Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
30. Rahasia Pria


__ADS_3

"Tuan? Ada yang sudah menunggu di ruangan," sambut sekretaris Gun yang melihat Atzlan yang sedang berjalan santai ke arahnya.


"Siapa?" tanyanya balik sambil memukul pundak sekretarisnya itu.


Ekspresi sekretaris Gun tampak sedikit tegang. Atzlan pun mengerti siapa orang itu.


"Pak Tua?" tanyanya kemudian.


Sekretaris Gun mengangguk lalu tangan kanannya menarik ganggang pintu dengan postur sedikit membungkuk.


Pintu itu terbuka lebar, pria yang mereka sebut Pak Tua barusan nampak tengah asik duduk di sofa sambil melipat kaki juga menghembuskan asap rokoknya sembarang. Atzlan sedikit tersenyum dan masuk sambil sedikit membusungkan dadanya agar terlihat gagah dan berani.


"Besok aku harus menaruh notice di situ," tangannya menunjuk sudut depan pintu "Lalu di situ," menunjuk sudut yang lain. "Area bebas rokok, no smoking," lanjutnya sambil membanting kunci mobil sedikit kasar di meja.


Pria tua itu hanya sedikit tersenyum lalu menginjak rokok belum habis yang sebelum itu nangkring di mulutnya.


"Anak muda zaman sekarang memang lebih taat dalam menjaga kesehatan. Kamu mengingatkanku pada Meihan, anakku," jelas pria itu basa-basi.


Atzlan reflek mengangkat bahunya. "Setidaknya kami bisa memutus kebiasaan buruk yang diwariskan dari leluhur kami agar DNA yang terekspresi dari kami nanti bersih dari polusi benda penuh nikotin itu."


Pria itu manggut-manggu sambil tersenyum sesekali.


"Aku tidak ingin kita saling menyerang sebagai musuh. Kamu tahu kan kita sudah menyepakati persetujuan untuk bekerja sama?"


Atzlan menggaruk ujung kupingnya yang mendadak gatal lalu diam mengamati pria itu dan menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut yang hampir dipenuhi kumis menjalar pria itu.


"Kita Sekutu bukan?" Kalimat yang ditunggu Atzlan akhirnya keluar.


"Tentu saja, aku tidak akan melupakan pria yang telah menyelamatkan hidupku," balasnya.


Pria itu mangut-mangut lagi.


"Kamu tahu kalau apa yang sudah kamu lakukan adalah bentuk penyerangan?" Pria itu melempar tatapan benci pada Atzlan.


"Penyerangan?" Atzlan mengkerutkan keningnya.


Pintu tiba-tiba terbuka, sekretaris Gun masuk sambil merapikan jasnya. Percakapan itu sempat diserang keheningan.

__ADS_1


"Aku memperingatimu untuk menepatkan kembali barang yang sudah kamu pindahkan."


Sekretaris Gun mendekati Atzlan dan berbisik "Salah satu pegawai yang kau pecat tadi adalah keponakannya," jelas sekretaris Gun.


Kening Atzlan semakin bergelombang. Dia masih belum paham maksud dari kalimat Sekretaris Gun. Sementara Ayah Meihan mulai berkeliling melihat-lihat kantor Atzlan sembari menunggu diskusi dua pria muda itu selesai.


"Gadis yang memanggil ambulance rumah sakit jiwa," jelas Sekretaris Gun.


"Ohh... si penjilat itu?" Atzlan menganggukan kepalanya.


Ayah Meihan kini berhenti pada salah satu lukisan yang tergantung di dinding. "Selera senimu juga lumayan bagus," pujinya sambil mengamati lukisan itu.


"Lukisan itu tidak mahal, aku membelinya dari gelandangan Mesiko yang tampak kelaparan," ujar Atzlan menghampirinya.


"Kamu sudah dengar cerita tentang CEO muda sebelumnya yang hampir memimpin perusahan ini?"


"Yah tentu saja, hal itu juga sempat aku pertimbangkan untuk memilih bergabung dengan perusahaan ini."


"Pria itu masih sangat muda, pikirannya terlalu pendek. Dia rela mengorbankan hidupnya untuk sesuatu yang sia-sia. Tanggung jawab sebesar apa yang harus dikorbankan dengan nyawa? Penerus muda seperti kalian harus belajar untuk bersikap sedikit egois," terang pria itu, matanya masih terus menatap lukisan itu.


"Aku juga tidak tahu apa yang ada dipikirkan CEO muda malang itu, tapi... mendengar ucapan terhormat seperti anda membuatku sedikit mengerti. Mungkin memang tanggung jawab itu begitu besar menurutnya. Dia pasti sudah memikirkan cara keren untuk menunda serangan. Anak muda zaman sekarang memang sangat terburu-buru dalam mengambil keputusan tapi keputusan itu terkadang bisa menjadi bom waktu atau butterfly effect yang sangat berbahaya."


"Butterfly effect...." Pria tua itu bergumam sambil menggaruk dagunya.


"Lukisan ini bermakna misi rahasia seorang pria untuk membahagiakan orang yang dia cintai. Lihat ini." Atzlan menunjuk gambar bunga yang sedikit tidak jelas. "Aku membelinya karena tertarik oleh ini, setelah aku teliti dengan baik, gambar abstrak ini membentuk beberapa kepala hewan buas, lihat ini." Dia kembali menunjuk "Harimau," lalu jarinya dengan cepat berpindah menunjuk bagian lain "Singa, Hiu, beruang, chetah, dan..." tangannya terhenti pada satu bidang gambar yang tidak bisa dikenali. "Lihatlah gambar ini," tangannya mengarah pada tiap kuntum yang mekar pada sela dada tiap hewan. "Aku menyimpulkan gambar yang tidak dikenali ini adalah seorang pria gagah."


"Seorang pria? Gambar itu lebih tampak seperti gumpalan coretan yang tidak beraturan," balas pria tua itu dengan ekspresi penasaran.


"Begitulah cara penulis mengungkapkan perasaanya. Tidak ada garis paling indah yang dapat melukiskan sosok pria gagah yang dimaksud, saking mulia sosok itu. Lihatlah, gambar ini satu-satunya gambar yang tidak memiliki gambar kuntum mekar di dadanya seperti yang lain," jelas Atzlan lagi.


Dua pria itu tampak tenggelam dalam lukisan. Mata mereka terus mengamati tiap coretan itu dengan serius. Pria tua itu terjebak dalam kejeniusan Atzlan. Rasa penasaran membuatnya lupa akan tujuannya ke ruangan itu.


Atzlan tersenyum, dia melepas lukisan itu kemudian meletakkannya di jendela dengan posisi potrait dan terbalik.


"Jika kita hanya fokus pada tujuan gambar, dipajang dan dinikmati seperti orang biasa. Cara itu terlalu kuno. Lihatlah cahaya sinar dari luar menunjukan garis tegas yang kita anggap hanya coretan biasa untuk membentuk gambar indah ini."


Sekretaris Gun yang ikut mengamati dari belakang juga tampak takjub melihat gambar itu. Dia juga baru menyadari keindahan gambar yang selama ini dianggapnya hanya sebagai gambar abstrak biasa.

__ADS_1


"Tadi kamu bilang gambar ini menunjukan pengorbanan pria gagah untuk orang yang dicintainya. Tapi, gambar itu hanya menunjukan sosok pria cengeng yang sedang menangis," jelas Ayah Meihan masih belum mengerti.


Hahahha, Atzlan hanya tertawa kecil lalu mengembalikan lukisan ke tempat asalnya.


"Dari mana kamu menyimpulkan dan mengatakan filosofi itu dengn berani? Apa kau yang melukisnya?" Tanya Ayah Meihan yang semakin penasaran.


Tawa Atzlan terhenti, matanya menatap lekat wajah pria tua di depannya dengan serius.


"Menurutmu mengapa pelukis menyembunyikan gambar pria cengeng itu?" Dia balik bertanya.


Ayah Meihan tampak sedikit mengerti maksud pria muda yang terpaut 25 tahun dengannya itu.


"Kita, aku, tuan, dan Sekretaris Gun di sana. Kapan terakhir kali kalian menangis? Waktu lahir? Di usia anak-anak? Saat remaja? Menjelang baligh? Atau saat tidak ada yang memerhatikan? Kapan? Apa menurut kalian menangis itu seperti definisi air mata yang keluar dari sini?" Tanya Atzlan lagi sambil menunjuk sudut matanya.


Wajah sangar Ayah Meihan terlihat luntur mendengar tiap kalimat tanya yang keluar dari mulut pria muda yang selama ini dianggapnya hanya bocah karena terpaut umur yang cukup jauh darinya. Tapi pria muda itu menemukan definisi dirinya, juga ribuan makhluk sejenis mereka di luar sana.


"Aku sadar setelah melihat lukisan ini. Betapa lemahnya kita jika itu berhubungan dengan apa yang begitu kita cintai dan ingin lindungi. Sebesar apa energi dan kekuatanmu untuk melindungi? Aku juga sekaligus sadar bahwa aku terlalu lemah untuk sebuah pengorbanan. Kabar angin tentang seorang Ayah yang mengarahkan pistol ke dahinya anaknya, aku menepis itu dan memilih tidak percaya, gosipnya terlalu murahan." Lanjut Atzlan lagi.


Hening.


Keheningan menyerang pikiran tiga pria itu. Wajah Ayah Meihan terlihat seperti pria yang baru saja bertobat dan akan kembali ke jalan yang benar. Namun itu hanya bertahan 60 detik, ekspresi itu kemudian buyar dengan satu kali tawa congkak mulus yang keluar dari kerongkongannya.


"Hahahaha, itu penjelasan yang sangat menakjubkan. Aku sangat kagum sekaligus bangga menyerahkan perusahaan ke anak muda jenius seperti kamu," ujar Ayah Meihan.


"Hahahaha...." Atzlan hanya membalas tawanya secara langsung tapi dalam hatinya dia tahu kalau maksud dari kalimat pria itu adalah sebaliknya. Dia salah memilih orang karena Atzlan bisa menjadi ancaman besar untuk keserakahannya.


"Dia keponakanku, segera kirim surat permintaan maaf dan kembali menerimanya di perusahaan ini," pintanya pelan sambil menempel amplop yang berisi biodata Kesya ke dada Sekretaris Gun.


"Aku yang memutuskan pegawai di kantorku. Aku tidak butuh saran dari orang hebat," jelas Atzlan menolak mentah-mentah permintaan itu.


Tidak mendapat persetujuan, Ayah Meihan mengeluarkan kartu penyerangan terakhirnya. "Bukankah gelandangan Mesiko yang kamu maksud adalah seorang gadis?"


Atzlan nampak terperangah mendengar kalimat itu. Darimana dia tahu tentang pelukis yang sudah melukis gambar itu.


"Aku adalah pria yang sudah hidup selama 55 tahun, jangan lupa itu. Meski filosofimu menerangkan tentang kelemahanku dan kelemahanmu. Aku memiliki jutaan strategi untuk melindung sesuatu yang kucintai."


"Bukankah sekutu tidak harus saling menyerang?"

__ADS_1


__ADS_2