
"Pengumuman itu tidak terlalu mengejutkan. Tingkah Ibu yang lebih mengejutkan. Dia mendekatiku lalu memelukku dengan hangat kemudian lanjut berbicara, 'berpura-pura sedikit terisak.'"
Semua mata melihat ke arah mereka.
"Anna berhak untuk berbahagia. Dia tidak tahu apa-apa. Aku begitu menginginkan seorang putri saat mengandung Rafah, aku bahkan berharap bayiku lahir kembar. Tapi Tuhan menjawab semuanya dengan kedatang Anna, meski sekaligus membawa kabar duka dengan kepergian suamiku tercinta. Tapi semua ini bukan salah Anna. Kalian harus memakluminya."
Semua orang bertepuk tangan atas penyampaian singkat Ibu yang sok bijaksana itu. Dia kemudian berbalik tersenyum pada Anna. Lalu menarik tangannya menyatukan tangan itu dengan tangan pria yang berdiri tepat di samping Rafah. Anna tersenyum, hatinya menangis. Ia memberanikan diri menoleh ke samping melihat ke pria yang tidak sedikit pun mau melihat kearahnya. Dia hanya menggenggam paksa tangan Anna.
"Lakukan tugasmu dengan baik, setidaknya berbalik dan senyum kepadaku. Apa semua orang sangat suka menghinaku?" bisik Anna pelan, membuang harga dirinya. Ia hanya tidak tahan karena semua orang hampir menertawakannya.
Pria itu tersenyum kecut. Lalu melepas genggamannya dan melingkarkan tangannya ke pinggang Anna secara tiba-tiba.
"Aku akan menjaga dengan baik," ujarnya sambil membungkuk di depan Ibu tiri Anna.
Anna syok setengah mati, reaksi pria itu terlalu berlebihan. Apa yang baru saja dia lakukan? Anna bahkan merasa tidak tahu siapa nama pria itu. Menjaganya dengan baik? Omong kosong yang sangat hampa. Anna tersenyum paksa lagi, setidaknya semua yang dilakukan pria itu bisa sedikit menutup mulut orang-orang yang sedang ancang-ancang memakinya lagi.
Pria itu kini berbalik menatapnya sebentar dan begitu saja mencium keningnya tanpa aba-aba. Sontak Anna lagi-lagi dibuat terkejut setengah mati. Waktu disekitarnya seperti terhenti sesaat. Dan kejadian berikutnya amat memilukan. Anna refleks mendorong dada Meihan dengan keras hingga ia jatuh tersungkur ke lantai. Dadanya langsung sesak, aroma maskulin dari pria itu secara ajaib membuatnya mengingat kembali 10 malam terakhir sebelum malam itu. Dia seperti mendengar teriakan kecil Ibunya, lalu suara itu berputar cepat mereka ulang semuanya. Tragis.
Rafah yang melihat itu langsung dengan cepat memeluk Anna yang ketakutan. Ia tahu apa yang terjadi pada adik tirinya itu.
Anna yang tahu kalau pria itu adalah Rafah langsung menjerit dan menangis di pelukannya.
Ruangan itu sontak hening sesaat sebelum akhirnya pecah oleh suara Ibu tiri Anna yang langsung meminta maaf.
Kepala pelayan dan beberapa pelayan lainnya datang dan dengan cepat menggiring tubuh Anna untuk dibawa pergi dari sana. Rafah juga hendak pergi sebelum akhirnya dicegat oleh Ibunya. "Kamu tidak boleh terlibat dengan wanita sialan itu!" geraman Ibunya berhasil membuatnya berhenti melangkah.
"Kami mohon maaf atas kejadian ini. Anna memang sangat waspada dengan orang yang baru saja dia kenal. Meihan mohon maafkan ketidak sopanan Anna," ujarnya setengah menahan rasa canggung.
Meihan mengangguk pelan sambil memperbaiki jasnya juga beberapa kali berdehem menghilangkan rasa malu.
Pesta penyambutan itu kini sudah berakhir meski sedikit canggung. Ibu tiri Anna dengan cepat melangkah menuju kamar Anna dengan wajah merah padam. Dia mempercepat langkahnya sampai-sampai suara sepatunya berseru menggertak seisi rumah.
"Anna!" teriaknya ketika sampai di depan pintu kamar. Dia langsung mendobrak pintu itu dengan keras lalu menghampiri Anna yang sedang terkulai lemah di atas tempat tidurnya.
"Bangun kamu!" pekiknya dengan lantang sambil menarik tangannya dengan paksa.
Anna yang setengah tidak punya tenaga lagi hanya mendengar pasrah dan merintih pelan meminta untuk dikasihani.
"Maaf Ibu, aku mengacaukannya...."
__ADS_1
Satu tamparan mendarat di pipinya tak tanggung-tanggung.
"Kamu tahu bagaimana sulitnya aku membujuk Ayah Meihan? Kami membuat kesepakatan karena Meihan sendiri yang bersedia. Tapi apa yang kamu lakukan? Bangun kamu!" teriak wanita itu sambil menarik tangan Anna hingga membuatnya terpaksa duduk di samping ranjang dengan pasrah.
"Maaf Ibu, aku hanya...."
Belum selesai ia menyelesaikan kalimatnya ibu tirinya langsung menamparnya lagi dengan keras.
"Kamu jangan sok suci, anak haram seperti kamu hanya menjadi aib di keluarga ini. Masih syukur aku mencarikan kamu pria baik dari keluarga terpandang," pungkasnya penuh emosi.
"Hahaha...." Anna tertawa pelan merasa pelintir takdirnya tidak adil lagi.
"Kamu masih sempat tersenyum? Tertawa? Tidak tahu malu!" Dia mengangkat salah satu tangannya lagi dan siap menampar Anna untuk yang kesekian.
Mata Anna memerah. "Apa kamu tahu bagaimana Ibuku mendidikku? Dia bilang hanya perlu menjadi kuat dan lebih kuat lagi. Aku hanya perlu kuat sampai aku benar-benar kuat untuk membuktikan, kalau selama ini Ibuku dan aku tidak bersalahbersalah! Penghianat seperti kalian harus panjang umur dan mendapati balasan setimpal yang sesungguhnya," bantahnya lirih sambil menahan perih di pipi kanannya.
"Kurang ajar kamu yah...!" Dia hendak melayangkan tamparan yang kesekian, berikutnya, tapi tamparan itu digagalkan sekian detik kemudian. Rafah dengan sigap menahan tangan Ibunya.
"Cukup Bu, Meihan juga memaklumi kejadian tadi. Jangan dibesar-besarkan," lerai Rafah, matanya menatap khawatir pada Anna.
Ibunya tampak geram. "Kamu kenapa selalu melindungi perempuan ****** itu?!" teriaknya emosi.
Huft, Ibunya menarik nafas pelan, tidak ingin kerutan bertambah di wajahnya. Ia memilih melangkah pergi meninggalkan kamar itu. Menyerah, yang penting sudah selesai melampiaskan amarahnya.
"Kamu sudah menjadi pria dewasa rupanya?" ejek Anna memecah kesunyian.
"Aku akan mengatur pembatalan perjodohan ini. Kamu tidak perlu khawatir."
"Tidak perlu, aku akan menanganinya sendiri...." balas Anna sambil membuka tutup telapak tangannya. "Aku ingin menantang garis-garis di telapak ini. Bergantung padamu hanya akan menjatuhkan reputasimu."
"Baiklah kalau itu keputusanmu," jawabnya tanpa membantah dan hendak melangkah pergi.
"Kamu tahu? Aku akan menghancurkanmu nanti dan Ibumu. Berhenti melindungiku."
"Kamu tidak punya alasan untuk menghancurkanku. Aku tidak lahir dari rahim wanita itu."
"Tetap saja, semua orang berpikir kalau kamu...."
"Selamat malam...." Rafah menutup pintu kamar Anna, keluar sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
Anna diam sejenak lalu melangkah ke kamar mandi. Sebelum berendam dalam bath up. Dia menyempatkan diri untuk menyikat gigi dan menghadap di depan cermin. "Lihatlah bagaimana aku menghancurkan diriku Ibu. Semua ini harus berakhir malam ini," makinya pada pantulan bayangan dirinya pada cermin di depan.
Pelan-pelan dia masuk ke dalam bath up tanpa sadar kalau bayangannya di cermin ikut tersenyum sebelum ia berbalik.
Diserang rasa putus asa dan ketidak adilan, ia langsung menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bath up.
"Aku sudah siap bertemu denganmu Ibu, persetan dengan semua ini. Kalau perhitungan Ibu benar, kirim utusan Ibu untuk datang menolongku," pintanya di sela air yang berdecik.
Rasa sesak itu semakin menyiksa. Dia tidak berniat untuk mengeluarkan kepalanya ke permukaan hanya sekedar untuk melepas karbondioksida dan menghirup oksigen. Tidak ada alasan lagi baginya untuk melakukan itu.
Setelah sekian jam. Dia tersenyum ketika hampir tidak sadar, kenangan indah bersama Ibunya kini terlintas di kepalanya. Bukankah ketika orang akan meninggal hal terakhir yang dilihatnya adalah hal yang paling membuatnya bahagia? 'Aku sedang dalam fase itu 'kan? Ibu aku rindu melihat Ibu tersenyum seperti itu. Senang rasanya melihat Ibu menjadi kenangan terindahku.'
Dia begitu menikmati rasa sesak itu sampai tidak sadar kalau pintu kamarnya sedang didobrak dan dibuka paksa oleh Meihan, Rafah, dan beberapa pelayan pria lain. Di sana juga terlihat Ibu tirinya juga kepala pelayan bertubuh bugar.
"Sedikit lagi...." Anna memejamkan matanya untuk terakhir kalinya. Selamat tinggal....
Di detik-detik kritis itu, tiba-tiba saja muncul sebuah tangan bugar masuk ke bath up menembus air dan menarik badanya untuk keluar dari sana.
"Apa yang kamu lakukan?" teriak Rafah.
Meihan dengan sigap lansung melakukan pertolongan pertama untuk mengeluarkan air dari dalam tubuh dan paru-paru gadis itu. Dia memompa dadanya sekuat tenaga agar Anna dapat bernafas kembali. Tubuhnya kian pucat. Ayah dan Ibu Meihan juga ikut masuk untuk melihat sekacau apa kondisi Anna.
"Panggil ambulance!" Perintah Meihan dan masih terus berusaha mengeluarkan air yang menyumbat paru-paru Anna.
'Aku sudah bilang semuanya sudah berakhir.'
"Bangun Anna!" Meihan berbisik di telinganya.
'Siapa yang melarangku untuk mati? Apa dia orang yang Ibu kirim? Tidak perlu.'
Anna spontan terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya.
"Kenapa? Sedikit lagi aku berhasil." Anna mengamati sekelilingnya yang masih pudar.
Beberapa orang langsung menggotong badannya masuk ke dalam ambulance.
"Kenapa pria itu di sini?" Matanya setengah sadar tertuju pada Meihan yang pakaiannya sudah basah. Pria itu sedang mengusap rambutnya yang juga ikut basah dan terlihat begitu khawatir dari caranya menarik nafas, tersenggal.
"Anna! Maafkan Ibu...." Penyakit Ibu tirinya kini kumat lagi. Dia berlagak merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Anna.
__ADS_1
Apa doaku kini terjawabkan? Apa pria itu jalan hebatku untuk menjadi lebih kuat lagi.