Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
6. Rencana Pernikahan


__ADS_3

Anna mengangkat dagunya dan sedikit membusungkan dadanya. Dia harus lebih percaya diri agar tidak diremehkan oleh keluarga Meihan yang akan menjadi keluarganya juga.


Hentakan demi hentakan high heels di kaki Anna berhasil membuat semua orang menoleh padanya. Gaun pink muda yang dikenakan tambah memancarkan sinar dan kecantikannya. Rambutnya yang diikat setengah dan yang lainnya dibiarkan terurai, terhuyung tertiup angin malam, membuatnya nampak semakin anggun. Meihan berdiri di sampingnya, merangkul pinggangnya yang begitu ramping dan proporsional. Memapahnya menuju rumah megah di depan sana.


Mereka tampak serasi, wajah Meihan yang putih tidak terlalu pucat. Memancarkan aura tegas, tampak cocok menyelaraskan wajah Anna yang nampak polos dan rendah hati. Mata sipit Meihan bagai mata elang menatap datar ke semua pengunjung, membuat mereka begitu segan dan tertegun. Tidak ada yang mengoceh ataupun mengejek Anna kali ini. Sebagian bahkan tampak takjub namun ada juga yang menyimpan iri dan dengki diam-diam, khusunya teman-teman Meihan yang ikut hadir di sana.


Anna kembali mendengar otot jantungnya yang sedang berusaha memompa secara normal. Sebisa mungkin ia berusaha tenang dan duduk di kursi yang sudah disiapkan. Semua keluarga besar duduk di meja bundar itu dan tak seorang pun mau melihat Anna. Mereka hanya tertuju pada meihan. Kehadiran Anna di sana hanya seperti figuran untuk menyempurnakan posisi Meihan.


"Mungkin kita mulai saja membahas pernikahan ini." Suara serak Ayah Meihan membuka diskusi di meja itu.


Semua pertanyaan hanya ditujukan untuk Meihan. Anna diam-diam meramas gaunnya. Dia sangat malu dan seperti tak punya harga diri. Tidak ada yang menganggapnya ada di sana. Mereka hanya berbicara konsep dan sesekali membandingkannya dengan gadis muda cantik bernama Keisya, yang tidak pernah menutup mulutnya dari tadi. Bahkan gadis itu bisa menyumbang ide dan gagasannya untuk pernikahan ini.


"Maaf, aku menyela." Rafah membuka topik baru.


"Ya? Ada apa Rafah?" tanya Ayah Meihan.


"Mungkin kita bisa meminta saran juga pada Anna mengenai konsep pernikahan ini. Agar sesuai dengan kepribadiannya? Mungkin seperti apa yang dia sukai...?" Rafah berusaha membela Anna di sana.


"Apa itu penting?" jawab Meihan seperti tidak suka mendengar Rafah ikut campur.


"Iya, pasti Anna memiliki pernikahan yang dia impikan. Bagaimanapun, ini pernikahannya," jawab Rafah sedikit sentimental.


Anna tertunduk hampir menangis. Rafah membuatnya begitu terharu, batinnya berucap "Bocah, sejak kapan kau tumbuh menjadi dewasa? Kau tidak seperti 10 tahun lalu. Dulu kau suka mengejekku dan sekarang kau membela hakku...." Anna menggigit bibirnya berusaha mengalihkan air matanya yang siap mengucur.


"Anna? Apa yang kamu suka?" tanya Ibu Meihan dengan suara ramah dan lembut. Menengahi perdebatan kecil itu. Tatapannya sangat hangat.


Anna terkejut, dia sejenak melihat wajah Ibu Meihan. Wajah yang baik dan sangat pengertian. Hal itu membuat Anna tidak mampu mengangkat bibirnya untuk speak up. Dia hanya menatap kagum pada wanita itu. Baru kali ini ada orang yang begitu ramah dan tulus tersenyum padanya.


"Apa yang kau suka sayang?" tanyanya lagi, kali ini dengan suara yang lebih lembut dan tulus dari sebelumnya.


"Aku...."


Ibu Meihan menatapnya menantikan jawaban dari mulut gadis itu, tak terkecuali yang lain.


"Aku suka butterfly," jawabnya spontan.


"Butterfly?" Ibu Meihan kini hampir tertawa. "Maksudmu konsep Tingkerbell?" tanyanya lagi dengan lembut.


Anna mengangguk pelan sambil tersenyum. Padahal dia tidak tahu apa itu Tingkerbell. Meski begitu, ia memilih hanya mengangguk karena tidak ingin diremehkan lagi.


"Aku tidak bisa membantah keinginan calon mempelai wanita karena dulu pernikahanku hanya sebatas di KUA, padahal aku juga memiliki pernikahan impian," jelas Ibu Meihan netral.

__ADS_1


"Tingkerbell? Konsep itu terlalu kekanak-kanakan. Tidak heran dia tidak pernah melihat dunia luar. Sekolah hanya sebatas home schooling." ejek Keisya.


"Aku mau pernikahan ini berkonsep elegan. Kembali ke pembahasan awal kita. Dia tidak tahu apa-apa, semua sudah disiapkan. Jangan mengacaukan rencana yang sudah kita susun." timpal Ibu tiri Anna.


Pembahasan rumit itu berakhir dengan lancar. Kini berlanjut dengan pesta syukuran bentuk kerjasama dua keluarga.


"Aku sudah bilang jangan sok jadi pahlawan," ujar Anna menghampiri Rafah yang sedang asik menatap langit dari balkon kamarnya.


"Kamu belum tidur?" tanyanya mengalihkan topik.


"Makasih...." balas Anna sambil berlari lalu memeluknya dari belakang. "Aku tahu kamu adalah adik yang terbaik di dunia ini. Aku hanya punya kamu sebagai keluarga. Jangan pernah hilang dari sisiku," ujar Anna sambil menyandarkan kepalanya di punggung Rafah.


Rafah terdiam sesaat. Dia tersenyum kecil malu-malu tapi menyembunyikannya.


"Rafah?"


"Iya..." jawabnya pelan masih menyembunyikan senyum malu-malunya.


"Sejak kapan kamu suka di peluk? Dulu kamu biasanya memberontak saat aku akan memelukmu. Sejak kapan kamu seperti ini? Apa karena perpisahan itu? Kamu begitu merindukanku sampai-sampai tidak ingin seorang pun melukaiku?" tanyanya dengan nada mengejek sambil masih memeluknya dengan erat.


"Sampai kapan kamu mau menyangkalnya Anna?" Pertanyaan serius pun keluar langsung dari mulut Rafah tanpa aba-aba.


"Aku sudah lupa masa lalu dan aku tidak peduli."


"Rafah!" Teriak Keisya yang tiba-tiba masuk, tidak Terima melihat mereka begitu dekat seperti sepasang kekasih.


Rafah refleks melepas tangannya dari pundak Anna dan melempar jauh pandangannya.


"Kalian harus tahu batasan meski kalian hanya sebatas saudara tiri. Ingat! Kalian berasal dari Ayah yang sama!" ketus Keisya lalu merangkul Rafah.


Anna terdiam sesaat, apa yang dimaksud dengan kalimat Rafah barusan? Dia masih diam terpaku masih pada posisi yang sama seperti tadi. Apa mungkin Rafah ingin membenarkan ingatan aneh tentang bocah kecil yang tewas berdarah di depannya?


"Rafah, Ayah ingin bertemu denganmu. Jangan hanya bersembunyi di sini. Banyak mitra dan para investor yang mencarimu," ujar Keisyah sambil mengajaknya untuk pergi dari sana.


Rafah mengangguk lalu melangkah pergi.


"Sebaiknya kamu istrahat," ujarnya sebelum menghilang dari ruangan itu.


Anna menarik nafasnya dalam-dalam. Mungkin yang dilakukan Rafah tadi hanya untuk mengerjainya. Setelah tenggelam dalam imajinasinya, kini ia juga beranjak meninggalkan ruangan itu.


Tamu di rumahnya masih ramai saja bahkan bertambah banyak. Tempat terbaik bagi Anna adalah kamarnya. Dia melangkah pelan menuju istana ternyamanya itu, tapi tiba-tiba seorang menghalanginya.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya Anna pada pria yang berseragam hitam di depannya.


Pria itu tidak membalas. Dia hanya memberinya secarik kertas yang sedikit kusut. Anna bingung melihat itu. Dia berbalik dan mengejar pria itu. Namun pria itu berjalan cepat dan masuk dalam kerumunan orang di sana hingga dia kehilangan jejaknya. Anna melihat liar ke sekelilingnya sampai dia dikejutkan oleh seseorang yang memegang pundaknya dari belakang.


"Cari siapa?" tanyanya.


Anna terhentak, langsung berbalik ke belakang. Dia melihat Meihan yang berdiri di belakangnya sambil memegang gelas berisi anggur merah.


"Tadi...." Anna menujuk tidak jelas, berusaha mencari pria tadi.


"Ada apa?" tanya Meihan lagi.


Anna berbalik melihatnya lalu menggeleng pelan karena melihat wajah datar pria di depannya itu. Meihan menarik tangannya ketika dia akan pergi.


"Mau kemana?" cegatnya.


"Bukan urusanmu," balas Anna sambil melepas tangan Meihan. Sebelum pergi dia menyempatkan diri melempar tatapan dingin pada Meihan. Membalas.


Meihan tertegun. Dia segera menghabiskan anggur merah dalam gelasnya lalu menyusul Anna dengan cepat.


Anna masih berusaha mencari pria misterius tadi. Dia mencari di setiap tempat, mencari keberadaannya.


"Tidak ada gunanya menghindariku...." Meihan menarik paksa tangan Anna hingga tubuhnya terperangkap dalam pelukan pria itu. Sepertinya Meihan sedang dalam pengaruh alkohol.


"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Anna yang terkejut.


"Kita akan segera menikah. Kamu harus terbiasa di sisiku agar traumamu itu bisa hilang," ejek Meihan dengan senyum iblisnya.


Anna merasa dipermainkan, dia berusaha memberontak untuk segera lepas dari pelukan pria itu. Tapi tangan kekar Meihan terlalu erat menjebaknya.


"Kalau kamu tidak segera melepasku. Aku teriak!" ancam Anna.


"Kalau kamu teriak kenapa? Semua orang akan menganggapmu gila dan mengejekmu lagi. Wanita sok suci padahal terlahir dari wanita penggoda."


Anna menatap geram padanya. "Kamu tahu? Tadi aku berpapasan dengan Kenda di sana, bayangkan apa yang dia pikirkan sekarang?" ucap Anna balas menyerangnya.


Meihan spontan langsung melepaskan cengkramanya. Dia berbalik ke kerumunan orang yang dimaksud Anna. Benar saja Kenda sedang menatapnya dengan mata berair.


"Jangan sok tahu tentang Ibuku, aku berusaha bersikap baik untuk memperbaiki citranya. Tapi kau... ibumu sangat hangat dan tulus. Kau menodai citranya. Andai sedikit saja kau bersikap hangat seperti dia, mungkin aku akan merasa beruntung memiliki calon suami seperti itu...."


Meihan tidak peduli akan ocehannya. Dia keburu pergi mengejar Kenda yang menjauhi kerumunan sambil menangis. Anna tersenyum untuk merayakan perih di hatinya. Dia juga menatap Rafah dan Keisyah dari jauh yang sedang tersenyum bersama Ayah Meihan, Ibu, dan beberapa orang lainnya. Sedangkan dia berdiri sendiri di sana tanpa seorangpun di sisinya.

__ADS_1


Dari kejauhan pria misterius tadi memerhatikan Anna dari balik kerumunan orang-orang.


__ADS_2