Menikahi Anak Kyai

Menikahi Anak Kyai
Part 44 END


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Lea sedang menyapu halaman rumah.  Ia menatap halaman itu yang sudah bersih tidak ada daun dari pepohonan lagi yang berserakan.


Senyum Lea mengembang dan dia memutuskan untuk beralih melakukan pekerjaan menyiram buang. Wanita itu mengambil air dan menyiramkan air tersebut ke tanaman.


"Cantiknya bunganya." Lea bergumam sambil mengusap perutnya. Perut Lea membuncit dan hanya tinggal menghitung hari lagi dia akan melahirkan.


Zheaan pergi ke kantor. Orangtua Lea juga hari ini akan datang ke rumahnya setelah memastikan jika tinggal beberapa hari lagi Lea akan melahirkan.


"Assalamualaikum buk Ustadzah." Lea menatap ke arah sumber suara dan tersenyum melihat kedua sahabatnya itu berkunjung ke rumahnya.


"Wa'alaikumussalam. Perasaan kalian tiap hari ke sini."


Yessa dan Dinda menghela napas dan saling pandang. Sepertinya ada aroma-aroma pengusiran.


"Lo mau ngusir gue?"


"Bukan begitu tapi aku heran aja."


Lea pun sudah banyak mengalami perubahan. Dirinya lebih menggunakan bahasa yang sopan dan lembut untuk menyetarakan antara dia dan Zheaan.


"Bini ustadz kok gitu."


Lea menarik napas panjang dan terkekeh melihat temannya.


"Ayo masuk, tadi aku cuman bercanda," ucapnya dan mengajak teman-temannya tersebut masuk ke dalam rumah.


Dinda dan Yessa mengekor di belakang Lea dan masuk ke dalam rumah megah tersebut.


"MasyaAllah. Rumah orang kaya," ujar Dinda kagum dengan arsitektur megah rumah ini.


"Biasa aja kali Dinda. Kaya Lo baru pertama kali liat rumah beginian aja. Rumah lo aja mewah." Yessa menyindir Dinda yang menurutnya sangat alay tersebut.


"Ya i know. Tapi kan gak ada salahnya kalau misalnya gue kagum dengan rumah ini?"


"Gak ada yang salah cuman kelihatan norak dan alay."


"Astaghfirullah Yessa, beliau ini sangat halal untuk diruqyah."


Yessa melirik temannya tersebut dan tertawa ngakak kepada Lea. Lea benar-benar sudah sangat berubah. Berbeda dengan Lea yang dulu penuh dengan kebar-baran dan ceroboh.


Serta ratunya membuat ulah. Yessa dan Dinda kagum kepada Zheaan yang dapat mengubah perangai wanita itu.


"Akhirnya Gus bawa perangai baik juga buat lo. Syukur deh gue meskipun harus sedih pake banget," lirih Yessa.


"Gak boleh gitu. We should memberikan penghargaan for Lea. Girl support girl please," jawab Dinda sambil melirik Yessa.


"Oke si paling giril support girl."


"Sipaling-sipaling." Lea menggelengkan kepalanya. Hampir saja dia tergiur untuk ikutan bobrok bersama teman-temannya, tetapi Lea sangat sadar bahwa dia memiliki martabat yang harus dijaga. Tidak boleh seperti dulu lagi.


"Bentar aku ke dapur ngambilin minum buat kalian."


"Jangan lupa yah jus Alpukat."


Dinda pun menyahut, "dan gue jangan lupa jus semangka."


"Iya-iya. Ntar bibi yang bakal buatin."


"Yaampun bibi dong yang buatin. Gue kira tadi istri Ustadz ini."


Lea memutar bola matanya malas mendengar ocehan kedua temannya tersebut. Tampak sekali menyinggung dirinya. Kini Lea sadar Bagas korban-korbannya dulu dia bsginikan, persis seperti Lea dan Dinda yang salah menyindir tingkah laku kebaikannya.


Karena Lea sudah pernah merasa diposisi Yessa saat ini makanya dia tidak ambil pusing dan tahu bahwa Yessa hanya bercanda.


"Iya aku yang buatin."


"MasyaAllah istri Ustadz. Saya sangat terharu mendengarnya."


"Apaan sih. Norak banget lo. Kasian Lea tekanan batin gara-gara lo."


"Apakah saya terlihat peduli? Dia aja dulu sering buat gue tekanan batin."


"Kalau mau balas dendam itu bilang. Dan langsung aja nyebut gak suka sama Lea dulu."


Yessa menghela napas panjang. Dinda salah paham dengannya. Padahal dia tadi hanya bercanda.


"Santai neng. Jokes neng, Jokes! Aelah noh jok di motor lo," kesal Yessa.


"Oh."


"Oh doang?"

__ADS_1


"Emang lo mau gue balas kaya apa njirt."


"Dah serah lo gak mood gue. Gue pengen nungguin jus buatan Ning Lea."


Lea mengehela napas panjang dan kemudian ia pun masuk ke dapur untuk membuatkan minuman yang direquest oleh teman-temannya.


Senyum Yessa mengembang melihat Lea yang berjalan sambil membawa nampan.


"Nih minuman kalian berdua."


"MasyaAllah calon ibu satu ini."


Dinda menatap perut Lea yang sangat buncit. Dinda meringis membayangkan tubuh Lea yang kecil itu mengandung seorang bayi dan pastinya sangat keberatan.


"Lo nyesel gak sih hamil?"


"Hah? Nyesek. Tidak, Alhamdulillah atuh kalau hamil. Kata Gus itu rezeki dari Allah."


"Capek gak?" Dan Yessa tiba-tiba ikut nimbrung dengan melayangkan pertanyaan yang tidak masuk akal.


Dinda merasakan tangannya mengeras. Cewek itu menggeplak kepala bodoh orang tersebut.


"Memang otak Lo kayanya sungsang deh. Atau pas pembagian otak Lo ketiduran?"


"Ya maaf kan gue cuman nannya."


Dinda memutar bola matanya, "masalahnya pertanyaan lo itu tidak masuk di akal sehat anjay."


"Biasa aja kali Buk."


Yessa mendengus dan melirik Lea yang menyaksikan kedua temannya tengah bertengkar. Biasanya dia juga akan ikut bertengkar.


"Lo kalem kaya gini kaya bukan Lea yang gue kenal."


Lea meringis, "sebenarnya gue juga mau ikutan nimbrung. Tapi gue harus tetep kalem." Akhirnya Lea tak bisa lagi menahan dirinya. Ia pun menggunakan bahasa yang sering dipakainya saat berbincang dengan kedua temannya.


"Aelah. Kan keluar juga sifat aslinya."


"Ini yang aku malas."


"Lah kalem lagi."


"Ah sudah lah."


Lea menatap perutnya. "Mau sentuh gak? Nih calon ponakan kalian akhir-akhir ini enteng banget udah jarang nendang."


Dinda memberanikan diri menyentuh tangannya di area permukaan perut Lea.


Dinda merasakan ada yang menendang keras hingga membuat Lea terpekik saking sakitnya.


"Ya Allah Lea lo gak kenapa-kenapa?"


"Hayolo, gara-gara elo Dinda Lea sampe kaya gini." Wajah Dinda pucat pasi melihat Lea yang tengah merintih kesakitan.


"Salah gue ya?"


"Jelas salah lo lah."


Lea menatap teman-temannya dengan napas yang memburu. "Plis tolongin. Ini sakit banget."


Dinda dan Yessa bergerak cepat menolong Lea dan mulanya berniat ingin membawa Lea ke kamar, tetapi melihat air ketuban yang mengalir di kaki Lea membuat panik Yessa dan Dinda.


"Astaghfirullah lo sampe kencing kaya gitu Lea."


Dinda menatap Yessa. "Itu namanya air ketuban bodoh. Jadi Lea bentar lagi mau melahirkan."


"Laillah, ayo cepat bawa ke rumah sakit."


______________


Lea menatap putra pertamanya yang sedang diajarkan mengaji oleh Zheaan. Lea merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa karena dianugerahi seorang suami alim dan anak yang Sholeh.


Lea menatap anak yang ada di dalam dekapannya. Lea juga sedang hamil muda. Hampir tiap tahun Lea selalu hamil.


Wanita itu menarik napas panjang dan mendekati Zheaan.


"Azzam udah bisa hapalannya Nak?"


Azzam menatap ibunya. "Udah Umi, Azzam udah hapal 9 jus," ujar anak yang berumur tiga tahun itu dengan semangat.


"MasyaAllah, anak Umi pintar."


Azzam tertawa dan bangga dengan pencapaian dirinya. Tidak hanya Azzam yang bangga tetapi kedua orangtuanya apalagi.

__ADS_1


"Naura!!" panggil Zheaan kepada anaknya yang tengah anteng digendong Lea. "Ikut Abi?"


Lea melirik anaknya ingin melihat tanggapan Naura. Naura dengan semangat merentangkan tangan dan menyambut pelukan Abinya.


"Anak Abi banget." Zheaan dan Lea adalah dua visual yang tidak main-main. Kecantikan dan ketampanan keuda orang tersebut menghasilkan bibit unggul yang sangat luar biasa.


Wajah Naura dan Azzam memiliki rupa yang di atas rata-rata anak kecil.


"Umi," rengek Azzam dan memeluk Lea. Dia mengusap calon adiknya.


"Adek Azzam kapan lahir umi?"


"Kapan yah? Masih lama sayang. Sabar yah." Azzam mengangguk.


Lea mengusap kepala anaknya tersebut dan melihat Zheaan yang tengah asik berduaan dengan anak perempuannya.


"Abi, tadi Naura cuman tidur sebentar."


"Sabar Umi, Abi lagi mau sama Naura. Naura cantik banget sih, lebih cantikan Naura dari pada Umi."


Lea ingin tidak terima tetapi dia harus tetap terima. Wanita itu menarik napas cukup panjang dan menatap Zheaan dengan wajah cemberut.


"Ada yang cemburu. Padahal sama-sama cantik."


"Ish Abi mah." Lea menghirup napas panjang dan kemudian dia menatap anak sulungnya. "Nanti yang rajin belajarnya yah sayang. Besok sekolah, 'kan?" Azzam sudah masuk sekolah paud. Dia senang mempelajari agama sepertinya itu menurun dari Zheaan tidak darinya yang katro dengan agama.


"Iya Umi. Nanti Azzam mau mondok di tempat kakek aja."


Zheaan menatap anaknya tersebut. "Baiklah," ujar Zheaan setuju.


"Assalamualaikum!"


Zheaan dan Lea menatap ke arah luar.


"Umi biar Azzam aja yang bukain pintunya." Zheaan mengangguk dan Azzam yang mendapatkan lampu hijau dari ayahnya lantas berlari ke depan pintu utama.


"Wa'alaikumussalam," jawab Azzam dan membuka pintu.


Wajahnya seketika berubah sangat ceria melihat ada Tante dan kakeknya.


"Kakek, Nenek, Tante."


Azzam memeluk umi Sarni.


"MasyaAllah cucu Nenek udah besar."


Azzam mengangguk dan melihat tantenya yang membawa kado untuknya.


"Ini ada oleh-oleh dari Mesir buat Azzam." Azzam mengambil oleh-oleh pemberian dari Kansa.


"Makasih Tante. Tante, Nenek, dan Kakek masuk dulu."


Keluarganya tersebut masuk ke dalam rumah dan kebetulan Zheaan dan Lea keluar.


"MasyaAllah. Naura ponakan Tante cantik banget sih," ujar Salsa dan mengambil alih Naura dari Zheaan.


"Umi, Abi, Ning, duduk dulu. Kok gak bilang-bilang mau ke tempat Gus?"


"Gak kejutan dong."


Umi Sarni menatap perut Lea.


"Udah berapa bulan Lea?"


"Udah masuk bulan ketiga."


"Zheaan kuat juga," sahut kyai Akhyar yang membuat malu Zheaan.


Pria tersebut menarik napas panjang dan berusaha menyembunyikan kemerahan di pipinya.


"Abi."


"Udah-udah." Mereka pun tertawa bersama.


Kebahagiaan yang sangat luar biasa tengah dilanda oleh keluarga Zheaan. Lea yang dulu sempat mengira dirinya tidak pantas untuk menerima kebahagiaan itu kini tahu arti hidup sesungguhnya.


Menjadi lebih baik dan lembut dan apa adanya dan lebih mendekatkan diri ke Allah membuat Lea merasa lebih tenang dan nyaman. Lea sudah merasa nyaman dengan keputusan yang dipilih olehnya.


_________


Tamat


Terimakasih yang sudah mengikuti novel ini dari awal. Dan trailer ada di Ig amandaferina6.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah. Tungguin novel terbaru aku. Makasih yang selalu support novel-novel aku.


__ADS_2