
Anna membuka secarik kertas kusut yang diberikan pria misterius tadi. Matanya terbelalak saat melihat kertas koyak sedikit kusut yang diberikan orang misterius tadi. Ada coretan pudar di sana. 'Aku selalu memantaumu, jangan melakukan hal yang ceroboh.'
Tangan Anna kembali gemetar tapi karena obat yang disuntikan dokter pribadinya sebelum hadir di acara ini, membuatnya bisa mengontrol kestabilan perasaannya.
"Apa maksudnya ini?" gumamnya pelan sambil mengamati kertas itu. "Punya siapa ini?" Dia terus mengamati itu sampai akhirnya kepala pengawal berperawakan seperti pria datang dan merebut kertas itu.
"Nona sudah waktunya untuk istrahat," suruhnya dingin.
"Kamu kenapa baru muncul sekarang? Tadi ada orang misterius...."
"Nona sudah saatnya untuk istrahat." Pelayan itu menimpali ucapannya.
Anna menatap kesal pada kepala pelayan itu, dengan pasrah dia mengikuti perintahnya. Sebelum masuk ke dalam kamarnya, dia meminta kembali kertas yang diambil oleh kepala pelayan itu sebelumnya.
"Maaf Nona benda ini hanya sampah, Nona harus fokus dan menjaga kesehatan, pernikahanmu sudah dekat," ucapnya tegas lalu melangkah pergi.
Saatnya menjalani rutinitas malamnya. Anna melangkah ke kamar mandi untuk berendam tapi saat dia menyalakan keran, tidak ada setetes air pun yang keluar dari sana. Anna mengernyitkan dahinya.
"Apa mereka memutus aliran airnya?" Dia menggaruk kepalanya tidak percaya. Apa yang harus aku lakukan? Anna membanting badannya di kasur membayangkan kalau dia akan terjaga sampai besok pagi.
"Aku harus mencari cara," ujarnya.
Tiba-tiba Anna teringat dengan kolam renang yang terletak di kamar utama rumah ini. Kamar itu dibiarkan kosong dan tidak ada satupun orang yang menempatinya. Dia nekat menyelinap ke kamar itu untuk sekedar berendam di sana.
"Apapun konsekuensinya, jika hanya pasrah di sini aku tidak akan melihat mentari esok. Aku harus ke sana," bisiknya penuh optimis. Dia langsung beranjak mengganti gaunnya dan berjalan pelan menyelinap pergi ke kamar utama.
Anna berhasil mengelabui beberapa pelayan. Kini dia sudah berdiri di depan pintu besar kamar itu. Dia menempelkan jarinya di salah satu kode sensor untuk membuka pintu kamar itu, tapi tidak berhasil.
"Bagaimana cara membukanya?"
Saat masih memikirkan cara, dia mendengar langkah yang tumpah tindih. Anna sontak bersembunyi di balik sofa di dekat sana. Lalu muncul seorang pelayan pria membuka pintu kamar itu dengan terburu-buru. Pelayan itu kemudian pergi membiarkan pintu kamar tidak dikunci. Anna tersenyum kecil.
"Keberuntungan berpihak padaku." Dia mengendap-endap masuk ke kamar itu dan tanpa ragu dia langsung melompat ke kolam renang. Kelegaan dan ketenangan memeluknya. Air menjadi obat penyembuh terbaiknya. Dia menikmati setiap sensasi dari sejuknya air dikolam renang itu sampai akhirnya suara asing mengusiknya.
"Aku milikmu, lakukan saja...."
"Ngggghhh...!" Suara nafas berat bergairah dari pria pelayan yang sebelumnya membuka pintu kamar itu terdengar.
"Kenapa ragu?" bisikan pelayan wanita, terdengar tidak sabaran.
"Apakah boleh?"
"Tentu saja!"
Pelayan pria itu langsung mendorongnya sampai terpental di kasur.
Hhhhhh....
Mereka mulai menggesek kulit mereka satu sama lain. Saling merayapi tubuh masing-masing. Pelayan itu sampai merintih pelan keasikan.
__ADS_1
"Kamu tidak sabaran, aaaah...!"
Anna di posisi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia seperti kesetrum. Adegan itu mengingatkannya pada waktu itu. Dia seperti melihat Ibunya terbaring di sana, lalu tersenyum seolah berucap semua baik-baik saja. Untung saja obat dari dokter pribadinya masih bereaksi, sehingga dia tidak sesak nafas seperti biasa hanya merasa mual.
Dalam penglihatan Anna hanya ada kejadian itu yang direka ulang secara visual, tentang apa yang terjadi waktu itu. Sedang suara-suara aneh yang biasa membuatnya pusing tidak terdengar sama sekali. Sekuat tenaga dia menyeret badannya untuk keluar dari sana.
Dua sejoli itu terlalu keasyikan sampai tidak sadar kalau Anna di sana sedang merangkak pelan dengan tubuh basah kuyup berusaha meraih ganggang pintu.
Meski dia berhasil keluar, tapi tenaganya benar-benar terkuras. Dia mulai merasakan aroma aneh. Aroma keringat yang menyengat. Rasa mual menyerangnya. Dia terus berusaha menyeret tubuhnya untuk pergi sejauh mungkin dari sana.
Tidak jauh dari tempatnya merangkak. Dia melihat kepala pelayan lewat. Anna mengumpulkan tenaganya dan memagil pelayan itu.
"Hei!" teriak Anna.
Kepala Pelayan itu menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Anna. Dia sangat terkejut melihat Anna yang basah kuyup.
"Nona apa yang terjadi?" tanyanya khawatir.
"Ssssttt! Jangan buat kegaduhan. Bantu aku ke kamar sekarang," ucapnya lemah.
"Nona...."
"Cepat! Di luar masih banyak tamu. Aku sudah cukup membuat malu keluarga ini," pintanya tidak berdaya.
Pelayan itu seperti mengerti, dia langsung mengangkat tubuh Anna dan segera membawanya ke kamar tanpa ketahuan.
"Obat yang diberikan dokter sangat ampuh, syukurlah penyakit sialan itu tidak kambuh."
"Apa yang terjadi Nona?"
Anna tidak menjawabnya, dia terdiam sesaat dan malah menatap seram pada kepala pelayan itu.
"Apa kamu tidak memantau anak buahmu?" Sorot matanya langsung berubah menjadi sangat tajam "Apa pelayan dibenarkan memiliki hubungan satu sama lain?" Dia seperti akan menelan kepala pelayan itu bulat-bulat. Mukanya memerah bringas.
Air muka kepala pelayan itu yang biasa terlihat sangar, tampak berubah sedikit takut. Namun kemudian ia tersenyum licik.
"Nona... Silahkan ganti pakaianmu yang basah," pintanya pelan.
Anna bangkit dari tempat duduknya. Sedikit menggeleng kepalanya, lalu mengambil ikat pinggang dan berjalan keluar tanpa ragu. Dia seperti baru saja mendapatkan suntikan energi.
Kepala pelayan itu tampak menyembunyikan senyumnya. Dia mengikuti Anna dari belakang tanpa berusaha menghentikannya.
"Bagaimana cara menghukum dua orang ini?!"
Kepala pelayan itu menatap Anna seperti memberi isyarat aneh.
Anna mengangkat tangannya dan mencambuk dua pelayan itu, yang tampak sangat terkejut melihat Anna yang muncul tiba-tiba.
Aaaaa...!
__ADS_1
Dua pelayan itu menjerit kesakitan. Kepala pelayan menuju ke pintu dan menutup rapat pintu kamar itu sehingga suara teriakan mereka tidak terdengar sampai ke luar.
"Ampun Nona!"
Mereka bersujud di kaki Anna. Tapi Anna semakin menjadi-jadi.
"Siapa yang memulainya?" tanya Anna masih dengan sorot mata keji seperti tidak akan memberi ampun.
Karena dua pasangan itu hanya diam ketakutan dan tidak menjawab. Anna merasa emosi dan gelap mata. Dia menarik kaki pelayan wanita menyeretnya dengan kejam.
"Apakah aku boleh membunuhnya?" Ia melihat ke arah kepala pelayan.
Kepala pelayan itu mengangguk.
Anna tersenyum kegirangan. Dia kehilangan dirinya. Ekspresinya penuh kebengisan.
"Ampun Nona!" Jerit pelayan wanita malang itu.
"Tubuhmu bahkan tidak memiliki lekuk yang bagus. Kau berani menggodanya dengan ini?"
Anna kini menarik rambutnya menyeretnya ke balkon.
"Setidaknya biarkan aku memakai bajuku Nona. Aku mohon!" keritnya menahan sakit dan takut bukan main.
"Lompat!" perintah Anna sambil mendorongnya ke tepian balkon.
Pelayan itu melihat ke bawah. Dia menggeleng kuat dengan tubuh penuh keringat.
Di bawah nampak pesta yang masih berlangsung.
"Aku mohon Nona. Ampun!" Dia bersujud lagi di kaki Anna. Memegang erat kaki mungil Nona Anna.
"Kamu tidak akan mati jika melompat bodoh!" teriak Anna seperti kesetanan.
"Ampun...!"
Anna tanpa perasaan menendang pelayan wanita itu hingga ia jatuh terjungkal ke bawah.
Kepala pelayan nampak terkejut. Dia tidak mengira kalau Anna senekat itu, berani membunuhnya. Reaksi obat yang dia berikan sudah menunjukan hasil yang lumayan. Ia tersenyum menang.
"Sudah cukup Anna," bisiknya lalu memukul tengkuk Anna hingga gadis itu pingsan.
Pelayan itu menggotong tubuh Anna dan keluar dari sana. Sementara pelayan pria yang masih meringkuk di sana, dengan cepat langsung memakai pakaiannya. Lalu merapikan kamar dengan cepat dan buru-buru keluar, mengunci kamar kembali.
Aaaaa...!
Beberapa tamu lari. Mereka menjerit ketakutan melihat wanita tanpa busana yang baru saja terjun bebas dari atas.
"Anna...! Tidurlah yang nyenyak." bisik kepala pelayan mengelus kepala Anna.
__ADS_1