
Dengan wajah senang yang tak bisa disembunyikan, Lea berjalan penuh semangat menuju ke asrama tempat tinggalnya.
Wanita itu bersenandung kecil sambil berlari dan melenggak-lenggokkan tubuhnya.
Tidak ada yang melihat Lea keluar dari Ndalem hingga ia pun sampai di depan pintu asrama.
Lea mengernyit melihat pintu itu tidak dikunci.
"Tumben, apa penghuninya pada keluar? Pagi banget," ucap Lea dan perlahan membuka pintu kamar tersebut. "ASTAGHFIRULLAH!! GHOST!!" Lea memang unik setelah mengucapkan kalimat suci ia pun langsung berkata kasar setelahnya.
"Ya Allah Lea. Gak boleh woy ngomong gitu."
"Lagian lo pade nape diam di depan pintu sambil plototin gue!"
"Kita mau introgasi lo!" ujar Dora dengan membawa sapu di tangannya.
Mereka menarik Lea masuk dan didudukan di atas sebuah kursi. Nia dan Dora serempak menatap sengit Lea dan mengintimidasinya.
"Biasa aja kali natapnya," ujar Lea sambil meringis.
"Abis dari mana lo?"
"Dari Ndalem." Nia dan Dora saling pandang. Ini kesekian kalinya Lea menginap di Ndalem.
Tentu beberapa pertanyaan mampir di otak keudanya. Sebuah keheranan membayang-bayangi Dora dan Nia sehingga kenapa bisa terjadi dan apa hubungan Lea dengan keluarga Kyai.
"Kok lo bisa nginap di sana lagi?"
Lea pun sadar ke mana arah pertanyaan Dora dan Nia. Ia mengehela napas dan berbisik di hatinya agar menyembunyikan itu di dalam hati sendirian.
"Gue ditawari oleh keluarga kyai tidur di sana. Karena gue merupakan salah satu keluarga kyai. Apa? Gak percaya? Tanya aja gus Zheaan!" ucap Lea lalu menghela napas dan beranjak dari tempat duduknya.
Ia melepaskan hijabnya hingga rambutnya yang indah terpampang. Dora dan Nia sampai insecure melihat kemolekan rambut Lea.
"Kalau begitu suatu hari nanti bisa titipkan salam kami?" tanya Nia dengan penuh harap.
Lea menatap mata Nia. Ia tahu ada perasaan yang dalam di netra itu. Lea merasa sedih tiba-tiba. Melihat penampilan Nia, sepertinya Nia lebih cocok untuk gus Zheaan, tidak sepertinya yang bukan apa-apa. Dia hanyalah gambaran seorang pendosa sesungguhnya.
"Iya. Pasti gue sampain, kalau ingat tapi," ujar Lea dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Kasur di sini beda banget dengan kasur di tempat gus Zheaan."
"Pasti enak banget ya?" tanya Nia penasaran. Ia hanyalah anak kampung, bahkan di rumahnya ia tidur di tikar.
"Ya enak banget lah."
"Jadi pengen juga gue tidur di Ndalem," ucap Dora sambil membayangkan kenyamanan berbaring di kasur empuk.
"Kalau beruntung. Hahahaha!" teriak Lea puas dan memejamkan matanya.
Dora mendengus tidak suka meski apa yang dikatakan Lea memang benar. Mereka tidak ada hubungan keluarga seperti Lea.
"Lea! Gus Zheaan kok bisa akrab cepat yah dengan wanita."
"Kan keluarganya. Liat aja dia sama adeknya dan kakaknya, akrab 'kan? Gak mungkin musuh-musuhan," kesal Lea terhadap Nia.
"Iya benar juga."
"Eh kita keluar bentar yuk. Healing," ajak Dora.
Lea orang yang paling semangat ketika diajak. Ia langsung bangun dan menyambar hijab instannya dan memakainya asal.
Meski begitu ia tetap sangat cantik dan membuat orang kagum melihat parasnya tapi tidak dengan perilakunya.
"Kuy lah!!"
Mereka keluar bersama dan membujuk Nia yang awalnya tidak mau ikut.
"Lo mau tinggal di sini sendirian?"
"Yaudah," sahut Lea dan hendak keluar dari kamar.
"Jangan gitulah, kita kan teman, jadi harus saling ajak."
"Lagian dia gak mau." Lea melirik Nia yang masih diam.
"Oke aku ikut."
"Nah gitu dong," ujar Lea dan mencolek pipi Nia.
"Ishh gak usah colek juga.'
__ADS_1
Mereka pun bersama-sama keluar dari asrama dan mengitari tempat santriwati yang memiliki pemandangan tak kalah indah dengan tempat santriwan menurut Lea yang sudah berpetualang ke tempat santriwan itu.
"Di sini adem banget. Apalagi ada ayunannya!"
Lea duduk di ayunan itu dan Dora bersama Nia cekatan langsung mendorong ayunan tersebut dengan kencang.
"Woy jangan kencang-kencang lah!! Gue bisa jatuh!!"
"Hahahaha rasain!! Nanti gantian, lo yang bakal dorongin gue!"
"Awas lo, pas giliran lo gue bakal dorong lo kencang-kencang. DORA!!!" teriak Lea yang frustasi betapa derasnya ayunan ini.
Ia berada di ambang mati dan hidup. Hanya waktu ke depannya yang menentukan takdir Lea bagaimana, apakah mati ataukah terjerembab ke tanah.
"GAK TAKUT!!"
"Udah ih Dora. Tidak baik, kasian Lea," ucap Nia lembut.
"Lo kasian sama Lea yang udah sering ngomong seenaknya ke elo?" Ingat itu bukan sebuah kebencian tapi keheranan.
"Sesama manusia kita itu harus saling memaafkan. Lagipula aku tau Lea tidak serius."
"DENGERIN NOH!!" teriak Lea kesal.
Lihat saja dirinya kacau begini, siapa peduli?
Ayunan itu pun dihentikan. Lea turun dan langsung berpelukan dengan tanah. Ia merasakan pusing dan sekaligus perutnya bak diaduk-aduk.
"Gue masih hidup?"
"Man Rabbuka!" teriak Dora menakut-nakuti Lea dari atas.
"Ampun jangan tanyain gue. Gue masih mau hidup."
"Dora, tidak boleh seperti itu." Nia mendekati Lea dan membantunya bangun, "kamu tidak apa-apa?"
"Lo liat gue apa lagi baik-baik aja Nia?" tatap Lea dengan raut wajah sedih.
"ASTAGHFIRULLAH DASAR KALIAN!! INI LINGKUNGAN SEKOLAH, DAN KAMU MALAH MEMBUKA HIJAB?" teriak senior yang sudah lama mengabdi di pesantren itu.
Lea menatap hijabnya. Ia baru sadar jika baru saja membuka hijab akibat rasa mulanya.
"Santai kak. Gue bentar doang kok bukanya. Nih gue tutup, lagian cuman lo doang yang liat."
"Gak usah tunjuk-tunjuk gue kali Kak."
"INI PESANTREN! BAHASA LO GUE TIDAK DIPAKAI DI SINI! DITAMBAH BAHASA SEPERTI ITU TIDAK SOPAN DAN TIDAK MENGHORMATI SENIOR."
"Oh?"
Lea menatap polos wajah seniornya yang sangat geram dengan jawabannya.
"KAMU!! DASAR ANAK NAKAL KAMU YAH! KAMU TAHU TEMPAT INI MUNGKIN SUDHA MUAK MENAMPUNG ORANG KAYA KAMU! UDAH SERING DIHUKUM TIDAK SADAR-SADAR!! DASAR ANAK NAKAL! INGAT ORANGTUA MU SAJA MUNGKIN SUDAH LELAH NGURUSIN KAMU YANG NAKAL GINI! BERTOBATLAH!" marah Tsania.
"LO!! APA-APAAN MAKSUD LO!"
"Lea sudah. Kamu minta maaf saja sama kak Tsania," tengah Nia menenangkan emosi Lea.
"Gak. Ngapain gue minta maaf sama orang modelan dia?" jijik Lea sambil menatap Tsania yang merupakan seniornya itu.
"Kamu Benar-benar Yah!"
Tsania hendak menarik tangan Lea membawa ke Ustadzah Alma, oleh Lea dia hempaskan dan menatap berani Tsania.
"Lo pikir gue babu lo?"
Lea mendorong tubuh Tsania yang membuat Tsania marah dan tersulut emosi.
Ia melawan Lea dan memukulnya hingga perkelahian itu berlangsung sengit.
Nia inisiatif cepat melapor ke ustadzah dan Dora berusaha memisahkan Lea dan Tsania.
"Lea sudah."
"Jangan ikut campur masalah gue," tekan Lea. "Senior kaya dia memang wajib dibasmi."
Lea kembali berkelahi dengan Tsania. Suara jeritan wanita dari kedua orang itu menggema di tempat itu.
"ASTAGHFIRULLAH KALIAN!!" teriak ustadzah Alma dengan marah. "IKUT KE RUANGAN SAYA, BENAR-BENAR KETERLALUAN KAMU. APALAGI KAMU LEA! SAYA CAPEK DENGAN KAMU!
__ADS_1
Lea menatap ustadzah Alma dengan mata memerah. Kenapa hanya dia yang dimarahi? Sejahat itukah Lea?
_________
"LIMA PULUH!!" teriak orang yang menjadi tukang juru hitung saat punggung Lea dipukul oleh ustadzah Alma dnegan rotan di depan orang banyak.
Lea memejamkan mata tak sanggup menahan malu. Tidak hanya santriwati yang menontonnya dan santri putra juga dibiarkan melihat dirinya yang menggenaskan.
Ustadzah Alma menghentikan pukulannya. Tubuh Lea terdapat bercak darah akibat dari pukulan yang kuat hingga membuat punggungnya terkelupas.
"Hahahha!" tawa orang-orang.
Dora dan Nia hanya bisa memandang sedih tanpa bisa membantu.
"Beginikah mereka memperlakukan manusia seperti binatang? Tega sekali." batin Lea merintih.
Hanya Lea yang dihukum tidak dengan Tsania. Ia dibiarkan, sedangkan Lea karena ulahnya yang sudah tak terhitung jumlahnya makanya ia dipukuli dengan rotan.
"Huuuu!!" teriak orang menyoraki Lea.
Rafkha yang melihat itu mengepalkan tangannya.
"KALIAN SEMUA DIAM!! DI MANA HATI NURANI KALIAN DI SAAT SEORANG WANITA DIPUKUL DAN KALIAN HANYA MENERTAWAKAN. MIRIS SEKALI! APAKAH RASULULLAH PERNAH MENGAJARI ITU PADA UMAT ISLAM? APAKAH KALIAN TIDAK TAKUT TEMPAT INI TIDAK DILIRIK RASULALLAH KARENA PERBUATAN KALIAN?!!" teriak lantang Rafkha kepada teman prianya.
"Rasullullah juga tidak mengajari umatnya berpacaran."
Mereka sengaja menyindir Rafkha mengira bahwa Rafkha berpacaran dengan Lea apalagi saat Rafkha membela Lea malah makin membuat dugaan itu kuat.
Lea memejamkan matanya dan berdiri. Ia tidak menyangka Rafkha melakukan itu.
Lea dengan air mata menetes menatap ustadzah Alma dengan lama. Wanita itu bahkan tidak pernah mengadilinya terlebih dahulu dan menindak dirinya tanpa berdiskusi dengan ustad dan ustadzah lain.
Lea mengepalkan tangannya penuh dendam. Ia menatap orang-orang yang menghinanya hari ini. Lea bakal ingat mereka dan tidak akan pernah memaafkannya.
Ia berjalan lemah dan menuju ke tempat Ndalem. Orang-orang di Ndalem tidak tahu apa yang sudah terjadi.
Sengaja mereka tidak memberitahu sebab Kyai Akhyar bakal tidak menyukai tindakan itu.
Sedangkan Alma sudah geram dengan Lea dan ingin Lea mendapatkan hukuman itu sudah dari lama.
"Mereka semua jahat. Lea pengen pulang."
"Lea ayo balik ke asrama, gue dan Nia bakal obatin luka lo."
"Kenapa? Lea tidak mau. Lea ingin memenuhi sesuatu," ucap Lea dengan mata memerah.
"Maafkan kami tidak bisa menolong kamu. Kamu masih bisa jalan?" tanya Nia.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, kalian pergilah dulu ke asrama."
"LEA LO BARU AJA DIPUKUL DAN TUBUH LO SAMPE LUKA! SEHARUSNYA LO KE UKS LEA!" ujar Dora sambil menangis.
"Tidak, gue ada janji sebentar."
Lea melanjutkan jalannya menuju Ndalem. Saat mengetuk pintu, Zheaan orang yang pertama kali membuka pintu dan ia terkejut melihat Lea.
"Ya Allah. Apa yang sedang terjadi. Kenapa kamu pucat sekali Lea? Ya Allah ini kenapa kamu sampai berdarah."
"Gus," rintih Lea dan memeluk tubuh Zheaan. "Hiks, Lea salah. Lea benar buat ulah, sesuai dengan ucapan Gus, saya bakal ke tempat ini dan meminta Gus membantu saya menghapali surat Al-kahfi."
"Lea, apa yang sebenernya terjadi? Kenapa kamu sampai begini?"
"Gus! Saya lelah." Lea menutup matanya dengan nyaman.
"GUS!!" teriak Ning Kansa sambil berlari.
Kansa terdiam melihat Lea yang sudah jatuh dalam pelukan Zheaan. Zheaan juga terlihat sedang meneteskan air mata.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam. Maaf Gus, Ning lupa ucapin karena Ning lagi syok."
"Ada apa Teh?"
"Teteh dengar..." Kansa menatap Lea. "Ustadzah Alma menghukum Lea dengan memukul lima puluh kali menggunakan rotan tanpa berdiskusi dengan ustadzah lain."
Wajah Zheaan memerah. Ia mengepalkan tangannya marah.
_________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA