zaman sekarang masih ada yang kek gitu. Dih, jamet banget."
"Assalamualaikum!"
Pria itu terkaget dan menatap pria yang ada di depannya baru saja datang. Ia langsung meminta maaf dengan lelaki itu.
"Wa'alaikumussalam, Gus, maaf. Saya tidak bermaksud ingin berduaan dengan yang bukan mahram saya, tetapi wanita ini yang menghentikan saya."
Zheaan melirik Azalea dan ia langsung beristighfar dalam hati melihat penampilan Azalea.
"Astaghfirullah."
"Apaan anjay, lo kira gue hantu. Gak waras kalian semua."
"Maaf Teh, diperkenankan Anda tidak berada di lokasi ini. Ini khusus untuk santri putra."
Lea yang melihat wajah Zheaan sedikit terpesona. Ia tidak menyangka jika di pesantren ada serbuk berlian semacam Zheaan.
"Ganteng banget." Refleks mata Zheaan melotot.
"Maaf Teh, bisa Anda pergi dari tempat ini?"
"Nggak mau. Minimal kita kenalan lah. Kenalin gue Azalea Nazira Al-Basyir binti Ikhsan Nazir Al-Basyir!"
Deg
Dalam menit itu jantung Zheaan rasanya ingin copot. Seluruh tubuhnya bergetar dan ia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
Sebuah kenyataan baru membuatnya sangat syok. Demi Allah Zheaan merasa seluruh tubuhnya lemas saat mengetahui jika di depannya ini adalah istrinya.
"Ya Zaujati," gumam Zheaan. Ia sontak langsung menyuruh Rafkha santri tadi pergi. Ia tak ingin istrinya dilirik oleh pria lain dengan kondisi pakaian seperti itu.
"Ngomong apaan lo? Gue gak ngerti. Indonesia dikit napa."
Zheaan menormalkan ekspresinya. Ia menatap datar Lea.
"Karena Teteh sudah melanggar peraturan pesantren, Teteh harus menerima hukuman. Teteh ikuti saya ke ruangan saya untuk menerima hukuman!!"
"Woy maksud lo apa?! Gue baru masuk ponpes anjirt, masa iya langsung dihukum!!!"
____________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1