
Cinta, belum habis sedetik yang lalu, cinta ini semakin kuat saja. Berdosa kah aku? Apa ini salah? Salah jika aku mencintai?
Anna diam-diam mengamati Meihan yang sedang bermain bulu tangkis dengan seorang pelayan pria. Senyum menyungging di bibirnya dengan lembut. Matanya berkilat menandakan kebahagian tak terhingga. Angin datang meniup pelan wajahnya, memuncakkan teduh yang luar biasa. Matanya terus lekat menatap Meihan, ingatannya ikut menerawang membayangkan perlakuan lembut Meihan tadi malam.
Lamunannya buyar karena dikejutkan seorang yang datang membanting secangkir gelas pada meja tempatnya menopang dagu. Anna sontak mengangkat kepalanya untuk segera melihat pelayan tidak sopan itu. Kenda?
"Silahkan diminum Nona," ujarnya dingin.
Anna menatap lekat wajah pelayan itu dengan sedikit tersinggung namun dia masih sedikit sabar dan menahan emosinya. Aura kebencian terpancar diantara mereka.
Kenda berjalan dan berdiri di depan Anna untuk menghalangi pandangannya agar tidak melihat Meihan. Anna menyadari apa yang dilakukannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Anna dengan kesal.
"Mengembalikan semuanya pada posisinya," balasnya seperti mengajak beradu jotos.
"Menyingkir!" pekik Anna dengan nada sedikit tinggi.
"Dasar Hina!" maki Kenda sambil balik melototi Anna.
"******?!" Anna berdiri dengan kekuatan emosi, dia terpancing amarah karena merasa muak dengan panggilan Kenda terhadapnya.
"Apa? Apa?" balas Kenda masih dengan mata melotot.
Anna berdiri dan langsung menjambak rambut Kenda.
"Aaaa...!" teriak Kenda kesakitan.
"Siapa yang kau sebut hina? Hah!" teriak Anna.
"Aaaa! Dasar Hina! Kau j*lang!" balas Kenda sambil berusaha melepas tangan Anna yang menarik kuat rambutnya.
Pandangan Meihan dan beberapa orang yang sedang asik bersantai di halaman menikmati pagi teralihkan. Mereka keheranan melihat Anna lagi-lagi berulah dan bertengkar dengan pelayan.
Anna dan Kenda saling menjambak tanpa henti. Tidak ada yang mengalah diantara mereka. Beberapa kali mereka terjatuh lalu bangun kembali untuk menjambak rambut satu sama lain.
"Kamu pikir akan menang melawanku?" tanya Anna menahan sakit, tangannya masih tetap menarik rambut Kenda dengan kuat.
"Aku memang tidak pernah menang, tapi kali ini aku tidak akan kalah lagi," ujarnya sambil tersenyum licik.
"Kamu itu hanya pelayan rendahan. Aku yang harusnya kamu layani!" pekik Anna.
Mereka saling beradu tatap dengan wajah memerah. Tidak ada yang mau mengalah. Sampai Meihan juga Rafah datang dan melerai pertengkaran mereka.
"Hentikan!" geram Meihan sambil menarik tangan Kenda.
Anna kesal melihat Meihan memegang tangan Kenda. Dia melepaskan cengkraman Rafah yang menggenggam tangannya. Lalu memukul tangan Kenda dengan kuat.
__ADS_1
"Lepaskan pelayan penggoda itu!" ujar Anna kesal sambil menarik tangan Meihan.
"Dia lebih memilihku ketimbang kamu! Apa hakmu?!" teriak Kenda dan menarik balik tangan Meihan.
"Aku tidak mengizinkanmu menyentuh calon suamiku!" Anna berteriak sambil melototi Kenda yang begitu berani hari ini.
"Hah?" Kenda senyum meremehkan. "Aku dan dia pacaran selama 10 tahun, kami sudah tunangan. Aku dan dia juga sudah sepakat untuk menikah selesai Meihan menceraikanmu," ejek Kenda dan menatap hina pada Anna.
"Apa?" Anna membulatkan matanya.
"Aku tidak akan ragu lagi, kali ini aku berjuang untuk mempertahankan hakku," jelas Kenda.
"Sudah hentikan," ucap Meihan melerai.
"Apa yang dia bilang benar?" tanya Anna pada Meihan.
Meihan hanya diam sambil menarik nafas panjang.
"Jawab!" teriak Anna.
Kenda tersenyum puas penuh kemenangan. Dia keluar dari zona nyaman demi mempertahankan martabatnya juga membalas dendam.
"Ada apa ini? Kenapa ada kegaduhan di pagi hari?" Kepala pelayan datang untuk mengakhiri pertengkaran itu.
Kenda tersenyum puas "Semuanya berjalan sesuai rencana." Dia menatap jijik pada kepala pelayan yang sedang berjalan menghampiri mereka.
Kenda hanya tersenyum lalu membungkuk "Maaf tuan, apa tidurmu nyenyak dan hangat tadi malam?" ujarnya menyindir apa yang dilihatnya tadi malam.
Kepala pelayan itu nampak tertegun, dia menangkap kode dari Kenda.
"Sudah, kembali ke dapur. Banyak pekerjaan yang belum selesai," ujarnya.
"Baik tuan." Dia tersenyum licik dan mengangkat bahunya mengejek Anna.
Anna keheranan, kenapa kepala pelayan tidak seperti biasanya memperlakukan Kenda. Harusnya dia menampar Kenda atau tidak meneriakinya dengan kasar.
"Kamu harusnya mendidik bawahanmu dengan benar!" bentak Anna tidak terima melihat Kenda lolos begitu saja.
"Aku akan memberi dia pelajaran Nona. Banyak orang yang sedang mengamati sekarang. Sebaiknya kamu berhenti membuat kegaduhan," ucapnya sambil membungkuk lalu pergi.
Anna diam kesal, dia tidak terima karena baru saja kalah dari Kenda. Harusnya pelayan rendahan itu dipermalukan karena sudah berani menjambak rambutnya.
"Kamu juga membela dia?" Dia menatap Rafah yang sedari tadi diam.
Rafah menarik nafas panjang. "Anna, tenanglah... emosimu sepertinya sedang tidak stabil."
"Apa di matamu aku ini sekarang hanya seorang wanita gila? Dia yang duluan mencari masalah denganku," jelas Anna membela diri.
__ADS_1
"Iya, aku tahu tapi sekarang banyak tamu penting Ibu dan Ayah Meihan. Kamu jangan merusak reputasimu di mata mereka. Sebentar lagi pernikahanmu akan digelar," ucapnya berusaha menenangkan Anna yang masih dibakar emosi.
"Pernikahan?" Dia berbalik dan melototi Meihan yang masih berdiri mematung di sana. "Pernikahan itu hanya permainan, kita hanya boneka atas keserakahan bukan? Mari cepat selesaikan pernikahan ini lalu kau kembali pada rencana awalmu," ujarnya lalu menabrak bahu Meihan dan pergi dari sana.
***
Plak!
Kepala pelayan menampar Kenda dan memojokkannya di dinding.
"Kamu semakin berulah! Aku sudah bilang untuk berhati-hati dan menjaga sikapmu!" teriak kepala pelayan.
Plak!
Kenda menampar balik kepala pelayan itu.
"Beraninya kamu..." Kepala pelayan itu mengangkat tangannya untuk menampar balik Kenda.
"Kalau tanganmu itu sampai menyentuh pipiku, aku akan menyebar vidio tidak senonohmu. Bagaimana rasanya bercinta dengan tuanmu? Rupanya kamu juga begitu serakah."
Tangan kepala pelayan itu langsung gemetar ketika mendengar ucapannya. Tepat seperti dugaannya, tidak mungkin Kenda berani berulah jika dia hanya bermodal keberanian.
"Jangan bicara sembarangan kamu!" pekiknya masih tidak percaya.
"Baiklah." Dia mengambil HP di sakunya dan menunjukkan vidio tidak senonoh yang dimaksudkannya.
Vidio itu jelas merekam perbuatannya dengan Ayah Meihan tadi malam.
Kepala pelayan itu tidak dapat berbuat apa-apa. Tepat seperti rencana Kenda, langkah awalnya untuk membalas dendam.
"Kamu bahkan punya anak hasil dari perselingkuhanmu. Itu patut di apresiasi. Perselingkuhan kalian sangat mulus sampai tidak ada yang tahu. Sudah berapa orang yang kau bunuh untuk membungkam rahasia menjijikan itu?"
"Kamu jangan bicara omong kosong!" Keringat mulai memenuhi dahi kepala pelayan itu.
"Bagaimana patutnya aku harus membalasmu? Akan ada banyak keuntungan jika vidio ini tersebar. Pernikahan Anna si wanita penggoda itu akan batal, kamu dipecat, kebusukkan kalian selama ini akan terbongkar satu-persatu, dan yang lebih penting adalah Meihan kembali ke pelukanku."
"Awas saja jika kau menyebar vidio itu. Kubunuh kau!" teriak kepala pelayan yang sudah terpojok kan.
"Bunuh? Baiklah silahkan bunuh aku, email otomatis itu akan terkirim 2 jam dari sekarang. Stasiun TV pasti akan sangat bahagia menerima email ini. Apa kamu bisa menghentikannya?" Ancam Kenda.
"Kamu!"
"Apa kamu tidak bosan? Kita bisa menjadi sekutu. Aku tahu siapa kamu. Kita sama-sama wanita yang memperjuangkan haknya. Apa kamu tidak bosan selalu dijadikan pelampiasan. Kita juga berhak memiliki semua yang sudah dirampas secara paksa dari tangan kita."
"Apa maumu?"
"Aku suka pertanyaanmu. Hahahaha..."
__ADS_1
"Jangan pernah menghalangiku untuk dekat dengan Meihan. Bila perlu bantu aku untuk memilikinya seutuhnya."