Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
12. Nyawa Berikutnya


__ADS_3

"Anna!" Meihan mencoba melakukan pertolongan pertama. Namun paru-parunya terlanjur tersumbat oleh air. Dia bahkan sudah tidak bisa bernafas lagi.


Meihan duduk di pojok kamarnya sambil menutup ke dua telinganya. Dia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Semuanya sangat kacau, Ayahnya pasti akan membunuhnya, semua ini menyangkut perusahaan. Tamatlah semua rencana mereka.


"Anna!" Dia kembali menggoyang-goyangkan tubuh Anna. Tapi tidak mendapatkan respon apapun, membuatnya sangat frustasi. Dia akhirnya berteriak histeris, mungkin saja Anna bisa mendengarnya dan terbangun.


Anna!


Mendengar teriakan Meihan, semua orang berlari menuju kamarnya. Tidak terkecuali Rafah.


"Anna!" panggil Rafah yang mendapati Anna sudah tidak sadarkan diri. "Apa yang kau lakukan?"


Tubuh Anna sudah memucat, bibirnya juga sudah mulai menghitam. Rafah tanpa ragu mengangkat tubuhnya sambil berteriak tidak karuan "Siapkan jetlinernya! Cepat!" teriak Rafah sambil berlari.


Semua orang panik kecuali Kesya.


"Apa tidak ada acara lain selain mati? Dia selalu mencari perhatian," cibir Kesya yang muak.


Rafah berlari sekencang mungkin untuk sampai ke dermaga. Beberapa pelayan juga menyusulnya dari belakang. Mereka tergopoh-gopoh hampir tidak bisa menyusul Rafah yang berlari secepat kilat.


Semua orang tampak bingung dengan kegaduhan malam itu. Mereka masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.


"Kenapa dengan Anna?" tanya Ibu Meihan.


"Anna Nyonya, dia tidak bernafas," jawab pelayan yang masih di sana.


Ibu Meihan berbalik dan melihat Meihan yang sedikit basah "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan air muka khawatir.


Ayah Meihan tanpa aba-aba langsung menampar Meihan. "Mau jadi pembunuh kamu!" teriaknya.


"Sudah lah sayang dengarkan dulu penjelasannya. Kau terus marah pada Meihan seharian ini," bujuk Ibu Meihan menenangkannya.


"Anak tidak berguna pantas mati! Kamu apakan dia?!" teriaknya masih dengan nada menggelegar.


"Aku...."


Ayah Meihan naik pitam, matanya menghitam. Nafasnya memburu seperti singa. Dia berbalik melihat ke sekelilingnya, mencari benda tumpul untuk menghukum anaknya.


"Kalau dia mati, kamu juga harus mati! Anak tidak tahu diuntung!" Dia mengambil vas bunga dan akan menghantamkannya ke kepala Meihan.


Sakit ditubuhnya akibat kejadian tadi siang masih belum hilang. Badannya bahkan masih membiru dan sakit-sakitan. Lebih baik dia mati begitu pukulan itu mendarat di kepalanya alih-alih cacat seumur hidup.


"Stop!" teriak Anna dari pintu membuat semua perhatian tertuju padanya.


Meihan tampak terkejut dia membulatkan matanya sebesar mungkin. Kenapa Anna bisa berdiri di sana?


"Anna kamu?"


"Aku baik-baik saja. Tadi aku dan Meihan terlalu keasikkan bercanda sampai-sampai dia tidak sengeja membuatku tercekik." Anna langsung masuk dan mengambil vas bunga di tangan Ayah Meihan. "Semua ini salah paham," ucapnya sambil tersenyum dan mengangkat hati-hati vas itu.

__ADS_1


"Bukannya tadi kamu tidak bernafas? Bahkan Ibu lihat badanmu sudah membiru."


"Tidak Ibu, aku tadi hanya keselek tapi untung Rafah membantuku."


"Kita harus ke rumah sakit Anna!" teriak Rafah yang baru muncul dengan nafas tergesah-gesah.


"Aku baik-baik saja, sumpah," jawabnya sambil mengangkat ke dua jari telunjuknya dan tersenyum kaku.


Meihan tidak dapat berkata apa-apa, dia kebingungan harus bersikap seperti apa.


"Kenapa kamu sampai bisa kehabisan nafas?" Tanya Ibu Meihan masih dengan ekspresi khawatir.


"Owh itu tadi anu, Meihan, dia terlalu bersemangat." Ucap Anna bingung dan bicara tidak menentu.


"Maksud kamu apa?" Tanya Ibu Meihan tambah bingung.


Semua orang di sana juga kebingungan, mereka menatap Anna keheranan, menunggu jawaban.


"Aku...." Dia menatap tajam pada Meihan, berharap mendapat bantuan.


'Apa yang kau lakukan? Bantu aku.'


Meihan hanya diam, masih tidak percaya kalau gadis di depannya itu adalah Anna.


"Tapi bagaimana bisakamu bisa bernafas lagi?"


"Oh... itu tadi Rafah, waktu dia membawaku aku sadar begitu saja, air yang menyumbat saluran pernafasanku tiba-tiba keluar begitu saja...."


"Aaakkuu...." sontak tenggorokan Anna serasa tersumbat kembali.


"Aku tulus meminta maaf, maafkan aku," bisiknya kembali dan tambah mempererat pelukannya.


'Beginikah rasanya? Rasanya dipeluk rupanya seperti ini? Sudah sejak lama aku tidak merasakannya, biasanya aku dipeluk ketika aku hampir sekarat karena trauma? Begini kah rasanya? Hangat, nyaman, aku suka pelukan ini. Aromanya... aku tenang dalam dekapan ini.'


Anna balas memeluknya, dia tersenyum penuh kenyamanan.


"Ada apa ini?" tanya Ibu tiri Anna yang baru saja terbangun.


Meihan melepas pelukannya. Dia tunduk sambil meminta maaf. "Maafkan aku, tadi Anna hampir dalam masalah akibat kecerobohanku."


"Masalah apa?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.


"Aku mencium Anna sampai-sampai dia kehabisan nafas," ujar Meihan mantap.


"Apa? Mencium? Apa yang dikatakan pria ini?" Anna bergumam dalam hati dan mentapnya lekat-lekat meminta pertanggungjawaban.


"Oh, hahahhaha...." Ibu tiri Anna tertawa garing dengan masih menampakkan ekspresi bingung.


"Kenapa kamu tidak jelaskan dari tadi nak? Ayah sudah gelap mata terhadapmu." Ibu Meihan mendekati suaminya yang hanya diam, dia mengelus dadanya dengan pelan, menenangkannya.

__ADS_1


"Maafkan aku Ayah...." ujar Meihan.


Rafah menatap curiga pada Meihan juga Anna. Dia tidak terima atas semua yang terjadi.


"Anna kamu yakin karena itu?" tanyanya mengintrogasi.


"Oh yaa...." Anna langsung membalasnya dengan tersenyum kaku lalu dia balik menatap Meihan.


"Kamu gila?! Apa tidak ada alasan lain?" bisiknya pelan agar hanya didengar oleh Meihan.


"Hanya itu yang terlintas di benakku," jawab Meihan dingin.


"Dasar mesum...." hardik Anna yang merasa dipermainkan.


"Bagaimanapun sekarang sudah malam. Apa aku bisa melanjutkan kembali waktu tidurku yang berharga?" Kesya menengahi pembicaraan itu, dia pura-pura menguap agar perhatian semua orang tidak tertuju pada Anna terus.


"Sudah malam, sebaiknya kita tidur kembali," ucap Ayah Meihan dengan suara lebih tenang.


Diam-diam dari kamar pelayan Kenda menutup kembali pintu setelah menyaksikan semuanya. Bibirnya tampak terluka. Betis dan lengannya juga membiru. "Aku tahu ada yang tidak beres, Meihan, aku mengenalmu lebih dari siapapun. Kau tidak pernah berinisiatif memelukku seperti yang baru saja kau lakukan pada Anna. Pelukan itu bukan hanya sebagai alasan agar Ayahmu berhenti memukul dan menyalahkanmu. Pelukan itu bahkan lebih hangat. Aku tahu itu, Anna aku akan membalas dan mengambil kembali selmua yang sudah kau ambil secara paksa dariku."


Ibu dan Ayah Meihan kembali ke kamarnya disusul oleh Ibu Rafah. Kesya juga ancang-ancang meninggalkan tempat itu tapi karena melihat Rafah masih berdiri di sana dan manatap Anna lekat-lekat membuatnya mengurungkan niatnya.


"Anna kamu berbohong kan? Apa yang dilakukan si brengsek itu padamu? Apa dia mengancammu?" tanya Rafah masih mengintrogasi dan curiga.


"Ini urusan kami." Balas Meihan acuh tak acuh.


"Aku tidak menyuruhmu menjawab, Anna jangan takut bilang padaku. Dia melukaimu kan?" tanya Rafah kembali.


"Sudahlah, ini bukan urusanmu Rafah," ujar Kesnya sambil merangkulnya mengajaknya pergi dari sana.


Anna diam tertunduk tapi kemudian dia mengangkat kepalanya seperti ada amarah yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Apa ciuman itu sebuah ancaman? Harus kah aku menghindari itu saat aku sangat menginginkannya?" ujarnya dengan sedikit emosional menghentikan langkah Rafah.


"Anna! Aku tahu kamu... dia mengancammu?" tanya Rafah gagap mendengar pernyataan Anna barusan.


"Kamu suka padaku? Apa itu kecemburuan?" tanya Anna menyerangnya balik.


"Anna, kamu...."


"Ada batasan yang tidak bisa kamu lewati, berhentilah Rafah, kamu harus sadar. Aku tidak mau kamu melangkah semakin jauh," ujar Anna mantap.


Rafah tertegun, dia menatap bingung pada Anna. Rasanya seperti dicampakan sebelum mengakuinya.


"Apa yang kau katakan? Mana mungkin Rafah suka sama kamu? Kalian terpaut umur yang jauh?" teriak Kesya merasa diabaikan.


"Kesya kamu punya mata kan? Apa umur hanya dihitung berdasarkan kata yang tertulis di akta kelahiran? Oh ya, tanggal lahirku juga dirubah pada lembaran yang disebut akta kelahiran itu. Harusnya hari ini adalah hari ulang tahunku tapi siapa yang tahu? Semua itu hanya formalitas." ujar Anna melepaskan kebenciannya pada gadis itu.


"Anna! Aku sudah berjanji pda Ayah untuk melindungimu," terang Rafah.

__ADS_1


"Lupakan apa yang aku bilang tadi, aku hanya bercanda..." ucapnya lalu melangkah meninggalkan ruangan itu.


Aku salah, harusnya aku tidak berpihak pada pria itu, apakah ini yang disebut orang sebagai cinta? Cinta yang membutakan.


__ADS_2