Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
1. Arti Malam Pergantian Tahun


__ADS_3

Sreeek!


Anna menggeser pintu kamar Ibunya yang setengah terbuka. Di dalam nampak Ibunya sedang berpelukan dengan pria berkulit sawo matang. Mereka saling beradu bibir satu sama lain, mengisap, merasakan kelembaban yang penuh kenikmatan. Mereka bahkan saling melucuti pakaian satu sama lain dan melepasnya ke sembarang tempat.


Gadis kecil itu nampak terpaku. Diam menatap Ibunya dengan tubuh hampir tak bisa digerakkan. Matanya membulat dengan tenggorokan sedikit bergerak menandakan air liurnya baru saja terjun bebas. Gadis itu sudah berumur 8 tahun, dia sudah cukup paham bahkan lebih paham dari anak seusianya tentang kegiatan apa yang sedang dilakukan Ibunya bersama pria itu.


"Anna? Kamu di sini nak?" tanya Ibunya dengan salah satu tangan menopang di samping ranjang. Tangan lainnya melingkar di leher pria asing yang memeluknya erat.


Anna si gadis kecil polos itu hanya mengangguk pelan. Rambut panjangnya bergerak sedikit tertiup angin semilir yang berlari masuk melalu jendela kamar. Jendela itu nampak terbuka lebar.


"Duduk di situ nak, lihat bagaimana cara Ibu melayani pria ini."


"Dia anakmu?" tanya pria asing itu sesaat, kemudian melanjutkan menempelkan bibirnya pada wanita itu. Lidahnya kembali lanjut menjelajahi seluruh isi mulutnya. Nafas mereka saling memburu, mendesah beberapa kali. Ngh....


Anna gadis kecil itu melangkah pelan menuju kursi yang baru saja ditunjuk Ibunya, dia duduk di sana mengamati Ibunya dan pria itu melakukan seluruh ritual mereka.


"Nghh, Anna?!" panggil Ibunya masih dengan geraman pelan akibat tangan kekar pria asing itu memasukkan tangannya ke lubang kecil berlendir miliknya.


"Kamu lihat ini, perhatikan baik-baik." Ibu Anna mendorong dada pria itu menggiringnya menempel pada dinding. Pria asing itu menerima respon lalu menggiring tubuh wanita paruh baya itu untuk kembali ke kasur namun kali ini mereka melakukannya dengan posisi duduk.


Terlihat jelas di mata Anna bagaimana pria itu menjilati seluruh tubuh Ibunya yang sudah tidak lagi berbusana itu. Menjijikan! Anna menutup mulutnya hampir muntah. Bau keringat pria itu melekat di hidungnya membuatnya seperti tercekik.


"Anna? Nak, lihat Ibu...."


Di balik pelukan pria itu Ibunya tersenyum pada Anna sambil berusaha menahan rasa sakit juga penuh kenikmatan. Anna tidak tersenyum balik. Dia malah berusaha menahan perih di matanya, tak sanggup melihat Ibunya yang nampak aneh. "Ini kali terakhir nak, sudah cukup kamu melihatnya. Sudah keberapa kali ini?" tanyanya sambil masih lanjut melayani pria itu.


Pria asing itu nampak keasikan menikmati kelihaian wanita ****** yang sedang melayaninya tanpa dibayar sepersen pun. Dia tidak peduli pada percakapan antara Ibu dan anak itu. Di matanya, wanita ****** ini sedang mengajarkan anaknya untuk menjadi penerusnya, pelacur.


"Sudah berapa kali? Ibu menyuruhmu untuk menghitungnya!" gertaknya sambil menahan teriakan kecil karena pria asing itu telah menggigit lehernya dengan kasar.


Dengan tangan gemetar Anna mengangkat kesepuluh jarinya, menunjukan pada Ibunya yang sedang berusaha untuk tetap menghadap padanya.


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan 'kan? Ibu sudah mengajarimu, lakukan itu nak...."

__ADS_1


Anna mengangguk pelan lalu memakai kalung yang digenggamnya sedari tadi. Nampak kalung itu berkilauan diterpa sinar bulan yang masuk. Liontin biru berbentuk kupu-kupu itu nampak cocok di lehernya.


"Bagus nak...." ucap Ibunya sambil tersenyum dan hampir menangis.


Dia kini dengan ganas balas menggigit punggung pria itu lebih kasar berkali-kali lipat.


"Apa mungkin ada wanita yang dengan suka rela mau melayanimu?" bisiknya menggoda. Ibu Anna memulai aksinya.


"Tentu saja tidak, kamu satu-satunya wanita seperti itu di dunia ini. Hahaha...." balas pria asing itu dengan nafas menderu penuh nafsu.


"Apa kamu bahagia dengan wanita itu?" Pertanyaannya berubah ke pertanyaan yang lebih serius mengikuti setiap gerakan mereka.


"Tentu saja, dia memberiku segalanya. Uang, kekuasaan, juga kenikmatan, dia bahkan tengah mengandung anak penerus kami. Makanya aku mau tergoda oleh rayuanmu. Meski kamu begitu lihai, tapi semua yang kita lakukan ini tidak didasari atas cinta. Aku lebih suka melakukannya bersama istriku. Aku tidak kesusahan saat menyatukan itu dengan punyamu. Sudah berapa pria yang kau layani hari ini?"


"Kamu tidak tahu siapa aku?"


Pria itu berhenti sesaat, dia menatap wanita itu sambil mengatur nafasnya.


"Butterfly...!" bisik lirih Ibu Anna lalu dengan sigap mengambil pistol di bawah bantal dan langsung menembakkannya ke pria itu tanpa ragu.


"Dia anakmu, anak kita. Anak yang katanya akan menjadi anak paling bahagia di dunia. Apa kamu ingat? 17 tahun lalu saat hidupku masih normal, sampai kau datang untuk menghancurkannya? Aku pikir kau pria tulus yang mencintaiku, ternyata kau bencana yang menghancurkan semuanya. Tidak hanya kebahagianku kau bahkan merenggut semuanya hanya karena harta? Aku begitu bodoh memercayai cinta seorang pria miskin yang kemudian membalik semuanya. Apa enak hidup bergelimang harta dengan perusahaan yang dibangun keluargaku? Kamu harus ingat, gadis kecil itu berhak mewarisi seluruh kekayaan yang sudah dibangun Ayah dan Ibuku dengan susah payah. Pria sampah...." Wanita itu menarik pelatuk dan membebaskan satu tembakan lagi.


Kepalanya lalu memutar dan menoleh pada Anna. "Sayang, sekarang Ibu serahkan semuanya padamu..." bisiknya pelan, menatap Anna yang duduk gemetar, syok, sambil menahan air matanya.


Wanita itu kemudian mengarahkan pistol ke pelipisnya dan menarik pelatuk tanpa ragu.


Duaaarrr...!


Bersamaan dengan itu bunyi petasan di luar rumah meramaikan suasana. Happy new year...! Teriak semua orang dari berbagai penjuru dunia.


Alaram putih di samping kasur berderit melengking keras menunjukan pukul 00.00. Anna diam terpaku mencerna semua kejadian itu kembali. Matanya kosong mengamati aliran darah yang mengotori lantai keramik di kamar itu. Seketika kepalanya pusing. Dia melangkah pelan mendekati Ibunya lalu jatuh tersungkur di sana berharap mati bersama Ibu juga pria yang mungkin saja adalah Ayah biologisnya. Melupakan semuanya....


Pintu apartemen itu sedikit terbuka. Dari luar nampak seorang bocah yang umurnya lebih tua enam tahun dari Anna, mengenakan jaket bulu domba sedang mengintip dari luar dengan nafas tercekal. Dia masih menimbang niat, apakah harus melangkah masuk untuk membawa Anna segera keluar dari sana.

__ADS_1


"Ayo pergi dari sini!" Seorang pria bermata sipit menghampiri lalu menarik baju bocah itu dengan paksa.


"Pappa! Anna!" tangis bocah laki-laki itu berusaha menarik badannya kembali, memberontak untuk masuk.


"Bodoh! Ayo!" Pria bermata sipit itu semakin menarik paksa lengan anaknya.


"Anna! Pappa...!"


Karena terus memberontak, pria bermata sipit sedikit botak itu langsung menggendong paksa anaknya. Membawanya segera pergi dari sana.


"Anna!" teriak bocah itu sambil memukul-mukul punggung Pappanya yang tidak peduli sama sekali dengan teriakannya, malah membawanya semakin jauh dari lorong apartemen tempat tinggal gadis yang ia sukai.


Anna!


Pria bermata sipit itu langsung memasukkan anaknya ke dalam mobil dengan paksa. Tidak peduli sekeras apa dia berteriak, bahkan ia berusaha menggedor-gedor pintu mobil yang langsung dikunci Pappanya.


"Pappa tidak mau tahu! Kau tidak boleh lagi ke sini!" bentaknya mengancam.


"Anna!" tangis bocah itu lebih kencang dari yang tadi. Matanya terus menatap ke jendela apartemen tempat Anna kecil sedang pingsan.


"Pappa, kakak Chen kenapa?" tanya nyaring bocah lain yang duduk bersebelahan dengan bocah yang masih terus menangis dengan keras itu.


"Atzlan, dengarkan Pappa. Kamu tidak boleh mencontoh perbuatan kakakmu kali ini. Ingat! wanita adalah musuhmu. Jangan sekali-kali kau mencoba mendekat. Jangan pula mengenal. Pappa melarang keras kalian untuk bergaul dengan wanita!" bentak pria bermata sipit itu lagi.


Dengan polos Atzlan mengelus lembut kepala kakaknya yang masih menangis terisak. "Pappa! Wanita itu apa? Bukankah Kakak Min Ming juga seorang wanita?" Mata indah bocah itu berbinar menatap wajah Pappanya dari kaca tengah mobil.


Mendengar itu Pappanya langsung mengelus kesal wajahnya sendiri. Entah bagaimana dia akan menjawab pertanyaan anak angkatnya itu. Mengingat umurnya saat ini masih di bawah umur sehingga perlu perumpamaan yang dia sendiri tidak tahu harus mengumpamakannya seperti apa.


Untung saja dari depan terdengar auman sirine mobil polisi yang beriringan dengan ambulance. Pria bermata sipit itu menarik nafas lega.


"Pappa sudah memanggil orang dewasa untuk mengurusnya. Dia akan aman jadi diamlah...." ujar pria bermata sipit itu dan langsung menginjak pedal gas.


"Pappa juga orang dewasa. Aku juga setahun lagi akan dewasa! Kenapa tidak kita saja yang menyelamatkannya!" bentak balik bocah berjaket bulu domba itu sambil menendang jok kursi ayahnya lalu menendang pintu mobil dengan sekuat mungkin.

__ADS_1


"Chen Ming!" teriak Pappanya yang sudah tidak bisa sabar lagi.


"Siapa Anna? Apa dia wanita berbahaya?" Atzlan menatap ke bangunan tinggi apartemen itu. Lentik bulu matanya yang indah sayup memanggil kemilau bintang.


__ADS_2