Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
25. Tuan dan Nona Muda


__ADS_3

Hura-hara jatuhnya saham dan pengangkatan CEO baru menjadi topik yang paling hits dibicarakan. Kabar gagal bersatunya dua perusahaan raksasa yang digadung-gadung akan mengontrol seluruh urusan ekonomi dalam dan luar, maupun pelosok negeri ini. Bukan persoalan duka cita atas kematian tuan muda pewaris perusahaan LionJal yang menjadi sorotan tapi keberadaan Anna sebagai gadis sundal pembawa sial menjadi cibiran orang-orang. Seluruh artikel kini mengganti tagline judul topik ter-hot untuk diperbincangkan, para penulis artikel juga membaca kondisi pasar dan sengaja memanasi penikmat berita gosip tentang si Anna sundal yang membawa mala petaka. Di kondisi seperti ini orang-orang hanya butuh kambing hitam untuk di salahkan terlepas dari keseluruhan fakta dark yang tertutupi.


"Selamat pagi menjelang siang semuanya, saya adalah Atzlan yang akan menjadi pemimpin baru di perusahaan ini," sapa pria tinggi yang memaksa semua orang agar mendongkak ke atas untuk menangkap rupanya.


Pria dengan tinggi 183 cm itu tersenyum lembut lalu melanjutkan kalimatnya "Penerbangan sempat terganggu, maaf sudah terlambat, kalian pasti sudah menunggu lama," ujarnya lagi sambil menaikkan kadar gula disenyumannya. Mata pria itu yang melengkung tak terlihat saat tersenyum membuat wanita tua dan muda dalam ruangan itu seperti akan terbang untuk mempersembahkan hati mereka yang tersipu.


"Apa dia manusia?"


"Dia tampan sekaligus berwibawa."


"Oh... wanita beruntung mana yang akan menjadi kekasihnya?"


"Apa dia masih lajang?"


Seisi ruang sedikit riuh akibat cekikikan wanita muda dan tua yang berjas kasual dan baru saja kehilangan wibawa.


Ehhemm!


Ayah Meihan sedikit berdehem agar rapat pengangkatan CEO baru itu berjalan sesuai rencana, sesuai rencananya yang akan dimanipulasi kapan saja.


"Hahahaha, aku berharap dengan berdirinya kakiku di podium ini menjadi angin segar sekaligus penyejuk atas nama perusahaan LionJal dan kontrol akan jatuhnya harga saham yang terjun bebas seperti tidak akan terselamatkan. Mari saling melengkapi untuk membangun kembali roket perusahaan sehingga stabil dan melecit tinggi. Aku siap dan kalian juga harus bersiap untuk melangkah lebih lebar sedikit jauh dan membangun kembali perusahaan ini."


Suara tepuk tangan menuntun turunya pria dengan kaki jenjang itu melangkah mantap ke luar dari ruangan setelah mencapai kesepakatan bersama. Dia seperti selebriti dari negeri dongeng. Kalau ada negeri dongeng yang berkiblat pada perusahaan Disney yang selalu menjadi cerita manis anak manis, maka pria itu adalah jelmaannya. Tak ada satu orangpun yang rela melempar pandangan ke tempat lain ketika dia lewat sambil menyapa ramah dengan senyuman yang bisa membuat orang mendadak diabetes. Bahkan petugas keamanan yang berdiri di sana hampir pingsan karena kalah saing.


"Apa kau ingin mengunjungi nona muda Anna?" Bisik sekretarisnya.


"Tidak perlu," balasnya sambil masuk ke dalam mobil mengkilat. Lambaian perpisahan juga senyuman membuat keramaian di sana merasa seperti baru ditinggal kekasih pujaan.


"Cepat atau lambat anda harus menyapanya," ujar sekretarisnya lagi sambil menyetir dengan fokus.


"Reputasinya terlalu buruk, sudah cukup dia membuat perusahaan hampir diambang kehancuran. Lihat judul reklame itu," balasnya lagi sambil mengamati beberapa kalimat yang ditulis di kain putih dengan tinta merah.


"Kami menolak keberadaan si sundal Anna!"

__ADS_1


"Kami bertaruh bahwa Anna adalah pembawa bencana!"


"Segera asingkan gadis sundal itu!"


Mata lembutnya terus tertuju pada kalimat-kalimat menyeramkan itu. Tiba-tiba hatinya yang penuh dengan rasa kemanusiaan yang tinggi tergerak untuk beropini.


"Apa gadis itu baik-baik saja?" Ujarnya kemudian.


"Tuan ingin mengunjunginya?"


"Apa itu perlu?" jawabnya sambil memperbaiki posisi duduk.


"Iya tuan, bagaimanapun dia masih pemegang saham terbesar di perusahaan. Anda hanya menggantikannya agar perusahaan terselamatkan," terang sekretarisnya itu dengan mimik tanpa ekspresi.


"Baiklah, mari temui nona muda untuk menyenangkan hatinya," pungkasnya.


"Baik tuan."


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu Guntur!" Geramnya sambil menendang jok tempat duduk sekretarisnya itu.


"Kita hanya sedang bermain-main di sini, nikmati liburmu Guntur dan berhenti memanggilku tuan saat hanya ada kita berdua. Kau berulah lagi, sejak kapan aku menjadi tuanmu?" Pekiknya lagi sambil duduk memelas.


"Baik tuan," jawabnya tanpa ampun dan tidak patuh.


Atzlan pasrah dan menendang sekali lagi jok tempat duduk sekretarisnya itu sebagai bentuk serangan terakhirnya. Tentu saja Guntur tanpa sedikitpun rasa gusar, ekspresinya masih sama tanpa ada takaran yang kurang. Datar juga tanpa ekspresi. Dia seperti robot milenial.


"Kita hampir sampai tuan," ucap sekretarisnya itu saat membelokkan stir mobil. Dia menekan tombol pada benda di telinganya seperti mengkoordinasikan sesuatu.


Tepat saat itu Anna sedang di halaman rumah yang masih terlihat sedikit kacau karena beberapa properti untuk pernikahannya yang batal dua hari lalu masih ada yang tertinggal dan masih belum di angkut pergi dari sana.


Gaun putih selutut yang dikenakan Anna sedikit berkibar mengikuti uraian rambutnya yang ikut terhuyung mengikuti alunan angin. Tangannya sibuk memercik air yang keluar dari selang di tangan kanannya. Senyum kosong namun damai terlukis memorial di bibirnya.


"Apa dia nona muda yang akan kita temui?" Ucap Atzlan yang sempat tertegun menyaksikan gadis itu.

__ADS_1


"Iya tuan, dia nona muda Anna, pemilik tunggal perusahaan LionJang," terang Guntur yang ikut menyaksikan setiap lembut gerakan Anna.


Atzlan mengangguk dan hendak keluar tapi gerakannya berhenti kemudian.


Anna tersenyum khidmat ketika sebuah tangan kekar melingkar di pinggannya dan kepala seorang pria muncul dan langsung bersandar di pundak mungilnya. Mereka hanyut dalam definisi dunia milik berdua.


"Siap dia?" Tanya Atzlan tanpa menyembunyikan rasa sedikit kecewa.


"Dia pria yang hampir menjadi suaminya. Calon penerus perusahaan Phoenix, Meihan."


"Bukannya kabar angin terlalu segar? Katanya mereka dijodohkan, lalu kenapa meraka bermesraan di situ seperti sudah lama memupuk cinta?" Atzlan membuang mukanya ketika melihat gadis yang sempat mencuri pusat perhatiannya itu, dia kini tersenyum sambil menyirami Meihan yang terlihat kewalahan untuk menghindari guyuran Anna.


Salah satu urat wajah sekretarisnya itu tertarik membentuk sedikit senyuman "Definisi cinta seperti apa yang perlu dijelaskan oleh pria setia sepertimu? Bukannya kau sendiri yang lebih tahu cinta itu seperti apa?" Jelasnya sambil melonggarkan kembali satu urat wajahnya yang sempat tertarik.


Atzlan sibuk memerangi ingatannya yang dipenuhi wajah seorang gadis. Dia gusar dan menutup matanya agar pikirannya tenang.


"Sudah saatnya Lan, lepaskan dia untuk dikenang. Aku tidak bisa terlalu lama memupuk rasa bersalahku terhadap semua yang terjadi." Guntur mengamati wajah Atzlan dari kaca yang perlahan dibuat merah oleh kenangan yang hitam.


"Pergi dari sini, aku tidak akan menjupainya lagi. Kemitraan tidak tersepakati. Dia seperti yang dibicarakan orang, boneka perusahaan," ketusnya sambil masih mengusir bayangan gadis lain dalam ingatannya.


"Baik tuan." Guntur menarik pedal gas sesuai suasana hati tuannya sehingga terdengar mengaung untuk mengganggu asmara pasangan yang sedang basah-basahan itu.


Anna bereaksi, dia menatap mobil itu menjauh dan setkilas wajah Atzlan tergambar dari balik kaca jendela anti peluru itu.


"Siapa dia?" Batin Anna terlonjak.


Meihan menghampirinya yang kebingungan. Dia menyipratkan air yang masih tersisa di sela-sela jarinya ke wajah Anna. Rasa hambar sejenak merambat menusuk hati gadis di depannya itu. Semua itu sangat nampak terlihat dari setiap segi wajahnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Meihan dengan tatapan jinak dan lebih dalam.


"Hari akan hujan. Rafah pasti akan kedinginan di bawah sana," balas Anna mengalihkan penglihatannya yang sebelum itu tertuju ke mobil Atzlan dan melihat langit yang perlahan ramai ditutupi ribuan awan dari timur.


Meihan menghela nafas panjang lalu menempelkan bibirnya ke bibir Anna. Tanpa ragu dia ******* nya dengan lembut. Anna pasrah di posisinya, meski sebenarnya di sedang tidak menginginkan itu.

__ADS_1


Sihir apa itu? Kenapa begitu dahsyat dan membuatku jatuh pada lubang cinta hingga terkontrol dan menjadi budak atas nafsunya.


Kenapa aku bisa mencintaimu?


__ADS_2