Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
24. Kau Adalah Bagian Kehilanganku


__ADS_3

"Aku sudah bilang, aku baik-baik saja!" Pekik Anna sambil berlari berhamburan ke seluruh rumah sakit itu.


"Anna!" Teriak Ibu tirinya yang melihat Anna seperti orang gila.


Anna berhenti berlari dan sesaat mematung melihat ambulance berhenti di depan rumah sakit dan beberapa petugas terburu-buru mengeluarkan seorang yang bersimbah darah seperti baru saja ditembak persis dibidik di bagian dadanya. Mungkin peluru tajam baru saja menembus tulang rusuk dan membabi buta jantungnya hingga membuat tubuh yang hampir tebujur kaku itu meringkuk pasrah akan kematian.


"Meihan...." Lirih Anna sambil berlari sempoyongan.


Ini bukan kisah mafia atau kisah perjodohan tragis. Namun sangat rumit setiap kisahnya. Apa yang sesungguhnya dipikirkan penulis ketika menulis kisah ini. Jalan terlalu panjang dan rumit. Di luar hujan, dan guntur aneh sesekali bergemuruh. Setelah tidur sehari, yah dia pasti menulis ini sehabis tidur seharian penuh.


Anna merasa dengkulnya melemas ketika melihat pria yang didorong di ranjang itu bukan Meihan namun tentu saja wajah itu tetap akrab, dia bukan seorang asing atau salah satu dari alien yang sebelum itu berputar di depannya, membuatnya pusing dan lagi-lagi berakhir di rumah sakit. Kekesalan sekaligus penyesalan menyeruak seperti ingin dimuntahkan.


"Rafah...." Lirihnya ketika ranjang itu melewatinya secepat zebra bodoh.


Tubuhnya hampir jatuh, efek mati rasa yang selalu menjadi mode dan diaktifkan permanen ketika menghadapi pria itu mendadak akan membuat tombolnya koslet sendiri, hampir meledak sedikit lagi.


Meihan menangkap tubuh Anna yang seperti tidak memiliki tulang. Besok harusnya kita bahagia.


"Kenapa aku harus selalu berakhir di sini?" Bisiknya hampir tidak terdengar.


"Dia akan baik-baik saja," balas Meihan.


"Bagaimana kau tahu? Bagaimana!" Serang Anna dengan suara memilukan.


"Aku tahu karena dia akan selalu disisimu untuk selalu melindungimu."


Rumah sakit itu mendadak gempar dan kacau. Lebih kacau lagi karena teriakan Ibu Rafah yang seperti akan memutus tenggorokannya. Keadaan gila itu tidak mampu dijelaskan.


"Rafah!" Wanita paruh baya itu terus berteriak berharap suaranya akan habis untuk ditukar dengan nyawa anaknya yang sedang bermandikan darah.


Anna menutup telinganya yang berdengung hebat. Dia rasa seperti melihat Rafah di depannya dan tersenyum seperti tak akan melihat senyum itu lagi.

__ADS_1


"Rafah!" Ibu tiri Anna itu memberontak ketika di halang para suster untuk tidak ikut masuk ke ruangan yang penuh kain hijau, ruangan yang menentukan akhir hayat Rafah.


Jika kau pergi, siapa yang bisa aku salahkan? Siapa yang bisa menolongku? Siapa yang bisa menggantikanmu duduk di tempat paling strategis untuk melakukan apa saja agar bisa membelaku? Aku sudah banyak kehilangan, kenapa kau menjadi kehilanganku juga?


Hiks.


****


Aku adalah gadis. Kadang-kadang aku adalah mayat. Kadang juga aku adalah Puteri. Hari ini seharusnya musik menggema dasyat, dimana jedag-jedug risih yang suka membuat jantung melupa kalau dia harus tetap stabil. Seharusnya hari ini cincin permata termahal di dunia melingkar persis di jari manisku. Aku adalah ratu hari ini, di sampingku berdiri pria gagah yang pakaiannya serasi dengan gaun yang aku kenakan. Itu adalah rencana yang seharusnya, seharusnya. Tapi kenapa aku berdiri di sini? Menyaksikan peti orang yang seharusnya masih di sini mengamati keadaan untuk memastikan agar aku aman dan bahagia. Kenapa peti itu masuk ke sana? Lalu air seperti habis meluruhkan seluruh sudut mataku yang enggan terbuka. Aku ingin menggambarkan sebagaimana bulu mataku lelah harus terus tegak diterpa air yang selalu mengalir tanpa henti.


"Aku janji akan menjadi aku sekaligus dia," bisik Meihan menguatkan Anna.


Anna sedikit berbalik dengan susah payah. Matanya menatap pasrah wajah pria yang sedang menggenggam erat tangannya. "Kenapa peluru itu bisa berada di sana?"


Bibir pria itu mengatup mendadak, kata manis penenang yang baru saja dia ucapkan seperti tidak berasal dari sana.


"Siapa yang membidik? Kebencian seperti apa yang mendorongnya untuk menarik pelatuk? Apa rencananya sudah berubah?" Serang Anna lagi.


"Dia yang sudah memilih," ujar Meihan setelah membisu.


"Dia selalu memilih yang salah. Aku ingin mengomelinya," isak Anna yang seperti mendapat jawaban.


"Peluru itu harusnya berada di sini." Meihan memegang dada yang melindung jantung berdegup di bawahnya. "Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan saat itu. Kenapa dia berlari ke arahku dan memelukku seperti aku adalah kekasihnya. Aksi heroik yang membuatku bingung mencari alasan dan sebabnya. Tapi aku kini tahu jawabannya, dia benar-benar ingin melindungi apapun itu yang berkaitan dengan kamu Anna. Dia tahu sesuatu dan sudah mempertimbangkannya. Apa yang akan terjadi jika aku yang harus berbaring di peti itu. Dia mungkin tidak mampu membayangkan jika gadis yang dicintainya akan kehilangan pria yang ia cintai."


Meihan seperti melepas satu topeng dari wajahnya. Wajahnya kali itu amat kelam, sisi menyakitkan nampak dari uratnya yang kian menegang. Anna hanya bisa menghapus air matanya. Kini pria itu yang harus bersedih. Anna memeluknya, memberinya sisa kekuatan yang ia miliki.


"Bahkan jika pria itu." Meihan menatap tajam Ayahnya "Pria yang mewarisiku dengan gen hebat itu. Dia tidak akan pernah rela mengorbankan hidupnya untukku," tangisnya pecah.


"Rafah memang adalah pria tertulus yang pernah aku temui tapi lagi-lagi aku memilih untuk menyakitinya. Kamu tahu aku sebodoh itu." Anna juga terisak meski dia berusaha tegar dan memaksa air mata itu untuk tidak keluar.


Satu sekop, dua sekop, tiga sekop, empat sekop, lima sekop. Mata Anna menghitung satu persatu gumpalan pasir itu. Dunianya dengan Rafah sudah terpisah. Mereka jauh sangat jauh namun dekat jika kenangan hadir dan waktu terpukul mundur.

__ADS_1


Satu sekop lagi, setiap desah pasir yang berhamburan ditiup angin untuk bertebaran, membuat siapaun tidak berhenti menahan pilu. Memberi tanda sekaligus isyarat akan sedekat dan sejauh itu jarak perpisahan.


"Anna, aku akan mengenang ini. Aku berjanji akan menjadi dia sekaligus aku. Kamu jangan takut, dia telah mengikat benang ini dan melilitnya dengan kuat. Aku akan menjagamu dan mencintaimu."


Anna merasakan air itu terus keluar, hangat dan basah. Dia hanya mampu menepuk-nepuk pundak Meihan yang terus terisak seperti anak kecil. Tegar, itu adalah kata paling sadis yang diucapkan dikala seperti ini.


Tubuh Rafah sudah diam di bawah sana. Aroma pasir gembur coklat menyeruak menjadi bagian dari nostalgia. Anna memejam matanya. "Rafah, selamat berbahagia. Kau terus bercanda dan ini adalah candaan terakhirmu. Kau memilih cara ini untuk membalasku? Yah kau berhasil menyakitiku bekali lipat dari aku menyakitimu. Aku tidak tahu harus berterimakasih atau menyesal. Pilihanmu bisa saja benar atau salah. Kenapa kau tidak di sini? Memelukku dan mengucapkan selamat atas pernikahanku?"


Begitulah rencananya....


"Apa rencamu!" Teriak Ibu Rafah sambil berlari menghampiri Ayah Meihan yang terlambat datang bersama istri di sampingnya.


Pria itu hanya melepas rokok di mulutnya lalu menginjak rokok itu dengan segera. Dia tidak sama sekali merasa iba pada wanita itu.


"Iblis!" Pekik Ibu Rafah.


"Aku sudah sering mendengar itu," dengan enteng dia mengambil bunga di keranjang dan menaburnya di atas pusara Rafah yang masih basah.


Sekali lagi, aroma kenangan terbang ke udara.


"Apa kau pikir aku akan membiarkan ini!" Ibu tiri Anna masih berusaha menyembur ancaman untuk pria itu.


"Tidak perlu dibesarkan. Kau benar-benar seperti kehilangan anakmu. Orang-orang akan tertipu. Hahahaha...." Dia melempar selembaran kertas ke wanita itu.


"Tidak mungkin, Tidak!" Jerit Ibu Rafah.


Surat pengambil alihan perusahaan sekaligus warisan yang batal jatuh padanya, perlahan koyak di guyur hujan. Wanita itu merengek seperti kehilangan segalanya. Dia berputar-putar di tanah yang mulai becek.


"Aku harus bagaimana?" Bisik Anna sambil menelan air hujan yang jatuh menimpa wajahnya.


"Perusahaan sekarang ada dalam kendalimu. Kamu tenang, dia tidak akan melukaimu karena kamu masih memiliki peran dalam rencananya." Balas Meihan.

__ADS_1


Air hujan itu menjadi bagian dari kenangan juga.


__ADS_2