
"Nah, Lea ini kamar kamu. Coba dilihat dulu, siapa tau ada yang kurang."
Lea tersenyum kepada ning Kansa. Wanita yang berdiri di sampingnya merupakan wanita yang cukup tinggi kedudukannya di pesantren, hal itu menyebabkan Lea sungkan.
Cewek tersebut mengangguk dan membuka pintu kamar tersebut dan ketika dibuka pemandangan yang ada di dalam sungguh mencengangkan.
"Astaghfirullah," ucap ning Kansa melihat seorang santriwati yang tidak mengenakkan hijabnya.
"Lagi-lagi kamu Dora. Cepat pake hijabnya sebelum yang lain liat." Kansa masih jauh lebih baik dari pada pengurus Alma yang garangnya tidak ada tandingannya.
"Heheh Ustadzah Kansa," ucap Dora sambil menyengir dan menggaruk tengkuknya.
Kansa menggelengkan kepala lalu menutup pintu secepatnya.
"Kamu ini, ingat jangan membuka hijab sembarangan, bagaimana jika ada yang liat kamu tadi?"
"Kan Dora gak salah Ustadzah. Dora bukannya di dalam kamar, lagian kan Ustadzah yang buka pintu kamar Dora, heheh."
Lea terpaku dengan keberanian Dora. Ia mengangguk salut. Ternyata ada orang yang sefrekuensi dengannya.
Helaan napas berderu dari Kansa. Ia tersenyum dan memberikan isyarat lewat lirikan mata.
"Dora, cepet pake. Kamu mau dihukum?" ucap Nia yang sudah gugup setengah mati. Melihat teman sekamar dengannya tengah diintimidasi oleh ning Kansa.
Dora tersadar atas perbuatannya. Cepat ia mengambil hijab instan dan mengenakannya secepat kilat.
Kansa tersenyum melihat penampilan Dora jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Kalau gini kan bagus. Ah, iya. Hari ini ada santriwati yang mondok di sini. Dia bakal tinggal sekamar sama kalian."
Mata Lea melotot. What? Sekamar? Lea tidak salah dengar? Tidur bertiga bersama orang ini?
Lea melirik ruangan itu yang memang terdapat 3 ranjang. Tapi kan ini terlalu sempit, berbeda jauh dengan kamarnya sebelumnya.
"Jadi Lea tidur di sini?" tunjuk Lea ragu-ragu, "bersama orang ini?"
"Iya Lea. Kenapa memang? Kita di pesantren harus belajar mandiri. Lea semoga bisa menjalani hari-hari di pesantren dengan betah dan dapat berteman baik dengan mereka. Ning tinggal dulu, ada urusan sebentar dengan ustadzah Azizah."
"I-iya ning Ka-kansa." Kansa hendak pergi tapi Lea cepat mencegah. "Eummm.. anu, ning Kansa, itu, eumm itu, ponsel. Boleh mintakan ponsel Lea sama Bunda?"
Kansa tersenyum, "Lea kamu tidak boleh membawa ponsel di pondok pesantren. Ingat ketahuan kamu ada ponsel, petugas akan menyitanya."
Kansa pergi dengan senyum ramahnya usai Dora dan Nia memberikan salam. Hanya Lea lah yang berdiri bak orang linglung.
"Ishh gak seru banget sih," gerutu Lea. "Jadi di sini kamar gue?"
"Lo orang kota?" binar Dora sambil menarik tangan Lea dan mengajaknya duduk.
Lea tersentak dan menarik napas panjang. Perlakuan Dora cukup kasar dan itu membuat ia terkejut. Tapi jika dilihat sifat Dora ini sangat ceria.
"Iya, kenapa emang?"
"Gak papa. Sama gue juga dari kota, dari Bandung tepatnya. Kenalin gue Aulia Dora."
"Dora yang ngeselin itu?"
"Astaghfirullah, ya bukan. Emang sih Dora itu ngeselin. Nama lo siapa?" tanya Dora sambil menatap Lea terperangah.
"Nama gue Azalea atau Lea." Lea melirik Nia.
"Ah, nama saya Nia Adrian."
"Cantik banget woylah, kayak artis Korea gitu, kaya Sodam Secret Number," cerocos Dora.
"Lo kenal dia?" antusias Lea pasalnya ia bertemu dengan orang sefrekuensi dengannya.
"Yaiyalah, kan gue kpopers."
"Gue juga woi. Lo ngestan apaan?"
"Gue sih multifandom. Lo?"
"Lah sama anjay. Gue juga multifandom, cuman lebih condong ke NCT."
__ADS_1
"Oh gitu, tapi sumpah lo cantik banget. Mirip sama Sodam. Coba deh lo buka hijab lo."
Wajah Lea memerah dipuji mirip dengan Sodam. Tanpa pikir panjang ia membuka hijabnya dan menggerai rambutnya.
"Ini mirip banget sumpah. Cantik banget, jadi iri gue."
"Kalian ngomongin apaan sih?" tanya Nia yang dari tadi bagaikan orang bodoh tidak mengerti pembicaraan kedua makhluk ini. Sudahlah dia setres dikirimkan oleh Tuhan seorang Dora, dan sekarang dia makin setres bebannya bertambah satu.
"Akhirnya gue bisa napas juga di tempat ini. Huh capek gue hari-hari sama lo yang gak ada gaul-gaulnya," umpat Dora ke Nia.
"Astaghfirullah, kita itu tidak boleh mencintai orang-orang kafir."
"Ceramah lagi ceramah lagi. Kalau gak ceramah bukan Nia sih. Iye gue tau kalau itu, kita gak mencintai berlebihan kita hanya mengagumi. Benar gak Lea?"
Lea mengangguk setuju, "bener. Lagian lo kalau mau jadi kpopers kita bisa bantu. Jangan kuno gitulah."
"Astaghfirullah," ucap Nia sambil mengusap dadanya. Bukan tersinggung hanya saja sudah capek.
"Eh Lea lo tadi diantarin ustadzah Kansa yah? Ada nggak pas di Ndalem ketemu Gus Zheaan."
Gus Zheaan? Seketika mengingat nama itu wajah Lea memerah dan ia berusaha menahan napasnya yang memburu. Bukan salting tapi emosi.
"Ada."
"MasyaAllah, beruntung banget bisa bertemu dengan Gus Zheaan. Gimana cakep nggak? Sayang sih cakep-cakep dia itu dingin dan mengerikan."
"Nia lo bisa ngegibah juga, ya?" tanya Dora tidak menyangka dengan Nia yang selalu antusias menceritakan gus Zheaan.
"Astaghfirullah."
"Tapi benar kata Nia, dia itu dingin tapi karena itu pula dia disukai sama santriwati di sini. Akhh, sayang banget dia gak bisa ngajar di tempat santriwati. Pengen deh jadi santriwan."
Lea terdiam sebut saja syok berat. Kenapa orang memuji Zheaan? Orang seperti Zheaan banyak ia temukan di pasaran. Apa katanya? Dingin? Lea hendak tertawa kencang, baru pertama kali ia bertemu saja gus Zheaan ngeselin ditambah ia juga cerewet.
Dingin dari mana? Kejam, mungkin iya. Dia saja dihukum tadi pagi padahal kan dia baru saja memasuki pesantren. Sungguh pria kejam, Lea tidak ingin memiliki suami seperti Zheaan. Sangat ogah.
"Ganteng sih lumayan, tapi masih cakepan ayang beb Winwin, untuk kejam sih iya pake banget. Lo tau gue baru masuk ke pesantren langsung dihukum sama dia."
Mata Dora dan Nia membelalak.
"Astaghfirullah, dihukum sama gus Zheaan langsung?"
"Iya."
"Hah kok bisa," ucap Nia tidak percaya.
Biasanya yang menghukum santriwati adalah ustadzah Alma dan tidak pernah ada cerita jika gus Zheaan yang menghukum langsung santriwati.
Jika sudah begitu, itu artinya kesalahan Lea benar-benar fatal.
"Emang kenapa kamu bisa dihukum sama gus Zheaan?"
Lea menarik napas, ia harus menyiapkan pasokan udara untuk menceritakannya.
"Gue gak tau jalan, dan masuk ke area santri putra. Dan di sana ada Gus Zheaan terus gue dibawa ke ruangannya."
"APA RUANGANNYA?" kaget Dora dan Nia. Orang itu pun saling pandang. "KOK BISA?!"
"Woy, biasa aja." Lea menggelengkan kepala sambil mengusap dadanya.
"Gimana ceritanya, kok lo bisa dibawa ke ruangan Gus Zheaan?" Dora rasanya hampir mati sangat penasaran. Apa yang terjadi itu benar-benar langka, di luar dugaan.
"Ya gitu tadi ceritanya. Dan di ruangan itu gue nerima hukuman, tau gak hukumannya sadis banget." Wajah Nia dan Dora langsung meringis membayangkan hukuman yang amat mengerikan. "Gue disuruh baca surat Yasin tiga kali."
"WHAT?!!" Dada Dora dan Nia benar-benar tidak aman. Mereka bertatapan dengan menggeleng.
"Ngeri banget kan? Kalian sampai kaget gitu." Lea memeluk tubuhnya merinding.
Dora tertawa sambil meringis. "Lo tau Lea, itu hukuman paling rendah di pesantren ini dan hampir tidak ada yang mendapatkan hukuman seperti itu. Bukan karena terlalu kejam tetapi terlalu ringan."
"Hah, kok bisa?"
"Ya bisa. Kamu termasuk orang yang beruntung Lea," sahut Nia. "Tapi wajar sih karena kamu santri baru. Tapi yang aneh di sini kenapa gus Zheaan sendiri yang menghukum dan kenapa gus Zheaan yang anti berduaan dengan lawan jenis mau bertemu berduaan dengan Lea."
__ADS_1
"Emang itu aneh? Kata Bunda Lea itu wajar karena gus Zheaan itu adalah gus nya Lea."
Dora dan Nia tercengang. Otak mereka bekerja dengan keras memecahkan teori baru.
___________
"Bosan banget sumpah, di pesantren ngeselin, gak bisa liat cogan, gak bisa main hp. Kan gue mau nonton TikTok," keluh Lea sambil berjalan tak tentu arah.
Cewek itu bolos dari sholat tahajud dan subuh. Bukannya pergi ke masjid dia malah kabur keluyuran saat subuh-subuh seperti ini.
"Ini di mana lagi jalannya," keluh Lea sambil memperhatikan jalan dengan benar.
Saat sibuk berjalan sendiri hingga ia lupa sudah jauh dari area masjid dan kini Lea tidak tahu ada di mana.
Telinganya yang peka menangkap sebuah suara yang sangat familiar. Itu adalah suara dj yang sedang viral di TikTok.
"Kok bisa ada suara dj di pesantren?"
Lea pun mengikuti suara yang samar-samar itu. Dan ternyata sumbernya dari rumput yang lumayan tinggi dan terdapat pohon besar.
Lea menyipitkan matanya dan terkejut melihat ada seorang pria yang tengah bermain ponsel. Tampaknya pria itu sengaja bersembunyi agar tidak ketahuan oleh pengurus.
"Ba!!" kejut Lea sambil mendorong tubuh cowok tersebut.
"Astaghfirullah," kagetnya dan langsung menyimpan ponselnya.
Lea menundukkan wajahnya dan menyipitkan matanya. Ia mengamati dengan seksama pria di depannya.
"Hayoo, lagi ngapain. Ketahuan kan. Laporin ah ke ustadz. Udah gak ikut sholat tahajud terus bawa ponsel lagi. Bisa dobel nih hukuman lo."
"Jangan kasih taulah." Aldi mengamati Lea, "lah kamu sendiri kenapa gak ikut sholat tahajud?"
"Kenapa ya? Karena gue halangan," bohong Lea.
Pria itu menghela napas dan memejamkan matanya. Ia bukan termasuk santri yang alim, dan bertemu bidadari secakep ini sungguh keberuntungan baginya.
"Kamu kenapa bisa ada di sini? Awas kamu ntar saya laporin kamu keluyuran ke asrama cowok."
"Hyustt diam!!" Lea meletakkan jari telunjuknya di bibir orang itu. "Ini rahasia kita berdua."
"Oke, nama kamu siapa?"
"Nama gue Azalea, lengkapnya Azalea cantik dan manis. Panggil aja Lea, panggil sayang juga gak papa." Lea mengedipkan matanya.
"Hahaha. Nama saya Aldi, panggil aja Aldi."
"Oh." Senyum Lea merekah dan ia melirik ponsel Aldi. "Boleh gak kita nonton TikTok bareng? Gue bosan sumpah."
Mereka pun menonton TikTok bersama hingga fajar. Bahkan sampai tidak mendengar bahwa terdapat desas-desus ada santriwati dan santriwan yang hilang.
Saking asyiknya sampai tidak menyadari jika mereka sudah ditangkap basah. Anehnya lagi mereka tetap tertawa melihat video di ponsel Aldi dengan volume kencang.
"LEA! ALDI!!"
Mendengar suara bentakan sontak keudanya mendongak dan langsung terkejut. Wajah Lea langsung masam dan menunduk takut. Aldi biasa saja, soalnya dia sudah sering ditangkap basah seperti ini.
"TAU APA KESALAHAN KALIAN?" Zheaan sendiri yang mengintrogasi. Air muka pria itu tidak baik-baik saja dan sangat berbahaya ketimbang dari saat ia marah biasanya.
Antara emosi bercampur dengan rasa cemburu melihat istrinya berduaan dengan pria lain.
"Maaf Gus," ucap Lea sambil mengigit bibirnya.
Mata Zheaan melotot melihat apa yang dilakukan Lea. Ia langsung menarik napas panjang.
"Lea kamu ikut ke ruangan saya dan kamu Aldi terima hukuman kamu sama ustadz Sholeh."
Zheaan menarik kasar tangan Lea dan Aldi diserahkan pada ustadz Sholeh. Para santriwan dan santriwati yang menonton sangat kaget melihat apa yang dilakukan oleh Zheaan, bukannya Lea diserahkan pada petugas Alma yang ada di sana malah diintrogasi sendiri. Ditambah gus mereka yang selalu berusaha menjauhi yang bukan mahramnya memegang tangan seorang wanita.
Suatu kabar yang akan menyebar cepat.
_____________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA