Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
13. Bentuk Benih Cinta


__ADS_3

"Kamu tidak perlu melakukan itu," ucap Meihan mendekatinya.


"Aku hanya mengikuti naluriku, berterimakasih lah pada naluriku," balas Anna sambil tersenyum kecut.


"Aku tidak sengaja...."


"Masalahnya sudah selesai, kamu tidak perlu menjelaskannya, aku juga sudah baik-baik saja," Ujarnya pelan "Aku hanya bingung cara menghilangkan ini." Dia mengangkat rambutnya dan menunjukkan bekas membiru di lehernya.


"Aku benar-benar minta maaf Anna." Dia mendekati Anna dan duduk di sampingnya. "Kenapa ini bisa membiru, aku tidak sadar melakukan ini," ucapnya sambil mengamati bekas cekikan tersebut.


"Aku tahu kamu melakukannya karena gadis itu, Kenda, 'kan?" ucap Anna sambil mengurai kembali rambutnya dan menutup bekas itu.


Meihan hanya terdiam.


"Bagaimana rasanya saat melihat orang yang kita cintai menggila karena sesuatu yang buruk menimpa kekasihnya?" tanyanya dengan nada sanggau.


Meihan hanya terdiam mendengar pertanyaan itu dan tidak berniat menjawabnya.


"Kamu tidak perlu menjawabnya. Tinggalkan saja aku di sini. Aku akan mengurus bekas ini," ujarnya lagi.


Anna kini menatap kosong ke luar jendela. Hening beberapa menit lalu Anna mulai bertanya lagi, tentu saja pertanyaan ambigu yang tidak perlu dijawab dan tidak tahu ditujukan untuk siapa.


"Aku ingin memiliki seseorang yang kucintai kemudian cinta itu mengikatku menjadikan kami tidak terpisahkan, terlepas dari hubungan yang diikat oleh saudara. Mungkin sudah saatnya aku melepasnya bukan? Aku dan Rafah, dia pria yang baik, dia berhak mendapatkan yang lebih baik bukan?" ucapnya lengkap dengan senyum pahit.


Dia terdiam sesaat lalu melanjutkan kembali ceritanya.


"Aku hanya ingin bercerita, kamu hanya perlu mendengar." Matanya semakin menerawang ke luar "Kamu tahu saat pertama kali bertemu dengan Rafah, aku berharap dia jodohku, tapi wanita itu memperkenalkannya sebagai anak yang seharusnya sudah mati. Dia dipaksa menjadi bocah itu padahal aku dengan jelas melihatnya berdarah di depanku," ujarnya lagi dengan mata berkaca-kaca.


Meihan hanya terdiam, dia seperti tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin masuk ke kamar itu adalah kesalahan terbesar baginya. Gadis malang itu menjebaknya di ruang rasa bersalah.


"Pertama kali melihatnya, aku langsung merasakan itu, cinta. Itulah alasan aku selalu tenang di dekatnya, tapi akhir-akhir ini aku rasa sudah cukup. Semuanya membuatku bingung, aku bahkan menemukan kenyamanan lain. Sepertinya aku sudah gila, hahaha...."


Anna diam kembali, dia lanjut menerawang ke luar jendela. Meihan tidak bereaksi apa-apa. Langkahnya juga sangat berat untuk meninggalkan kamar itu. Aromanya begitu melekat, semua ini salah dan adalah kesalahan.

__ADS_1


Anna kini tertidur di pundaknya, dia tidak sadar sampai-sampai Meihan harus menangkap tubuh lemah gadis itu yang terhuyung hampir terjatuh, mata wanita itu terpejam damai meski sedikit dengan ekspresi kecemasan. Meihan kemudian lanjut menatap wajah Anna. Kecantikannya lagi-lagi membuatnya terpesona. Matanya lalu teralihkan pada kalung yang dikenakan Anna. Kalung liontin biru berbentuk kupu-kupu.


"Tragedi apa yang menyiksa gadis selemah kamu?" ucapnya sambil mengamati wajahnya yang terlelap tidur "Semakin lama aku melihatmu, kenapa aku seperti ingin melindungimu, kita memang menyimpan rasa yang tidak seharusnya." Dia pelan-pelan membaringkan tubuh Anna di kasur.


Atas dorongan naluri, dia mengecup dahi Anna sebelum ke luar dari sana. Tapi Anna menggenggam tangannya ketika dia hendak pergi.


"Ibu...." rintih Anna.


Meihan berbalik dan mengamati gadis itu, kini dahinya dipenuhi peluh. Dia kemudian teringat dengan yang dia lakukan tadi, membunuh gadis yang begitu tidak berdaya. Rasa bersalah di dadanya menguat menjadikannya benang merah yang mengikat hubungan mereka, saat itulah benang merah itu semakin kukuh mengikat, hingga cinta itu tumbuh sebelum tak terkendali.


Meihan menarik nafas panjang, lalu dia mengusap kepala Anna yang penuh keringat.


"Tenanglah, aku di sini." Dia berucap lembut lalu mengusap peluh yang memenuhi dahinya.


Sudah sangat malam, kantuk mulai menyerang Meihan, dia mulai mengantuk berat. Pada akhirnya dia menyerah dan memilih membaringkan kepalanya di kasur Anna. Mereka terlelap bersama malam itu. Anna bahkan sudah mulai lupa dengan rutinitasnya tidur di dalam bath up pada malam hari, rutinitas tidur bersama air yang memeluknya. Semenjak bertemu dengan Meihan, dia seperti mulai mencintai hidupnya. Belajar mencintai alih-alih membalaskan dendam.


Malam khidmat itu menjadi malam yang panjang dan bersejarah. Malam enggan untuk ribut, dua sejoli itu direstui alam.


***


"Apa yang harus aku lakukan? Noda ini tak bisa kuhapus. Aaaaaa!" pekiknya sambil terus menyiram tubuhnya dengan air dan menggosoknya sekuat tenaga. Dia menggosok tanpa henti sampai muncul ruam-ruam merah yang sedikit berdarah.


Tok-tok-tok


Suara ketukan dari luar menyadarkannya.


"Hei! Cepat keluar aku mau buang air." Gema sura seorang pelayan dari luar. Kenda cepat-cepat mengambil pakaiannya dan langsung memakainya. Dia membuka pintu WC lalu mengamati gadis pelayan di depannya.


"Kamu tahu cara menghilangkan noda yang paling ampuh?" tanyanya pada pelayan itu dengan mata berkaca-kaca.


"Noda apa?" tanya pelayan itu penuh kebingungan.


"Owh, kamu belum kehilangan itu?" tanyanya kembali sambil melihat ke daerah sensitif gadis itu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" Pelayan itu reflek menutup daerah bagian sensitifnya. "Aku menjaga ini dengan baik, jangan aneh-aneh kamu."


"Kamu mau menukarnya denganku? Aku baru saja kehilangan itu padahal aku sudah menyiapkannya untuk orang yang aku cintai," ucap Kenda dengan sorot mata kosong.


"Kamu bicara apa sih?" Karena pelayan itu sudah tidak bisa menahan panggilan alam yang membuatnya sakit perut, dia langsung mendorong tubuh Kenda dengan buru-buru dan masuk ke dalam WC.


Selang beberapa saat dia diam di sana, mungkin hukum karma itu memang ada keberadaannya. Dia tiba-tiba mendengarkan suara orang sedang bercumbu. Lalu dengan begitu antusias dia mencari sumber suara itu. Kenda biasanya tidak begitu antusias ketika mendengar suara seperti itu, namun begitulah kisah ini dimulai. Hukum karma menjadi tolak ukur alur yang hebat. Dia terus melangkah membawanya menuju dapur. Suara itu semakin terdengar jelas bahkan dia mendengar beberapa perabotan jatuh akibat dua pasang kekasih itu.


"Apa yang mereka lakukan?" Kenda membuka lebar matanya, dia tidak percaya atas apa yang dia lihat di depannya.


Dua pasangan itu terus bercumbu mesra, saling beradu lidah, mengisap dan berpindah dari satu tempat yang ke tempat lain tanpa peduli sedikit kegaduhan akibat dari perbuatan mereka itu. Mereka terlalu bersemangat sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Kenda.


Ayah Meihan kini menggiring tubuh kepala pelayan itu ke pojok dapur yang sedikit luas. Dia langsung membuka resleting pakaian kepala pelayan yang terletak di bagian dadanya.


Kenda sedikit merasa ngilu, dia seperti mengingat kejadian tadi siang. Tapi dia harus terus merekam kejadian langka itu. Dia tidak boleh melewatkan aksi itu karena rekaman itu akan dia jadikan sebagai senjata untuk menyerang dan menghancurkan dua orang yang sudah mempermainkan hidupnya sekaligus. Kenda diam-diam tersenyum. Tidak akan ada lagi orang yang bisa menghalangi hubungannya dengan Meihan.


"Kamu yakin akan melakukannya di sini?" cegat kepala pelayan sambil menahan tangan Ayah Meihan yang akan melucuti pakaian terakhir berbentuk segitiga di selangkangannya.


"Apa maumu?" tanya Ayah Meihan dengan nafas berat.


"Jika kau menikmatinya, maka aku juga harus menikmatinya. Secara kau di sini yang diuntungkan, aku juga harus puas di samping melayanimu," bisiknya dengan suara menggoda diikuti *******.


Tanpa pikir panjang Ayah Meihan langsung mengangkat tubuh kekar wanita itu dan membawanya masuk ke dalam salah satu kamar kosong tidak jauh dari sana.


"Sepertinya sudah cukup." Kenda mematikan vidio pada kamera hp-nya. Matanya penuh binar kemenangan "Aku akan menghancurkan kalian, hahaha."


Ayah Meihan dan kepala pelayan itu terus melanjutkan aksi mereka tanpa sadar bahaya yang akan terjadi.


"Kamu tidak pernah melakukan ini pada Meira kan?"


"Dia gadis yang baik, bahkan darahku mengalir di nadinya, tentu saja aku tidak pernah menyentuhnya, kamu membuatku semakin bersemangat."


"Aaah! kamu sangat nakal."

__ADS_1


Hahahaha


Begitulah malam berakhir dan berjalan. Malam yang panjang.


__ADS_2