Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
9. Rasa Benci yang Hampir Berubah


__ADS_3

"Yey! Kita sampai...!" seru Kesya sambil keluar dari kapal jetliner yang sudah tersandar dengan aman di dermaga kayu. Rambutnya yang pendek diserbu angin hingga terlihat berantakan. Senyumnya terlepas bebas tanpa beban. Dia dan Rafah bergandengan menyusuri jembatan kayu tua di sana.


Anna juga ikut keluar, topi pantai yang dikenakannya kini menjadi sasaran empuk serbuan angin berikutnya. Dia berusaha mempertahankan topi itu. Gaun putih selutut yang dikenakannya ikut terhempaskan angin ke sana ke mari. Dia tampak kewalahan dan akhirnya topi pantai putih tulang di kepalanya terhempas jatuh ke laut.


"Aaaiisss...!" cerutunya kesal.


100 meter dari tempatnya berdiri, Kenda yang berseragam pelayan sedang mengamatinya dengan seksama. Karena instingn, Anna menyadari kalau ada yang sedang memerhatikannya. Dia berbalik dan melihat wanita itu, Kenda. Gadis yang kemarin ditemuinya di gang sempit. Mereka beradu tatap beberapa detik sebelum gadis itu memalingkan pandangannya untuk mengangkat beberapa barang dan diangkut ke villa.


Anna juga membuang pandangannya. "Kenapa ****** itu bisa ada di sini?" ungkapnya dalam hati.


Meihan keluar dari kapal jetliner, dia baru bangun karena tadi sempat tertidur.


"Kenapa dia ada di sini?" serang Anna ketika melihat Meihan melewatinya.


Meihan tersenyum sinis. "Kenapa? Semua orang sedang tidak peduli padamu? Kamu lagi butuh perhatian makanya sibuk mengurus urusan orang lain? Dasar ******!" makinya lalu berlalu.


Anna tidak terima, dia merasa tidak melakukan kesalah apapun. Dengan mata melotot dia melepas sendal flat yang melingkar di kakinya dan melempar sendal itu pada Meihan.


"Apa salahku?!" teriaknya menggema.


Sendal itu tepat mengenai kepala bagian belakang Meihan. Dia menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menatap tajam pada Anna menggunakan mata elangnya.


"Apa salahku? Kenapa semua orang menyalahkanku?!" teriaknya lagi lebih lantang. Rambutnya sudah berantakan dikoyak angin.


Belum sempat Meihan menjawabnya.


Plak!


Pandangan mereka langsung teralihkan pada suara tamparan tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Lakukan tugasmu dengan benar!" hardik kepala pelayan.


Kenda memegang pipinya yang perih.


Plak!


Kepala pelayan itu menamparnya lagi.


"Apa yang kamu perhatikan?"


"Maaf..." ucapnya pelan setengah membungkuk.


Meihan tidak terima melihat Kenda diperlakukan dengan kasar. Ketika kepala pelayan itu akan melayangkan tamparan ke tiga kalinya. Meihan datang dan mencegahnya. Dia mencengkram erat tangan kepala pelayan itu seraya melotot emosi padanya.


"Lepaskan!" teriak kepala pelayan.


"Kamu tidak boleh memperlakukannya seperti itu!" Ucap Meihan dengan muka memerah.


"Lalu aku harus diam saja saat melihat bawahanku bekerja semaunya? Kalau dia melakukan kesalahan maka aku akan terseret juga pada masalah itu. Aku di sini sebagai mentor yang mengajari dan menertibkan mereka!"


Mereka beradu tatap, memancarkan aura kebencian masing-masing pada kilat mata mereka.

__ADS_1


"Kenda, pergi dari sini!" suruh Meihan.


Kenda mengangkat koper dan tas besar di depannya lalu meninggalkan mereka di sana.


"Kamu pikir bisa melindunginya? Kamu sangat ceroboh. Ada ribuan mata yang mengawasi kalian."


Meihan melepas dengan kasar tangan kepala pelayan itu lalu berlalu menyusul Kenda dari belakang.


Di dermaga itu kini tinggal Anna seorang. Dia berdiri salah tingkah saat kepala pelayan mendekatianya.


"Anna...!" panggilnya.


Anna mengigit bibirnya gugup. Dia hanya bisa membulatkan matanya sambil melihat kepala pelayan itu mendekatinya.


"Di sini anging terlalu kencang, sebaiknya segera ke villa, nanti kamu masuk angin."


Anna mengangguk mengerti, dia mengambil langkah lalu pergi dari sana.


"Sejak kapan kepala pelayan wanita bertubuh bugar itu tersenyum padaku? Dia bahkan memanggil namaku alih-alih memanggilku nona seperti biasa...." gumam Anna setengah bergidik.


Dia berjalan sedikit cepat, hari sudah mulai gelap. Kemilau jingga di ufuk sana perlahan berubah menjadi pekat. Seperti tinta baru saja ditumpah berhamburan menutup langit yang mulanya berwarna keemasan.


"Mari nona, saya tunjukan kamar nona," bungkuk seorang pelayan di depannya.


Anna hanya mengangguk lalu masuk mengikuti pelayan itu. Dia sempat melirik Kenda sedang yang melap meja dengan pipi lebam. Karena kurang tertarik dia melempar pandangannya ke tempat lain. Lalu berjalan terus ke depan mengikuti pelayan yang menunjukannya jalan.


"Silahkan nona, ini kamar nona." Pelayan itu membuka pintu kamar lalu membungkuk dan pergi.


Anna langsung masuk, mengistrahatkan badanya yang kelelahan.


Kenda berbalik melihatnya lalu kembali melap meja seperti tidak peduli.


"Kamu tahu kan semua ini di luar kendaliku."


"Semua memang tidak pernah terkendali, Anna, gadis sialan itu harusnya tidak pernah dilahirkan!" balas Kenda.


"Aku tidak bisa mengatur semuanya Kenda...."


"Adikku, kamu lihat bagaimana dia tewas? Aku tahu Anna yang membunuhnya. Kalau bukan dia, kenapa kasus ini ditutup dengan cepat? Bahkan kalian menghindari media, memilih berlibur di sini? Di pulau kecil ini?"


"Kenda... belum tentu Anna yang membunuhnya. Dia masih gadis waras. Tidak mungkin dia melakukan hal sekeji itu," jelas Meihan membujuknya.


"Meihan!" panggil Ibunya dengan nada sedikit tinggi, seperti menyuruh mereka untuk tidak terlalu dekat.


Meihan berbalik, menangkap kode dari Ibunya. Dia pun pergi dari sana meninggalkan Kenda yang sedang menatap kosong ke meja makan yang sudah mengkilap.


Hari sudah mulai pagi, bunyi jangkrik disekililing villa itu sudah mulai tak terdengar. Hujan semalaman masih meninggalkan jejak, aromanya mengudara. Nampak beberapa tetes air di ujung dedaunan hampir jatuh terjungkal ke tanah.


Anna dengan gaunnya yang elegan duduk santai di depan villa sambil memerhatikan sekelilingnya yang masih sunyi. Suasana dingin akibat tingginya kadar oksigen membuat kulit wajahnya menyala. Matanya tiba-tiba tertuju pada hal menarik di balik semak-semak, seekor kelinci putih. Dia pun berdiri dan lari menyusul kelinci itu.


Tidak sengaja Meihan melihat Anna yang masuk ke dalam hutan. Awalnya dia tidak peduli tapi jika Anna hilang maka persoalannya akan panjang. Siapa yang akan disalahkan berikutnya?

__ADS_1


"Apa lagi yang dilakukan ****** itu. Apa dia tidak bisa tenang bertingkah mencari perhatian?" Meihan menyusulnya berlari sambil mengikuti jejak Anna.


Anna sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Dia sudah kehilangan kelinci kecil itu dan tentu saja juga jalan keluar dari sana.


"Aku tidak takut. Hahahha, aku pasti bisa menemukan jalan keluar." Dia menepuk-nepuk tangannya berusaha santai. "Tarik nafas Anna..." ucapnya pada diri sendiri.


Hutan belantara itu tampak sama dari segi manapun. Suasananya kini semakin mencekam. Hutan yang diam, pepohonan yang tinggi. Seperti ada ribuan mata merah yang sedang mengamatinya.


"Aku tidak akan pernah mati, hehe...." Anna masih berusaha santai meski di batinnya sudah tak kuasa menahan takut. Dia mengambil sebatang kayu dan menggambar mata angin. "Tadi aku dari barat? Tidak! Timur? Yah... timur." Dia tersenyum melihat sekeliling.


Meski mentari sudah semakin meninggi tapi di sana masih gelap dan mencekam.


"Itu timur?!" Dia menunjuk sembarang arah dan mengklaim berdasarkan nalurinya "Ok! Kalau aku lurus terus pasti aku bisa kembali ke villa." Dia mulai melangkah masuk ke hutan lebih dalam lagi.


"Anna!" teriak Meihan mencegatnya.


Anna refleks berbalik. Wajahnya masih bersinar. Meihan sempat terkesima beberapa saat karena kecantikan gadis itu.


"Kamu?" tanyanya yang tampak tidak menyangka kalau Meihan ada di sana.


"Kamu bisa tidak berulah satu hari saja?" Meihan tampak sedikit salah tingkah, ekspresi Anna terlalu menggemaskan.


"Aku berharap bertemu pangeran dari antah berantah alih-alih bertemu pria bawel itu," cerutunya kesal.


"Sini ikut aku...." Meihan menarik tangannya, dia bersikap sok gentle dan melindung Anna secara tidak langsung.


Mereka jalan tanpa henti, melewati satu hingga puluhan pohon dengan batang besar dan kekar. Beberapa menit berjalan mereka tidak sadar kalau semakin masuk ke dalam hutan.


"Aaaaaa!" teriak Anna histeris.


"Kenapa?" Meihan nampak terkejut.


"Itu... ular, kamu yakin ini jalan yang benar?" tanya Anna menyerngitkan dahinya.


Meihan terdiam beberapa saat. Dia kemudian menggeleng pelan kepalanya.


"Maksudmu kita tersesat?" tanya Anna tidak percaya melihat Meihan yang sudah hampir putus asa juga.


"Kamu pikir aku tahu jalan keluar dari hutan ini?"


"Lah, trus kenapa kamu...."


Ssstttt!


Meihan sigap menutup mulut Anna. Mereka saling menatap. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri ada bunyi patahan kayu, ada yang mendekati mereka secara diam-diam.


"Bagaimana kalau itu babi hutan?" bisik Anna yang sudah mulai keringat dingin.


"Kamu jangan ribut!"


Tanpa disadari wajah mereka sangat dekat. Anna nampak terkejut, dia bahkan bisa melihat pori-pori wajah Meihan. Bibir mereka juga hampir bersentuhan. Mereka seperti memikirkan hal yang sama. Sama-sama menganggumi wajah yang mereka tatap pada jarak yang tidak seperti biasa.

__ADS_1


Meihan nampak bergerak secara naluri. Dia pelan-pelan mengangkat tangannya dan mengusap keringat di wajah Anna. Gadis itu tertegun, jantungnya memberontak seperti akan meledak.


"Apa yang dia lakukan?" bisiknya dalam hati.


__ADS_2